
Mendengar ucapan Kaesang yang terdengar serius dan tak main main sontak membuat Tyas terdiam seribu bahasa. Ia tak menyangka jika Kaesang mengancam semua orang di sekolah ini hanya untuk melindunginya, melindungi nama baiknya, tapi kenapa harus dengan mengancam?
Tyas tau dan mengerti jika maksud Kaesang itu baik, namun bagaimana dengan yang lain? Tyas adalah orang yang tidak enakkan, dia tidak bisa melihat orang lain menderita dan ketakutan hanya karenanya, lalu apa yang dilakukan Tyas sekarang? sepertinya Kaesang tak bisa merubah keputusannya, dia takkan mampu memutus ancaman itu.
Lalu dari kejauhan terlihatlah Zefa tengah berjalan santai kearah Kaesang bersama dua orang temannya di sampingnya.
Awalnya ia begitu senang pergi ke kantin itu karena suasana kantin lumayan sepi, namun mendapati Kaesang tengah duduk berdua dengan Tyas sontak membuat Zefa marah seketika. Ia pun menghentikan langkahnya, dan menatap tajam kearah kaesang dan juga Tyas yang lokasinya berada sedikit jauh dari posisinya berdiri.
"Dasar perempuan tua, berani sekali dia duduk berdua dengan Kaesang seperti itu, dan kulihat dia juga asik memegang lengan Kaesang dan bermanja-manja terhadapnya. tercetak jelas di bola mata hitamnya yang menyorot hangat ke arah Kaesang, sialan! ini tidak bisa dibiarkan. aku harus segera menyingkirkannya secepat mungkin sebelum hubungannya dengan Kaesang semakin jauh." batin Zefa seraya berjalan kearah Kaesang dan duduk tepat di meja kosong di belakangnya di ikuti oleh kedua temannya yang turut duduk di sebelahnya.
satu jam kemudian, Kaesang dan juga Tyas bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari kantin itu, tatapan Kaesang menyorot begitu tajam ke arah Zefa di saat mengetahui Zefa tengah menatap kesal kearah Tyas dan dia juga sempat mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Sialan, kenapa sih mereka pakai mesra-mesraan kayak gitu di sekolah? mana tuh perempuan juga nyentuh tangan Kaesang lagi, bikin sebel deh." ucap Zefa membuka percakapan di siang hari itu.
__ADS_1
matanya terlihat menatap begitu tajam ke depan, dan ekspresinya yang begitu mencekam sontak membuat Lina maupun Zelyn saling menatap satu sama lain. Mereka bingung dan kaget dengan ekspresi Zefa yang berbeda dari biasanya. Ia terlihat marah namun marahnya kali ini terlihat berbeda, ia seperti menyimpan dendam dan juga siasat siasat buruk.
"Zef, Lo kenapa sih kok liatnya gitu banget? Cemburu ya liat Kaesang sama Bu Tyas tadi?" mendengar pertanyaan Lina yang begitu blak blakan dan tanpa merasa bersalah sedikitpun membuat Zefa maupun Zelyn saling menatap tajam kearahnya. Zefa yang semula begitu marah sekarang bertambah marah setelah pertanyaan Lina itu, ia bahkan yang semula merasa lapar tetiba saja merasa kenyang dan pergi begitu saja dari kantin itu. ia bahkan tanpa mengajak kedua temannya segera berjalan begitu saja, namun melihat Zefa marah dan pergi begitu saja sontak membuat Lina maupun Zelyn lari tunggang langgang tuk mengejarnya, mengikuti langkahnya di belakangnya.
Tatapan mata Zefa terlihat begitu tajam dan terbakar api cemburu, namun yang membuat mereka khawatir adalah arti di balik tatapannya itu. Karena dulu sewaktu Zefa marah ataupun kesal sedikit saja, ia akan melakukan sesuatu tuk meredakan amarahnya itu. Semoga saja Zefa tak berbuat sesuatu yang berbahaya seperti dulu dulu. Karena tatapannya ini begitu tajam, mereka takut jika Zefa begitu marah dan akan berbuat sesuatu ke Tyas, jika kepada Kaesang itu tidak mungkin, karena dia kan menyukai Kaesang, jadi pasti yang akan menjadi incarannya adalah Tyas, mereka takut jika Zefa akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya dari waktu pertama menemui Tyas waktu itu, karena waktu itu saja Zefa berani mendorong Tyas, lalu bagaimana kali ini?
"Zef, Lo baik-baik aja kan, jangan sampe Lo ngelakuin hal yang nekat gegara liat mereka bareng ya Zef, inget Lo harus sabar, cari kesempatan yang bagus buat misahin mereka. Setidaknya Lo harus kelihatan baik di mata Kaesang, buat dia suka sama Lo dan menyesal karena udah mutusin Lo waktu itu." ujar Zelyn seraya tetap mengikuti langkah Zefa di belakangnya.
Namun, jika ini adalah satu satunya cara tuk merebut Kaesang kembali, tentu saja Zefa tidak ada pilihan lain selain mengiyakan saran Zelyn itu.
"Zel, setelah ini temenin gue ke kamar mandi buat pipis, dan benerin dandanan gue, sementara Lo Lin, Lo balik sendiri ke kelas. Gue kesel sama Lo karena ucapan Lo tadi, jadi sebaiknya Lo pergi ke kelas dan introspeksi diri. Yuk Zel," ucap Zefa seraya menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh sedikitpun. ia mengatakan itu begitu dingin dan tegas, namun mendengar jika Zefa lebih memilih Zelyn untuk menemaninya ke kamar mandi sontak membuat Lina terkejut. Karena selama ia sekolah Zefa selalu tergantung dan dekat dengannya, kemana mana selalu bersama dan tidak pernah terpisah. Namun, jika kali ini Zefa lebih memilih Zelyn tuk menemaninya bukankah sedikit aneh?
Sepertinya Zefa benar-benar marah kepada Lina karena ucapan entengnya tadi. sebenarnya Lina mengatakan itu hanya sebagai candaan saja, ia tak bermaksud mengejek atau menyinggung Zefa, tapi melihatnya benar-benar marah sungguh membuat Lina ketakutan. Ia takut jika Zefa sampai marah, dan mendiaminya, ia takkan ada jatah tuk minum-minum seperti biasanya, Zefa takkan mengajaknya lagi atau yang paling parah mengeluarkannya dari geng.
__ADS_1
Pikiran buruk itu Lina pikirkan sampai langkahnya tiba di dalam kelas. Di sana ia melihat Kaesang tengah duduk di bangkunya dan sibuk membaca buku, Lina yang melihat itu tak terlalu mempermasalahkannya, ia tak peduli dan tak ambil pusing karena yang suka dengan Kaesang kan Zefa bukan dirinya, jadi setelah masuk itu Lina segera menuju ke bangkunya dan segera duduk, namun baru saja duduk, tetiba saja ia dikejutkan dengan Kaesang yang muncul di belakangnya dan menepuk bahunya kuat.
"Kasih tau ke bos Lo si Zefa kalau posisi papanya mau tetep aman lebih baik dia jaga sikap sama Bu Tyas, dan jangan pernah natap Bu Tyas tajam kayak tadi lagi, dan oh iya, kalau kalian bertiga masih mau sekolah di sini lebih baik jaga sikap dan jaga kelakuan." setelah selesai mengatakan itu kembalilah Kaesang menuju bangkunya dan duduk kembali sembari membaca bukunya tadi yang sempat di tutupnya. ia mengatakan itu agar mereka bertiga terutama Zefa tidaklah seperti tadi, memang hanya tatapan tajam yang ia lakukan, tapi jika itu terjadi terus menerus bukankah akan sangat menyakitkan, terlebih Tyas kan orangnya tidak enakkan pada orang, jadi melihat tatapan itu kemungkinan Tyas akan menjadi sangat sedih dan kepikiran.
Semenjak Kaesang datang dan sampai pergi lagi Lina sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia nampak terkejut sampai mulutnya begitu kelu untuk sekedar mengeluarkan kata-kata, karena semenjak sekolah di Genius high school baru kali ini lah Kaesang mau mengobrol dengannya. Karena selain ia merasa malu dengan Kaesang, ia juga tergolong enggan mengakrabkan diri dengannya setelah mengetahui Zefa menyukainya. Zefa adalah teman pertamanya semenjak ia datang dan sekolah di Genius high school sampai hari ini.
Huufftt ...
Tapi disaat Lina teringat ucapan Kaesang tadi, ia pun menjadi terdiam dan berpikir, ancaman Kaesang tadi begitu kejam dan tak main-main. bagaimana jika Zefa tau nanti, apakah ia bisa terima semuanya, atau malah semakin beringas?
"Huufftt ... Zef, Lo sepertinya harus ikhlasin Kaesang deh, dia bener bener nggak main main sama hubungannya itu. Astaga, Lin, apes banget hidup lu sampe bisa temenan sama Zefa seperti ini." batin Lina seraya menepuk jidatnya pelan.
Bersambung ...
__ADS_1