Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 54- Apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin.......


Tok...tok...tok...


Indra yang berada diruang tamu sembari mengerjakan sesuatu di laptop miliknya, sesaat dikejutkan dengan sebuah ketukan di pintu yang sedikit keras, dan mendengar itu ia pun lantas menaruh laptop miliknya tadi di meja depannya, lalu berdiri, dan berniat tuk menghampiri, serta mengecek sesiapa yang tengah mengetuk pintu tersebut.


...cklekk.......


Saat pintu terbuka, ia mendapati seorang pria pengantar paket tengah berada di depan pintu rumahnya sembari memegangi sebuah paket di tangannya.


"Ada apa ya?" tanya Indra pada pria pengantar paket dihadapannya. Sembari memandangnya acuh, Indra tak ingin berlama lama dengannya, berulang kali ia tatap arloji di tangannya, seakan ia memang benar benar sibuk hari ini.


"Ah, apa benar ini rumahnya Kaesang?"


"Ya, lalu?" tanya acuh Indra.


"Ini ada paket untuk saudara kaesang," Jawab kurir tersebut sembari menyerahkan kotak paket yang dipegangnya tadi pada Indra, dan dengan ragu Indra pun menerima kotak bersampul hitam dengan pita merah tersebut di tangannya. Ia sempat di buat bingung, sebab tidak ada satupun nama dari si pengirim kotak tersebut yang tertera di sana, dan itu tentu saja membuatnya khawatir.


"Dari siapa ya?, kok gak ada nama pengirimnya di sini?" Tanya bingung Indra sembari menatap kearah kotak, dan si kurir bergantian.


"Ah, kalau itu saya tidak tahu pak, saya hanya menjalankan tugas saya saja."


"Ah, yasudah Terima kasih ya." Selepas mengatakan itu, Indra pun lantas berbalik badan, dan kembali melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, meninggalkan si kurir yang juga mulai menaiki kendaraannya dan pergi.


Sesampainya di dalam, Indra pun melangkahkan kakinya dua langkah kedepan sebelum akhirnya ia berhenti, dan memutuskan tuk memberikan kotak tersebut pada kaesang di kamarnya.


Selangkah demi selangkah ia langkahkan kakinya pada tangga menuju kamar sang putra, sembari berjalan, dan mengamati kotak yang dipegangnya, ia pun sempat heran dibuatnya, lalu sesaat selepas itu sampailah ia di depan pintu kamar sang putra yang nampak terkunci dari dalam.


Ia sempat mengetuk pintu, lalu memanggil putranya tersebut.

__ADS_1


...Cklekkk......


Pintu pun terbuka, dan nampaklah kaesang yang tengah berdiri di ambang pintu sembari menatap kosong kearah sang ayah, seakan tak perduli, dan tak mau tahu apa yang papanya itu mau pada dirinya.


"Kae, nih paket buat kamu, dianterin kurir kesini tadi." Ucap Indra sembari menyerahkan paket yang tengah di pegangnya itu pada Kaesang, lalu dengan malas kaesang pun menerima kotak tersebut, sebelum akhirnya ia mengernyit, lalu memandangi kotak tersebut cukup lama.


"Dari siapa?" tanya kaesang sembari tak mengalihkan pandangannya dari kotak tersebut.


"Gak tahu, gak ada nama pengirimnya. Oh atau mungkin dari fans kamu ya?" Tebak Indra sembari memikirkan sesuatu hal yang tak begitu penting tuk di pikirkan.


"Makasih pa dah anterin ke atas." Selepas mengatakan itu, Kaesang pun masuk kembali kedalam kamarnya, dan menutup kembali pintunya, padahal sang ayah masih berdiri di depan pintu kamarnya, dan belum beranjak dari sana.


Selepas sang putra memasuki kamarnya, Indra pun lantas beranjak dari sana, dan kembali turun. Tapi walaupun begitu, ia tetap merasa ada yang tak beres dengan kotak tersebut, tapi karena tak ingin mengganggu privasi kaesang, ia pun membiarkan itu, dan pergi melanjutkan tugasnya kembali.


...........................................................


Disisi lain, Tyas yang tengah berada di dapur rumahnya, dan hendak memasak, tiba tiba ia diingatkan oleh garam dapurnya yang tengah habis, lalu mengingat hal tersebut, ia pun lantas mematikan kompornya yang tengah menyala di depannya, kemudian mencopot celemeknya, dan pergi tuk membeli garam yang dibutuhkannya tadi di warung kelontong di dekat rumahnya. Baru saja ia berjalan lima langkah, dirinya merasa seperti ada yang tengah mengikutinya dari belakang, tapi karena tak ingin parno, dan berpikir yang tidak tidak, ia pun lantas menepis pikiran tersebut, lalu kembali melanjutkan langkahnya, dan acuh pada perasaan tersebut, yang hingga kini masih sempat di dengarnya dengan sangat jelas.


Di dalam kamar, kaesang sempat memandangi kotak tersebut sebelum akhirnya ia taruh di atas kasurnya begitu saja. Ia bingung, dan tak mengerti, mengapa akhir akhir ini banyak sekali orang yang mengiriminya paket paket seperti ini, apalagi isinya semacam teror seperti itu, akan tetapi walaupun begitu ia merasa kalau dari setiap paket yang dikirimkan padanya, seperti sebuah potongan puzzle dari sebuah kejadian yang harus di pecahkannya. Dan mengingat itu, dirinya pun lantas bangkit dari tidurnya, kemudian meraih kotak tersebut dari samping badannya, lalu membukanya perlahan.


Saat kotak mulai terbuka perlahan, wusshh, bebauan anyir seperti darah langsung menyeruak menusuk hidung. Kaesang yang tak tahu apa isinya, akan tetapi karena baunya seperti itu, dirinya pun lantas ragu, akankah ia membuka kotak ini ataukah langsung membuangnya saja? tapi karena rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa ragunya, ia pun lantas membuka kotak tersebut, dan dorr, ia pun langsung menjatuhkan dengan jijik kotak tersebut ke lantai selepas melihat apa yang ada dalam kotak tersebut.


"Apa ini??!, kenapa benda seperti ini bisa dikirimkan ke gue?!" Tanya kaesang sendiri sembari tak percaya, dan kaget atas apa yang baru dilihatnya ini. Dan ya, seperti yang terlihat sebuah pistol, dan sebuah dress putih yang telah berlumuran darah kering tengah tersaji tepat di depan matanya, ia tak tahu siapa orang yang telah memberikannya barang seperti ini, lalu tak sengaja saat ia menjatuhkan kotak tersebut ke lantai, sebuah flashdisk yang tersembunyi di sebalik dress tersebut keluar, dan nampak olehnya. Saat melihat itu ia pun lantas memungut flashdisk tersebut, mengantonginya dan rencananya akan ia lihat nanti, sesudah ia membaca secarik surat yang tergeletak tepat di atas dress putih tersebut.


Secarik kertas usang, dan ada noda darah di setiap sisinya, membuat kaesang begitu penasaran saja, lalu dengan cepat ia pun membuka surat tersebut, lalu membacanya perlahan.


"*Sebuah dress cantik pemberian dari suami tercinta di hari anniversary pernikahan kami yang ke-8 tahun, 31 Mei 200*5."


'Maksudnya apa sih ini, dan 31 Mei??' Tanyanya sendiri, mencoba memikirkan apa yang ada di tanggal 31 Mei tersebut, tapi nihil ia tak dapat mengingat apa yang ada di tanggal 31 Mei tersebut, lalu saat tak dapat mengingat kejadian di tanggal 31 Mei tersebut, dirinya pun lantas menaruh kertas tersebut di sampingnya duduk, kemudian berdiri, dan pergi mengambil laptopnya yang tergeletak tepat di atas meja belajarnya, ia berniat mengecek isi dari flashdisk tersebut, siapa tahu penting.

__ADS_1


..................................................


Tyas yang telah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, kini terlihat berjalan pulang sembari membawa dua buah belanjaannya tadi, ia tak memikirkan apapun hingga ia kembali merasa seperti ada seseorang yang tengah mengikutinya dari belakang, saat merasa itu bukanlah halusinasinya saja, Tyas pun lantas berhenti, kemudian berbalik badan, dan melihat sesiapa yang tengah mengikutinya tersebut, tapi sesaat ia berbalik badan, semuanya kosong, tak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri. Lalu merasa seperti ada yang tak beres, Tyas pun kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat, karena langkah kaki yang mengikutinya itu juga semakin cepat mengikutinya, tapi untung saja, sesaat ia hampir sampai di rumahnya, langkah kaki itu sudah tak lagi di dengarnya, ia pun berangsur lega, sebelum akhirnya ia mendapati sebuah paket misterius yang tergeletak tepat di depan pintu rumahnya, tanpa merasa ada yang aneh dengan paket tersebut, atau apa, Tyas pun langsung memungut paket tersebut, dan kembali memasuki rumahnya.



Tapi tanpa di sadarinya, ternyata di sebalik pohon dua meter di depan rumah milik Tyas, nampak seorang laki laki berjaket hitam dengan sepatu kulitnya tengah tersenyum puas saat Tyas memungut paket darinya tersebut.


"Semoga anda menyukainya ya Bu," ucap pria tersebut sembari tersenyum sebelum akhirnya ia beranjak, dan pergi dari sana.


........................................................


Saat ia telah mendapatkan laptopnya, ia pun beranjak naik keatas ranjangnya, mengambil posisi duduk ternyaman, sebelum akhirnya ia menyalakan laptopnya, dan memasang flashdisk tersebut. Beberapa menit ia menunggu tapi hanya loading saja, akan tetapi saat ia hendak mematikan pemutaran video tersebut, tiba tiba videonya memulai, sebuah video yang direkam dalam keadaan gelap, semuanya tak begitu jelas, dan sedikit buram, tapi walaupun begitu ia masih bisa menangkap dengan jelas apa isi dari video tersebut, bahkan ia dibuat terkejut karenanya, ya, sebuah video penyiksaan pada seorang wanita malang tengah tersaji di depannya, sebuah video penyiksaan dan pelecehan yang dilakukan oleh beberapa pria terhadapnya, kaesang begitu miris melihatnya, dan teringin tuk mematikan saja pemutaran video tersebut, tapi entah kenapa ada sebuah dorongan yang membuatnya tak dapat menghentikannya, atau pun mematikan video tersebut.


Walaupun blur dan sedikit tak begitu jelas, tapi kaesang seperti mengenali si wanita yang tengah disiksa tersebut, seperti pernah mengenalnya sebelumnya, tapi ia tak tahu persis apakah ia benar benar mengenal perempuan itu atau pun tidak.


Saat menatapi detik demi detik, menit demi menit pemutaran video tersebut, tanpa sengaja air matanya pun luruh, apalagi saat mendapati tangisan pilu wanita tersebut, seperti ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya yang menyuruhnya tuk pergi dan menyelamatkan wanita tersebut, berulang kali ia menepis pikiran tersebut, sampai akhirnya ia putuskan tuk mematikan saja pemutaran video tersebut, dan berniat tuk membuang semua ini selepas nanti.


Tapi entah kenapa ia kembali diingatkan dengan sebuah kejadian di masa lampau, di mana saat itu adalah tanggal 31 Mei 2011, tepatnya hari itu adalah hari anniversary pernikahan kedua orang tuaku yang ke 8 tahun, kami semua berbahagia, berpesta hingga makan makan sampai larut, semua kami lakukan untuk mengekspresikan rasa bahagia kami atas ulang tahun pernikahan mama dan papa ini.


Aku yang saat itu masih berusia 7 tahun tak begitu mengerti dengan semua itu, yang kutahu mama dan papa begitu bahagia, dan karena itulah akupun turut bahagia, hingga di malam puncaknya, kulihat papa memberikan sebuah dress cantik berwarna putih berkilau pada mama, dan semua orang yang melihatnya pun takjub, tak terkecuali mama, bahkan mama pun terlihat menangis saking terharunya, dan langsung memeluk papa erat, semua yang melihat itu langsung berteriak sembari menepukki mereka, tak terkecuali aku, mama langsung menarikku juga dalam dekapannya, dan kebahagiaan ku pun tak terbendung saat itu, dan doaku semoga kebahagiaan ini tak pernah berakhir sampai kapanpun.


.........


Mengingat kejadian itu, Kaesang pun sempat terkejut, dan tak percaya akan dress berlumuran darah tersebut yang begitu mirip dengan dress yang papa berikan pada mama waktu itu, bahkan motifnya pun sama, lantas ia pun berpikir, akankah ini sebuah kebetulan, ataukah ini memang ada kaitannya dengan mama??


Lantas apakah yang sebenarnya terjadi pada mama selama ini? kenapa ia merasa jika saat ini mama memang sedang terkena masalah, siapa sih orang dibalik semua ini?!, dan mengenai video tadi, tak mungkin kan mama yang ada dalam video tersebut, karena entah mengapa ia ada feeling jika wanita tersebut adalah Zora, mamanya.


'Gue rasa gue lagi ngantuk hari ini, sampai sampai pikiran buruk ini merasuk kedalam pikiran gue, ah!! semoga yang gue pikirin ini salah.' Selepas mengatakan itu kaesang pun lantas merebahkan tubuhnya keatas kasur, lalu menatap kearah langit langit hingga begitu lama sampai tak sadar ia pun tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2