
Langkah kaki Tyas terus melangkah di saat baru sesampainya ia di jalan depan rumahnya tak sengaja ia melihat seorang wanita seumurannya tengah berdiri di depan rumahnya. Wanita itu cantik, modis dan begitu glamor, banyak perhiasan di tangan serta dress merah selutut yang begitu pas di tubuhnya membuat Tyas memujinya dalam hati dan membuka mulutnya tanpa sengaja. Walau penggambaran wanita itu begitu indah di mata Tyas, tetap saja Tyas tidaklah kenal dengan wanita cantik itu. Siapa dia? Datang dari mana dia? Mengapa dan ada urusan apa dia berdiri di depan rumahku? Pikir Tyas saat itu.
disaat melihat Tyas telah berada dekat dengannya dan menatapnya bingung, Viona yang tau akan apa pun segera tersenyum sekilas dan berjalan kearah Tyas, dia berhenti tepat di depan Tyas dan menatapnya dari ujung rambut sampai ke kaki.
"Maaf, anda siapa? Ada urusan apa ya di rumah saya?" tanya Tyas hati hati.
Mendengar pertanyaan Tyas, Viona pun langsung menurunkan senyumnya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aku Viona, dan aku adalah pacar sekaligus tunangan Zaky, pria yang dulu berprofesi sebagai guru di Genius high school. Sekolah yang ternyata juga tempat anda mengajar, iya kan?" ujar Viona seraya tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearah Tyas.
Mendengar ucapan Viona yang terdengar seperti labrakan namun bersifat halus, Tyas pun langsung tersenyum lalu menggeleng sekilas.
"Iya saya bekerja di sana sebagai guru. Ehm oh iya, tadi anda menyebutkan Zaky ya, dia adalah teman saya dulu sewaktu dia masih ngajar di Genius high school, dan sebelum dia melanjutkan belajarnya di luar negeri." balas Tyas seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Kenapa dia sesantai ini menjawabnya, apa dia tak takut sedikitpun kepadaku? apa dia tak kaget sesaat tiba tiba aku menyebutkan nama Zaky tadi?
Viona pun turut tersenyum lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ehm oh ya, sebelumnya Zaky memang sempat menyebutkan tentang anda sewaktu kita mengobrol, dia bilang anda itu cantik dan juga sangat baik, dia mengatakan jika dia begitu beruntung bisa mengenal sekaligus berteman dengan anda." timpal Viona seraya tetap tersenyum.
Bukannya senang mendengar orang lain melontarkan pujian kepadanya, Tyas justru tetap diam seraya menurunkan senyumannya.
"wah, saya tidak menyangka pak Zaky bisa mengatakan itu kepada anda, saya sebagai temannya tak bisa mengatakan apapun selain terima kasih, ehm oh ya Bu Viona maaf, saya kebelet pipis nih, saya masuk dulu ya." karena paham dengan ucapan Viona yang mengarah pada Zaky dan dirinya, Tyas yang malas menanggapinya lagi pun hanya mampu mengatakan itu dan memberikan alasan receh tersebut.
__ADS_1
Hmm, sebelumnya Viona sempat berdecak di saat mendengar kata kata terakhir Tyas dan tindakannya yang saat ini tengah mengambil kunci rumahnya dari dalam tas dan memasukannya kedalam lubang kunci.
"Hmm, oh ya silakan." walau kesal Viona tetaplah tersenyum pada Tyas dan membiarkannya melewatinya masuk kedalam rumahnya.
Walau kesal Viona tetaplah tamunya jadi sebelum benar benar masuk, Tyas pun berhenti sebentar dan berbalik menatap kearah Viona yang juga menatapnya, namun melihat tatapan viona yang terlihat kesal, Tyas pun tau jika Viona mungkin ingin mengobrol panjang dengannya. Mungkin Viona ingin mengobrolkan tentang Zaky dengannya dan hubungan apa yang ada di antara kami.
"Tapi nanti bagaimana dengan anda, apa sebaiknya anda masuk dulu dan duduk sebentar di ruang tamu sembari menunggu saya di kamar mandi?" walau Tyas menawarkan itu pada Viona seraya pura pura menahan pipisnya, tetap saja dia menginginkan Viona pergi secepatnya dari rumahnya, dia paham apa maksud Viona datang ke rumahnya, namun Tyas tak ingin memperpanjang lagi obrolan ini, dia lelah sehabis mengajar dan bermenit menit di angkutan umum, selain itu dia juga ingin segera mencuci bajunya yang sudah menumpuk di kamar mandi.
Viona yang tak lagi mood bicara dengan Tyas pun hanya mampu tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya menatap kearah Tyas.
"Ini sudah terlalu sore lebih baik saya pulang saja, terima kasih sudah mau mengobrol dengan saya, sampai jumpa." setelahnya Viona berjalan pergi, dia tak membawa mobil kali ini, dan hal yang dapat di lakukannya hanyalah berjalan sedikit ke depan sembari menunggu taksi.
Setelah kepergian Viona, Tyas pun bernapas lega, dia sudah lelah dengan pekerjaannya dan masalahnya dengan Zefanya tadi, jadi dia tak ingin rasa lelahnya semakin bertambah hanya karena salah paham saja. Lagian dirinya dan Zaky tidaklah memiliki hubungan apapun selain rekan kerja dan teman seprofesi, itupun terjadi karena Zaky yang selalu mendekatinya dan berusaha mendapatkan perhatiannya.
"Kurasa Bu Viona dan pak Zaky sudah putus hubungan, astaga melihatnya mendatangi ku tadi membuatku tak habis pikir, jika pak Zaky sudah memiliki tunangan lalu mengapa dia menyatakan perasaannya padaku? Apa dia kurang cukup memiliki tunangan secantik Bu Viona tadi, ah sudahlah mengapa aku memikirkan ini, lebih baik aku segera masuk dan mencuci saja, siapa tau cuaca tak hujan kali ini." ucap Tyas sendiri seraya menatap kearah jalanan di depannya.
......................
"Kae, makan dong, jangan cuma di aduk adukkin gitu." ujar Indra.
"Aku nggak laper pa, aku masih kenyang." balas Kaesang tanpa menoleh dan tetap dengan kegiatannya yang tengah mengaduk aduk makanannya itu.
Sebenarnya makanannya Kaesang sekarang adalah makanan berkuah dan makanan kesukaannya. Sudah sejak lama indra tau jika makanan inilah makanan kesukaan Kaesang dan obat di saat dirinya tengah marah ataupun merajuk. Namun, melihat Kaesang tetap marah membuat indra bingung harus dengan cara apa lagi dia meredakan emosi putranya itu.
__ADS_1
"Kae, bulan depan jangan kemana mana ya, papa ada suatu acara yang kamu harus hadir." ujar Indra seraya menyendok ayam di piringnya.
"Acara apa lagi pa?" tanya Kaesang tanpa menoleh dan tetap fokus pada kegiatan aduk mengaduk makanannya.
Indra pun tersenyum lalu beralih menatap kearah Kaesang.
"Papa mau melangsungkan pernikahan dengan Lisa. Kita akan menikah di gedung first yang pernah di gunain buat pernikahan putra pak presiden dulu, kemudian setelah ijab kabul kita akan melanjutkan dengan resepsi. Hmm, rencananya besoknya setelah pernikahan, papa ingin mengajak Lisa berbulan madu di Paris dan sekalian jalan jalan di sana. Ehm Kae, kamu nggak papa kan, bulan depan papa tinggal sendiri di rumah?" tanya Indra seraya tersenyum malu.
"Nggak papa, I'm good at home, ehm selain itu semoga lancar ya pa, pernikahannya, dan semoga Tante Lisa adalah perempuan yang baik dan pas buat papa. semoga rumah tangga kalian bahagia, dan jauh dari kata perceraian." walau tanpa menoleh, indra tetap lah senang melihat putranya bicara sepanjang ini padanya, dia juga bahagia melihat Kaesang mendukung pernikahannya dan mendoakannya begitu baik.
"Amin, makasih ya sayang, papa bahagia banget melihat kamu bicara sepanjang ini sama papa, mendoakan pernikahan papa, dan mendukung hubungan papa dengan Tante Lisa. Nah, Kae kita pulang yuk, makanannya juga udah habis, kamu beneran udah kenyang, kan, nggak laper atau gimana gitu kan?" tanya Indra seraya mengeluarkan dompetnya dari saku celananya.
"Udah kenyang pa, aku, yuk pulang aja, pengen cepetan tidur di kasur aku, ngantuk." balas Kaesang seraya bangkit dari duduknya diikuti Indra yang juga melakukan hal yang sama.
"Yaudah setelah bayar kita pulang, ya. Mbak mau bayar." ujar Indra seraya berteriak memanggil pelayar resto tempatnya dan Kaesang makan.
......................
"Pi, mi, aku Nerima perjodohan itu, dan aku Nerima Kaesang sebagai calon suamiku." sesaat Wisnu dan istrinya tengah ngobrol di ruang tamu, mereka di kagetkan oleh sang anak yang tiba tiba muncul dari arah ruang keluarga dengan muka seriusnya.
Deg,
Wisnu yang kaget pun hanya mampu tersenyum bahagia sesaat melihat Celine menerima perjodohannya itu, dia bahkan seserius itu dalam mengatakannya.
__ADS_1
"Setelah kuingat ingat ternyata dia memang lah teman masa kecilku, aku kaget saat melihatnya tumbuh setampan itu dan berkepribadian dingin seperti itu. Awalnya ku ingin tetap menolak perjodohan itu, namun jika dia adalah Kaesang teman masa kecilku dulu, aku dengan senang hati akan menerima perjodohan itu. aku bersedia menikah dengannya karena memang inilah yang kuinginkan sejak dulu." batin Celine seraya tersenyum menatap kearah sang ayah dan juga ibunya bergantian.
Bersambung ...