Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 121 -Tetap menolak


__ADS_3

Huufftt ...


Setelah melalui jalan begitu panjang, dan berbelok belok, Gina pun akhirnya sampai juga di depan rumah Kaesang. Dia masihlah diam di tempatnya dan mengatur nafasnya berulang kali.


"Gin, kau harus bisa ..." ucapnya sendiri seraya menghela nafas panjang.


Tok ... Tok ... Tok ... (ketukan pintu)


Setelah cukup menghela nafas dan meyakinkan diri, Gina pun maju satu langkah ke depan lalu di ketuknya pintu besar di hadapannya berulang ulang.


Klikk ...


Mendengar suara ketukan pintu, indra yang saat itu tengah berada di rumah langsung saja berjalan ke pintu utama dan membukanya.


"Loh, kamu bukannya Gina, anaknya pak Rudi dan Bu Rita yang dari Jagakarsa?" sesaat melihat siapa yang datang, Indra pun sontak terkejut dan langsung mengulas senyum hangat pada tamunya itu yang ternyata adalah kerabat jauhnya dari Jagakarsa.


"Ehm iya om, saya Gina." balas Gina seraya tersenyum manis.


Indra pun berdehem.


"Oke, silakan masuk, Gin." setelahnya indra mempersilahkan Gina untuk masuk.


......................


Sedari tadi tatapan Zefa tak lepas dari Kaesang, dia terus saja menatap nya dan juga tersenyum kepadanya. Sikapnya begitu centil dan seperti anak puber. Dia tak menanggapi materi yang di jabarkan di depan dan mengabaikan Tyas yang saat itu tengah mengajar, berulang kali Tyas mendapati Zefa tengah menatap senyum kearah Kaesang.

__ADS_1


"Apa ku suruh ngerjain ini aja ya, biar tuh anak kapok." batin Tyas seraya melirik sekilas kearah Zefa.


......................


"Apa?! Kau tak serius kan dengan ucapanmu itu?" setelah mendengar ucapan serta maksud Gina datang jauh jauh ke rumahnya, Indra pun sontak terkejut dan matanya membola sempurna, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya pun berkeringat dingin.


"Saya serius, om. Saya benar benar mencintai Kaesang dan ingin sekali menjadikannya suami saya. Saya mohon om, ijinkanlah saya menikah dengan Kaesang, dulu sewaktu orang tua saya masih bersama bukankah mereka sempat mengatakan hal ini pada anda?" ucap Gina seraya menghela nafas sejenak dan menundukkan kepalanya.


"Iya Gina, saya paham, dulu orang tua kamu memang sempat mengatakan hal itu pada saya. Dulu saya memang menyetujui omongan mereka tanpa sadar dan tanpa memikirkan kedepannya. Tapi kamu tau Kaesang sekarang kan, dia itu masih sekolah, Gin, dia masih kecil, dan untuk urusan menikah Kaesang belumlah mampu." sahut Indra seraya mengalihkan atensinya kearah lain.


"sebelumnya saya sudah memikirkan itu dan tidak masalah. Saya nggak keberatan dengan posisi Kaesang saat ini yang seorang pelajar. Justru saya senang bisa memiliki Kaesang dan menikah dengannya. Om, om indra nggak keberatan kan jika saya menikah dengan Kaesang?" tanya Gina takut takut.


......................


Udara sedikit panas, angin bertiup dengan kencang, dan teriakan anak anak begitu ramai memenuhi penjuru sekolah. Setelah memberi pesan pada Tyas tuk datang menemuinya di taman belakang, Kaesang pun segera bergegas menuju kesana seraya menggenggam sekotak kecil perhiasan yang sebelumnya telah ia raih dari dalam ranselnya.


Tuk ... Tuk ... Tuk ...


"Hey, dear, udah lama?" sesaat Kaesang baru tiba di sana, begitu kagetnya dirinya sesaat melihat Tyas sudah lebih dulu sampai, gadis itu saat ini tengah sibuk memainkan hp nya sampai Kaesang tiba di depannya pun, Tyas tidaklah menyadarinya.


"Oh, Kae, belum lama kok." sahut Tyas seraya membiarkan Kaesang untuk duduk di sampingnya.


Mendengar ucapan Tyas, Kaesang pun hanya tersenyum dan beranjak duduk di sampingnya. Awalnya tujuan Kaesang mengajak Tyas kemari hanya untuk melepas rasa rindunya sekalian memberikan sesuatu berharga yang telah Kaesang belikan untuk Tyas sebelumnya. Tapi setelah melihat Tyas bertukar pesan dengan seseorang tadi, Kaesang pun menjadi terdiam. Dia diam bukan karena apa apa, dia diam karena seriusnya Tyas dalam bertukar pesan itu sampai Kaesang datang pun Tyas tidaklah sadar. Sebenarnya siapa yang bertukar pesan dengan Tyas itu, mengapa dia nampak serius sekali?


"Kae, kamu mau ngomong apa, katanya ada hal penting ya yang mau kamu omongin sama aku?" tanya Tyas. Melihat Kaesang yang hanya diam dan sama sekali tak menatap kearahnya membuat Tyas bingung dan kepikiran.

__ADS_1


"sebenarnya aku mengajak kamu ke sini karena aku begitu rindu sama kamu. sehari tak menelponmu atau berjumpa denganmu saja sudah membuatku serindu ini. Tapi, sepertinya kamu sibuk sekali sampai tak ada menghubungiku atau menanyai kabarku sedikitpun, kukira hp ku akan penuh dengan telpon darimu ataupun pesan yang begitu panjang darimu yang menanyakan kabarku dan segalanya. Tapi ternyata, sepi, gak ada sama sekali, aku bahkan sampai ada niat buat telpon kamu tapi sialnya saat itu ada papaku. Dia selalu bersamaku dan tak membiarkanku sendiri barang sedetik pun. oh ya, dear, tadi kamu menelpon siapa, kok sepertinya penting banget?" tanya Kaesang seraya menoleh kearah Tyas dan menatapnya begitu dalam.


Mendengar ucapan Kaesang yang terdengar serius dan penuh perasaan membuat Tyas tak dapat berkata kata. Dia tetap diam seraya tatapannya tak lepas dari kaesang.


"Dear, sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu. Sesuatu penting yang membuatku kepikiran dan tak bisa tidur sejak semalam, sesuatu ini adalah hal yang kudapat dari perjalanan ku ke Surabaya kemarin. Dear, kamu benar mencintaiku, kan? Kamu mau bersama ku sampai kapanpun kan? Kamu takkan pernah meninggalkanku kan dear?" pertanyaan Kaesang barusan membuat Tyas bingung dan tak dapat berpikir, dia mencintai Kaesang dan Kaesang pun tau itu, namun kenapa tadi dia menanyakannya lagi, apa selama ini Kaesang tidaklah percaya padanya, apa baginya cinta dan perasaan Tyas padanya ini adalah palsu?


"Aku mencintaimu dear, aku menyukaimu, aku hanya mau memberikan cintaku ini padamu, aku hanya ingin menikah dan menghabiskan masa tuaku ini bersamamu saja, dear." tanpa di duga sebelumnya, Kaesang pun meraih tubuh Tyas lalu memeluknya begitu erat.


Melihat Kaesang yang memeluknya, menyembunyikan kepalanya di ceruk lehernya, kemudian terdengar menangis sesenggukan membuat Tyas kaget dan bingung dengan Kaesang yang sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kaesang? kenapa dia berubah aneh seperti ini? Mendengar pengungkapan cinta darinya tentu saja Tyas senang, tapi jika tak ada hujan tak ada angin tiba tiba saja Kaesang mengungkapkannya lagi bukankah aneh.


"Kae kamu kenapa? apa kamu baik baik saja?" tanya Tyas seraya mendorong pelan tubuh Kaesang dan mengurai pelukannya.


"Dear, aku aku bingung harus gimana lagi, aku nyesel udah ikut papa kemaren ke Surabaya. Aku nyesel udah kesana, dear." ucap Kaesang sembari terisak.


Tyas yang masih juga bingung tak mampu berkata apapun selain tersenyum dan menghapus air mata Kaesang menggunakan jarinya.


Cup ... Cup ... Cup ...


"Emang kemarin acara apa sih, Kae? acaranya kurang membuatmu nyaman ya makanya kamu nyesel?" tanya Tyas.


Setelah mendengar pertanyaan dari Tyas, Kaesang yang telah sembuh dari tangisnya pun segera meraih tangan Tyas kemudian menggenggamnya dan tersenyum lah ia seraya mengecup punggung tangan Tyas yang digenggamnya itu.


"papa mau jodohin aku, dear, dengan anak temennya yang dari Surabaya kemarin, awalnya aku nolak, karena selain aku nggak kenal dengan dia, aku juga sudah memiliki kamu di hati aku. Tapi setelah papa bilang kalo anak yang mau di jodohin denganku itu adalah temen masa kecilku, aku bingung, aku sama sekali nggak inget itu karena masa masa itu sudah terlampau jauh. Selain itu aku juga ngerasa kalo aku nggak memiliki teman masa kecil sedikitpun. Dear, berjanjilah padaku kalo kamu tetep setia sama aku dan tetap bersama ku sampai aku lulus nanti. Aku mencintaimu dear, jadi aku akan tetap menolak perjodohan itu." ujar Kaesang seraya tetap menggenggam tangan Tyas.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2