
Kelanjutan dari episode kemarin....
Saat menyadari pertunjukan kembang api tersebut telah usai, dan hari juga semakin larut, Tyas pun kembali mengajak Kaesang tuk segera pulang, karena bagaimanapun juga ia masih harus mengajar besok, dan jangan sampai ia kesiangan karena hal ini. Akan tetapi, setelah Kaesang lirik kearah arloji di tangannya, ia pun mengiyakan ajakan Tyas tersebut, dan mereka pun hendak berjalan pulang, tapi baru saja dua langkah ia berjalan, tiba tiba ia teringat sesuatu, lantas ia pun menarik Tyas kesuatu kedai yang menjual beragam jenis pernak pernik indah, lalu menyuruh Tyas tuk memilih satu yang menurutnya paling indah. Tak mengerti, dan tak faham, mengapa tiba tiba Kaesang ingin membeli barang seperti ini, ia pun lantas nurut saja apapun yang dimintanya, dan mulai mencari cari pernak pernik mana yang menurutnya indah. Semuanya serasa sama, tak ada yang berhasil menarik perhatiannya, kecuali sesuatu barang, ya, sebuah liontin indah dengan sebuah bulan sabit sebagai bandul dari liontin tersebut. Tyas pun lantas mengambil kalung tersebut, dan memperlihatkannya pada Kaesang.
"Kae, lihat ini, bagus kan." Ucapnya sembari memperlihatkan liontin indah yang berhasil menarik perhatiannya itu.
"Hemm, bagus, ambil aja kalau kamu mau." Balasnya, saat mendengar jawaban Kaesang, Tyas pun lantas bingung, dan tak mengerti, jadi apa maksudnya mengajaknya kemari.
"Maksudnya?, sebenarnya kamu narik aku kesini ada tujuan apa sih?, kamu mau beli sesuatu di kedai ini, atau..?" Tanya Tyas langsung, Kaesang yang mendengar pertanyaan dari Tyas tersebut lantas mendengus, lalu memasang muka datar kearahnya.
"Mau beliin kamu sesuatu, apapun itu, pilih aja asalkan kamu suka, mau sekedainya juga bakal kubeli kalau seumpama kamu mau, terus kamu kira aku kesini mau ngapain, cuma sekedar gabut doang gitu." Balas Kaesang malas.
"Buat aku?, ngapain, kan tadi udah, lagipula pernak pernik ini gak bakal kupakai juga, jadi rugi aja kalau seumpama tetap beli gitu, awalnya kukira kamu mau beli pernak pernik gini buat kado untuk sepupu kamu, atau kerabat kamu mungkin, tapi ternyata malah buat aku, huuft, kamu mah Kae, susah di tebak tahu gak." Oceh Tyas sembari memasang muka sebalnya menatap kearah Kaesang.
"Ya jelas aku beliin buat kamu lah, buat siapa lagi, sepupu, haha, ngaco kali, orang aku aja gak kenal sama sekali sama sepupu aku, kalau kerabat juga siapa, gak ada, jadi ya cuma kamu yang mau aku kasih itu. Maaf ya, bisanya sekarang cuma kasih itu, tapi tenang aja, lain kali aku bakal beliin kamu kalung yang bagus, terus aku hadiahin boneka hamster yang gede, biar kamu bisa peluk itu kalau lagi kangen aku."
"Ahh, kamu mah, bisa aja, tapi serius ini buat aku?" Tanya lagi Tyas.
"Iya, kalau kamu beneran suka, ambil aja, aku malah senang kalau seumpama kamu mau minta sesuatu sama aku, jadi kamu beneran suka itu?" Tanyanya memastikan.
"Suka sih, tapi..." Tiba tiba ucapannya terputus, sekilas ia teringat kembali dengan memory usang yang sempat dikuburnya dalam dalam, dimana kenangan itu adalah titik terendah dalam hidupnya, dan kalung ini adalah sesuatu barang yang sempat ada di dalam memorinya itu.
...Flashback mode on......
__ADS_1
Semua ini berawal saat Tyas baru genap berusia delapan tahun, ia yang saat itu baru saja merayakan pesta ulang tahunnya yang ke-8 tahun bersama para sahabatnya juga kedua orang tuanya, tiba-tiba saja limbung, dan jatuh pingsan saat dirinya hendak memotong kue ulang tahunnya tersebut, saat mendapati putrinya tengah pingsan, kedua orang tua Tyas pun, sangat begitu terkejut, dan khawatir,
"AHH, TYASSS, KAMU KENAPA NAK?!" Ucap panik Linda, bunda dari Tyas tersebut sembari datang, dan memangku tubuh kecil Tyas dalam pangkuannya.
"Udah Bun, bawa ke rumah sakit aja, ayok." Selepas Rudi, sang ayah mengatakan demikian, lantas mereka berdua pun membawa Tyas ke rumah sakit terdekat guna memeriksakan kondisi kesehatan putri mereka itu, mengapa ia bisa jatuh pingsan seperti ini, padahal tadi baik baik saja. Mereka takut jika putri mereka itu kenapa Napa.
Didalam mobil, berulang kali Linda menepuk nepuk pipi Tyas guna membangunkannya, tapi nyatanya Tyas tak kunjung bangun, lalu mereka pun semakin khawatir saat mendapati wajah putri mereka itu sudah mulai memucat, dan tubuhnya mulai mendingin, kemudian tanpa pikir panjang, Rudi pun semakin mempercepat laju kendaraannya itu, berulang kali ia menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depannya dengan begitu cepat, hingga sang istri memperingatkannya agar dirinya lebih berhati hati.
Lalu di sela sela ke khawatiran nya, akhirnya tibalah mereka di rumah sakit Jakarta mandiri, rumah sakit terdekat di daerah itu. Saat baru saja mobil mereka itu terparkir rapi di parkiran, Rudi, dan Linda pun buru buru turun dari mobil, lalu Rudi yang berjalan cepat mendahului Linda segera berlari sembari menggendong tubuh putrinya itu memasuki rumah sakit, di lobi ia beserta istrinya begitu panik, lalu meminta pada beberapa suster di sana tuk segera menangani putri mereka tersebut.
Saat brankar datang, dan membawa tubuh mungil Tyas memasuki ruang IGD, kedua orang tuanya pun sangat begitu takut dan khawatir jika putri mereka sampai kenapa-napa, mengenang hanya Tyas lah satu satunya putri mereka.
Berulang kali mereka berdiri dan duduk kembali karena dokter yang memeriksa putrinya tersebut tak kunjung keluar dari ruangan, bahkan sang ibu pun sempat syok saat mengetahui kalau putrinya itu tengah pingsan, dan takut terjadi hal yang tidak-tidak pada putrinya itu. Lalu tak beberapa lama setelah itu, dokter pun keluar bersama salah seorang suster, saat mendapati dokter telah keluar dari ruangan anaknya, kedua orang tua Tyas pun segera beranjak berdiri dari duduk mereka, dan menghampiri dokter tersebut.
Saat mendapati wajah muram dokter tersebut, kedua orang tua Tyas pun lantas takut jika terjadi sesuatu dengan Putri mereka, lalu dengan cepat Linda pun bergegas tuk bertanya pada dokter tersebut mengenai kondisi putrinya itu, ia lantas menangis saat menanyakan itu, seakan sudah mengetahui kondisi terkini putrinya tersebut. Lalu dengan berat dokter pun mengatakan,
"Memangnya apa yang terjadi sama putri kami dok, dia baik baik saja kan?" Tanya cemas Linda.
"Iya dok, dia hanya kecapean saja kan, gak ngalamin hal yang serius, kan?" Tambah Rudi, yang ikut panik sama halnya dengan sang istri. Ia lantas merangkul istrinya itu untuk menenangkannya, dan berharap hal baik akan segera mereka dengar.
Dokter yang tak tahu lagi harus berkata apa, lantas menjelaskan kondisi terkini Tyas itu pada kedua orang tuanya, ia menjelaskan jika saat ini kondisi Tyas sedang tidak baik-baik saja, ada kanker ganas yang bersarang di otaknya, dan itu bukanlah penyakit yang main-main, sejauh ini belum ada yang berhasil sembuh dari penyakit itu, dan kemungkinan sembuh pun kecil. Dokter Lita pun sangat begitu detail dalam menjabarkannya hingga berhasil membuat kedua orang tua Tyas pun terdiam, dan tak dapat berkata kata. Mereka syok berat, dan tak percaya akan kenyataan tersebut.
"Gak, itu gak mungkin dok, anak kami pasti baik baik saja, dia pasti cuma kecapean aja itu, dokter pasti yang salah. Ayo periksa lagi dok, tolong, Tyas pasti baik baik saja, dia gak mungkin sakit separah itu, gak mungkin." Ucap Linda sembari menangis lalu memeluk tubuh suaminya erat, ia seakan tak percaya jika putri kecil mereka itu yang dikiranya sama dengan anak kebanyakan, ternyata mengidap penyakit sebahaya itu, mereka pun lantas tak percaya, dan berharap ini semua adalah mimpi, mengenang mereka baru saja kehilangan putra pertama mereka dua tahun yang lalu karena kasus yang sama, yaitu kanker otak stadium akhir.
__ADS_1
Mereka sungguh tak percaya jika putri mereka ini juga mengalami hal yang sarupa dengan anak mereka sebelumnya, lalu Rudi pun semakin mengeratkan pelukannya dengan sang istri, kemudian tanpa sadar ia pun turut menangis, akan tetapi sesaat setelah itu, dokter Lita pun mengatakan sesuatu pada mereka, dimana sesuatu itu adalah harapan satu satunya untuk kehidupan putri mereka, Tyas.
"Pak, Bu, yang tenang ya, yang sabar, walaupun penyakit ini sulit tuk di sembuhkan, dan kemungkinan sembuhpun kecil, tapi masih ada jalan agar penyakit ini bisa sembuh kan, asalkan anak yang bersangkutan selalu rutin minum obat, menjalani cek up rutin, dan yang paling penting bersedia melakukan operasi, insyaallah Tyas pasti bisa sembuh dari penyakit itu." Terang dokter lita, dari pernyataan dokter Lita tersebut, rupanya berhasil mendinginkan rasa sedih di antara kedua orang tua itu, lantas mereka pun tanpa pikir panjang langsung menyetujui semua yang dikatakan dokter tersebut, mereka bersedia melakukan apa saja, dan mengijinkan putri mereka tuk melakukan semua proses pengobatan itu, asalkan putri mereka bisa sembuh seperti sedia kala. Mengingat mereka benar benar takut kehilangan putri mereka itu.
Tapi disisi lain, ternyata Tyas kecil telah sadar dari pingsannya, dan tengah berdiri dibalik pintu sembari menguping pembicaraan kedua orang tuanya itu dengan dokter, saat mengetahui kenyataan tentang dirinya, Ia pun lantas menangis, dan langsung berlari kembali naik ke atas ranjangnya, lalu berpura-pura tidur kembali, sampai akhirnya kedua orang tuanya itu memasuki ruangannya bersama dokter cantik tersebut.
...Flashback mode off......
Saat kenangan itu tiba tiba terlintas begitu saja di ingatannya, Tyas pun langsung limbung, dan hendak terjatuh, tapi dengan sigap Kaesang langsung menangkap tubuhnya, dan khawatir, apakah Tyas pusing kembali?
"Eh?!, kamu kenapa, dear, sakit?, kita pulang aja yuk." Selepas mengatakan itu Kaesang pun buru buru membayar liontin yang sempat disukai Tyas tersebut lalu menyimpannya lebih dulu, kemudian membopong Tyas hingga sampai ke tempat dimana mobilnya terparkir, ia benar benar takut jika Tyas kenapa Napa, mengingat ini adalah ajakannya.
'Kalung, kalung itu?, kenapa kalung itu begitu mirip dengan kalung yang ayah kasih di hari ulang tahunku dulu?, apa ini suatu kebetulan?, ahh, aku benar benar pusing memikirkannya, kuharap kenangan ini akan segera hilang dari ingatanku.' Ucap Tyas dalam hati, sembari dibopong Kaesang, ia sempat memikirkan semua kenangan yang sempat terlintas di pikirannya itu, juga kalung yang sempat dilihatnya tadi di kedai tersebut. Mengapa memory usang itu tiba tiba terlintas di pikirannya begitu saja setelah sekian lama ia mencoba tuk menguburnya dalam dalam, apakah itu sebuah pertanda?
...........................................................................
Di sebuah sekolah elite di London, Inggris, seorang gadis manis tengah duduk sendirian di perpustakaan dengan sebuah buku di tangannya, ia begitu fokus pada buku yang tengah dibacanya itu, hingga seorang temannya memanggilnya.
"Vier, You don't want to go back to class, the clock is about to end(kamu tidak mau kembali ke kelas, jam sudah mau habis nih)" Tegur temannya itu, saat menyadari Panggilan teman sekelasnya itu, Vierra pun lantas menoleh, sembari tersenyum ia mengatakan.
"Wait a minute, still like this(bentar lagi, masih betah ini)" Jawabnya sembari fokus kembali pada buku di tangannya, dan menghiraukan panggilan temannya tersebut, yang masih setia berdiri di samping Vierra sembari berkacak pinggang.
"okay, but I'll be back soon, promise(Okay, tapi bentar lagi kembali ya, janji)" Ucap temannya itu sembari mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan muka Vierra.
__ADS_1
"promise(janji)" Selepas mengatakan itu, teman sekelas Vierra itu pun pergi meninggalkannya sendiri di sana, dan kembali ke kelasnya, sebab waktu istirahat sudah hampir berakhir. Tapi Vierra masih tak ingin beranjak dari tempatnya, ia masih ingin berlama lama di sana, mengingat ia sangat menyukai buku, dan perpustakaan, tapi mengingat tentang perpustakaan, ia kembali diingatkan dengan seseorang, yang juga sama sama menyukai buku, dan perpustakaan. Di setiap kegiatannya, ia selalu teringat akan sosok lelaki itu, padahal ini sudah dua tahun lebih, tapi kenapa dirinya masih belum bisa melupakannya sama sekali?, lantas sedang apa ya lelaki itu Sekarang?, pertanyaan itu selalu terngiang di pikirannya, hingga membuatnya kesal, lalu memutuskan tuk meniggalkan perpustakaan tersebut, dan kembali ke kelasnya.
Bersambung.