
"Kae, kamu marah ya sama aku?" tanya Tyas sembari meraih tangan Kaesang dan di genggamnya tangan itu begitu erat.
Kini posisi mereka tengah berada di dalam mobil Kaesang, dan tengah memasang sabuk pengaman. Memang sedari tadi mereka sama sama diam dan tak ada berbalas senyum sama sekali.
Namun, melihat Tyas kesusahan memasang sabuk pengaman pun membuat Kaesang melepas sabuk pengamannya dan beranjak memasangkan sabuk pengaman Tyas.
Disana Kaesang melepas tangannya yang di genggam Tyas kemudian duduk kembali di bangkunya dan memasang sabuk pengamannya kembali.
Sejauh memasang sabuk pengaman itu tak ada satupun pembicaraan yang terjadi. Kaesang juga tidaklah membalas pertanyaan Tyas dan tak menatapnya sama sekali.
Sungguh, melihat Kaesang seperti ini membuat Tyas sangat begitu sedih. Dia terluka, terlebih Kaesang memang dingin ke semua orang, tapi jika dengannya Kaesang sangatlah hangat. Dia ceria dan sama sekali tidak menampakkan kalau dia itu adalah pria yang introvert.
"Kae, jangan cuekin aku gini dong Kae, aku sedih tau liat kamu dingin seperti ini. Aku ada salah ya sama kamu sampai kamu marah dan cuekin aku kayak gini?" tanya Tyas sembari mengalihkan atensinya kearah Kaesang dan menetap sedih kearahnya.
Di sana Kaesang tidak menjawab, ia langsung saja menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Lalu Tyas yang sedih karena Kaesang tak kunjung meresponnya pun membuatnya memilih untuk menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Tyas pun menumpahkan tangisannya di sana, memang suara tangisannya tak terdengar namun jika Kaesang menoleh pasti ia dapat melihat seberapa sedih Tyas karena sikapnya itu.
"Sebenarnya, gak ada niat sih gue cuekin Tyas seperti ini, tapi mungkin ngerjain dia dikit nggak apa-apa. lagian gue gak suka sama orang Korea itu, mereka lebay banget dan sok ganteng. Menang muka doang kok bangga. Kayak gue gini dong, udah ganteng, tajir, pinter terus baik hati lagi. Mana bokap gue CEO, perusahaan juga di mana mana. Hahaha kurang apa coba gue ..." batin Kaesang begitu bangga.
"Lagian mereka juga sumber masalah, mereka adalah seorang manusia yang bisa gue bilang pelakor dan juga pebinor. Karena ulah mereka, pacar dan istri kita jadi cuekin kita dan lebih milih mereka. Huufftt .. Awas aja kalo Tyas masih suka sama oppa plastik itu, bakal gue datengin tuh kantor mereka di Korea dan gue tutup saat itu juga." lagi Kaesang sembari menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam dan serius.
Lalu sesaat Tyas mengalihkan atensinya kearah Kaesang dan mendapati muka Kaesang terlihat begitu serius pun membuatnya sedikit takut.
Dengan penuh senyuman Tyas pun langsung saja memeluk lengan Kaesang dan menyenderkan kepalanya di sana.
"Kae, maafin aku ya Kae. Maafin aku karena aku udah buat kamu marah, maafin aku kalau seumpama karena drakor tadi kamu jadi marah seperti ini. Sekali lagi maafin aku ya sayang .. Aku nggak bisa ngeliat kamu cuek seperti ini ke aku." ucap Tyas sembari menahan isakannya yang sedari tadi sudah menumpuk di matanya memintanya tuk keluar.
Kaesang pun langsung meminggirkan kendaraannya, dan melepas sabuk pengamannya. dialihkannya atensinya itu kearah Tyas dan di tatapnya perempuan itu begitu lama tanpa berkedip.
Lalu sesaat mendapati Tyas meneteskan air matanya pun membuat Kaesang sedikit terkejut. Ia langsung saja beranjak mengecup kening Tyas, dan diusapnya rambutnya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Dear, maafin aku ya, karena aku udah cuekin kamu tadi. Aku cuma sedikit kesal aja waktu denger kamu nonton drakor, karena jujur aja aku tuh gak suka sama drakor. Keadaan yang membuatku gak suka sama drakor. Ehm dear, kamu jangan nangis lagi ya, aku gak suka liat kamu nangis." mendengar ucapan Kaesang membuat Tyas yang semula tengah menutup matanya sembari menangis langsung menegakkan tubuhnya dan di alihkannya atensinya itu kearah Kaesang.
Disana Kaesang terlihat menatapnya sendu dan penuh rasa bersalah. Bahkan atensinya yang semula terlihat begitu tajam kini terlihat sangatlah sendu. Mukanya yang mulai memerah membuat Tyas merasa jika Kaesang memang merasa bersalah padanya.
Lalu Tyas yang senang mendapati Kaesang mau bicara padanya pun langsung saja beranjak memeluk tubuh Kaesang dan di ciumnya bibir ranum itu begitu lama.
Eugghh ...
Sontak Tyas maupun Kaesang sama sama melenguh di saat mendapati keadaan mereka semakin panas, dan juga bergairah.
Kepunyaan mereka sama sama mengeluarkan cairan dan juga terasa begitu gatal.
Huhh ...
Nafas mereka pun sontak saja memburu di saat mereka melepas ciuman mereka dan mengatur napas masing masing.
"Maaf ya Kae, aku kelepasan tadi .." ucap Tyas sembari mengelap bibirnya yang basah dan juga menggerak gerakan pahanya yang terus terasa gatal.
Begitu lama Kaesang memeluk Tyas itu kemudian mengurainya dan di kecupnya kening Tyas begitu lembut.
Cup ...
"Dear, kita pulang aja ya, cuaca udah semakin sore nih." ucap Kaesang sembari menjauhkan tubuhnya dari Tyas dan memasang sabuk pengamannya kembali.
Tanpa sepatah kata pun, Tyas langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Kaesang. Tentu saja pria itu terkejut. Dan lebih terkejut lagi karena Tyas mengecup pipinya. Lembut dan hangat. Entah sudah berapa lama bibir perempuan itu di sana, yang jelas rasanya begitu ringan dan membuat Kaesang ingin terbang.
Setelah adegan itu selesai, Tyas hanya menganggukkan kepala, dan memasang sabuk pengamannya kembali. Kini, perempuan itu hanya menatap lurus jalanan, tanpa menggubris Kaesang yang sudah membeku karena ciumannya tadi.
......................
Setelah sebelumnya Indra memilih pulang ke rumah dengan mengendarai jet pribadinya pun membuatnya sangat begitu lelah. Sesampainya di rumah dia mendapati rumah dalam keadaan sepi dan juga gelap.
__ADS_1
Tak ada seorangpun di dalam rumahnya, mau itu satpam yang membukakan gerbang bahkan art yang membukakan pintu pun tidak ada.
Huhh ...
Tapi dengan kondisi Indra yang begitu lelah membuatnya tak terlalu peduli akan hal itu. Setelah dirinya masuk kedalam rumah, dan pintu otomatis terkunci Indra pun segera bergegas menuju ke kamarnya di lantai atas.
Dengan langkah santai dan tergolong lesu pun akhirnya lambat laun Indra sampai juga di depan kamarnya. Sembari menekan kunci pin Indra terus menerus menguap karena sedari awal dia naik jet dia sudah sangat mengantuk. Bahkan sesaat melewati pemandangan indah pun Indra sama sekali tidak mengetahuinya karena saat itu dia sudah lebih dulu terlelap.
Beberapa saat kemudian ...
Sesampainya Indra di dalam kamarnya dia pun langsung saja menaruh kopernya di sembarang tempat kemudian berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.
Di dalam Indra pun langsung saja mencuci mukanya sejenak dan menatap cermin besar di depannya. ****, wajahnya benar benar berantakan sekarang. rambut yang acak-acakan, baju yang juga sudah begitu menyedihkan membuat Indra menghela nafas kasar.
Rasa-rasanya penampilan Indra sekarang lebih mirip seperti korban perampokan. Wajahnya juga tampak lecek, seperti pakaian yang belum disetrika.
Astaga, miris sekali penampilannya.
Lalu setelah selesai dari kamar mandi Indra pun beranjak kembali ke dalam kamar masih dengan jalan sempoyongan. Lelah sekali diriku, batin Indra dalam hati.
Sesampainya di depan kasur Indra pun langsung menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata bersiap menembus alam mimpi.
Namun, di saat kesadarannya sudah hampir hilang tiba-tiba saja dari atas nakas dia mendengar teleponnya berdering begitu kencang.
saking kencangnya Indra sampai tersentak dan beranjak bangun dari tidurnya.
Tring ....
"Siapa sih yang telpon, ganggu aja?!" ucap Indra sembari meraih ponselnya dari atas nakas.
Bersambung ...
__ADS_1