
POV TYAS
Hari menjelang sore ketika ojek yang ku tumpangi akhirnya tiba di depan sebuah rumah minimalis dengan beragam bunga cantik di setiap sisinya. Aku belum juga masuk ke dalam rumah, mataku masih menatap sayu ke arah rumah yang sudah beberapa bulan ku tinggali itu.
Tak ada yang berubah. Benar sekali, sejak kepindahan ku beberapa bulan lalu ke kompleks ini aku belum juga merubah atau merenovasi apapun. Semuanya masih terlihat sama. Bahkan saat pertama kali ku injakan kakiku di rumah itu, tanpa sengaja ku temukan sebuah boneka beruang coklat yang cukup usang di atas ranjang kamar yang kini menjadi kamarku.
Cukup lama aku berdiri diam seraya memandang kearah rumah bercat putih itu sampai akhirnya ku putuskan untuk masuk sebelum memori masa lalu semakin jauh menguasai pikiranku.
Aku masuk ke dalam kamarku, ku letakkan tas pinggang milikku ke atas sofa lantas merebahkan tubuhku begitu saja ke atas ranjang. Sebenarnya aku belum makan sedari pagi, bahkan kini perutku begitu perih, tapi nafsu makanku mendadak hilang setelah tersebarnya berita jika Kaesang dan Zefa berpacaran. Aku ingin berpikir positif jika mungkin yang kulihat itu hanyalah sebuah rumor, tapi dunia ku seakan runtuh setelah ku lihat sendiri Zefanya mencium bibir Kaesang di depan semua orang. Semuanya bersorak, bahkan Kaesang sama sekali tak terlihat menolak, ia langsung pergi begitu saja dan tak sengaja menabrak ku saat ia tengah berjalan.
Awalnya ia ulurkan tangannya padaku, aku tak tau jika itu adalah Kaesang. Aku terima uluran tangannya itu, dan akupun beranjak bangun. Namun, saat ku alihkan pandanganku kearahnya, aku tersentak manakala mata dinginnya itu menatap lurus kearahku. Mata yang selama ini membuatku candu, dan semakin terperosok jauh kedalam pesonanya yang tak dapat di tolak.
Beberapa detik lamanya kita hanya saling tatap tanpa adanya pembicaraan sedikitpun. Diantara kita tak ada yang memulai pembicaraan sampai akhirnya ku putuskan untuk pergi selepas ku lontarkan sepenggal senyum padanya.
Huufft....
Helaan nafas panjang lolos begitu saja dari Indra penciumanku. Sejenak akupun tertidur sampai ketukan di pintu depan membuatku membuka mata dan bangun dengan malas.
Tok...
Tok...
Tok...
__ADS_1
Suara ketukan itu semakin keras terdengar diikuti suara seseorang, "Assalamualaikum, Yas.... Assalamualaikum..."
Kenop pintu ku putar, tak dikunci.
Ceklek....
Pintu pun terbuka, seorang ibu-ibu setengah baya berdiri tepat di depan pintu rumahku. Ia terlihat mengenakan daster panjang dan kerudung merah yang menutupi kepalanya. Dia tersenyum sambil menatap kearahku.
"Yas, Kamu apa kabar?" Dia pun maju satu langkah lalu menyentuh pundakku dengan lembut.
"Oh iya, Bu Maya...baik, saya baik kok. Ehm Bu Maya, sendiri apa kabar? Lama gak lihat Bu Maya beli sayur seperti biasa?" tanyaku ramah.
Ia kembali tersenyum dan menurunkan tangannya dari bahuku.
"Um, saya baik Alhamdulillah. Iya, saya memang lagi ada perlu keluar kota sama suami saya, jadi ya seminggu ini lagi nggak ada si rumah. Baru aja pulang kemarin. Oh iya, Bu Tyas..Kemarin malam saya ke rumah ibu, tapi ibu gak ada di rumah, jadi ya saya pulang aja."
"Kemarin saya ada perlu juga Bu di luar, dan malamnya baru pulang. Tapi, Bu Maya ada perlu apa sama saya?" tanyaku kemudian.
Senyumnya pun surut lantas mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Bisa kita bicarakan di dalam saja? Saya malu kalau di dengar orang." ucapnya sambil tersenyum.
"Um, Baiklah... silakan masuk Bu...maaf ya, rumahnya berantakan." ucapku mempersilahkan Bu Maya untuk masuk ke dalam diikuti olehku di belakangnya.
__ADS_1
......................
Sudah sejam sejak kepulangan Bu Maya dari rumahku. Aku masih duduk di tempatku sambil menatap pintu yang tertutup. Yah, sepertinya perkataan Bu Maya ada benarnya, aku sudah tergolong tua untuk merasakan jatuh cinta dan berpacaran, terlebih semua teman seangkatan ku sudah menikah semua, bahkan ada juga yang sudah mempunyai anak. Terkadang aku hanya bisa tersenyum saat mereka memamerkan kemesraan mereka di depanku.
Membicarakan itu aku jadi teringat akan cerita salah seorang temanku saat kami masih duduk di bangku SMA. Dia pernah cerita tentang kasus percintaannya yang tak masuk akal menurutku. Bagaimana tidak, dia pernah cerita jika dirinya tengah jatuh cinta dengan seorang gadis asing yang tak sengaja berpapasan dengannya di jalan. Tapi bukan itu yang menurutku aneh, melainkan siapa gadis yang disukai temanku itu. Dia bukanlah gadis seumuran dengannya melainkan dia adalah seorang anak SD.
Aku sempat menertawakannya dan mengatakan jika rasa sukanya itu aneh. Tapi lihat sekarang, aku terkejut saat mendapatkan undangan pernikahan darinya. Ia menikah dengan gadis yang sempat membuatnya tertarik saat semasa SMA dulu. Gadis itu baru lulus SMA saat temanku itu meminangnya.
Aku sempat terenyuh mengetahui perjuangan temanku itu yang tak main-main. Ia merelakan segala hal demi bisa mendapatkan gadis itu, dan lihat, sekarang gadis itu sudah resmi menjadi miliknya, dan mereka bahagia.
Melihat kisah percintaan mereka yang terpaut usia cukup jauh, aku jadi teringat kisah percintaan ku sendiri dengan salah seorang muridku, yakni Kaesang.
Apa selama ini aku telah salah mengambil keputusan? Apa perasaan ku selama ini adalah palsu, kenapa kisahku tak seindah dan semenarik temanku itu? Apakah hubungan ini adalah sebuah kesalahan?
"Apa aku telah salah sudah mengambil keputusan untuk menyukaimu? Kenapa rasanya sakit sekali saat mengetahui berita itu, apakah aku telah sungguh-sungguh menyukaimu Kae?" ucapku sendiri sembari terisak.
"Dan kenapa kamu menyukaiku dan mengajakku berhubungan jika akhirnya kamu akan menyakitiku seperti ini, memang benar ya, mulut seorang lelaki itu tidak bisa di percaya, dia akan mengatakan janji-janji manis di depan kita lalu saat dia mulai bosan, kita akan di campakkan nya begitu saja."
"Sepertinya keputusan mu untuk mengajak Zefanya berhubungan adalah keputusan yang benar Kae. Kau jauh lebih cocok dengannya dibandingkan saat denganku." lanjutku masih sambil menangis.
"Baiklah, akan kubuat keputusan penting sekarang."
Setelahnya aku pun mengirimkan sebuah pesan pada Kaesang. Aku mengajaknya bertemu di suatu tempat dengan tak menyebutkan alasanku untuk bertemu. Aku langsung mematikan handphone ku saat melihat Kaesang telah membaca pesan yang kukirimkan itu. Karena aku sendiri tahu jika Kaesang pasti akan menghubungi ku saat mengetahui aku telah online dan mengiriminya pesan WhatsApp.
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan itu, kuhapus beberapa bulir air mata yang masih menggenang itu. Ku tarik nafas dalam-dalam setelah nya aku pun beranjak dari tempatku. Tapi sebelum benar-benar beranjak aku mengatakan ini dengan bersungguh-sungguh di dalam hatiku, "Semoga keputusan yang kuambil ini benar, dan kamu bisa mengerti, Kae."
Bersambung........