
Sehabis jam terakhir, Kaesang buru-buru keluar kelas guna mencari keberadaan Tyas. dia bermaksud untuk mengajak Tyas menemaninya ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya Zefa. awalnya dia hanya ingin pergi sendirian saja, namun dia takut jika nanti Zefa akan berbuat yang macam-macam terhadapnya, dan mengambil keuntungan atas kunjungannya hari ini. Akhirnya terlintaslah sebuah ide di pikiran Kaesang, dia akan mengajak Tyas kali ini.
Baru saja Kaesang memikirkan tentangnya, berada 300 m di depannya, di depan ruang guru, berdirilah Tyas seraya mengobrol asyik dengan beberapa guru di sana. Kaesang cukup senang, akhirnya Tyas mendapatkan senyumannya kembali. sejak kemarin Tyas terus saja murung. dia merasa sedih dan tertekan atas perlakuan beberapa guru yang mulai menjauhinya dan tak mau berteman dengannya setelah terbongkarnya hubungannya dengan Kaesang.
"Permisi, Bu."
seperti tahu apa maksud Kaesang menghampiri mereka. semua guru-guru yang tadi berbicara dengan Tyas langsung pergi satu persatu meninggalkan Tyas dan juga Kaesang di sana.
"Kenapa, Kae?" tanya Tyas sesaat keduanya telah sama-sama duduk di sebuah bangku tak jauh dari tempat awal mereka berdiri tadi.
Sembari menggenggam tangan Tyas dan mengecupnya dengan tulus, Kaesang pun tersenyum kearah perempuan itu.
"Aku seneng banget. Akhirnya aku bisa ngelakuin ini ke kamu di sini. aku bahagia dan lega karena akhirnya hubungan kita telah terbongkar. semua orang telah tahu hubungan kita. Dear, aku berjanji aku tak akan pernah meninggalkanmu dan membuatmu terluka. justru aku akan membahagiakanmu dan membuatmu tersenyum setiap saat." janji Kaesang.
Tyas yang mendengar janji-janji manis Kaesang hanya mampu tertunduk seraya tersenyum. Dia merasa bahagia bisa berada di posisi ini dan menjadi kekasih Kaesang. Awalnya dia tak menyangka jika akhirnya dia akan memiliki hubungan lebih dengan muridnya sendiri. Namun, semua keraguan dan kecemasannya seolah hilang bersamaan dengan janji janji manis yang kerab Kaesang ucapkan padanya. Tak pernah dia menerima janji setulus itu dari lawan jenis. terlebih, itu adalah muridnya sendiri.
"Tadi kamu nyamperin aku cuma buat ngomong gitu doang?" goda Tyas.
Kaesang pun tertawa kecil.
"Emang nggak boleh aku nyamperin pacar aku sendiri? Lagian omongan aku tadi tulus loh dari hati aku yang paling dalam." ujar Kaesang terdengar tulus dan manja di telinga Tyas.
Entah mengapa Tyas merasa jika Kaesang yang saat ini bersamanya jauh berbeda dengan Kaesang yang pertama kali ditemuinya dulu. Kaesang yang dulu orangnya cukup dingin dan cuek. Tak suka bersosialisasi dan jarang bicara. Namun, Kaesang yang saat ini bersamanya, justru berbanding terbalik, dia yang saat ini sangatlah hangat, romantis, serta selalu menjaganya. Tapi semua sifat barunya itu hanya ditujukannya pada Tyas. sedang dengan yang lain, Kaesang tetaplah dingin.
Sepertinya Tyas sudah benar-benar nyaman dan menyukai Kaesang sekarang. Buktinya dia tak bisa untuk tak memikirkan Kaesang, dan bertemu dengannya. Dia juga kadang merasa cemburu jika tanpa sengaja dia melihat Kaesang di tembak oleh seorang cewek di lorong yang sepi. Hump, tapi itu sebelum hubungannya terbongkar ya, jika untuk sekarang, tak seorangpun cewek berani mendekati Kaesang setelah ultimatum yang diberikannya pada mereka. Bahkan beberapa murid juga menjadi lebih segan terhadap Tyas. Mereka yang dulu dekat dengan Tyas, kini menjadi menjauhinya setelah dia terbukti menjalin hubungan khusus dengan idola mereka yakni, Kaesang.
"Hmm, bisa aja kamu." balas Tyas malu-malu.
"Oh iya dear, ngedate yuk." ajak Kaesang.
Tyas pun kaget dengan ajakan Kaesang tersebut.
"Ngedate? sekarang?" tanya Tyas.
Kaesang pun tersenyum seraya memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Tahun depan Dear. Ya sekarang dong. Aku ngajaknya aja sekarang." ucap Kaesang.
"Oh, tapi kita pulang dulu ya, ganti baju. Masa mau ngedate pake seragam?" pinta Tyas.
"Nggak usah lah dear. Nggak papa pakai seragam juga. Yuk, sekarang aja kita jalan sekalian ntar sebelum ngedate kita ke rumah sakit dulu." balas Kaesang seraya mengandeng tangan Tyas untuk berdiri.
Mendengar kata rumah sakit membuat Tyas kaget sekaligus bertanya-tanya. untuk apa Kaesang mengajaknya ke rumah sakit? apa ada temannya yang sedang dirawat? Atau mungkin hal lain?
"Ngapain kita kerumah sakit?" tanya bingung Tyas.
"Jengukin ibunya Zefa." jawab Kaesang singkat seraya menarik lengan Tyas untuk berjalan di sebelahnya.
Hah? Jengukin ibunya Zefanya? Kok tumben??
"Jengukin ibunya Zefanya? Emangnya beliau sakit apa?" tanya Tyas sesaat keduanya telah berada di dalam mobil Kaesang.
"Jatuh dari tangga." Kaesang pun mulai menjalankan mobilnya.
......................
Kini keduanya nampak berjalan beriringan menuju ke ruangan tempat ibunya Zefa di rawat. Sebenarnya Kaesang tak ingin melakukan ini namun dia sudah terlanjur menjawab iya pada Zelyn.
"Kamu kok tau ruangannya dimana?" tanya Tyas disaat Kaesang mengajaknya ke lantai dua tanpa bertanya ke resepsionis terlebih dahulu.
"Kemarin dikasih tau Zelyn." jawab singkat Kaesang seraya terus berjalan.
Sesampainya di depan ruangan Salma ....
Keduanya nampak terdiam di depan ruangan yang menjadi ruangan Salma atau ibunya Zefa. Keduanya terutama Kaesang sangatlah berat untuk melangkahkan kakinya memasuki ruangan di depannya. Dia merasa enggan, dan berpikir, 'untuk apa aku ngelakuin ini?'
Namun, walau berat, Kaesang tetap masuk seraya tetap menggandeng tangan Tyas.
Tok ... Tok .... Tok ...
"Masuk." ujar Zefa yang kebetulan tengah berada di dalam seraya menunggu ibunya yang tengah tertidur.
__ADS_1
Raut muka Zefa seketika berubah setelah melihat siapa yang datang. Dia senang sekaligus tak menyangka jika Kaesanglah yang datang menjenguk ibunya di rumah sakit. Dia bahkan tak bisa berkedip saking terkejutnya.
Namun, rasa senangnya seketika surut setelah melihat siapa yang berada di belakang Kaesang.
TYAS
Perempuan itu turut menjenguk ibunya Zefa. Dengan sedikit rasa kesal Zefa pun bangkit dari duduknya.
"Kae, kamu kesini?" tanya Zefa pada Kaesang seraya berjalan kearahnya.
Kaesang pun berdehem lalu mengambil buah tangan di tangan Tyas kemudian menyerahkannya pada Zefa.
"Semoga nyokap Lo cepat sembuh ya." ujar Kaesang datar seraya menarik lengan Tyas untuk berdiri di sebelahnya.
"Ih, ngapain sih Kaesang pakai ngajak dia segala? Bikin kesel aja." batin Zefa kesal seraya menatap tak suka pada Tyas.
"iya, Kae. Amin. Btw duduk dulu yuk." ujar Zefa mempersilahkan Kaesang untuk duduk di sofa di ruangan Salma. Hm, tapi tawaran itu hanya berlaku untuk Kaesang ya. Sementara Tyas, perempuan itu sama sekali tak dianggap keberadaannya oleh Zefa.
"Nggak usah makasih, kita masih ada keperluan lagi habis ini." Tolak Kaesang.
Penolakan dari Kaesang berhasil membuat Zefa cemberut. Dia berharap bisa berlama-lama dengan Kaesang, namun, baru saja sampai lelaki itu sudah mau pamit saja.
"Yah, Kae, kok cepet banget sih? Kamu baru aja sampai loh, masa udah mau pamit aja?" ucap Zefa.
"Sorry, kita emang mau ada keperluan lagi. Ya, kan Dear?" Kaesang pun menoleh kearah Tyas dan meminta jawaban iya darinya.
Namun, bukannya menjawab, perempuan itu justru terdiam seraya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kita pamit ya. Salam ke mama Lo, semoga cepat sembuh." setelah berkata demikian, Kaesang pun menarik lengan Tyas dan mengajaknya untuk meninggalkan ruangan Salma.
Zefa masih kesal, sekesal kesalnya. Kedatangan Kaesang hari ini adalah sesuatu yang tak ia harapkan. Walau senang Kaesang datang, namun jika hanya sebentar ditambah lagi Tyas juga ada bersamanya, membuat Zefa berpikir jika lebih baik Kaesang tidaklah datang. Setidaknya ia takkan merasa sesakit ini. Melihat keromantisan mereka tepat di depan matanya, membuat Zefa panas, dan bersumpah untuk menghancurkan Tyas dan mengambil Kaesang kembali.
"Akan ku pastikan, Kaesang akan kembali menjadi milikku. Lihat saja, Bu Tyas, hidup anda sebentar lagi akan hancur dan tak seorangpun ada untuk anda ... termasuk Kaesang." ucap lirih Zefa seraya menatap tajam kearah pintu yang tertutup.
Bersambung ....
__ADS_1