
Huufftt ...
Setelah menempuh waktu beberapa menit dan melalui jalan berkelok kelok, berhentilah Reynald di depan sebuah rumah besar dengan cat krem dan pagar besi hitam yang menutupi sebagiannya. Rumah itu terlihat megah dari luar, dan juga asri karena di halaman depannya banyak di tumbuhi pohon Cemara.
"Yuk dek, turun." ujar Reynald sembari membuka pintu mobilnya dan turun dengan segera.
"uhm..." setelahnya Vierra pun mengikuti Reynald tuk turun dari mobil, dia berdiri di belakang Reynald dan memandang sekeliling tempatnya berdiri.
Ting tung ...
Setelahnya Reynald terlihat memencet bel yang ada di pagar besi itu berulang kali. Akhirnya setelah beberapa saat, terbukalah pagar itu, di sana munculah seorang bapak bapak berpakaian security dengan muka datar menatap kearah Reynald dan juga Vierra.
"siapa kalian, dan ada perlu apa ya datang kemari?" tanya security itu seraya berkacak pinggang dan memandang datar kearah Vierra dan Reynald.
beberapa saat setelah pertanyaan security itu, Reynald bermaksud akan menjawab namun ucapannya terhenti begitu saja sesaat dilihatnya ada seorang wanita muda pemilik rumah itu keluar dan menghampirinya.
"ehm, pak, mereka adalah tamuku, biarin mereka masuk." ucap gadis itu.
"oh baik non, kalau begitu saya permisi." setelah berucap demikian, pergilah security itu dari sana, ia berjalan kembali ke tempatnya jaga sambil tak lupa mengangguk sekilas kearah majikannya.
"Sayang, kamu kesini? Udah sejak kapan, kok kamu nggak ngabarin aku, sih?" tanya gadis itu yang rupanya adalah Zelyn, ya Zelyn, teman dekatnya Zefa dan bestie nya di sekolah.
Reynald pun tersenyum lalu beranjak memeluk tubuh Zelyn, pelukannya itu begitu erat dan dalam, seolah ingin mengekspresikan perasaan mereka yang sudah sejak lama tidak bertemu. Tentu saja, mereka telah menjalin hubungan kurang lebih tiga tahun dan selama itu mereka hanya bertemu dua kali, itupun saat Reynald pulang ke Indonesia.
"Sengaja, aku kan mau surprise in kamu, biar kamu terkejut." balas Reynald sembari mengurai pelukannya.
"kebiasaan kamu, ehm oh iya, dia siapa?" tanya Zelyn seraya menunjuk kearah Vierra.
Mendengar itu, Reynald pun tersenyum lalu menarik lengan Vierra tuk mendekat.
__ADS_1
"Sayang, kenalin ini adalah Vierra, adik kandung aku." ujar Reynald sembari menoleh kearah Vierra dan Zelyn bergantian.
Sembari berjabat tangan, mereka berdua pun memperkenalkan diri masing masing, antara Vierra dan Zelyn, mereka sama sama tersenyum terlebih setelah tau jika keduanya adalah anak SMA dan seumuran.
"Yaudah yuk, masuk." setelah ajakan itu Zelyn ucapkan, masuklah ia bersama Reynald dan Vierra kerumahnya.
......................
Setelah melihat hari yang sudah malam, dan udara yang lumayan dingin, pergilah mereka dari resto itu. Kaesang yang tak ingin Tyas kedinginan langsung mengajak Tyas untuk pulang, tak lupa Kaesang pun memberikan jaketnya pada Tyas agar selama perjalanan ia takkan kedinginan.
Brumm ...
"Dear, kamu kenapa sih, kok diem aja?" tanya Kaesang sembari menoleh sekilas kearah Tyas.
Tyas yang saat itu tengah memeluk tubuhnya karena kedinginan langsung menoleh kearah Kaesang dan tersenyum kearahnya.
"Nggak papa, Kae .. Aku baik baik aja kok, cuma ya sedikit kedinginan aja, tubuhku juga menggigil, ini AC mu kamu nyalain ya?" jawab Tyas sembari memeluk erat tubuhnya.
"Kae, besok pada jam istirahat temui aku di taman tadi ya, aku mau ngomongin sesuatu penting sama kamu." ujar Tyas setelah sekian lamanya terdiam.
"Lho kenapa nggak sekarang aja dear?" balas Kaesang tanpa menoleh.
"Besok aja Kae, sekarang kan udah malem, aku capek dan pengen segera istirahat, jadi ya dalam keadaan kayak gini aku nggak bakal fokus buat ngomongin itu, kamu .. nggak papa kan, kalau aku ngomong nya besok? tanya Tyas seraya menoleh kearah Kaesang.
......................
Semenjak pulang dari kediaman indra beberapa jam lalu, Gina yang frustasi segera membelokkan mobilnya kearah resto favoritnya. Dia sudah sejak sejam yang lalu duduk dan bermain ponsel di sana. Pikiran dan pandangannya terus mengarah pada Kaesang, bahkan sewaktu ia memutar video YouTube di ponselnya, Gina sama sekali tak fokus pada video itu, pikirannya masihlah mengarah pada Kaesang.
"Gimanapun caranya, aku harus bisa menikah dengan Kaesang, dia yang sudah mengambil keperawananku dan membuatku setres seperti ini. Pokoknya Kaesang harus menjadi milikku, aku mencintainya dan selamanya dia hanyalah milik Gina, suaminya dan ayah dari anak anaknya nanti." ucap Gina pelan namun penuh dengan emosi.
__ADS_1
......................
Hahaha ...
Semenjak kedatangannya sejam yang lalu, Zefa maupun Lina masihlah asik minum minum di bar itu. Tawa mereka begitu menggelegar dan memenuhi seisi bar itu yang sekarang lumayan sepi.
"Zef, balik yuk, kita udah minum banyak nih, nanti lu gak bisa nyetir, orang tua lu juga marahin lu ntar." ujar Lina sembari sempoyongan dan menari dengan gilanya di sebelah Zefa yang ternyata juga melakukan hal yang sama, malahan jauh lebih parah.
"apaan sih lu Lin, ntar lagi, gue masih asik nih, minuman gue juga belom abis hahaha." balas Zefa seraya menegak minumannya dan tertawa dengan gilanya.
"Yaudah, tapi bentar lagi balik ya Zef, nanti gue dimarahi kakak gue kalo gue baliknya kemaleman." timpal Lina dengan keadaan yang sedikit sadar namun tetaplah sempoyongan.
"Aish! Iya iya gue tau kok, sehabis minuman ini kita balik, lagipula gue juga bakal dimarahin nyokap gue kalo gue baliknya kemaleman, apalagi kalo mereka tau gue habis minum minuman begini." ujar Zefa seraya menegak kembali minuman yang dibawanya.
......................
"Pi, gimana tentang perjodohan itu, aku dan Kaesang akan nikah atau tunangan dulu, terus dimana acaranya nanti di gelar?" tanya Celine seraya menoleh sekilas kearah sang ayah.
Suasana di meja makan itu semula begitu sunyi dan sepi, namun setelah pertanyaan Celine, raut muka dan sikap Wisnu langsung berubah. dia yang semula tenang langsung berubah tegang seketika.
"Perjodohannya dibatalin sayang." ujar Wisnu tanpa menoleh.
Mendengar ucapan sang ayah yang terdengar serius membuat Celine yang semula tengah menyendok makanannya dengan santai langsung menaruh kembali sendoknya dan menatap kearah sang ayah dengan tatapan syok dan juga kaget.
"loh papi apa apaan sih, papi mau isengin aku, nih ceritanya, semua omongan papi itu cuma boong kan?" ucap Celine sembari meninggikan suaranya.
Mendengar itu Wisnu pun menghela nafas kasar dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Beneran nak, papi nggak bohong. tadi om indra ngomong gitu ke papi, dia mutusin sepihak perjodohan itu dengan alasan yang gak jelas. Nak, papi tau kamu kaget dan sedih mendengarnya, tapi papi sama mami juga kaget, kami bahkan sempat bertanya panjang lebar pada Indra, mengapa dan kenapa dia mutusin perjodohan ini? Nak, kamu yang sabar ya, ikhlas. Bukankah dulu kamu juga sempat menolak perjodohan ini? Jadi dengan dibatalkannya perjodohan ini, bukankah harusnya kamu senang." timpal Wisnu seraya menegakkan wajahnya kembali dan menatap serius kearah Celine.
__ADS_1
Bersambung ...