
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Gina terus saja menatap kaesang yang tersadar tapi masih saja terdiam tanpa berucap. Beberapa detik seperti itu hingga tanpa sadar kaesang pun menangis. Dia hanya meneteskan air mata tapi terlihat begitu menyesakkan Dimata Gina.
Kaesang sempat menyeka beberapa bulir air matanya itu hingga bangkitlah ia dari posisinya. Ia duduk seraya menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang, lalu menatap kearah Gina yang turut menatapnya seraya terdiam.
Beberapa saat tatapan kaesang begitu datar hingga matanya membulat sempurna setelah ia sadar siapa perempuan cantik di hadapannya ini. Kaesang mengerjap berulang kali seraya mengusap usap kedua matanya.
Nafasnya memburu, dan ia masih tersentak dengan apa yang dilihatnya ini.
"Lo, bu-bukannya Gina kan, kok Lo bisa ada di sini?"
kaesang masih saja tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Ia bahkan sampai terbata dalam menanyakannya.
Gina pun mendengus lantas menatap datar kearah kaesang.
"Yang ada gue yang tanya ke Lo. Kok Lo bisa ada disini, terus pake mabuk lagi. untung tadi gue tolongin kalau gak, gak tahu deh tadi Lo jadi apa di luar sana." Ucapnya.
Kaesang pun mencoba mengingat ingat apa yang telah dilakukannya sebelum ini. Pandangan dimana ia tengah mabuk dan sempoyongan di jalanan pun terputar jelas di kepalanya. Ia tak percaya jika dirinya bisa sampai mabuk seperti itu. Bahkan keadaannya pun tak kalah kacau dengan para pemabuk yang pernah dihajarnya tempo lalu.
"Gue lagi refreshing kesini. Hm, makasih ya dah nolongin gue." Kaesang tak dapat banyak bicara. Ia lebih memilih diam seraya menundukkan kepalanya malu.
Ia telah mengenal lama Gina. Mereka dulu sangat dekat, hingga banyak yang mengatakan jika mereka seperti sepasang kakak adik yang serasi. Jadi Gina maupun dirinya telah memahami sifat dan karakter masing masing. Mungkin Gina akan kepo setelah ini, dan menanyakan lebih banyak pertanyaan yang mengharuskan kaesang tuk menjawabnya apapun yang terjadi.
"Sama sama. Tapi tadi Lo kok bisa mabuk? Lo lagi ada masalah?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Kaesang nampak bingung. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain lalu menatap Gina kembali.
"Semua orang pasti ada masalah, gak mungkin kalau gak ada masalah." Jawabnya realistis. Kaesang hanya mengatakan itu, tapi seketika Gina pun menghela nafas. Ia terlihat tak puas akan jawaban yang dilontarkan kaesang ini.
Tapi seketika Gina pun teringat sesuatu. Ya, kata dear. Ia ingat jika kaesang sempat mengatakan itu sesaat ia belum sadarkan diri beberapa waktu lalu. Ia begitu ingin tahu siapa dear itu, apakah dear itu adalah panggilan sayang kaesang pada pacarnya atau mungkin yang lain?
"Oh iya kae, gue baru inget. hm, dear itu siapa sih, tadi Lo ada mengatakannya saat belum sadar. Dia..pacar Lo ya?" Tatapan Gina seolah mengartikan hal yang berbeda saat menanyakannya.
Kaesang kembali terkejut dengan pengakuan Gina. Ia tak sadar jika saat ia belum sadarkan diri ia sempat mengatakan dear. ia bahkan tak ingat jika ia mengatakan itu pada Gina.
"Ah, iya dia pacar gue." Jawabnya singkat.
Seketika senyum di bibir Gina pun surut. Ia memandangi kaesang cukup lama hingga sesaat kemudian ia pun tersenyum tipis lantas menghela nafas.
Hah, semua itu berputar di kepalanya begitu saja. Ia tersenyum tanpa diminta lalu mengusap kasar wajahnya.
......................
Tyas kini tengah berada taman belakang rumahnya. Ia telah disana dari beberapa jam lalu. Ia hanya terdiam seraya memandangi bunga mawar cantik di hadapannya. Pikirannya masih menerawang dimana dia bertemu dengan pria itu. Pria yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Pria yang sempat menyematkan janji janji manis untuknya lalu meninggalkannya tanpa jejak. Dialah orangnya.
Devanno Alinski Pratama
Anak konglomerat sekaligus mantan terindahnya dari masa kuliahnya dulu. Ia menjadi teringat saat saat itu. Ia ingat dimana dia pernah ditolong oleh Tama, dan berakhir mereka pacaran setelah lama menemukan kecocokan.
Dadanya begitu sesak setelah mengingat itu. Ia telah lama menutup rapat kenangan itu tanpa mau ia buka lagi. Tapi kenapa dia justru datang. kenapa ia datang setelah lama pergi. Bukan Tyas masih memiliki rasa terhadapnya hanya saja itu terlalu mengejutkan untuknya.
__ADS_1
Tyas lantas mengusap kasar wajahnya lalu menghela nafas kasar.
"Kenapa jadi mikirin dia sih?!" sesalnya.
Ia lantas meraih handphone miliknya yang semula ia taruh di sebelahnya kemudian membukanya dan melihat isi chat yang ia kirimkan pada kaesang beberapa saat lalu.
Ia tersenyum hambar, ternyata kaesang belum juga membaca pesannya. Bahkan pesan yang kemarin saja belum juga dilihatnya. Ada apa ini sebenarnya? kenapa kaesang tak merespon, apa dia terlalu asik dengan liburannya hingga tak sempat melihat pesan dari Tyas?
Ia pun menaruh kembali handphonenya itu di tempat ia taruh semula. Ia memandang lurus kedepan lantas tersenyum.
"Kae, aku kangen. kenapa kamu gak respon panggilan aku?" Tyas nampak meneteskan air mata. Ia rindu pada kaesang hanya saja ia tak tahu harus melakukan apa selain mencoba menghubunginya, dan memberinya pesan. Sudah berulang kali ia mengirimkan pesan pada lelaki delapan belas tahun itu, tapi entah kenapa, kaesang malah tak membacanya. Seperti tidak tersampaikan pikir Tyas.
Lantas ia pun bangkit berdiri dari posisinya lalu beranjak masuk kedalam rumahnya. Walaupun ia pusing memikirkan kaesang tapi ia juga tak dapat menyangkal jika ia tengah lapar, dan butuh asupan. Lalu teringat jika ia belum pergi belanja, ia pun memutuskan tuk pergi memasak mie instan yang tersisa untuk sekedar meredakan rasa laparnya.
......................
"Ah, iya beberapa jam lagi saya sampai di bandara. Baik, sampai jumpa."
Indra terlihat menyimpan kembali handphone miliknya itu kedalam saku jaketnya setelah ia selesai mengobrol dengan sekretaris kepercayaannya. Ia telah lepas landas beberapa jam lalu dan memutuskan tuk pulang ke Jakarta. Ia telah selesai dengan pekerjaannya dan akan membawakan kabar gembira ini pada putera semata wayangnya, kaesang.
Ia telah memenangkan tender yang telah ia incar selama ini, dan tentu saja itu menjadi keuntungan besar untuknya. Selain memenangkan tender besar itu Indra juga berhasil memenangkan beberapa tender lain dalam waktu bersamaan. Ya, bisa dibilang lagi mujur lah. Sekalinya ia berkutik dua tiga pulau terlampaui. Sungguh keberuntungan yang tak datang dua kali. Lalu teringat akan kaesang, ia juga ada kejutan lain yang akan ia beritahukan padanya selain kemenangan tendernya itu. Ya, ia akan memberitahukan tentang pernikahannya pada putranya itu. Ia sudah mantap akan memberitahukan pada kaesang setelah ia sampai nanti. Ia juga berharap kaesang akan menerimanya, dan senang akan berita itu.
"Semoga kamu senang dengan berita ini Kae." Harap Indra seraya tersenyum tipis lantas memejamkan matanya perlahan.
Bersambung.
__ADS_1