Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 75- Keangkuhan Salma


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Dibalik masalah yang zefa ciptakan, kini di dalam kamar mewahnya dengan sebuah benda pipih di tangannya, Salma nandira putri atau kerab disapa nyonya Adhipura tersebut tengah tersenyum seraya membalas chat WhatsApp dengan putri semata wayangnya. Ya zefanya namanya. Dialah putri satu satunya dan paling ia sayangi. Perempuan berdarah Manado Jakarta tersebut tengah asik dengan chatnya dengan sang putri hingga terdengarlah suara ketukan dari arah luar pintu kamarnya. Ia nampak kesal dan ingin mengabaikan suara itu, tapi ketukan terus menerus membuatnya beranjak, dan membukakan pintu kamarnya dengan kesal.


"Ada apa?" tanyanya tak ada ramah ramahnya sedikit pun. Malahan ia menatap sang pembantu dengan malas, dan tangannya yang masih setia menggenggam ponsel miliknya yang juga masih menyala.


"Anu, maaf nyonya. Itu di depan ada laki laki yang nyariin nona Zeya." Jawabnya takut takut. Wanita paruh baya tersebut tertunduk dan tak berani sedikitpun mengangkat wajahnya. Ia begitu takut dengan sang nyonya yang menurutnya sangat galak.


"Bilang aja kalau dia udah gak disini." Salma pun bicara dengan kejutekannya yang sedari dulu melekat di tubuhnya. Malahan ia nampak tak perduli, dan atensinya kembali teralihkan pada benda pipih di tangannya.


"Saya sudah mengatakannya nyonya, tapi dia gak percaya, dan tetap mau ketemu sama nona zeya." Kini suaranya mulai bergetar, si pembantu bernama Imah tersebut mulai berani sedikit mengangkat wajahnya dan menapaki wajah nyonyanya yang terkenal jutek itu tengah membalas beberapa pesan yang masuk di handphonenya dengan sedikit tersenyum.


Dengan rasa malas, dan tanpa menatap lawan bicaranya, Salma pun kembali bicara dengan dirinya yang masih sibuk membalas beberapa pesan di layar handphonenya itu.


"Saya gak mau tahu, pokoknya usir dia gimanapun caranya."


Dengan tangan bergetar, Imah pun kembali menjawab, "Ba-baik nyonya."


Dengan langkah perlahan, Imah pun mulai melangkahkan kakinya kearah ruang tamu. Ia sempat mendapati lelaki yang mengaku teman anak majikannya itu tengah duduk di suatu sofa seraya memainkan ponsel di tangannya. Ia yang tahu akan melakukan apa kembali berjalan dan berdiri tepat di hadapan sang lelaki tersebut.


Sang lelaki yang menyadari kehadiran Imah pun segera menolehkan wajahnya menatap wanita paruh baya tersebut. Ia sempat melongok ke belakang tubuh sang pembantu manakala tak ada sosok perempuan yang dicarinya.


"Ehm bik, Zeya mana ya, dia ada dirumah kan?" dengan sorot bertanya, dan tatapannya yang cenderung dingin, lelaki itupun kembali menanyakan keberadaan zeya pada sang pembantu yang kini nampak tertunduk seraya menautkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Anu, maaf den, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, non zeya sudah tidak tinggal di rumah ini, jadi sekali lagi maafkan saya." Dengan wajah yang perlahan terangkat, imah pun kembali mengulangi ucapannya awal, tapi dilihat dari sorot matanya sepertinya lelaki muda dihadapannya ini masih belum percaya dengan ucapannya.


"Tolong bik, bibik jangan bohong sama saya, saya tahu kok Zeya ada di rumah. please bik saya hanya mau ngobrol sama dia bentar kok." Jelas sang lelaki tetap bersikukuh dengan pikirannya jika sahabatnya itu memang benar benar ada di rumah, dan mengabaikan kenyataan yang menjelaskan sebaliknya.


......................


Dengan sedikit mengernyitkan keningnya, Salma pun mulai menatap arah perginya sang pembantu dengan tangan masih menggenggam manis ponsel miliknya. Ia sempat terkejut manakala ada seseorang yang mencari anak tirinya tersebut. Sebab setahunya putri tirinya itu tak memiliki satupun teman, jadi jika mengetahui ada yang tengah mencarinya, sungguh Salma akan terkejut.


Atensinya kembali terarah pada layar ponselnya, ia kembali membalas beberapa chat tersebut sebelum senyuman mulai tersungging di bibirnya. "Ck, ni anak bisa aja alasannya. Hm, Siapa sih laki laki yang nyariin bocah itu, jadi penasaran."


Selepas menyimpan benda pipih tersebut di dalam kantong dress-nya, Salma pun kembali melangkah kearah ruang tamu. Ia penasaran dengan sosok lelaki yang mencari Zeya tersebut.


Tak beberapa lama ia berjalan, sampailah ia tak jauh dari ruang tamu. Dari netra coklat miliknya nampaklah sesosok lelaki tampan berpakaian kasual yang jika diteliti harga dari kasual yang dipakainya itu mungkin akan sangat mahal. Saat ini dia tengah duduk di ruang tamu seraya bercakap cakap dengan sang pembantu.


lantas tanpa menunggu lama, Salma pun kembali melangkahkan kakinya menuju arah lelaki itu, ia duduk tepat tak jauh darinya seraya memasang wajah datarnya dan memberikan kode pada sang pembantu agar meninggalkan mereka berdua di sana.


Saat melihat kedatangan Salma, lelaki itupun mulai mengalihkan atensinya pada wanita empat puluh tahunan tersebut dengan senyum miliknya yang perlahan merekah.


"Eh, Tante? Maaf saya kesini mau cari Zeya." Ucap lelaki muda itu sopan, dan penuh dengan senyuman. Sementara salma yang menjadi lawan bicara justru tetap dingin dengan sorot tak bersahabat, dan kedua lengannya yang terlipat sedari tadi.


"Kamu tak dengar ya pembantu saya tadi bilang apa? orang yang kau cari tak ada di rumah ini. Jadi pergilah!"


Tak ada ramah ramahnya sedikitpun, dan tetap dengan sorotnya yang dingin dan angkuh. Salma pun mulai mengusir lelaki muda dihadapannya dengan ucapan ucapan savagenya. Sedangkan lelaki yang menjadi lawan bicaranya justru menyeringai dalam hati seraya tatapannya tetap pada perempuan empat puluh tahunan itu.

__ADS_1


"Ternyata rumor itu memang benar ya. Pantas saja Zeya memutuskan tuk keluar dari rumah ini, orang ibu tirinya aja galaknya ngalahin nyokap gue. Hm, tapi kalau dipikir pikir gue kerjain dikit gak papa kali ya, itung itung sebagai balasan karena udah pernah jahatin Zeya." Saat seringaian kembali tersungging di bibirnya, lelaki itu pun mulai menatap arloji di lengannya, lantas menarik nafas perlahan dan menghembuskannya.


"Ehm Tante?" Saat panggilan itu kembali terucap, atensi Salma pun kembali terarah pada lelaki muda di hadapannya. Ia sempat menatap kesal terhadapnya manakala lelaki muda itu sama sekali tak mengindahkan ucapannya ataupun lantas pergi.


"Ada apa, kau tak mau pergi? saya masih ada urusan habis ini." Jelasnya penuh dengan keangkuhan dan sorot dinginnya.


"Halah, dasar lampir. Bilang aja kalau gak nyaman ada gue disini pakek bilang ada urusan segala." Ejeknya dalam hati seraya tersenyum kearah Salma di hadapannya.


"Hm, saya cuma mau nanya. Zeya itu sekarang tinggalnya dimana ya Tante? bisa saya minta alamatnya gak?" Saat pertanyaan itu terlontar dari bibir sang lelaki, salma yang mendengar pun langsung tersenyum miring seketika.


"Kamu ada nomornya Zeya kan?" Tanyanya balik seraya menatap malas kearah lelaki muda di hadapannya.


"Ehm, ada. Kenapa ya Tan?" karena bingung mendengar Salma berkata demikian, lelaki muda yang belum diketahui identitasnya itu pun kembali menatap bingung kearah Salma yang justru tengah memainkan ponselnya seraya mengetuk ngetukkan jari telunjuknya ke meja kaca dihadapannya.


"Pakek nanya. Tanya sendiri sana, dia pindah kemana, ngapain. Udah ah kamu kalau udah gak ada urusan mending pergi, saya masih ada urusan habis ini." Saat lagi lagi sorot tak bersahabat itu kembali terlontar dari tatapannya, lelaki itupun mulai menghela nafas seraya menyusun kata kata di otaknya.


"Hm, iya Tante habis ini saya tanyain dia kok. Dan ngomong ngomong Tante lagi sendirian ya dirumah?" Saat seringaian tiba tiba muncul di bibirnya bersamaan dengan terucapnya pertanyaan itu, Salma pun mengernyit seketika, ia tak paham kenapa lelaki ini dapat menanyakan hal demikian, dan apa urusannya.


Seraya menghela nafas kasar, dan berkata dengan acuh tak acuh, Salma pun kembali menjawab dengan sikap angkuhnya, "Kalau pun saya sendiri atau tak sendiri, itu bukan urusanmu."


"Sialan!! dasar nenek tua peyot. Kukira itu cuma rumor belaka dari anak anak, yang mengatakan kalau Zeya dan ibu tirinya hubungannya lagi gak baik. Tapi setelah gue lihat dari ucapannya ke gue bisa gue nilai kalau orang ini yang emang ada masalah, bukan Zeya ataupun orang lain. Huh, kalau aja lu bukan perempuan udah gue tampol lu, mana ngomongnya ngegas Mulu lagi. Ntar kalau ngegas Mulu terus besoknya stroke serangan jantung innalilahi kan bisa repot semua orang. Mana untuk ukuran perempuan dia cakep lagi." Saat emosinya campur aduk akan ucapan Salma, lelaki itupun kembali melirik arloji di tangannya, ia lantas menghela nafas sejenak sebelum akhirnya memutuskan tuk beranjak pergi dari sana.


Saat sepeninggal lelaki itu, Salma pun beranjak menutup pintu lantas kembali melangkah ke kamarnya. Ia sempat berhenti lantas tersenyum dalam hati. "Sekarang tak kan ada lagi pengganggu di rumah ini, sebab tanpa diminta pun lalat kecil itu sudah sadar diri dan pergi dari sini. Haha dasar anak malang, setelah ibumu pergi takkan ada yang berpihak padamu tak terkecuali ayahmu, Wijaya Adhipura. Dia yang dulu sangat menyayangimu perlahan akan terkikis hingga tak kan ada seorangpun yang menyayangi mu, lalu putriku zefa yang akan menjadi satu satunya anak sah keluarga Adhipura. Maaf sayang, jika posisimu itu harus direbut oleh putriku, sebab dunia ini kejam baby. Dan memang seharusnya anak pembangkang dan tak tahu diri sepertimu tahu diri, dan angkat kaki dari sini. sebab jika dilihat dari sisi manapun kamu tak sepadan dengan putriku yang amat cantik, dan cerdas. You can't win from me baby." monolognya panjang lebar dalam hati. Saat seringaian sebagai akhir dari ucapannya, Salma pun kembali melangkahkan kakinya kearah kamarnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2