
MAAF YA GUYS, KARENA FLASHBACK NYA KELAMAAN, JADI SEKARANG AKU MAU FOKUS KE KAESANG LAGI. BTW SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKENYA. THANK YOU:))
Kaesang nampak berjalan tergesa seraya tak memperhatikan jalan yang ia tapaki. Pikirannya sedang kacau saat ini, terlebih ancaman zefa seperti sesuatu yang tak dapat di remehkan. Awalnya ia tak terlalu menanggapi ancaman seperti itu, tapi melihat keseriusan zefa, dan dengan bukti yang dimilikinya, sungguh, kaesang tak dapat berkutik. Keberanian yang semula tertanam di dirinya seolah lenyap digantikan dengan bayangan ketakutan akan ancaman zefa padanya. Kenapa ia bisa berada di hotel? apa yang terjadi? semua pertanyaan itu masih tertulis rapi di pikirannya. Ia tak ingat dengan kejadian apa yang ia alami semalam setelah dirinya mabuk, dan akhirnya berakhir di tempat ini.
Sesaat sampai di parkiran hotel yang lumayan luas, kaesang pun berjalan asal seraya mencari keberadaan mobilnya. Ia mengamati satu persatu mobil yang terparkir rapi itu, hingga sampailah ia di paling ujung dari parkiran itu. Hm, ternyata ia lupa jika saat ia berjalan jalan ke puncak, ia tidak membawa mobil melainkan hanya berjalan kaki.
Ia pun mendengus pasrah, lantas berjalan menjauhi parkiran itu.
Beberapa detik berlalu, kini kaesang telah ada di dalam sebuah taksi. Ia ingin kembali ke villa, tapi entah kenapa pikirannya justru mengarahkannya untuk datang ke suatu bar atau tempat hiburan malam. Kaesang bingung harus mengambil keputusan apa, tapi pikirannya sedang kalut sekarang, dan jalan satu satunya adalah dengan menenangkannya bagaimanapun caranya. Sebenarnya ia ingat jika ia tak bisa terlalu banyak minum karena kondisinya, tapi sekali lagi, pikiran kaesang sekarang tengah stres. Ia ingin mendinginkannya walau hanya sekejap.
Lantas sebelum terlalu jauh, ia pun benar benar memutuskan tuk pergi ke bar yang buka dua puluh empat jam itu. hm, tak tau namanya apa tapi yang jelas lokasinya tak terlalu jauh lah dari lokasinya saat ini.
"Makasih pak." Selepas merogoh kocek seratus ribuan dari saku celananya, kaesang pun beranjak turun dari taksi tersebut. Ya, ia telah sampai pada bar yang ia tuju. Bangunannya lumayan besar, dan tak jauh berbeda lah dari bar bar yang lain.
Kakinya perlahan memasuki pelataran bar itu, ia dapati ratusan kendaraan telah terparkir rapi di parkiran selatan bar itu. Ini masih terlalu pagi, tapi sepertinya banyak orang yang tidak sabar untuk menunggu hingga malam tiba.
Lantas ia pun mulai memasuki tempat yang dulu sangat dijauhinya itu. Ia sangat membenci tempat itu, tapi sekarang ia justru mendatanginya. Tak tau setan apa yang merasukinya tapi dipikirkannya ia hanya butuh ketenangan, dan yang terbesit hanyalah bar, dan juga alkoholnya.
"Gak nyangka, gue bisa kesini sekarang." Batinnya sebelum ia benar benar memasuki tempat bercat hitam tersebut.
__ADS_1
......................
Di jalanan yang lumayan padat, Kaesang yang nampak sempoyongan tengah berjalan di pinggiran aspal seraya memandangi kendaraan yang berlalu lalang di jalan sebelahnya. Setelah berjam jam berada di bar tersebut, dan menghabiskan hampir sekitar 3 botol bir, kaesang pun membayar, dan memutuskan tuk pergi dari sana. Ia mabuk, tapi ia juga ingin kembali. Berulang kali ia menabrak bahu seseorang saat ia tengah berjalan, bahkan ia sempat tersungkur hingga akhirnya bangkit kembali dan berjalan kesegala arah. Ia mabuk, dan ia tak ingat jalan kembali.
Lalu di saat yang bersamaan, dari arah berlawanan nampaklah perempuan manis dengan pakaian kasual, jeans biru Dongker, dan rambutnya yang terurai terlihat tengah memainkan handphonenya seraya berjalan. Ia tak melihat jalanan yang ia tapaki hingga akhirnya ia pun bertabrakan dengan kaesang yang tengah mabuk. Mereka sama sama tersungkur dengan posisi kaki kaesang menindih paha perempuan itu.
"Aduhh, mas kalau jalan tuh lihat lihat dong!" Si perempuan pun mencoba meraih handphone miliknya yang tergeletak tak jauh darinya. Ia dapati handphone satu satunya itu telah mati dengan kondisi layar yang juga pecah. Gadis bernama Gina itu sangat menyayangkannya sebab handphone itu ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri, dan sekarang malah pecah akibat ulahnya sendiri karena tak berhati hati.
"Mbak tuh yang gak lihat, udah jalan sambil main hp terus jatuh pake nyalahin saya lagi!" Saat kedua manik itu saling beradu, Gina yang masih sangat mengingatnya pun langsung tersentak kaget. Ya, ia mengenali kaesang. ia mencoba mengingat ingat kembali, dan ternyata benar. Dia adalah kaesang, sepupu jauhnya yang pernah bertemu saat pertemuan keluarga besarnya beberapa tahun yang lalu. Kaesang tak berubah, ia masih sama seperti dulu, hanya saja ia semakin...ehm tampan.
"Kaesang,, ini beneran Lo kae??" Gina pun menatap kaget kearah kaesang yang mabuk.
Gina melihat kaesang yang mabuk pun hanya menganggukkan kepalanya pelan lantas menghela nafas.
"Gue Gina, sepupu Lo. Udah yuk, kerumah gue dulu. Tenangin diri, trus istirahat." Ucapnya seraya membimbing kaesang tuk berdiri lantas merangkulnya.
"Lo beneran sepupu gue, kok gue gak kenal ya?" racau kaesang.
"Udah, bahas itu ntar aja. sekarang Lo kerumah gue dulu, oke. Tidur, trus istirahat. gue tau Lo mabuk sekarang, makanya kenapa Lo gak ngenalin gue." Ucap Gina seraya tetap membantu kaesang berjalan tertatih menuju rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah kediaman Gina yang tak terlalu besar tapi nyaman dan asri. Kaesang pun dibimbingnya tuk memasuki rumahnya setelah ia membukakannya pintu.
Rumahnya nampak sepi, karena ternyata Gina hanya tinggal seorang diri di rumah itu. Kedua orang tuanya telah bercerai dua tahun yang lalu, dan Gina memutuskan tuk tinggal dengan sang nenek di rumah ini sebelum akhirnya setahun kemudian sang nenek pun dipanggil menghadap sang pencipta.
Kini Gina pun membantu kaesang naik ke ranjang miliknya. Ia benarkan posisi tidur kaesang lalu menaikkan selimutnya hingga sebatas dada. Sesaat kaesang mulai terlelap, Gina pun sempat menatap wajahnya dan tersenyum. Ia tak menyangka akan bisa bertemu kembali dengan kaesang dalam keadaan seperti ini. Terlebih, kaesang nampak kacau dan banyak masalah. Sungguh ia tak tega melihatnya, sebab ini seperti sosok baru kaesang yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Sebab setahunya kaesang bukanlah sosok yang suka minum minum bila ada masalah, tapi memikirkan semua itu, membuat pikiran Gina kembali flashback pada saat dirinya pertama kali bertemu dengan kaesang.
Ya, semua itu berputar begitu saja di pikirannya hingga ia pun dibuat tersentak oleh racauan kaesang. Ia nampak meraih tangan Gina lalu menggenggamnya. Kaesang terlihat meracau di sela sela tidurnya, berulang kali ia menyebutkan hal yang sama,
"Dear.." Hanya itu kata kata yang kaesang racaukan. Gina bingung, dan tak paham. Apa itu dear, siapa dia? kenapa kaesang memanggilnya dear??
"Kaesang, bangun kae. Kaesang.." Gina terus saja mengguncang bahu kaesang agar terbangun. Tapi semakin kuat ia mengguncang bahunya semakin kuat juga kaesang meracau. Ia bahkan terlihat meneteskan air mata seraya tetap meracaukan nama dear, dan dear terus menerus.
"Maafin aku dear, please maafin aku."
Gina pun dibuat terdiam akan ucapan kaesang itu. Maaf? maaf buat apa, apa sebelumnya kaesang pernah ada salah dengan seseorang yang ia panggil dear itu?
"Kae, bangun kae. Ini aku, kaesang." Gina terus saja mengguncang bahu kaesang kuat, hingga sayup sayup terbukalah manik hitam itu.
"Kae, Lo udah sadar." Gina pun melepas tangan kaesang dari tangannya lalu meraih handuk kecil di kening kaesang, dan menaruhnya kembali di dalam baskom yang dibawanya di atas nakas.
__ADS_1
Bersambung.