Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 50- Harapan Tyas


__ADS_3

Kelanjutan dari episode kemarin...


Selang beberapa saat kemudian...


Selepas beranjak dari pasar malam tersebut, dan tengah berjalan pulang, Tyas yang sedari tadi diam sembari menyenderkan tubuhnya di kursi mobil, membuat Kaesang cemas juga khawatir, sebab sepulang dari pasar malam tadi, Tyas hanya diam, dan tak mengatakan sepatah katapun, apalagi mukanya terlihat pucat begitu, Kaesang yang melihat Tyas seperti itu benar benar merasa bersalah, karena ini semua adalah ajakannya, tapi ia juga senang karena ia dapat mengukir kenangan indah bersama Tyas di pasar malam tersebut.


'Tyas, kenapa ya?, apa dia sakit?' Tanya Kaesang dalam hati sembari menoleh sekilas pada Tyas di sampingnya.


"Dear, kamu, gak papa?" Tanya cemas Kaesang pada Tyas sembari menoleh kearahnya sekilas, lalu kembali fokus menyetir. Saat menyadari pertanyaan Kaesang barusan, Tyas pun lantas menoleh kearahnya sembari tersenyum tuk sekedar meyakinkannya.


"Gak kok, aku baik baik aja. Kamu biasa aja ah, gak usah khawatir gitu, aku bener baik baik aja, kok, sungguh." Ucap yakin Tyas. Walaupun Tyas sudah berkata seperti itu sembari tersenyum, tapi tak dapat menyangkal jika saat ini ia tengah sakit, dan wajahnya terlihat pucat. Kaesang yang tak yakin akan jawaban Tyas, lantas mengiyakan saja semua ucapannya, dan tak ingin memperpanjang semua ini, tapi walaupun begitu ia masih sedikit khawatir dengan Tyas melihat dari kondisinya ini.


Selang beberapa saat kemudian, saat baru tiba di halaman depan rumah milik Tyas, Kaesang bergegas turun dari mobilnya, membukakan pintu untuk Tyas, lalu membopongnya hingga sampai depan pintu rumahnya, ia masih sedikit khawatir dengannya, tapi ia berharap semoga ia baik baik saja, mengingat Tyas hanya tinggal seorang diri.


Selepas selesai mengantar Tyas dengan selamat hingga sampai rumahnya, dan berbasa basi sebentar, Kaesang pun memutuskan tuk pulang, mengingat hari sudah semakin larut, dan Tyas juga tengah sakit. Ia tak ingin mengganggu istirahat Tyas, tapi ia berharap semoga esok ia sudah membaik, dan dapat kembali mengajar, walaupun ia ada firasat jika esok Tyas tidak akan datang mengajar.


Selepas mobil Kaesang tak terlihat kembali, Tyas pun lantas menutup rapat rapat pintu rumahnya, kemudian berjalan memasuki kamarnya sembari memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia tak tahu kenapa, akhir akhir ini penyakitnya sering kambuh, lalu sembari limbung, ia pun mencoba mencari obat obatannya lalu segera meminumnya.


Sembari duduk di tepi ranjangnya, ia meminum semua obat obatannya itu, walaupun banyak, dan terasa pahit, itu sama sekali tak menyulitkannya, asalkan dengan semua itu ia dapat sembuh, dan terlepas dari penyakit berbahaya itu.


Selepas selesai meminum rangkaian obat obatannya itu Tyas pun lantas membaringkan tubuhnya keatas kasur, di sela sela istirahatnya, ia kembali berpikir,

__ADS_1


'Kira kira besok aku masih bisa ngajar gak ya?, apa aku izin aja, kepalaku pusing sekali, serasa mau pecah rasanya, ouch." Ucapnya dalam hati, selepas berpikir seperti itu, ia dapat merasakan kepalanya pusing kembali, lalu ia pun beranjak dari tidurnya, mengambil sesuatu dari dalam lacinya, yang nampak seperti tablet obat, kemudian meminumnya, tak tahu itu apa, mungkin semacam obat untuk penyakitnya, tapi yang pasti Tyas jauh lebih baik selepas meminum itu.


Saat keadaannya sudah jauh lebih baik, ia pun beranjak menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, sembari menyelimuti kakinya dengan selimut, tanpa sengaja matanya menangkap secarik surat putih di atas nakasnya, tanpa pikir panjang ia pun lantas meraih secarik kertas tersebut, membukanya, lalu membacanya perlahan,


ternyata ia lupa, surat itu sebenarnya adalah surat dari dokter yang dimana berisikan sebuah persetujuan operasi yang akan dijalaninya dua hari lagi, mengingat itu, ia pun lantas takut, tapi ia tetap menguatkan hatinya, dan berharap semoga semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkannya.


Saat ia hendak menaruh surat tadi di tempat semula, tak sengaja matanya bersitatap mata dengan sebingkai foto usang kedua orang tuanya di atas nakas, saat nampak itu ia pun lantas mengambilnya, walaupun bersusah payah mengingat dirinya tengah sakit, tapi walaupun begitu selepas foto tersebut telah ada di tangannya, ia pun lantas memandanginya cukup lama, lalu tersenyum pada kedua orang tuanya di foto tersebut.


'Ayah, bunda, dua hari lagi Tyas mau melakukan operasi buat sembuhin penyakit Tyas ini. Kalian di sana doain Tyas ya, semoga operasi ini berjalan lancar, dan Tyas bisa segera sembuh seperti sedia kala. Supaya kalau Tyas sembuh, Tyas bisa wujudin semua impian kalian. Doain Tyas selalu ya ayah, bunda. Tyas sayang kalian berdua.' Selepas berkata demikian, air matanya pun luruh, ia lantas menangis sembari memeluk foto kedua orang tuanya itu.


Dalam tangisannya, ia kembali teringat, jika selama hidupnya, dirinya sudah lebih dari empat kali dalam melakukan operasi karena penyakitnya ini, dan operasi ini adalah yang ke lima kalinya, bahkan segala jenis obat maupun pengobatan tradisional, dan modern semua sudah pernah dijajalnya, akan tetapi nyatanya tak membuahkan hasil yang signifikan, tapi walaupun begitu ia tak ingin mengambil resiko, makanya ia bersedia melakukan semua operasi, dan pengobatan itu, walaupun ia sadar kalau itu hanya memperpanjang masa hidupnya saja, tapi walaupun ia sadar dan tahu, dirinya tetap bersedia melakukan semua itu, mengingat masih ada sebuah harapan yang ingin dicapainya.


...............................................................


Di sela sela menyetirnya ia pun menyempatkan tuk memutar sebuah lagu pop dari YouTube di mobilnya buat mengusir rasa bosannya, tapi tiba tiba ia kembali teringat akan sesuatu, ya, papanya, apakah saat ini dirinya sudah pulang ke rumah?, ah, kenapa ia tiba tiba memikirkan tentang papanya tersebut, dengan cepat ia pun melupakan semua pikiran itu, dan kini ia pun semakin mempercepat laju kendaraannya, mengingat hujan semakin deras, dan hari juga semakin larut, ia takut jika nanti ia kemalaman tuk sampai di rumahnya.


.......................................................


Dilain sisi, di sebuah gudang gelap dengan pencahayaan minim, terlihat seorang pria bertudung hitam dengan wajah yang tak terlalu jelas karena pencahayaan yang temaram terlihat tengah menelpon seseorang, sembari tersenyum miring. Tak tahu apa yang tengah di bahasnya dengan lawan teleponnya itu, tapi selepas itu ia pun langsung tertawa terbahak bahak, lalu tersebut miring kembali.


Kemudian kita di perlihatkan seorang wanita tiga puluh tahunan yang tengah duduk tak jauh dari lelaki bertudung tadi berdiri. Terlihat perempuan itu tengah tak sadarkan diri dengan tangan, dan kakinya diikat oleh sebuah tali dengan sangat kuat, bahkan ada beberapa memar merah yang begitu terlihat hampir di seluruh bagian tubuhnya, terlebih di bagian wajah. Begitu miris, apalagi saat ini perempuan itu hanya berpakaian dalam saja, melihat itu kemungkinan pria tadi telah melakukan penyiksaan, juga pelecehan terhadap perempuan tersebut, tapi mungkin ia tak melakukannya sendiri, sungguh tak ada yang tahu, siapa perempuan ini, siapa mereka, dan kenapa mereka melakukan itu terhadap perempuan malang ini, sungguh semuanya masih misteri.

__ADS_1


..........


Iya bos, dia lagi pingsan, mungkin bentar lagi koid. Bos tenang aja, saya bakal kelarin dia hari ini, jadi besok bos tinggal tunggu hasilnya saja.


^^^......^^^


Tapi bos, kenapa?, bukannya bos suruh saya kelarin dia kemarin?, tapi kok sekarang bos berubah pikiran?!


^^^.....^^^


Oh, baik bos, ngerti. Saya akan lakuin apapun yang bos minta. Iya sama sama bos.


...............


Selepas selesai menelpon, dan ia masukkan kembali handphone miliknya itu kedalam sakunya, pria itupun berjalan kearah wanita yang tengah pingsan tadi, lalu berjongkok tepat di hadapannya. Ia tersenyum miring lalu mengangkat kepala wanita itu, hingga menghadap lurus ke depan, ia lantas tersenyum miring untuk yang kesekian kalinya, kemudian ia pandangi wajah wanita itu,


'Sebenarnya Lo itu cantik, Zora, dan Lo gak pantes mati seperti ini di tangan gua. Tapi sayang sekali, wanita secantik, dan selugu Lo itu harus mati sia sia di tangan seorang bajingan kayak gua, awalnya gua ga tega buat apa apain Lo, mengingat Lo adalah perempuan yang baik, baik sama gua, tapi ini kerjaan gua, gua butuh duit buat istri dan anak gua di rumah. Sekali lagi maafin gua, Zora, mungkin gua berdosa banget sama Lo, dan ga pantes dimaafin, tapi gua harap semoga Lo bisa tenang di alam sana, dan disana Lo bisa maafin gua.' Selepas mengatakan hal yang tak di sangka sangka seperti itu, pria itu pun lantas melepaskan tangannya dari wajah perempuan bernama Zora tersebut, lalu beranjak berdiri, dan melenggang pergi dari sana, meninggalkan wanita itu sendiri di dalam ruangan gelap tersebut.


.........................................................


Disisi lain, Kaesang yang baru tiba di halaman depan rumahnya, selepas selesai memarkirkan kendaraannya, ia pun lantas turun, lalu beranjak pergi ke rumahnya, memutar knop pintu, kemudian memasukinya, selepas tiba di dalam, ia di kejutkan dengan pemandangan papanya yang tengah tertidur pulas di sebuah sofa di ruang tamu dengan sebuah handphone yang masih dipegangnya erat. Selepas melihat itu, Kaesang pun lantas mendekatinya, lalu berdiri tepat di hadapannya, mengambil handphone yang tengah dipegang papanya itu, lalu menaruhnya di atas meja, ia pun lantas tersenyum saat menapaki tidur papanya itu, tapi ia juga berpikir, apa papa nungguin gue?, tapi kenapa?, kenapa papa lakuin ini?, selepas merasa tak enak hati atau apa, Kaesang pun buru buru mengambil sebuah selimut cadangan dari dalam kamarnya di atas, lalu selepas di dapatkannya selimut tersebut, ia pun lantas kembali lagi, dan menyelimuti tubuh papanya dengan selimut yang diambilnya itu.

__ADS_1


Tanpa sadar Kaesang tersenyum tipis karena hal itu, lalu selepas tak ada urusan lagi, ia pun lantas berjalan naik menuju kamarnya, dan meninggalkan papanya yang tengah tertidur tersebut, yang penting ia sudah memberinya selimut, jadi dia bisa tega tuk meninggalnya ke atas, itu pikirnya, walaupun nyatanya, ah sudahlah.


Bersambung.


__ADS_2