Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 58- Operasi


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Di sebuah ruangan meeting, nampaklah Indra beserta beberapa kolega pentingnya yang terlihat tengah membahas sebuah proyek penting yang hendak mereka kerjakan di London esok hari. Indra yang merupakan CEO utama PT. INDRA PERMANA, atau perusahannya itu, sudah pasti dirinyalah yang harus mengurus semuanya, mulai dari keberangkatan, tiket pesawat, hotel mereka disana, dan juga segala keperluan mereka di sana nanti, karena mengingat proyek ini adalah proyek yang ia usulkan sendiri, jadi jikalau ini berhasil tentu akan sangat menguntungkan banyak pihak, terutama dirinya sendiri, tapi jika pun gagal tentu dirinyalah yang akan rugi besar, tapi ia sudah fiks dengan proyeknya itu, dan setelah satu jam setengah berdiskusi akhirnya mereka pun memutuskan tuk mau bekerja sama dengan perusahaan milik Indra tersebut, dan bersedia tuk berangkat ke London dengannya besok.


Melihat itu Indra pun bahagia, lantas menjabat tangan para koleganya itu, lalu mereka pun keluar, dan pergi dari ruangan meeting tersebut.


"Kuharap proyek besok bisa sukses, dan sesuai dengan apa yang kuharapkan.." harap Indra sembari duduk kembali di kursinya di ruang meeting tersebut, lalu mulai mengecek proposal yang membahas tentang proyek besar yang hendak di kerjakan nya besok di London.


..............................................................


Selepas selesai dengan sarapan paginya, kaesang pun lantas minum orange juice tersebut, memanggil pelayan cantik yang melayaninya tadi, kemudian membayar makanan beserta minumannya tersebut. Selepas selesai dengan urusan sarapan, kaesang pun lantas keluar dari resto tersebut dengan perasaan tenang, karena masalah perut sudah teratasi. Lalu matanya tak sengaja menangkap sebuah bangunan minimarket yang terletak tak jauh dari resto tempatnya makan tadi, tepatnya di satu meter di sebelah kirinya, dan melihat itu, kaesang pun lantas memutuskan tuk pergi kesana sebentar guna membeli beberapa camilan, dan juga soft drink.


Mulai memasuki minimarket tersebut, kaesang disambut dengan baik oleh dua orang pelayan minimarket tersebut, ia keluarkan senyuman tipisnya kearah mereka, lalu selepas itu ia pun beranjak mengambil troli belanja yang ada lima langkah di depannya, dan mulailah ia berbelanja di minimarket tersebut.


Pertama tama kakinya mulai ia langkahkan di area Snack Snack berada, ia pusatkan perhatiannya pada aneka Snack dihadapannya, dan memilih mana yang hendak di belinya, kemudian setelah dapat apa yang ia mau, kaesang pun lantas meraih Snack tersebut dan dimasukannya kedalam troli yang dibawanya itu. Tak puas hanya membeli Snack, kaesang pun kini berjalan kearah kulkas yang berisikan aneka minuman, mulai dari soft drink, susu, juice, dan aneka minuman lainnya.


Ia mulai mengambil satu dua buah soft drink, dan juga susu lalu dimasukannya kembali kedalam troli yang dibawanya itu. Kaesang yang merasa tak ada lagi yang harus di belinya, lantas mulai berjalan kearah kasir, dan membayarnya.


"Terima kasih banyak, mas atas waktu belanjanya, dan silakan datang kembali lain waktu." Ucap pelayan kasir cantik tersebut sembari memberikan kantong belanjaan kaesang padanya, dan sebuah nota pembelian. Ia kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada, lalu tersenyum kearah kaesang. Selepas menerima barang belanjaannya, beserta nota tadi dari tangan sang kasir, kaesang pun lantas beranjak keluar dari minimarket tersebut, setelah ia berucap terima kasih kembali pada pelayan kasir tersebut.


Dengan langkah santai, ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat mobilnya terparkir sembari memandang kearah jalanan yang kini mulai dipadati oleh beberapa kendaraan yang tengah berlalu lalang entah kemana. Kemudian tanpa menunggu lama, selepas sampai di tempat mobilnya terparkir, ia pun bergegas membuka kuncinya, lalu mulai memasukinya, dan kemudian menyetater mobilnya selepas itu. Dan setelah menyala, mulailah ia melajukan mobilnya, dan pergi, melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke villa keluarganya di puncak, karena selepas di liriknya kearah arloji di tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, dan melihat sinar matahari juga semakin terik, kaesang pun mulai melajukan laju kendaraannya dengan sedikit cepat, bukan apa, tapi mengingat jalur ke puncak selalu padat bila weekend tiba, dia pun tak ingin ikut terjebak dalam kemacetan, karena jika siang sedikit saja pasti jalur sudah macet, maka dari itu dirinya pun mulai mengendarai kendaraannya dengan sedikit cepat, tapi tetap hati hati, karena jalurnya rawan kecelakaan juga.


...................................................................


Tyas yang baru tiba di halaman depan rumah sakit Medika Mandiri, seketika terpaku menatap kearah bangunan rumah sakit besar di hadapannya, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia bayar ongkos taksinya tersebut, dan turun.


Ia menghembuskan nafas beratnya sebelum akhirnya ia memutuskan tuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Sesampainya di dalam, kakinya mulai melangkah di area lobi rumah sakit, kemudian pergi lah ia ke meja resepsionis guna mengecek jadwalnya operasi, juga menyerahkan surat persetujuan operasi tersebut.


"Ehm, selamat pagi, sus," Ucap Tyas memulai.


"Pagi ibu, ada yang bisa dibantu?" Balas suster cantik di hadapannya ramah.


"Ehm, saya ingin melakukan operasi pengangkatan kanker otak atas nama Tyas Ayushita." Balas ramah Tyas.


"Apakah anda pernah kesini sebelumnya?"

__ADS_1


"Ya, saya pernah kesini sebelumnya, sekitar dua hari yang lalu."


"Oh, saya cek data anda terlebih dahulu ya ibu. Atas nama ibu siapa?"


"Tyas Ayushita."


"Baiklah ibu, bisakah anda tunggu sebentar."


"Baik sus."


Selepas mengatakan itu, nampaklah suster cantik tersebut tengah menekan tombol telepon pada telepon rumah di hadapannya, kemudian selepas keluar suara ia pun lantas mengangkat gagang teleponnya, dan mulai bicara. Sembari menelpon ia juga nampak membolak balikkan map hijau di hadapannya, dan selepas selesai dengan teleponnya, ia pun lantas menaruh kembali gagang teleponnya itu.


"**Ehm ibu, selepas saya cek data ibu, ternyata Bu Tyas terdaftar di database kami, dan disini mengatakan jika Bu Tyas akan melakukan operasi pengangkatan kanker otak pada pukul sembilan pagi, dan menimbang itu, surat persetujuan operasi yang ibu tanda tangani sebelumnya apakah saat ini dibawa?"


"Oh ada ada. Ini sus**." Sahut Tyas sembari merogoh Sling bag nya, lalu menyerahkan surat persetujuan operasi yang sempat dilipatnya tersebut pada suster cantik di hadapannya.


"Baik ibu, suratnya saya terima ya." Selepas menerima surat persetujuan operasi milik Tyas tersebut, dan menandatanganinya, suster itu pun lantas menyerahkan surat itu kembali pada Tyas.


"**Baiklah bu Tyas, karena operasi yang ibu jalani kurang satu jam lagi, maka ibu diminta tuk bersiap diri di depan ruang operasi."


Sesampainya ia di depan pintu ruang operasi, ia pun duduk duduk sebentar di kursi tunggu rumah sakit, sembari menunggu jamnya, ia pun juga tengah mempersiapkan dirinya, semoga saja semuanya dilancarkan oleh yang diatas.


..........................................................


Selepas menepuh perjalanan panjang, dan melelahkan, akhirnya sampailah kaesang di halaman depan villa milik keluarganya itu di puncak. Ia turun dari mobilnya, sembari menenteng barang bawaan dan beberapa belanjaannya tadi, ia pun berjalan kearah barat dari villa tersebut, ia tengok pemandangan indah nan cantik yang tersuguh di hadapannya, sebuah pegunungan yang tertutup kabut, serta pemandangan kebun teh yang hijau membentang, semuanya terkesan indah nan asri, dan sudah lama juga ia tak merasakan, dan melihat pemandangan seindah itu selepas perpisahan kedua orang tuanya, yang cukup menyesakkannya.


Selepas ia menaruh barang yang di bawanya tadi di kursi santai di belakangnya, ia pun lantas merentangkan kedua tangannya, dan mulai menghirup dalam dalam udara segar di sana.


Beberapa saat ia menikmati momen itu, sampai seseorang mengejutkannya dari arah belakang.


"Den kaesang ya?" Tanya seseorang, dan saat kaesang membalikkan badannya, nampaklah sesosok pria lima puluh tahunan berbaju merah dan bercelana panjang di hadapannya, pria itu tersenyum lantas mulai berjalan menghampiri kaesang.


"Ehm iya, dan ini pasti dengan pak Darso ya?" Tebak kaesang sesaat setelah pria tersebut ada tepat di hadapannya.


"Iya den, ini bapak. Tadi papanya Aden sempat telepon bapak sekitar sejaman yang lalu, dan katanya Aden mau liburan kesini, nah makanya itu bapak langsung kesini deh buat kasih kunci villa ini ke Aden. Nih den, kuncinya." Selepas mengatakan itu, si bapak pun menyerahkan kunci villa tersebut pada kaesang, dan kaesang pun menerimanya selepas itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya pak."


"Sama sama den. Yasudah kalau begitu saya tinggal dulu ya den, mari." Sehabis mengatakan itu, si bapak pun beranjak pergi dari sana, meninggalkan kaesang seorang diri di tempat tersebut.


Selepas si bapak pergi, kaesang pun buru buru menuju ke villa tersebut, ia masukkan kuncinya, kemudian ia putar knop pintunya, dan mulai memasukinya. Karena masih siang di dalam villa ini menjadi tak terlalu gelap mengingat cahaya matahari bisa langsung masuk kedalam villa ini, dan disini kaesang melihat jikalau villa milik keluarganya ini tak terlalu buruk, semuanya masih terawat, dan juga bersih, walaupun lama tak ditinggali. Kemudian selesai dengan lihat lihatnya, kaesang pun buru buru menuju ke salah satu kamar di dalam villa tersebut, yang rencananya akan ia gunakan untuk tempatnya istirahat selama ia berada di villa tersebut.


Semula ia taruh semua barang yang dibawanya tadi di sofa dalam kamar tersebut, kemudian selepas itu selesai ia pun memutuskan tuk pergi berjalan jalan di sekitar sana mumpung hari masih pagi juga. Semula ia kenakan kembali sneakernya yang sempat di lepasnya itu, lalu berjalanlah ia kedepan, dan dikuncinya kembali pintu villa tersebut, ia pun kemudian memilih tuk sekedar berjalan jalan di sekitar sana dengan hanya berjalan kaki, sembari menikmati keindahan, dan keasrian di sana.


.......................................................................


Beberapa menit menunggu, akhirnya keluarlah seorang dokter dan dua orang suster dari dalam ruang operasi tersebut, dan melihat itu Tyas pun lantas berdiri dari duduknya.


"Dengan Bu Tyas?" Tanya dokter tersebut memulai.


"Saya dok.." Jawab Tyas sembari berjalan mendekat kearah dokter berkaca mata tersebut.


"Baiklah ibu, dimohon setelah ini Bu Tyas berganti pakaian, dan bersiap karena operasi akan dilakukan sebentar lagi."


"Oh, secepat ini?, katanya pukul sembilan pagi?" Tanya Tyas bingung, dan tak mengerti dengan perubahan jadwal yang begitu mendadak ini.


"Iya ibu, sebenarnya kalau menurut yang dijadwalkan memang operasi ini akan dilakukan pukul sembilan pagi, tapi mengingat saya akan ada janji dengan pasien lain selepas ini maka akan lebih cepat lebih baik."


"Ah begitu ya dok, baiklah." Selepas mengatakan itu, Tyas beserta dokter dan beberapa suster tersebut pun masuk kembali kedalam ruang operasi tersebut. Setelah menyerahkan surat persetujuan operasi pada dokter tersebut, dan berganti pakaian dengan pakaian khusus operasi, Tyas pun diminta untuk berbaring di atas ranjang operasi, sembari menunggu satu dokter lagi tiba, dokter yang tadi pun beranjak mempersiapkan keperluan yang dibutuhkannya selama operasi tersebut berlangsung. Sementara Tyas terlihat tengah mempersiapkan dirinya, ia tak henti hentinya berdoa, dan berharap yang terbaik untuknya kali ini.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya masuklah seorang dokter lagi kedalam ruang operasi tersebut, yang tepatnya dokter Ridwan, ia menyapa Tyas sebelum akhirnya ia menyemangatinya. Tyas yang mendengar itu seketika sedih, karena bagaimanapun sebenarnya disaat saat seperti ini seharusnya ada seseorang yang menemaninya, dan menyemangatinya, maupun itu keluarga, dan pacar nya sendiri, tapi nyatanya ia berjuang melawan penyakitnya itu seorang diri.


Selepas cukup berbincang, dokter Ridwan pun menghampiri dokter tadi lalu membicarakan sesuatu hal, sampai akhirnya mereka menghampiri Tyas kembali.


"Bu Tyas, apakah anda sudah siap?, karena operasi ini akan segera berlangsung." Tanya dokter Ridwan pada Tyas saat dirinya sudah ada tepat di sampingnya.


Sembari menghembuskan nafas beratnya, Tyas pun memejamkan mata, lalu membukanya perlahan, dan selepas itu ia pun mengatakan,


"Saya siap dok, silakan dimulai operasinya." Selepas Tyas mengatakan itu dengan nada berat, salah satu dokter pun mengambil suntikkan yang sebelumnya sudah ia masukkan obat tidur, lalu menyuntikkannya pada lengan Tyas, dan selepas Tyas terkena suntikkan itu, Tyas pun menjadi tak sadarkan diri, dan operasi pun dimulai.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2