
Everligh restauran ... batin Tyas sesaat keduanya telah sampai di pelataran resto mewah dengan tulisan besar di atas dinding di depan pintu masuk. Dirinya merasa terpukau atas bangunan mewah nan estetik di depannya tersebut. Selain karena sudah bertahun tahun tak pernah merasakan kemewahan seperti ini, Tyas juga salah satu dari sekian banyaknya orang yang tak menyukai hal berbau resto, cafe dan semacamnya, itu terjadi setelah kematian kedua orang tuanya. Dia merasa jika dia berada di cafe ataupun restoran dia akan selalu teringat dengan mendiang orang tuanya. Karena selama mereka masih hidup, mereka suka sekali membawa Tyas kecil jalan-jalan dan makan-makan di restoran mewah. Huufft ... Itu terjadi disaat perekonomian keluarga Tyas masih normal. Sebelum keluarganya bangkrut, karena sang ayah kena tipu oleh temannya dan kemudian kecelakaan lalu meninggal disaat keduanya tengah mengendarai mobil menuju ke suatu tempat.
Melihat Tyas yang terus terdiam bahkan disaat keduanya telah masuk dan duduk di salah satu meja di sana, membuat Kaesang sedikit berpikir. Apa Tyas tak suka dengan tempat ini? Atau dia merasa tak enak setelah dari rumah sakit tadi? Mengapa eskpresinya seperti tak nyaman seperti itu?
"Dear, are you okay?" tanya Kaesang seraya menggapai dan menggenggam lembut tangan Tyas di atas meja.
Sementara Tyas yang terkejut, karena sebelumnya dia sempat melamun, sontak mengerjapkan kedua matanya seraya tersenyum kaku.
"I am fine." balas Tyas malu-malu.
Kaesang pun mengernyitkan keningnya seraya berpikir.
"Dear, kamu nggak nyaman ya sama tempat ini? atau kamu mau kita pindah tempat aja?" tanya Kaesang khawatir setelah melihat muka Tyas yang nampak cemas. Persis seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Tyas pun sontak menggelengkan kepalanya kuat. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi barusan. Dia merasa telah membuat Kaesang khawatir, dan repot. Bahkan sampai menawarkan untuk pindah tempat segala.
"Eh, nggak usah lah Kae, ngapain. Tempatnya bagus kok, nyaman lagi." ujar Tyas seraya tersenyum menutupi rasa sedihnya karena teringat mendiang kedua orang tuanya.
"Tapi wajah kamu nunjukin hal yang lain. Dear, kalau kamu ada apa-apa cerita aja sama aku. Aku siap dengerin kok. Jangan dipendem sendiri, ingat! Ada aku, okey." Kaesang pun berusaha menjadi yang terbaik buat Tyas. Dia mengusap lembut tangan Tyas yang digenggamnya lalu tangannya yang lain mulai meraih pipi mulus Tyas dan menyentuhnya lembut, penuh perasaan.
Tyas pun menghela nafas panjang sepenuh dada. Dia terlihat terdiam seraya menundukkan kepalanya. Berusaha positif thinking dan bersiap untuk menceritakan semuanya pada Kaesang. Dia tak ingin menutupi apapun dari lelaki itu.
"Aku, aku rindu kedua orang tuaku, Kae. Cafe ini mengingatkanku pada mereka. Mereka selalu membawaku ke tempat seperti ini sewaktu aku masih kecil. Namun, aku tak pernah berpikir jika aku akan membencinya. Tempat seperti ini selalu mengingatkanku pada mereka, teringat disaat mereka masih ada dan kita bahagia. Canda tawa itu, sentuhan tangan itu, aku masih mengingatnya sampai sekarang. Euhhh, Kae. Maaf ya, jika ceritaku terlalu bertele-tele buatmu. Aku cuma mau menceritakan apa yang kupikirkan padamu, agar diantara kita tak ada yang ditutup tutupi lagi." ucap Tyas seraya menyeka beberapa bulir air matanya yang menetes di saat dirinya cerita dan mengingat apa yang diceritakan.
Kaesang tak dapat berkata-kata selama Tyas menceritakan kisah masa lalunya. Dia tak pernah berpikir jika masa lalu Tyas akan seperti itu. Terlebih, dia mengatakan jika dia juga membenci tempat seperti ini.
"Maaf, jika aku telah membuatmu bersedih seperti ini. Aku nggak tau kalau kamu nggak suka tempat seperti ini. Kalau aku tau aku nggak akan membawamu kesini, aku akan membawamu kemanapun, ketempat apapun itu asalkan kamu bahagia." ucap Kaesang terdengar tulus.
Tyas pun tersenyum kearah Kaesang seraya menyeka beberapa bulir air matanya yang masih menetes.
__ADS_1
"Daripada sedih kayak gini mending makan. Ehm, mbak, mau pesen." teriak Kaesang seraya menolehkan sedikit kepalanya.
Di tengah-tengah acara makan-makan ...
Klotak .... (suara sendok dengan piring yang beradu)
"Dear, gimana sama kerjaan? Baik-baik aja kan? Nggak ada yang julidin atau jauhin kamu kan?" tanya Kaesang seraya menyumpit sepotong salmon dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"Sekarang udah enggak. Mereka udah mau ngobrol lagi sama aku seperti dulu. Ya, walaupun tetep ada sih yang suka julid gitu. Tapi, it's okay lah." balas Tyas seraya menyendokkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Yaudah bagus deh kalau gitu." sahut Kaesang singkat.
Tiba-tiba Tyas teringat sesuatu.
"Oh iya, Kae." ucap Tyas tiba-tiba seraya menelan makanannya kemudian menyeruput teh macca dingin di hadapannya.
"Hm, kenapa?" sahut Kaesang tanpa menoleh dan tetap fokus pada makanannya.
Kaesang yang mendengar permintaan aneh Tyas, sontak baralih menatapnya lalu memajukan kepalanya, dan menatapnya lekat.
"Hah! Rani? siapa Rani?" tanya Kaesang seraya mengerutkan keningnya.
Tyas pun menceritakan semuanya tentang Rani. Siapa dia, bagaimana awal ketemunya Rani dengannya sampai Tyas tak tega meninggalkannya sendirian lalu membawanya pulang. Semuanya telah Tyas ceritakan dengan detail termasuk kisah Rani, dan keluarganya.
"Hm, jadi anak itu masih ada di rumahmu?" tanya Kaesang datar.
Tyas pun mengangguk.
"Iya, dia bahkan terus saja menangis sambil memintaku untuk mencarikan ibunya." balas Tyas.
__ADS_1
Kaesang pun menghela nafas kasar.
"Dear, aku tau kamu baik, dan peduli dengannya. Tapi, apa kamu nggak curiga, atau semacamnya? kita nggak tau loh dia sebenarnya siapa, dan apa semua ceritanya itu bener. Aku takut dia itu nggak sepolos yang kamu kira." ujar Kaesang khawatir.
"Lebih baik kita selidiki dulu, dia siapa, dari mana dia berasal. Apa semua yang dia ceritakan itu benar adanya atau cuma karangan doang buat narik simpati. Nah, jika semua itu sudah kita dapatkan, barulah kita bisa bantuin dia cari ibunya." lanjut Kaesang.
Mendengar jawaban Kaesang membuat Tyas terdiam. Dia berpikir dan mengiyakan apa yang lelaki itu katakan. Sebab waktu awal Tyas bertemu Rani, dia tidak ada rasa curiga atau perasaan negatif apapun tentang gadis kecil itu. Yang ada Tyas justru iba, dan kasihan dengannya.
"Aku tau kok kamu pasti kasihan dan iba padanya kan? Tapi dear, kita boleh aja memiliki rasa kasihan
dan iba pada siapapun. Menolong sesama tanpa pandang bulu, namun, waspada itu penting. Sebaiknya kita cari tau dulu semua tentang gadis itu, selain biar lebih jelas, kita juga bisa yakin kalau gadis itu memang gadis yang baik." entah darimana Kaesang mendapatkan kata-kata bijak tersebut. Namun, sepanjang Kaesang bicara, Tyas hanya mendengarkan tanpa sedikitpun menyela. dia cukup dibuat terpesona oleh pembawaan Kaesang yang sangat bijak dibalik usianya yang begitu muda.
Tyas bahkan sampai berpikir jika dia mungkin takkan bisa mengatakan hal semacam itu.
"Kamu tenang aja nanti aku bantuin kok. Ngomong-ngomong ada foto atau apa gitu, biar mudah nyarinya." tanya Kaesang kemudian.
Tyas pun menggeleng.
"Nggak ada alamat, ataupun foto. Karena Rani bilang tas nya di copet orang dan semua yang kita butuhkan buat nyari ibunya ada di dalam tas itu. tapi, semalam Rani sempat mengatakan padaku ciri-ciri ibunya, dan juga namanya." jawab Tyas yakin.
"Hm, siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya?" tanya Kaesang serius.
Tyas pun mengatakan ciri-ciri ibunya Rani sesuai apa yang Rani katakan padanya semalam. Tanpa ada yang di kurangi ataupun ditambahi.
"Dan namanya, Sekar Kusuma Tanjung." ucap Tyas diakhir ceritanya.
Kaesang seperti tak asing dengan nama itu. dia tak begitu yakin, namun dia seperti pernah mengenal seseorang dengan nama itu sebelumnya.
"Kenapa, Kae? Kamu kenal sama ibunya Rani?" tanya Tyas sesaat melihat Kaesang yang terus terdiam.
__ADS_1
"Aku nggak yakin, tapi aku kayak pernah ketemu gitu sama orang dengan nama itu. Hm, siapa ya?" ucap Kaesang seraya berpikir.
Bersambung ...