
Aaaakkkhhhhhhh ...
Zefa terbangun dari tidurnya seraya berteriak dan berkeringat dingin. Dia menegakkan tubuhnya, dan tersadar jika ternyata dia telah ketiduran diatas kursi tunggu di ruangan sang mama.
Beberapa saat sebelumnya makanan dan minuman yang dipesannya telah tiba, dia begitu senang lalu memakannya bersama dengan kedua sahabatnya dan ibunya yang mulai menyantap sup ayam yang di tawarinya beberapa saat lalu. Mereka asyik mengobrol dan bercanda tentang banyak hal, sampai tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan udaranya juga lumayan dingin. Lantas mengetahui hal itu, Lina dan Zelyn pun pamit pulang pada Zefa dan ibunya. mereka tak enak pada Salma sekaligus takut di cari oleh orang tua mereka di rumah.
Namun, mendengar kedua sahabatnya mau pulang, Zefa yang tak mau sendirian pun sontak merengek pada keduanya untuk meminta mereka tetap tinggal di sana. Gadis itu tak mau sendirian jika ditinggal sang ibu istirahat. Dia harus ada teman ngobrol, agar tidak bosan.
Tapi Zelyn yang malam ini memang akan ada acara keluarga di rumah, otomatis tetap pulang seraya mengatakan pada Zefa untuk kembali esok hari. Walau kecewa Zefa tetap mengiyakan dan membiarkan sahabatnya itu pulang. Namun, kalau untuk Lina, gadis itu memilih untuk tetap tinggal dan menemani Zefa. Dia tak ada acara apapun di rumah, sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga larut malam, Lina merasa bebas hingga tak ada seorangpun yang akan menghawatirkannya. Namun, dia teringat sang kakak, yakni Issabella Destiana Prayoga. Dia takut perempuan yang lima tahun lebih tua darinya itu akan menghawatirkannya jika melihat nya tak pulang ke rumah. Alhasil dia pun menghubungi kakaknya itu dan mengabarinya jika hari ini dia tidak pulang kerumah dan berniat menemani Zefa di rumah sakit, karena ibunya juga sedang sakit dan tak ada yang menjaga.
Lina pun tersenyum senang setelah melihat jawaban iya dari sang kakak. Memang ya, kakaknya itu sangat baik, dan begitu menyayanginya. Tak pernah sedikitpun kakaknya itu menolak permintaannya selama itu adalah hal yang positif. Termasuk meminta sang kakak untuk menemaninya ke Korea Selatan tepatnya ke Seoul untuk membeli beberapa Merchandise dari idol kesukaannya yang baru saja keluar. Kakaknya bahkan dengan begitu sabarnya tetap menemani Lina dan menunggunya untuk memilih merchandise mana yang akan dibelinya.
Huufft ... Melelahkan sekali. akhirnya Lina berhasil membeli apa yang diinginkannya, dan sebelum pulang ke Indonesia, dia dan kakaknya pun menyempatkan diri untuk berwisata di beberapa tempat wisata di sana. termasuk wisata kuliner yang makanannya begitu menggiurkan buat Lina. Beuhh, dia tak ingin meninggalkan Korea Selatan sepertinya. dia terlalu senang sampai lupa jika dia memang harus kembali ke indonesia karena orang tua mereka sudah menunggu mereka di rumah.
Yeeyyy ... Akhirnya Zefa tidak sendirian. Dia begitu senang setelah mendengar jika Lina akan tetap menemaninya di rumah sakit. Terlebih dia juga sudah diijinkan oleh kakaknya.
"Lo, seriusan udah dikasih ijin sama kakak Lo, kak Bella?" tanya Zefa memastikan.
"Udah Zef, Lo tenang aja, gue bakal temenin Lo kok malam ini." balas Lina seraya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Zefa ke kursi tempat dia duduk.
"Thank ya." ucap Zefa senang.
Setelah beberapa saat mengobrol, Salma pun pamit untuk tidur duluan karena kondisinya memang sedang sakit, dan sementara Lina dia pamit untuk mandi sebentar di kamar mandi ruangan Salma. Gadis itu merasa gerah sekaligus lengket seluruh tubuhnya.
Dia tak bisa jika tak mandi barang sehari pun, akhirnya dia pun tetap memutuskan untuk mandi walau udara saat itu lumayan dingin. Lina juga membawa satu setel pakaian ganti di dalam ranselnya. Dia memang selalu membawa pakaian ganti karena setiap harinya dia memang jarang pulang kerumah dan lebih sering menginap di rumah Zefa atau Zelyn. Termasuk hari ini, dia menginap di rumah sakit sekalian menemani sahabatnya yang sedang menunggu ibunya yang sehabis kecelakaan.
Huufft ... Ternyata ada untungnya juga Lina membawa pakaian ganti hari ini.
Zefa mulai merasa bosan. Dia tetap diam di tempatnya sambil menunggu Lina selesai mandi. Memang ya, Lina itu sangat lama mandinya. Dia bisa menghabiskan satu jam di kamar mandi hanya untuk mandi saja, termasuk hari ini.
Dan untuk mengusir rasa bosannya Zefa pun memainkan ponselnya, dia putar video video random di ponselnya untuk membuatnya terjaga. Namun, bukannya terjaga Zefa justru mengantuk lalu merebahkan kepalanya di atas ranjang sang ibu sambil menaruh handphone nya di sebelah kepalanya dengan posisi terbalik. Yap, Zefa tertidur.
"Zef, sayang? Kamu kenapa? Kok teriak, mama sampai terbangun loh karena denger teriakan kamu yang lumayan kenceng tadi. Kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya Salma yang terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan Zefa yang lumayan kencang tadi. Wanita itupun bangkit dari posisi tidurnya dan menatap khawatir kearah sang anak.
__ADS_1
"Iya, Zef, Lo kenapa sih? Kok teriak gitu? gue sampai kaget loh, ini aja tadi gue buru buru mandinya. Takut Lo kenapa-napa." sahut Lina yang saat itu baru saja selesai mandi dengan wajah yang masih basah oleh air dan rambutnya yang dicepol kebelakang.
Zefa pun berusaha menetralkan perasaannya. Dia menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Ini semua gara-gara lo ya Lin. Lo mandinya lama banget sampai gue bosen mau ngapain terus ketiduran, dan akhirnya mimpi buruk." ucap sengit Zefa yang dilontarkannya pada Lina.
Lina yang mendengar ocehan Zefa hanya mampu terdiam seraya menekuk mukanya.
"Yaelah, Zef. Lu kan tahu kalau gue itu mandinya lama banget. Eh tapi Zef, lu tadi mimpi apaan emang, kok sampai teriak histeris gitu?" tanya Lina penasaran seraya mengelap mukanya yang basah menggunakan tisu.
"Kepo lu, udah ah, temenin gue ke bawah yuk." ucap Zefa seraya bangkit dari bangkunya.
"Hah, kebawah? Ngapain? Ini dah malem loh, mau kelayapan kemana lagi? Starbucks udah tutup." balas Lina seraya berjalan menghampiri Zefa.
"Apaan sih, Lo?! Gue tuh laper, mau cari makan di bawah. Yuk temenin gue, ntar gue traktir deh." ucap kesal Zefa.
Muka Lina yang semula tertekuk kesal sekarang menjadi berbinar-binar setelah mendengar kata traktir. Dia pun beranjak menuju sofa yang ada ransel miliknya di sana lalu duduk dengan tergesa dan mengambil make up nya lalu mulai berdandan seadanya.
"Oke deh, tapi gue dandan dulu. Hm, oh iya, tuh Lo nggak mau mandi dulu atau ganti baju gitu? Nggak gerah?" tanya Lina seraya mengoleskan pondation di pipinya.
"Yaudah gue cuci muka dulu, gosok gigi lalu ganti baju. Ehm, ma, baju baju sama peralatan mandi aku udah di anterin kan tadi?" tanya Zefa pada sang mama seraya menoleh kearahnya.
"Udah, tuh ada diatas nakas. Kamu cek aja." balas singkat Salma.
Zefa pun beranjak menuju tempat yang diberitahu sang mama lalu meraih sebuah tas selempang yang tergeletak di atasnya.
"Zef, nanti kalau keluar jangan lama-lama ya, ini udah malem." ujar Salma pada putrinya itu. Tapi Zefa yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
......................
Ting ....
Sebuah notifikasi pesan terdengar berbunyi dari hp Kaesang yang tergeletak tepat di sebelahnya. Kaesang yang awalnya hanya berbaring saja tanpa bisa tertidur itupun seketika langsung meraih hp miliknya itu dan membukanya. Dia seketika mengernyit melihat siapa yang mengiriminya pesan tersebut.
__ADS_1
**Di WhatsApp**.
"Kae, Lo nggak mau jengukin Tante Salma, ehm maksud gue ibunya Zefa, di rumah sakit? Beliau habis kecelakaan loh, jatuh dari tangga. Walau Lo nggak suka sama Zefa atau semacamnya, ya setidaknya tunjukin lah rasa simpati lo sama dia. Kasihan loh, keadaan Tante Salma sedikit parah."
Itulah sebaris pesan yang dikirim oleh sahabat Zefa yakni Zelyn. Entah apa maksud Zelyn mengiriminya pesan seperti itu, tapi melihat dari kata-katanya, Kaesang menjadi percaya. Akankah ibunya Zefa beneran sakit? lalu apa yang harus di lakukannya? Apa ia menjenguknya saja, dan bertindak seperti teman yang baik, atau sebaiknya ia abaikan saja pesan itu? Namun, bukankah terlalu kejam jika Kaesang sampai melakukan itu?
Dan akhirnya Kaesang pun membalas iya pada Zelyn. Dia menghela nafas berat lalu memutuskan untuk menjenguk ibunya Zefa di rumah sakit esok hari sepulang dari sekolah.
"Walau gue benci sama Zefa karena semua ulahnya hari ini ke gue dan Tyas. Tapi gue nggak sampai hati untuk biarin gitu aja lihat ibunya yang lagi sakit. Apalagi Zelyn sendiri yang ngabarin ke gue dan minta gue buat jenguk. Semoga semuanya baik-baik saja, dan ibunya Zefa cepet sembuh. Gue nggak mau semuanya menjadi lebih keruh kedepannya." batin Kaesang seraya menatap lurus kedepan.
......................
"Mas, aku pamit ya." ujar Lisa seraya bangkit dari duduknya.
"Loh ini udah malem banget loh, kamu nggak mau nginep aja?" tanya Indra khawatir.
Lisa pun terlihat berpikir.
"Nggak usah lah mas, takut ngerepotin. Lagian nggak enak juga kalau sampai diliat orang. Yaudah mas, aku balik ya." Lisa pun beranjak mendekatkan wajahnya pada Indra lalu mencium pipinya sekilas.
"Yaudah tapi aku anterin ya, aku takut kamu kenapa-napa kalau pulang sendirian. Ya, sayang?" pinta Indra seraya membingkai wajah Lisa dan tersenyum padanya.
Lisa pun menghela nafas kasar lalu mengangguk.
"Yaudah, tapi beneran nggak ngrepotin kan?" tanya Lisa ragu.
"Yaampun sayang. Kamu tuh nggak pernah ngerepotin buat aku, yang ada aku tuh seneng banget bisa anterin kamu pulang. Yaudah aku ambil mobil dulu ya di garasi, Kamu tunggu di depan aja." jawab Indra begitu manis lengkap dengan senyumnya yang tak pernah surut.
"Yaudah makasih ya, mas." balas Lisa.
"Sama-sama honey."
Setelahnya Indra beranjak menuju garasi untuk mengambil mobilnya dan berniat mengantarkan Lisa pulang ke rumahnya. Sementara Lisa, perempuan itu berjalan ke depan lalu menunggu Indra di sana.
__ADS_1
Bersambung...