
Saat jam istirahat tiba, tinggallah Kaesang, Zeya dan juga Zefa saja di kelas itu. Kaesang hanya diam sembari membaca sebuah buku di tangannya, sementara Zeya, ia seperti tengah bertukar pesan dengan seseorang. Dan Zefa, gadis itu mulai bosan saat dirinya hanya duduk diam saja seperti ini. Karena biasanya saat jam istirahat tiba, dia dan juga kedua sahabatnya langsung keluar kelas dan jajan di kantin seperti biasa. tapi hari ini, ia sengaja untuk tinggal di kelas karena ingin mengobrol berdua dengan Zeya, namun karena adanya Kaesang di sana, Zefa jadi tak dapat melancarkan tujuannya. Ia mulai bosan, dan kadang ia juga sempat bertukar pesan dengan kedua temannya itu. Namun, hingga jam istirahat berakhir Kaesang tak juga mau beranjak dari kursinya. Alhasil gagallah semua rencana Zefa tuk mengobrol berdua dengan saudara tirinya itu.
"Sial, kenapa sih Kaesang nggak keluar keluar juga, kalau ginikan jadi gagal rencana gue buat ngobrol berdua sama si cupu ini." umpat Zefa di dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
......................
Kini Kaesang tengah berada di perpustakaan sekolah bersama dengan Zeya, karena kebetulan tadi ia ada satu kelompok dengan gadis itu. Tentu saja kaesang tak menolak, begitupula dengan Zeya. Gadis itu hanya diam menurut tanpa mau mengangkat suara sedikitpun. Malahan Zefa yang tau jika Kaesang tak sekelompok dengannya langsung mengajukan protes saat itu juga. Ia telah teriak, bahkan memukul mejanya hingga tangannya merah, namun, keputusan itu tak dapat di rubah kembali. Alhasil, keluarlah ia dari kelas itu setelah jam berakhir dengan segala umpatan dan sorot kesalnya.
"Untung gue nggak sekelompok sama gadis itu." ucap Kaesang lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Zeya.
Setelahnya Kaesang tetiba saja mengulurkan tangannya kearah Zeya. Ia dengan segala kecanggungan yang melanda langsung mengajak gadis itu berkenalan saat itu juga. Tapi Zeya yang bingung, hanya diam sembari menatap tangan Kaesang yang terulur tanpa mau membalasnya sedikitpun.
"Nggak mau kenalan ya udah." ucap Kaesang seraya menarik uluran tangannya.
"Oh, gue Zeya." ucap Zeya acuh, seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kaesang." balas datar lelaki itu.
Dalam suasana hening itu, tak ada satupun obrolan yang terjadi. Keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara Kaesang sibuk mencari jawaban dan mengerjakan tugas yang diberikan tadi, Zeya hanya duduk diam tanpa memberikan pendapatnya sedikitpun. Ia bahkan hanya memainkan hp nya sambil berbalas pesan.
"Eh! Lo cuma mau duduk diem gitu, nggak mau bantuin gue?! Ini tugas kelompok Loh bukan tugas pribadi. Bantuin kek, dikit." ucap Kaesang dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
Namun setelahnya terdengar helaan napas dari Zeya. Ia meletakkan hp nya lalu menatap malas kearah Kaesang.
"Lo nggak minta. Setidaknya ngomong kek kalau mau minta bantuan gue. Ini langsung Lo kerjain sendiri. Yaudah gue mah terserah."
Mendengar jawaban Zeya membuat Kaesang menarik napas dalam-dalam.
"Nih, bagian Lo. Kerjain sekarang, gue mau ke rak sebelah sana dulu buat ambil buku." setelahnya Kaesang beranjak dari kursinya. Ia berjalan ke bagian rak paling ujung untuk mengambil buku yang diinginkannya, tapi sesampainya ia di sana tak sengaja langkahnya berhenti bersamaan dengan Tyas yang juga hendak mengambil buku di sana.
Seketika suasana menjadi canggung. Tyas maupun Kaesang sama-sama diam, tak ada satupun dari mereka yang mau menyapa, hingga tak sengaja sikut Kaesang menyenggol lengan Tyas hingga membuat kedua manik itu saling beradu satu sama lain. Bohong jika Tyas sudah move on dari Kaesang, sebab hingga detik ini rasa itu masih bersemayam di dalam hatinya yang paling dalam. Rasa itu masih ada dan sulit tuk dihapus begitu saja, bahkan rasanya sulit bagi Tyas tuk percaya jika saat ini dia dan Kaesang telah tak memiliki hubungan apapun.
Ada rasa marah dan kecewa saat mengetahui berita itu, tapi Tyas berusaha tabah dan sabar. Ia tak ingin menghadapi semua itu dengan emosi hingga akhirnya ia pun mundur dengan perlahan tanpa tangisan ataupun emosi sedikitpun. walau sebenarnya ia percaya pada kaesang sekalipun, semua ini takkan semata mata berakhir begitu saja. Sebab Tyas sendiri tau Kaesang seperti apa hanya saja ia merasa ada suatu masalah yang menderanya hingga membuatnya sampai di titik ini.
Selangkah dua langkah hingga punggung Kaesang benar benar menghilang, Tyas masih saja diam di tempatnya. Ia masih tak mempercayai semua ini. Ia masih tak percaya jika semuanya berakhir begitu saja. Berakhir dengan ending yang tak diinginkannya.
"Kenapa aku rasa Kaesang sedang terkena masalah ya, apa yang terjadi dengannya saat ini. Ah, sudahlah, itu kan bukan urusanku lagi." ucapnya sendiri seraya berlalu dari tempatnya.
......................
"Gue lama ya, sorry ya." Kaesang pun lantas duduk kembali di tempatnya semula. Ia meletakkan buku yang diambilnya tadi ke atas meja lalu membukanya perlahan.
"Gak masalah." sahut Zeya acuh.
__ADS_1
"Gimana, udah selesai?" tanya Kaesang pada Zeya seraya menoleh kearahnya sekilas.
"Lo kira mudah ngerjainnya. Ini aja masih dapet setengah, Ngada-ngada Lo kadang-kadang. Tadi Lo sengaja ngerjain gue kan, ngaku Lo." tuding Zeya.
"Ngerjain gimana, Jan asal tuduh Lo, kerjain aja tuh tugasnya biar cepat kelar." balas dingin Kaesang.
"Atau jangan-jangan Lo nggak bisa ngerjainnya ya?"
"Enak aja Lo, gue pinter ya, Soal kek ginian mah kecil buat gue." Setelahnya Zeya kembali memfokuskan pikirannya pada lembaran tugas itu. Ia menulis jawaban-jawaban di beberapa soal disana hingga selesai dan menyerahkannya kembali pada Kaesang.
"Nih, kumpulin ke Guru." ucapnya bersamaan dengan disodorkannya kertas tugas itu pada Kaesang.
"Serius Lo, yaudah bagus deh." sahut Kaesang seraya meraih kertas itu dan memeriksanya.
......................
Sementara Zefa yang saat itu tengah kesal karena tak sekelompok dengan Kaesang, mulai menyeruput minuman yang di bawanya lalu melempar gelasnya asal. Ia berulang kali mengumpat dan meluapkan kekesalannya pada kedua temannya yang saat itu bersamanya hingga akhirnya salah satu temannya pun berceletuk, "Fa, Lo kenapa sih dari tadi sensi Mulu. Ada masalah Lo sama Kaesang?" tanya Lina tiba-tiba.
Namun bukannya mendapat jawaban atas pertanyaannya itu, Zefa justru semakin kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua temannya yang tentu saja turut mengejarnya sambil meneriakkan namanya berulang.
Bersambung ...
__ADS_1