
Di saat jam istirahat di sebuah kantin yang lumayan ramai, duduklah dua orang gadis cantik berseragam kan putih abu abu. Yang satu berambut lurus sebahu dengan bando pink di kepalanya dan seorang lagi juga tak kalah cantik, dia gadis manis berwajahkan tirus, berambut gelombang dengan ikatan satu ke belakang.
Mereka adalah sepasang sahabat yaitu Zora si gadis berambut lurus, dan juga Salma gadis dengan rambut gelombang. Mereka tengah makan sebuah gado gado di suatu kedai sembari menertawakan foto seorang laki laki di ponsel milik Salma.
Tawa mereka begitu renyah hingga Zora yang telah selesai dengan makanannya memutuskan tuk kembali ke kelasnya dengan alasan bel sudah berbunyi.
"Sal, ke kelas yuk, dah mau bel nih." Ajak Zora seraya berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya memasuki kedai tersebut dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari sakunya kemudian memberikan uang itu pada si ibu pemilik kedai.
Dan setelahnya ia pun kembali menghampiri sahabatnya tadi yang hingga saat ini masih fokus pada makanan juga hp di tangannya.
"Halah bentar lagi napa Ra. Masih belum abis ini makanan gue, lagi pula hm, gue tahu Lo pasti mau buru buru ke kelas karena pengen nyamperin Wisnu kan? gayalo pake alesan mau bel segala." Tak setuju dengan ajakan sahabatnya, Salma pun kembali menyantap makanannya dengan santai sembari menyecroll sesuatu di handphonenya.
Karena jawaban Salma lima puluh persen adalah benar zora pun tersenyum sebelum akhirnya ia pun berlalu meninggalkan Salma di sana.
"Terserah Lo lah. Gua mau ke kelas."
__ADS_1
Sesaat mendengar itu, Salma pun mulai menatap sahabatnya itu, ia sempat memakan dengan cepat makanannya hingga sesaat kemudian berteriaklah ia memanggil temannya itu dan buru buru menyusulnya sesaat dirinya telah selesai membayar makanannya tadi.
"Gila Lo, main tinggal tinggal aja. sahabat macam apa Lo, untung gue baik, bisa maklumi Lo, kalau gak udah gue uleg Lo jadi sambel." Omelnya seraya mensejajarkan diri di sebelah Zora, dan menatap sinis kearahnya.
"Yaelah gitu doang marah, jangan lebay lebay amat napa, ntar gue jodohin ma Donny baru tahu rasa Lo ubi goreng." Dengan Sunggingan bibirnya yang manis, dan tatapannya yang tetap lurus ke depan. Zora pun berhasil membuat darah di tubuh Salma mendidih seketika, ya mendengar nama pria pembuat onar itu disebutkan membuat rasa kesal di diri Salma semakin bertambah, terlebih tanpa bersalah Zora tetap tersenyum seraya berjalan di sebelah Salma tanpa menatapnya sedikitpun.
Tapi belum sempat salma mengumpat, dan mengeluarkan rasa kesalnya tiba tiba terdengarlah suara panggilan dari seorang gadis yang amat dikenalnya dari belakang. Dan mendengar ada yang memanggil, Salma dan Zora pun lantas berhenti, mereka berbalik badan dan menatap tiga orang gadis yang amat sangat menyebalkan tengah menatap remeh mereka seraya melipat lengannya.
"Mau ngapain cecunguk kayak kalian bertiga manggil kita, hah?!" Dengan sarkas dan dingin, Salma pun berucap dengan nada dingin dan sorot tajam miliknya. Ia mewakili sahabatnya itu yang hingga kini masih terdiam seraya menatap datar kearah mereka.
"Lho kok ngegas sih, padahal niat kita cuma mau ngobrol sama temen Lo itu aja. ya kan guys." Gadis bernama Sandra itu pun berbalik menatap kedua sahabatnya lalu kembali melangkah mendekati kedua gadis itu yang masih diam di tempatnya.
Saat melihat cucu pemilik yayasan atau kerab dipanggil Sandra itu ingin menemui Zora, Salma sudah dapat menebak jika Sandra pasti ingin melakukan sesuatu pada temannya itu, terlebih sandra yang telah menyukai Wisnu dari awal merasa tak terima jika orang yang disukainya itu bersama orang lain. Ia yang awalnya tak terlalu menggubris adanya Zora, mulai mengamati gerak geriknya, dan berambisi tuk merebut Wisnu darinya sebab dipikirannya pastilah Zora yang menggoda Wisnu sebab tak mungkin lah lelaki setampan dan setajir Wisnu dapat tertarik dengan gadis biasa seperti Zora kalau tidak dirayu, dan digoda.
"Mulutnya gede tapi otaknya tolol banget. Dasar kutu rendahan. Lo kira diantara Guru disini ada gitu yang berani ngehukum Sandra seorang cucu pemilik yayasan, hm. Lagipula gue cuma mau ngobrol sama temen Lo bukan Lo. jadi Lo diem, atau gue suruh kedua temen gue ikat Lo di pohon rambutan sekarang juga!" Ancamnya tak kalah tajam. Saat sudah berada tepat di depan mereka, Sandra pun mulai menatap tajam kearah Salma sebelum akhirnya ia pun berbalik menatap Zora dengan senyuman miringnya.
__ADS_1
"Ngapain senyum senyum! cepet, Lo mau ngobrolin apa sama gue. Gue gak ada waktu, jadi cepet atau gak usah ngobrol sama gue sekalian!" Saat mulut tajam Zora bersuara, Sandra yang mendengarnya pun mulai sedikit tersentak ia mengerutkan keningnya sebelum akhirnya ia pun menghela nafas dan tersenyum.
"Hm, dasar sok sibuk. Gue sih sebenarnya males banget ya ngobrol kayak gini sama Lo, tapi ya ini harus, dan kudu Lo lakuin." Sesaat Sandra mendekatkan wajahnya pada Zora dan tersenyum miring kearahnya, barulah setelahnya ia pun menjauhkan wajahnya kembali.
"Jauhi Wisnu sekarang juga." Tepat di telinga Zora, Sandra pun membisikkan kata kata terlarang itu. Ia benar benar melakukannya, dan parahnya Zora sudah menduganya dari awal. Zora lantas tersenyum miring seraya menatap tajam kearah Sandra di hadapannya. Ia mulai melipat lengannya di depan dada lalu mengatakan sesuatu tepat di depan muka Sandra.
"Emang siapa Lo berani nyuruh nyuruh gue, hm?" Selepas berhasil membuat muka Sandra memerah seketika, Zora pun lantas menegakkan kepalanya kembali. ia masih menatap lekat gadis bertubuh lebih tinggi darinya itu seraya tersenyum miring, dan tangannya yang terlipat.
"Gue calon tunangannya, kenapa, kaget Lo. Kedua orang tua kita udah jodohin kita dari kecil, dan sekarang mereka lagi ngerencanain pesta pertunangan kita. Jadi sebelum terlambat, gue peringatin ya sama Lo, jauhi Wisnu, atau gue gak segan segan buat bertindak kasar sama Lo." Mendengar perkataan Sandra, Zora yang mendengarnya pun lantas tertawa seketika, ia menganggap jika perkataan Sandra barusan hanya bualan belaka, dan dimaksudkan tuk menggertaknya saja.
Sementara Sandra yang mendengarnya sempat mengernyit heran, tapi belum juga ia melanjutkan ucapannya, tiba tiba ia dikejutkan dengan munculnya sesosok Wisnu tepat di belakang tubuh Zora seraya menatapnya tajam. Ia sempat membeku, dan lidahnya kaku seketika manakala mata mereka saling bertemu. Terlebih Tanpa tahu datangnya, dan mendengar langkah kakinya Wisnu tiba tiba berdiri di sana, dan memergokinya tengah berbicara dengan Zora.
Tapi perasaan yang sama juga tengah dialami Zora dan semua yang ada di sana. Ia berulang kali mengelus dadanya manakala mendapati sang pacar di belakang tubuhnya.
"Sejak kapan kamu disana??" Tanya Zora dengan sorot keterkejutan yang begitu ketara di wajahnya.
__ADS_1
"Sejak dia berusaha buat racunin pikiran kamu." Jawabnya dengan nada dingin miliknya juga tatapannya yang tak beralih sedikitpun dari Sandra yang juga tengah menatap kearahnya.
Bersambung.