Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 91 -Putus!


__ADS_3

"Selamat atas hubungan barumu dengan Zefanya." nadanya terdengar bergetar. wajahnya dingin tanpa ekspresi, Tyas sama sekali tak menoleh kearah Kaesang. Pandangannya tetap lurus kedepan. Walau terlihat santai dan biasa saja, tapi Kaesang dapat menebak jika Tyas tengah menyembunyikan perasaannya saat itu. Ia seperti berkaca kaca tapi ia menahan itu di depan Kaesang. Tak ingin jika lelaki itu melihatnya menangis. Terlebih tangannya terlihat bergetar selama Tyas mengatakan itu.


Kaesang pun menundukkan wajahnya. Ia bingung harus mengatakan apa pada Tyas saat ini. apakah harus ia katakan sejujurnya agar Tyas percaya padanya, dan hubungannya membaik. Tapi, bagaimana dengan Zefanya? Gadis itu tak mungkin tinggal diam kan? Lantas jalan apa yang harus diambil oleh kaesang sekarang?


"Maaf dear, a-aku tak punya pilihan lain." Kaesang pun berkata dengan begitu lemah. Ia sama sekali tak mengangkat wajahnya. ia terus tertunduk sambil sesekali melirik kearah Tyas. Gadis itu tak bergeming sama sekali. Bahkan ia terus saja diam hingga saat ini.


"Aku tau semuanya kok, kamu tidak perlu berkelik lagi." ucapnya seraya menoleh kearah Kaesang.


"K-kamu tau?" mata kaesang membulat sempurna. Ia terkejut dengan tanggapan Tyas. Ia tau, tapi tau apa, dan dari mana ia tau?


"Aku tau kok kalau kamu sudah tak menyukaiku lagi. Aku tau kok jika aku sudah tak menarik lagi di matamu. Mungkin dulu aku begitu menyukaimu hingga percaya sekali jika kamu berbeda dari lelaki lain, tapi kejadian kemarin membuktikan semuanya. Kamu pun sama, semua lelaki sama saja. Pembohong, dan penghianat. Tapi, kamu cocok kok dengan Zefa. Dia gadis yang cantik dan fashionable. Mungkin kamu akan lebih bahagia jika dengannya dibanding denganku dulu."


Kaesang sama sekali tak menyela. ia hanya diam mendengarkan apa yang Tyas ucapkan. Tapi rasanya begitu sedih saat mendengar Tyas menyebutnya pembohong dan penghianat. air matanya pun menetes saat itu juga. Bahkan kaesang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah Tyas. Ia tak percaya jika Tyas yang begitu lembut, dapat mengatakan itu kepadanya.


"Mungkin kita akhiri saja hubungan kita. Karena sejujurnya hubungan kita ini salah. Tak seharusnya hubungan ini terjadi. Maka dengan adanya kejadian itu, sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Aku melihat cinta zefa padamu begitu besar, maka dari itu jangan pernah kecewakan dia. Sayangilah dia seperti kamu menyayangiku dulu. Terima kasih sudah pernah hadir di hidupku. Tapi maaf, karena aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu."


Setelahnya Tyas pergi begitu saja tanpa bisa di cegah. Kaesang bahkan hanya diam menatap punggung Tyas yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Maafkan aku dear. Maafkan aku. Aku tak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tak ingin kehilangan reputasiku. sekarang aku harus apa dear? Harus apa? Kamu memilih pergi, dan sekarang tak ada seorangpun yang akan mengerti diriku sekalipun itu Zefa. Dear, maafkan aku karena telah membuatmu kecewa dan menangis seperti ini."


......................


Beberapa hari setelah hari itu. Kini hari hari kaesang lalui sendiri tanpa adanya sosok Tyas di sisinya. Ia benar-benar sendirian, tak pernah sedikitpun Tyas mau menelponnya ataupun mengiriminya pesan seperti biasa. Mereka sudah benar-benar putus hubungan. Bahkan, saat di kelas pun Tyas enggan tuk menatapnya. Mengobrol pun tidak. Sangat jauh berbeda dari saat sebelum kejadian ini terjadi. Hingga sesaat setelahnya, atensi semuanya tercuri oleh kedatangan ibu kepala sekolah dan seorang gadis tak asing ke kelas dimana kaesang berada.


"Permisi Bu Tyas, maaf mengganggu jam mengajarnya. Ini saya cuma mau mengantarkan anak ini ke kelas barunya. Dia anak pindahan, sebenarnya dia sudah pindah ke sini dari beberapa hari yang lalu, tapi di kelas sebelumnya dia ada masalah makanya dia saya pindahkan ke kelas ini. Nak, kemarilah." ucap pak kepala sekolah.


"Nak, ini Bu Tyas, dia guru bahasa Inggris di sekolah ini." setelah pak kepala sekolah berkata demikian, si anak perempuan itupun datang dan mencium punggung tangan Tyas dengan takzim.


"Iya pak, tidak papa." jawab Tyas kemudian.


"Nak, sekarang silahkan kamu perkenalkan diri kamu ke semua yang ada di sini." ucap Tyas pada gadis itu.


"Aku Zeymora elzavira syaqila, biasa dipanggil Zeya."


Hanya itu yang diucapkan gadis itu. Rasa rasanya kaesang pernah melihatnya sebelumnya tapi ia lupa. Dimana, dan kapan? Tapi melihatnya, kaesang dapat melihat jika gadis itu begitu mirip dengannya. Dia dingin, dan jutek, persis seperti kepribadiannya. Hanya saja matanya sedikit lebih tajam darinya.

__ADS_1


"Baiklah, Zeya, selamat datang di kelas ini. Nah, itu di belakang di sebelah Kaesang ada bangku kosong, kamu boleh tempati itu." ucap Tyas ramah.


Zeya hanya mengangguk lalu setelahnya dia berlalu menuju ke bangku yang Tyas maksud.


Saat gadis itu mulai duduk, semua mata tertuju padanya. Sebab wajah gadis itu lumayan cantik, namun, dia begitu jutek. Sifatnya misterius, dan tak seorangpun tau siapa dia yang sebenarnya. Bahkan alasan ia pindah kelas pun tak seorangpun tau, kecuali dirinya sendiri. Hingga kaesang menyadari adanya tatapan tajam Zefa yang ia tunjukkan pada Zeya. Namun gadis itu tak menggubris. Ia terus menyimak pelajaran tanpa mau sedikitpun menoleh kearah Zefa.


"Sepertinya aku pernah bertemu gadis itu sebelumnya, tapi di mana ya?" batin kaesang seraya melirik kearah Zeya.


Flashback...


"Apa?! Aku mau di pindahin ke kelasnya Zefa?! Nggak! nggak mau, lebih baik aku nggak sekolah dari pada harus sekelas sama dia." ucap Zeya pada sang papa sembari berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.


"Memangnya kenapa sih Zey, udahlah turunin ego kamu. Kenapa sih kamu anti banget sama adik kamu, dia selama ini baik loh sama kamu, sama semuanya. Tapi kamu tetep aja gini sama dia. Kasar, terus pergi dari rumah lagi. Udah papa nggak mau tau, pokoknya papa udah pindahin kamu ke kelasnya Zefa. Jadi besok kamu sudah bisa belajar di sana. Inget, kalian itu saudara, jangan berantem berantem lagi. baik sama adik kamu, bisa?!" setelahnya sang papa pun pergi meninggalkan Zeya di ruangan itu sendirian.


Setelahnya Zeya hanya diam menahan amarahnya. Ia tak bisa menolak perintah papanya, karena itu memang sudah terjadi. Intinya Zeya yang sekarang bukanlah Zeya yang dulu. Ia tak masalah jika memang ia harus sekelas dengan adik tirinya itu, tapi lihatlah apa yang akan Zeya lakukan jika Zefa berani mengusiknya barang sedikitpun.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2