Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 67- Niat dibalik senyuman Zefa


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Selepas selesai sarapan dengan makanan yang sengaja dibelinya kemarin hari. Kaesang pun nampak tengah mengenakan Hoodie putihnya, ia rapihkan rambutnya yang sedikit berantakan itu, kemudian meraih handphone miliknya dari atas nakas, lalu mengantonginya. Ia nampak keluar dari villa, dan memutuskan tuk pergi berjalan jalan sebentar di sekitar puncak dengan hanya jalan kaki, mengingat lokasinya juga tak terlalu jauh.


Suasananya begitu nyaman, sejuk, apalagi udara pagi itu masih belum begitu panas. Kaesang mulai menapaki jalan setapak menuju kearah puncak, ia arahkan pandangannya kekanan dan kirinya, semuanya begitu indah, dan asri. Itulah menurutnya. Apalagi sepanjang ia berjalan nampak juga olehnya beberapa ibu ibu yang hendak berangkat ke ladang, mereka tersenyum lalu menyapa kaesang sesaat mereka lewat di sampingnya.


Karena lokasinya tak terlalu jauh, sampailah kaesang di puncak Bogor tersebut. Selepas membayar tiket masuk kaesang pun mulai melangkahkan kakinya memasuki area wisata tersebut. Ia pandangi wisata yang begitu familiar untuknya tersebut. Ia tetap melanjutkan langkahnya itu hingga sampailah ia di sisi Utara puncak tersebut. Begitu indah, hamparan perkebunan teh yang hijau membentang luas di hadapannya, apalagi juga nampak olehnya sebuah gunung tinggi yang menaungi perkebunan teh tersebut. Walau terkesan indah, tapi tak menutup kenyataan jika suasana di pagi hari itu masih terkesan dingin. Kaesang bahkan sampai merapatkan jaketnya, ia duduk di kursi kayu tak jauh darinya sembari menikmati suasana pagi, dan refreshing sebelum ia benar benar kembali ke Jakarta.


...............................................................


Indra yang saat itu tengah berada di sky blue cafe semenjak beberapa jam yang lalu, dengan tujuan membahas proposal mereka. Saat ini tengah berjalan menuju kearah toilet selepas ia meminta ijin pada rekannya tadi. Bingung, tak tau lokasi toiletnya dimana. Indra pun lantas bertanya pada salah satu karyawan cafe yang tak sengaja berpapasan dengannya. Ia bertanya dengan logat bahasa Inggris mengenai lokasi toilet tersebut. dan selepas diberi tahu Indra pun lantas bergegas kesana, selepas ucapan terima kasih ia layangkan pada karyawan cafe yang membantunya tadi. Ia mulai berjalan menuju ke toilet yang diberitahu oleh si karyawan tadi, tak terlalu jauh, ya lokasinya ternyata ada dua meter di depannya sekarang. Selepas tiba di mulut toilet, Indra pun bergegas masuk selepas ia berpapasan dengan seseorang lelaki muda yang seumuran dengan putranya, bedanya ia keluar sedangkan Indra masuk.


Sekitar dua menitan ia berada di toilet tersebut, lantas keluarlah ia selepas ia selesai dengan kegiatannya. Ia berjalan santai menuju ke mejanya selepas tak sengaja berpapasan dengan seorang gadis yang jika diingat ingat seperti pernah bertemu sebelumnya, dan pas sekali gadis itu juga seumuran dengan kaesang.


Indra sempat meliriknya dengan acuh tak acuh, mengabaikannya dan terus berjalan menuju mejanya. Tapi selepas itu dilihatnya gadis tersebut lantas berhenti, ia membalikkan badannya, dan menatap kearah punggung Indra, dia tersenyum sebelum akhirnya ia mengatakan, "...Om Indra,"


Selepas sang gadis menyebutkan namanya dengan sangat benar, Indra pun lantas berhenti, ia membalikkan badannya menghadap gadis itu, ia berjalan sekiranya sampai tepat di hadapannya. Semula ia perhatikan gadis itu dari bawah sampai atas, memang benar. Gadis ini seperti tak asing baginya, tapi ia lupa siapa dia, dan kapan ia bertemu dengannya.


Si gadis pun lantas menghela nafas sembari tersenyum," Om apa kabar? " Semakin bingung. Gadis ini gadis Indonesia?, mengapa ia fasih sekali, dan apa kita saling mengenal sebelumnya? kurasa tidak.


Tak mau semakin berlarut larut di tempat ini, dengan sorot datarnya, Indra pun bertanya dengan ragu, "Siapa kamu, kamu kenal sama saya?" Selepas Indra bertanya demikian, si gadis pun lantas terkekeh kecil kemudian tersenyum, "Yaampun om saya Vierra, temennya kaesang dulu di SMP. Kadang saya juga suka main ke rumah om, masa om lupa sih sama saya,"


Selepas kata kata itu keluar dari mulut si gadis, Indra pun terpaku di tempatnya, ia tersentak saat nama kaesang di sebutkan. Teman SMP? benarkah? kenapa aku tak ingat sama sekali ya, kaesang juga tak mempunyai banyak teman, apakah gadis bernama Vierra ini benar benar teman kaesang dulu?


Selepas mendengar itu Indra pun masih tak begitu ingat dengan sesiapa Vierra ini, ia lantas berkata dengan acuh tak acuh, "Kamu sungguh teman putra saya? kok saya tidak ingat ya siapa kamu."


Mendengar itu Vierra pun lantas mengangguk dengan senyuman di wajahnya, "Iya om, itu benar. Saya memang temannya kaesang dulu. Dan pantes aja om bisa lupa sama saya, orang kaesang aja jarang kok ajak saya main ke rumah om. Tapi walaupun begitu hubungan kita dulu sangatlah dekat, hmm oh iya kaesang mana om? dia ikut juga kan?" Menanyakan soal kaesang, Indra pun sempat tersentak, dan berpikir, jadi gadis ini memang teman kaesang? Dan dari kata kata yang diucapkannya sepertinya itu tulus. Tapi aku masih tak ingat dengan gadis ini, ah nanti sajalah kutanyakan langsung pada kaesang, siapa tahu dia ingat dengan temannya ini.


Melihat dari ekspresi wajah Indra, Vierra pun sempat mengernyitkan dahi, kemudian berkata dalam hatinya, "Kok kayaknya om Indra masih gak percaya ya kalau aku ini temannya kaesang. Apa aku harus tunjukkin foto ku dengan kaesang dulu supaya dia percaya," Belum sempat Vierra berkata kata lagi, tiba tiba seorang lelaki tampan berumur dua tahun lebih tua darinya, yang lebih tepatnya adalah kakak dari Vierra terlihat tengah berjalan kearah mereka, lalu menepuk pundak adiknya, hingga berhasil membuat Vierra menoleh dengan sorot terkejut kearahnya.


Sesaat menatap sesiapa lawan bicara adiknya, Reynald pun sempat terkejut tak percaya, karena saat ini ia tengah bicara dengan seorang pria yang sangat dihindarinya dari dulu. Indra. Dan pastinya kaesang, putranya itu juga ada di sini. Huh, kenapa sih Vierra pakek ada acara ketemu sama dia sih?! dan Kenapa orang ini juga pakek ada disini segala?!


Selepas dua tahun lamanya mereka tak pernah bersitatap muka, Reynald pun terkejut dengan adanya Indra di tempat ini, juga dirinya yang masih sama seperti dulu. Sorot dingin, dan wajah datarnya. Begitu mirip dengan putranya itu. Tapi mengingat dengan kondisinya sekarang Reynald pun tak ingin jika Indra sampai mengenali dirinya, apalagi adik tercintanya ini, tapi tadi Vierra tak berkata macam macam kan pada Indra? kuharap ia tetap menuruti ucapanku.

__ADS_1


Tak ingin berlama lama dengan orang ini, Reynald pun menyela, dan berkata dengan dingin, "Maaf. adik saya masih dalam masa pemulihan, dia tak tahu dengan siapa Dia berbicara. jadi maafkan dia, permisi." Selepas mengatakan itu dengan sorot dingin di matanya, Reynald pun beranjak dari sana sembari menarik Vierra tuk turut ikut dengannya, menjauh dari pria tersebut. Tapi di sela sela berjalannya Vierra sempat berontak, ia masih saja menatap kearah Indra yang juga ikut menatapnya, bahkan Reynald pun sempat mengalihkan pandangan adiknya itu dari si pria tersebut, tapi Vierra masih saja tak mau mendengar, dan tetap mencoba tuk menatap kearah Indra walaupun kini sudah tak lagi ada di sana.


Saat sudah jauh dari posisi semula, Reynald pun berhenti dan langsung melepas pegangan tangannya itu pada sang adik. Ia tatap adiknya itu dengan sorot memprotes, seolah ingin mengatakan, kenapa sih kamu pakek ketemu sama dia segala?


Reynald pun mulai menyentuh kedua pipi sang adik dengan kedua tangan kekarnya, mencoba memberi pengertian padanya. Tapi alhasil Vierra pun langsung mundur selangkah dengan sorot tajam di matanya.


Ia sempat berdecak kesal kemudian berkata, "Kakak kok narik aku keluar sih?! Kak tadi aku itu lagi ngobrol sama papa--" belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Reynald sudah lebih dulu memotong ucapan adiknya itu dengan sorot dingin yang masih setia melekat di wajahnya.


"Papanya kaesang. Kakak tahu itu, makanya kakak langsung narik kamu keluar. Vierra kenapa kamu bandel banget sih, kan kakak udah bilang jangan berkomunikasi apapun dengan keluarga mereka lagi, kamu masih ingat itu kan?!" Sesaat mendapati raut wajah kakaknya yang sudah tak bersahabat, nyali Vierra pun menciut seketika. Ia pun menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan kakaknya itu.


Ekspresinya berubah muram, dan berkata dengan dinginnya, "Aku inget kok, tapi kenapa kak, kakak selalu gak mau jelasin ke aku kenapa nya. Aku bingung kak, dan lagipula aku juga masih pengen ngobrol sama Om Indra, tapi kakak langsung narik aku keluar. Hmm, oh iya tadi kakak juga sempat bilang masa pemulihan kan? kakak kira aku gila apa. H-huh Mau alasan tapi gak bermodal banget."


Melihat adiknya yang memberengut kesal, sembari mengerucutkan bibirnya, Reynald pun tak kuasa menahan tawanya. Ia sempat tergelak kecil sesaat sebelum ia hentikan tawanya itu, saat sang adik mulai menatapnya dengan sorot memprotes. Ternyata benar adanya. Reynald lelaki bertubuh tinggi itu tak takut akan apapun, ia kuat, bahkan pada ribuan penjahat sekalipun. Tapi sekalinya menatap mimik wajah sang adik semata wayangnya yang begitu menggemaskan, Reynald tak kuasa menahan senyumannya, ingin sekali dirinya mencubit kedua pipi gembul adiknya ini saking gemasnya.


Tapi mengingat dengan pria tadi, sorot wajah hangatnya pun berubah dingin seketika. Tangannya mengepal erat dibawah sana. Dan masih dengan nada dinginnya lelaki 22 tahun itu pun menjawab, "Pokoknya gak bisa Vierra. Udah. kakak gak mau jelasin lebih banyak lagi. Ayo pulang."


Sontak terkejut dengan perubahan mimik wajah sang kakak yang semula mulai hangat berubah dingin seketika, Vierra pun lantas mendongak, dan menatap sang kakak, masih dengan sorot memprotes, ia pun kembali berkata, "Lho kok pulang?! bukannya tadi mau ajak aku ke--" Belum sempat melanjutkan ucapannya lagi, tiba tiba sang kakak memotong ucapannya begitu saja.


"Gak jadi. Udah ayo pulang!" Masih dengan sorot dinginnya, Reynald lantas menarik sang adik menuju mobilnya begitu saja, tanpa menunggu persetujuan darinya terlebih dulu. Dan di belakang sana, Vierra hanya menurut walaupun wajahnya sudah tertekuk sedari tadi.


Kaesang yang mulai bosan hanya dengan duduk duduk saja, lantas mulai melangkahkan kakinya kembali. Ia menyusuri tempat itu sampai sekitaran pukul sepuluh siang. Ia sempat berhenti di berbagai tempat, guna menikmati apa saja yang ada di sana. Tapi kemudian ia langkahkan kakinya kembali sesaat ia mulai bosan yang menurutnya hanya itu itu saja. Lantas tepat sekali pada pukul sebelas siang, sesaat kaesang tengah asyik berjalan hendak kesuatu spot menarik yang ada disana, ia tersentak, dan kembali menghentikan langkahnya sesaat ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia sempat berdecak sebelum akhirnya ia balikkan badannya, dan menatap seseorang itu. Ya, ia sempat terkejut melihat adanya zefa, dan beberapa anak lain di hadapannya. sontak Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, apa dia ya yang sudah nepuk punggung gue barusan? terus kok bisa sih mereka ada di sini?! sekarang ini di hadapan gue. Lalu sayup sayup ia pun kembali teringat tentang ajakan zefa kemarin hari. Ia ingat jika kemarin zefa sempat mengajaknya tuk liburan bareng dengannya ke puncak, bukan hanya dengan dirinya sendiri sih, tapi katanya dengan yang lain juga. Melihat itu kaesang jelas menolak lah, selain tak suka keramaian, dan adanya zefa di sana, kaesang juga ingin menghindar dari siapapun, tapi jika mengingat ingat kembali ia begitu bodoh, bagaimana bisa ia menolak ajakannya, dan ingin menghindarinya sedangkan dirinya saja juga tengah ada di puncak. Dan melihat adanya mereka disini, sudah tentu bukan kesalahan siapapun, ini salahnya, kenapa ia memilih tuk berjalan jalan tadi. Andai saja ia tak keluar tadi, mungkin ia tak bertemu dengan mereka hari ini. Karena entah kenapa ia ada firasat buruk yang akan terjadi padanya selepas ini.


Tak mau berucap sepatah kata sedikitpun, kaesang hanya diam, dengan tatapan datar, dan kedua tangannya yang sengaja dimasukkannya kedalam saku celananya. Ia masih tak percaya dengan kebetulan ini, tapi sebisa mungkin ia mencoba tuk biasa saja, sembari tatapannya yang ia alihkan kearah lain.


Saat tak ada ucapan dari kaesang, dengan perasaan hangat memenuhi hati zefa pun menatap kearah manik mata kaesang, memberikan senyuman disana, lalu mulai berkata, "Hai Kae. Kebetulan banget nih bisa ketemu kamu disini. Ehm aku tahu kemarin kamu sempat nolak ajakan aku itu karena kamu juga lagi ada disini, terus tahu kita mau kesini juga kamu jadi punya rencana mau kasih surprise gitu kan? Haduh, aku bener bener senang banget lho lihat ada kamu disini, mereka mereka juga sama. Hm kamu udah dari jam berapa Kae disini?" Sembari mengulas senyum hangat di bibirnya, zefa terus saja menatap kearah Kaesang yang saat itu tak sedang menatapnya, melainkan kearah lain.


Walaupun ia mendengar dan tahu, tetapi kaesang memilih diam, dan tak menggubrisnya sama sekali. Ia hanya tak ingin terlalu banyak bicara hal yang tak berguna, tapi selain itu ia juga sesekali menatap datar kearah zefa dan yang lain.


Melihat Kaesang tak meresponnya hingga beberapa saat lamanya, zefa pun menghela nafas kemudian tersenyum, "Oh yaudah deh lupain aja. Ehm kaesang ikut kita yuk. kita mau ada acara makan-makan nih di gazebo sebelah sana. Dan kalian tadi pada bawa pesenan gua kan? oke. Hmm kamu gak keberatan kan ikut sama kita, atau kamu lagi sama seseorang?" Dapat dilihat dari sorot matanya yang mulai ada sedikit kecurigaan di sana.


Kaesang yang malas menjawab, selepas menghela nafas lalu berkata dengan dingin, "Aku emang lagi sendirian. Tapi maaf aku gak bisa ikut sama kalian. sekali lagi makasih atas tawarannya." Masih dengan wajah datarnya. dan sesaat ia hendak berjalan pergi, tiba-tiba zefa menahan lengannya begitu saja, hingga membuatnya terpaksa berhenti, lalu menoleh ke arahnya.


Dengan masih memegang lengan kaesang, dan wajahnya yang ia buat seimut mungkin, zefa kembali membujuk kaesang, katanya, "Ayolah, Kae sekali aja. kamu kan nggak pernah ikut kumpul-kumpul sama kita. lagi pula kita akan lebih senang lagi kalau kamu ikutan juga ya kan guys?" Sembari berbalik menatap kearah teman temannya, ia berharap jika semua teman temannya juga turut mendukungnya kali ini.

__ADS_1


"Iya. Ayo sang ikut aja. kita rame-rame kok, dan gue jamin lu gak bakalan bosen deh ikut sama kita," Satu anak lelaki turut menyahut, dan itu tentu saja membuat kaesang tak enak jika harus menolaknya.


"Hm, ayo Kae. Ikut aja gak papa kok." Kini zelyn yang berucap. karena banyaknya desakan dan bujukan, akhirnya kaesang pun merenung sejenak, dan mengangguk sebagai respon.


Melihat kaesang setuju tuk ikut dengan mereka, zefa pun lantas tersenyum puas, ia tak henti hentinya berucap syukur karena Dewi neptuna mau membawa kaesang kemari. Selepas selesai berbincang, mereka pun kembali berjalan menuju gazebo yang dimaksud. Bahkan zefa pun mulai mengulas senyum hangatnya sesaat menatap kearah punggung kaesang yang terlihat berjalan di didepannya.


"Kamu gak bakalan bisa lepas dari aku hari ini kaesang. Haha, kayaknya Tuhan berpihak padaku hari ini, hingga buat kamu hadir tepat di hadapan aku, Tanpa ku minta sekalipun." ucap zefa dalam hati sembari tatapannya tetap mengarah pada punggung kaesang di depannya, serta seringaian kecil yang turut mengiringi setiap langkahnya itu.


...Sesaat kemudian......


Kini nampaklah zefa, dan beberapa anak yang lain termasuk juga kaesang yang akhirnya memutuskan tuk ikut bersama dengan mereka. Mereka semua duduk melingkar dengan zefa yang sengaja mengambil tempat di samping kaesang, walaupun kaesang sempat risih dengan adanya zefa di sebelahnya, tapi ya tak apalah, orang cuma duduk sebelahan doang kok. Tapi semoga saja ia tak berbuat yang macam macam nantinya.


Kini mereka pun sama sama makan dengan makanan yang sengaja dipesannya dari awal. Kaesang awalnya tak enak ingin ikut makan bersama dengan mereka, mengingat ia tak ikut berpartisipasi apapun, tapi melihat mereka yang terus terusan mendesaknya akhirnya kaesang pun mau turut makan dengan mereka, walaupun ia risih dengan zefa yang sedari tadi hanya menatapnya tak lupa dengan senyuman di wajahnya.


Suasananya begitu hangat, hingga kaesang yang tak pernah merasakan kehangatan seperti itupun sempat tersenyum tipis menatap kearah teman sekelasnya yang ternyata begitu baik padanya, bahkan zefa yang semula dibencinya pun hingga begitu baik padanya kali ini.


Semula semua biasa saja, mereka sama-sama makan, dan mengobrol satu sama lain. obrolan hingga candaan terlucu sekalipun sudah mereka dendangkan disini. tapi walaupun tak sedikit di antara mereka yang mengajak Kaesang tuk turut gabung dengan obrolan mereka, kaesang sama sekali tak mengindahkan itu, ia tetap diam tak sekalipun turut menyahut. Ia hanya tersenyum tipis sesaat ada tatapan yang mengarah padanya. Hingga sengaja ataupun tidak, kaesang sempat tersentak, dan merasa tak nyaman seketika sesaat tangan zefa tiba tiba menggenggam tangannya. Sudah ia duga jika hal ini pasti akan terjadi.


Kaesang sempat bosan hingga akhirnya ia rogoh handphone miliknya dari dalam saku celananya lalu memainkannya, hingga tak berapa lama setelah itu salah seorang anak diantara mereka mulai mengeluarkan beberapa botol berwarna gelap dengan gambar tengkorak di depannya. Dan ia pun dapat menebak itu apa, ya minuman keras, lebih tepatnya wine atau apapun itu. Melihat itu kaesang pun jadi berpikir, apa ini yang zefa maksud pesanannya, tapi kenapa harus minuman keras sih?


Sesaat mereka mulai menuangkan minuman tersebut kegelas mereka masing masing, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Membuat kaesang bergidik, bukannya minuman tersebut sangat pahit ya, tapi Kenapa seolah minuman tersebut begitu manis hingga mereka menegaknya dengan begitu rakus seolah-olah tak pernah meminum air seharian. Ya kurang lebih semuanya sama, bahkan zefa sekalipun. Sementara kaesang yang seumur hidup tak pernah meminum hal semacam itu hanya diam sembari memperhatikan mereka.


Bahkan saat kaesang menoleh kearah zefa di sebelahnya, ia geleng geleng kepala dan tak percaya jika gadis sepertinya dapat meminum hal semacam itu, bukan apa, tapi zefa bukan hanya minum segelas dua gelas tapi sekalinya habis ia akan menuangkannya lagi. Lalu muncul spekulasi di kepalanya, mungkinkah tanpa diketahui oleh siapapun zefa telah biasa meminum hal semacam ini? bahkan ia nampak begitu menikmatinya. Terlebih ia lebih Tak habis pikir lagi olehnya sesaat melihat dirinya dan beberapa di antara mereka yang mulai sempoyongan dan sedikit mabuk selepas meminum beberapa gelas dari minuman itu. Tapi kaesang yang memang tak ingin minum minuman itu hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tetap memperhatikan mereka.


lalu saat perhatian Kaesang mulai teralihkan sepenuhnya pada handphone di tangannya, tiba-tiba tersentak sesaat Zefa menyodorkan segelas penuh minuman yang diminumnya itu pada kaesang. Menolak, tentu saja. ia tetap bersikeras tuk tak menerima minuman itu, dengan alasan tak pernah meminumnya seumur hidupnya.


Dipikir mereka akan menyerah, karena kaesang terus saja menolak, tapi ternyata dugaannya salah, bukan hanya zefa tapi banyak diantara mereka yang turut membujuk dirinya agar mau mencoba minuman itu. Kaesang bingung, ia tak mungkin minum minuman itu, walaupun ia sendiri tak tahu rasanya seperti apa, tapi melihat mereka yang terus menerus membujuknya, akhirnya kaesang pun luluh juga. Ia lantas meraih minuman itu dari tangan zefa dengan sorot terpaksa. semula Ia hanya memperhatikan minuman berwarna kuning pekat itu di tangannya, dan berpikir, apakah tidak apa aku minum ini hari ini? tapi gak papa kali ya, Orang cuma segelas doang. selepas cukup berpikir Kaesang pun menegak minuman itu hingga tak bersisa setetes pun. seperti dugaannya rasanya begitu pahit tapi memang di samping rasa pahitnya juga ada sedikit rasa buah-buahnya, apalagi ada sedikit rasa manis yang mendominasi. walaupun begitu tetap saja baunya sangat-sangat menyengat dan sama sekali tidak enak. bahkan hampir saja menyakiti tenggorokannya.


tapi melihat dari cara mereka meminumnya, mengapa mereka seakan biasa saja, seolah mereka memang sudah sering meminum hal semacam ini. bahkan beberapa diantara mereka termasuk zefa nampak begitu kecanduan. apakah rasa pahit ini tak menyakiti tenggorokannya.


sesaat minuman tersebut telah kaesang teguk hingga habis, beberapa saat kemudian mulailah ia merasakan sesuatu di kepalanya. Ya, ia mulai merasakan pusing, pandangannya pun mulai kabur. akan tetapi entah mengapa sempat dilihatnya, sesaat nampak dirinya mulai merasakan pusing banyak senyuman puas yang tersungging di bibir mereka termasuk zefa. apa maksud senyuman mereka itu?. lalu tak berselang beberapa lama Selepas itu, pandangannya yang semakin kabur, dan pusing di kepalanya yang semakin lama semakin parah, akhirnya detik itu juga kaesang pun jatuh pingsan tak sadarkan diri selepas tak dapat menopang tubuhnya lebih lama lagi. Ia tergeletak tak sadarkan diri tepat di samping zefa. lantas melihat kondisi Kaesang yang seperti itu zefa pun lantas tersenyum puas sembari menatap lekat ke arah Kaesang.


Sembari tersenyum miring menatap kearah kaesang, ia pun kembali berucap dalam hati, "Aku tahu kamu pasti gak bakalan kuat minum ini Kaesang. itulah sebabnya mengapa aku bersikeras buat minta kamu minum ini. maaf kae sayang. Aku terpaksa lakuin ini, karena jika tidak aku gak bakal dapat kesempatan lagi buat milikin kamu sepenuhnya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2