Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 48- Karena kamu


__ADS_3

Kelanjutan dari episode kemarin...


Di sebuah kamar mewah bercat putih dengan foto cantik di empunya yang terpajang rapi di salah satu sisi di kamar tersebut, zefa yang merupakan si empunya kamar, terlihat tengah tidur tengkurap di atas ranjangnya, sembari menonton sebuah Drakor kesukaannya yang tengah tayang tersebut di laptop miliknya, ia bahkan terlihat begitu fokus dalam menonton Drakor tersebut, hingga ia pun berdecak kesal saat mendapati teleponnya itu tengah berdering dengan begitu keras. Ia pun lantas mempause tayangan Drakor di laptopnya itu, kemudian turun dari ranjangnya, meraih handphone miliknya dari atas nakas, lalu mengangkatnya.



'Hemm, halo. Kenapa?'


^^^'Lo, gak ada niatan buat temenin gue ke pasar malam sekarang?'^^^


'Hah, pasar malam?, dimana?'


^^^'Itu, pasar malam gede yang diadain sama pihak gubenur buat rayain kelahiran putra bungsunya, masa gitu doang Lo gak tahu sih?!'^^^


'Ooh, itu, ya gue tahu sih, tapi ngapain ke sana?, males banget, mending nongkrong-nongkrong ke cafe, ke bar, atau ke mana gitu.'


^^^'Hehh, Lo tuh ya, kebiasaan. Ayolah sekali aja lo temenin gue ke pasar malam itu, please, ntar gue traktir deh, ya.'^^^


'Halah, Lo tuh tahu males gak sih, hah! lagian ngapain sih lo ngebet banget pengen ke pasar malam itu, kayak gak ada tempat lain aja, apalagi ini udah mau larut, mager tahu, mending gue di rumah.'


'Ye dasar anak rumahan, kalau namanya pasar malam ya adanya malem dodol, kalau siang itu namanya pasar Senin, udah, pokoknya Lo temenin gue malam ini, oke, ada yang mau gue beli di sana soalnya.'


'...Gak.'


.......📞......


Tanpa mengatakan apapun lagi zefa pun buru buru menutup panggilan tersebut dengan kasar. Ia lantas membanting handphone miliknya itu keatas kasur, lalu kembali naik keatas kasurnya, membaringkan tubuhnya sembari memplay Drakor yang sempat ia pause tadi,


'Aneh aneh aja nih bocah satu. Udah mau jam sembilan malam juga pakai ngajakin ke pasar malam. Ogah lha ya, mending gue drakoran aja, jauh jauh lebih seru.' Setelah berucap demikian, zefa pun melanjutkan menonton drakor kesukaannya tersebut, tanpa memperdulikan siapapun itu, termasuk temannya tadi yang memintanya tuk menemaninya ke pasar malam tersebut.


.....................................................................

__ADS_1


Disisi lain, Sampailah Kaesang juga Tyas di tempat dimana pertunjukan kembang api yang dimaksudkan akan terlaksana, Ia lantas menurunkan Tyas dari gendongannya, kemudian berdiri sejajar, dan saling menatap kearah tengah lapangan yang saat ini tengah dipenuhi oleh beberapa pemuda yang akan melakukan pertunjukan kembang api tersebut.


"Belum mulai kayaknya, Kae, Itu masih persiapan." Ucap Tyas sembari tatapannya tetap mengarah pada tengah lapangan.


"Iya, aku kira dah mau mulai, makanya aku langsung ajakkin kamu kesini, tapi tenang aja, bentar lagi bakalan mulai kok, dan dilihat lihat mereka cuma tinggal masang apaan gitu, dan pastinya kalau cuma pertunjukan gituan doang mah gak lama,"


"Halah, sok tahu kamu, udah pokoknya kalau ini masih lama, kita pulang sekarang juga, aku udah capek, Kae, mau tidur, ngantuk." Rengek Tyas sembari memasang muka manyunnya pada Kaesang, lalu kembali menatap kearah lapangan.


"Bentar, sabar dong, tinggal dikit lagi itu, nah kan bener, udah selesai, siap siap bentar lagi akan ada sesuatu yang hebat tersaji di depan kamu." Bujuk rayu Kaesang, saat mendapati persiapan pertunjukan kembang api itu sudah selesai, dan kembang api sudah hendak diluncurkan, bersoraklah Kaesang, ia lantas memberitahukan Tyas akan hal itu, dan tyas pun langsung memasang muka penasarannya, ia lantas terus memandang kearah tengah lapangan, sembari menunggu kembang api itu diluncurkan.


dorrr....dorr...dor...


Suara kembang api terdengar bersahutan di langit, seakan ingin memberitahukan eksistensi mereka pada siapapun yang mendengarnya, tapi lain lagi, warna gemerlap dari cahaya kembang api itu berhasil mewarnai cakrawala gelap ini, dan itu tentu saja berhasil membuat Tyas terbengong, dan pandangannya tak dapat beralih sedikitpun dari cahaya kembang api tersebut.


"Dear, kamu tahu gak, dari setiap wisata maupun tempat yang pernah aku kunjungi, cuma ini satu satunya tempat yang berhasil buat aku terpesona, dan berhasil kasih kenangan terindah buat aku, yang tentunya gak akan pernah aku lupain. Kamu tahu gak, alasannya kenapa?" Tanya Kaesang sembari tatapannya juga tetap mengarah pada kembang api tersebut.


"Gak tahu, emang apa alasannya?" Tanya Tyas sembari tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Karena kamu, kamu adalah alasan kenapa aku bisa berdiri di sini, dan dalam keadaan seperti ini, ini semua karena kamu." Jawab Kaesang sembari menatap kearah Tyas lalu tersenyum tulus kearahnya. Tyas yang mendengar itu, seketika langsung menatap balik kearah Kaesang, lalu menatap datar kearahnya.


"Hemm, oh iya aku ada sesuatu nih buat kamu." Ucap Kaesang sembari mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sesuatu yang tak terlalu besar, dan dibungkus plastik, lalu menyerahkannya pada Tyas.


"Ini apa Kae?" Tanya Tyas sembari menerima bungkusan tersebut, lalu membukanya perlahan. Ia pun sempat terkejut saat mendapati isi dari bungkusan itu, lantas ia pun mengambilnya dari dalam plastiknya, lalu menatapnya baik baik. Sebuah boneka hamster imut sekarang tengah ada di genggamannya.



Tyas yang mendapati Kaesang telah memberikannya boneka seimut ini, lantas tersenyum sembari tetap menatap kearah boneka tersebut.


"Lucu banget, ini buat aku?" Tanya Tyas sembari menatap kearah Kaesang, lalu tersenyum senang kearahnya.


"**Ya siapa lagi kalau bukan buat kamu."

__ADS_1


"Jadi ini serius buat aku?, makasih ya Kae, aku suka banget sama bonekanya, lucu**." Saat mengetahui pemberiannya itu di terima baik oleh Tyas, hati Kaesang pun menjadi sedikit lega, juga bahagia, ia lantas mengatakan sesuatu lagi pada Tyas,


"**Bagus deh kalau kamu suka, simpan baik baik ya, sebagai hadiah dari aku, anggap aja itu kado pertama aku sebagai pacar kamu, jadi pesen aku cuma satu, simpan baik baik boneka hamster itu, oke."


"Aku janji bakal simpan ini baik baik, makasih ya**." Ucapnya sembari tersenyum bahagia yang begitu ketara di wajah cantiknya.


"Sama sama, oh iya, kamu tahu gak, kalo aku itu paling suka sama kembang api?" Ceritanya lagi sembari menatap kembali kearah langit, begitupun dengan Tyas yang sama sama juga menatap kembali kearah langit, kemudian tersenyum saat ada sebuah kembang api yang meluncur mewarnai gelapnya langit tersebut.


"Gak, tapi dilihat dari raut wajah kamu, kayaknya kamu emang suka banget ya sama kembang api?, kenapa?" Tanya Tyas sembari mengalihkan pandangannya kearah Kaesang kembali, lalu tersenyum kearahnya.


"Dulu, aku sering banget, diajakin papa sama Mama, bareng bareng gitu sekeluarga buat lihat pertunjukan kembang api kayak gini, tapi...ah sudahlah." Balas Kaesang, saat tak sengaja ia teringat kembali dengan kenangannya yang telah lalu, lantas ia pun langsung menyudahi perkataannya itu, dan memilih melupakannya.


Tyas yang seakan mengerti dengan kondisi Kaesang, lebih memilih diam, lalu membiarkannya, ia tak ingin mengganggu dirinya di saat saat seperti ini, akan tetapi ia juga mengerti, lalu teringat lah sesuatu, ia pun lantas merogoh Sling bag nya kemudian meraih sebuah gantungan kunci beruang madu dari dalamnya.



"Kae, nih buat kamu." Ucap Tyas sembari menyerahkan gantungan kunci beruang madu itu pada Kaesang.


"Hah, buat aku?" Tanya Kaesang bingung.


"Iya buat kamu, udah gak usah pakai bingung segala, terima ya, simpan baik baik, dan jangan sampe diilangin, oke." Balas Tyas sembari menyodorkan gantungan kunci beruang madu itu pada Kaesang, kemudian diterimanya gantungan kunci tersebut, bingung dan tak paham, kenapa tiba tiba Tyas juga memberinya sebuah hadiah, padahal ia sama sekali tak memintanya.


"Makasih ya, walaupun aku gak suka beruang, tapi aku akan simpan pemberian dari kamu ini baik baik, sekali lagi makasih ya,"


"Oh iya dear, permen kapasnya kan masih ada, kita habisin yuk sebelum pulang, sayang udah kebeli." Ucap Kaesang lagi, sembari menyodorkan tiga buah permen kapas yang sedari tadi di genggamnya itu pada Tyas.


"Kamu sih, pakai beli tiga segala, kan aku dah bilang beli satu aja, tapi kamunya ngeyel, yaudah ah, yuk habisin, tapi habis ini pulang ya, takut kemalaman aku." Ucap Tyas menanggapi perkataan Kaesang barusan, setelah diiyakan olehnya, ia pun lantas mengajukan permintaan pada Kaesang, agar mereka segera pulang selepas ini, dengan alasan takut kemalaman.


"Ah, iya iya, yaudah." Selepas itu mereka berdua pun sama sama menghabiskan permen kapas tersebut sembari bersenda gurau, juga menikmati pertunjukan kembang api yang masih saja berpacu di waktu yang semakin larut, hingga tanpa sadar habislah ketiga tiganya permen kapas tersebut bersamaan dengan pertunjukan kembang api yang juga telah usai.


Dilain sisi, Indra, papa dari Kaesang tersebut, saat ini terlihat tengah duduk sendirian di ruang tamu rumahnya sembari memainkan handphone di tangannya, berulang kali ia lirik arloji di tangannya, kemudian langsung berdecak kesal setelah melihatnya. Walaupun ia terlihat tengah sibuk dengan handphonenya, tapi hingga saat ini ia masih saja mencemaskan putranya, mengapa hingga saat ini putranya itu tak kunjung pulang. Ia bahkan sudah menelpon putranya itu tapi tak diangkat juga olehnya, tak tahu apa alasannya. Yang pasti ia sedikit kesal oleh tingkah putranya ini.

__ADS_1


'Ck. Kemana sih nih bocah, gak balik balik, diteleponnin juga gak diangkat, di wa juga gak dibales, gak tahu apa papanya khawatir nungguin dia gak balik balik.' Ocehnya sendiri.


Bersambung.


__ADS_2