
Kelanjutan dari episode kemarin...
Tyas yang baru keluar dari kamarnya sembari memegangi kepalanya yang pusing segera menuju ke pintu depan, sebab ia seperti mendengar suara Kaesang dari luar, tapi ia tak tahu persis itu memang Kaesang atau bukan.
'Kayak denger suara Kaesang, dia disini?' Ucapnya sendiri sembari memutar gagang pintu rumahnya, kemudian membukanya, dan berjalanlah ia dua langkah kedepan. Sembari matanya menyapu seisi halamannya, tapi tak ditemukannya sosok orang yang dimaksud, lalu berpikirlah ia, jika tak ada seorangpun disini, lantas apakah tadi hanya halusinasinya saja?, setelah berpikir begitu, dan memastikannya kembali, maka berbaliklah ia, kemudian masuklah kembali ia kedalam rumahnya. Ia kunci pintunya rapat rapat, dan berpikir,
'Apa aku salah denger ya?, ah mungkin aku cuma kecapean aja.' Pikirnya sekilas, sesaat setelah itu beranjak kembalilah ia kedalam kamarnya lagi guna mengistirahatkan tubuhnya, serta pikirannya, dan mengesampingkan semua tugas tugasnya yang kini kian menumpuk, dan yang dipikirkannya saat ini hanyalah kesehatannya yang harus pulih sesegera mungkin, dan itu mengharuskannya untuk lebih banyak banyak istirahat, tapi sebelum itu, teringat akan Kaesang, ia pun kembali meraih handphonenya dari atas nakas, kemudian membukanya, dan hendak menelpon lelaki itu, sebab dari pagi dirinya belum mengabari apa apa padanya, dan Kaesang pasti akan khawatir terhadapnya, mengapa ia tak segera mengabarinya, lalu ditekannya tombol telepon pada nomor Kaesang tersebut, kemudian tinggal menunggu si penerima menjawab teleponnya itu, yang kini masih saja berdering, dan belum dijawab jawab olehnya.
....................................................
Saat sesampainya di dalam rumahnya, Tanpa berlama-lama Kaesang pun segera menuju kamarnya sembari menenteng kotak misterius yang tak sengaja di temukannya tepat di depan pintu rumahnya. Keadaan rumahnya benar benar kosong, dan sepertinya papanya tersebut sama sekali belum pulang ke rumah, tapi tak dipedulikan sama sekali oleh lelaki itu, ia justru tengah sibuk berjalan ke kamarnya sembari mengamati kotak misterius tersebut, yang membuatnya berpikir, kenapa sih, akhir akhir ini banyak sekali yang mengiriminya kotak kotak seperti ini?, padahal sebelumnya tidak, tapi, ah sudahlah.
Sesampainya ia di dalam kamarnya, segera di tutupnya pintu kamarnya tersebut, kemudian berjalanlah ia kearah kasurnya, lalu duduklah ia di tepi kasur, ia amati kotak itu baik baik, kemudian mulai membukanya perlahan, dan ya, di balik kotak besar itu, masih ada satu buah kotak kecil lagi, beserta secarik kertas di sampingnya. Ia pun memutuskan tuk mengambil kotak kecil tersebut, kemudian membukanya perlahan, dan isinya membuatnya teringat akan sesuatu hal.
'Ini, kan...' Sesaat setelah ia mendapati liontin tersebut, satu kenangan langsung teringat kembali dalam pikirannya.
...Flashback mode on......
Seorang anak lelaki berumur sembilan tahun terlihat tengah berlari memasuki sebuah ruangan sembari menenteng sebuah kotak kecil di tangannya, raut kebahagiaan begitu terpancar di wajah tampannya, sembari membuka perlahan pintu ruangan tersebut, anak lelaki itu pun tersenyum, kemudian mendatangi seorang perempuan dewasa yang berada di dalam ruangan tersebut, yang ternyata ruangan tersebut adalah kamar dari kedua orang tua anak lelaki itu.
"Mama," Panggil anak lelaki tersebut sembari berjalan manis kearah mamanya yang terlihat tengah sibuk memainkan handphone di tangannya, tapi sesaat ia hentikan kegiatannya tersebut setelah sang putra tercintanya itu mendatanginya.
"Eh, Kae, ada apa sayang?" Tanya lembut mamanya tersebut pada sang putra di hadapannya.
"Ehm, ini Kae, ada hadiah buat mama." Jawab anak lelaki tersebut sembari menyerahkan kotak kecil yang dibawanya tadi pada perempuan dewasa di hadapannya, lalu diterimanya ragu oleh perempuan tersebut.
" Lho hadiah?, buat apa sayang?"
"Hari ini kan ulang tahun mama, jadi, Kae, pecahin tabungan, Kae, buat beli kado itu untuk mama." Jawabnya polos sembari tersenyum manis kearah Mamanya di hadapannya.
"Ouch, sayang, kamu ingat ulang tahun mama, makasih ya,"
"Iya, sama-sama. Oh iya Mama buka dong."
"Oh iya, ya udah Mama buka ya." Jawab perempuan tersebut, sesaat setelah itu dibukanya kado kecil dari putranya tersebut, yang berisikan liontin indah dengan ukiran hati serta huruf K dan M di atas liontin itu, yang berhasil membuat sang ibunda meneteskan air mata terharu.
"Wah, liontin, ini, Kae, beli sendiri?" Tanya sang ibunda sembari meraih liontin tersebut, kemudian memandanginya sembari tersenyum, lalu kembali menatap kearah sang putra dihadapannya.
"Iya, Mama suka?"
"Ouch, suka banget, makasih ya sayang."
__ADS_1
"Sama sama ma. Oh iya, selain itu, Kae, juga berdoa semoga mama gak akan pernah ninggalin, Kae, selamanya."
"Sayang, kok doanya gitu sih?, mama gak akan pernah ninggalin, Kae, kok, janji, hmm, bahkan sedetik pun mama gak akan pernah ninggalin Kae, jadi Kae, jangan pernah berpikiran kayak gitu lagi ya sayang, janji," Balas lembut sang ibunda sembari mengangkat sang putra kemudian mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Janji, maafin Kae, ya ma."
"Okay, Mama sayang banget sama Kae."
"Kae juga sayang mama."
"Sini, Kae pakein ma." Tambahnya sembari mengambil liontin tersebut dari tangan sang ibunda kemudian mengalungkannya lembut di leher sang ibunda.
"Okay."
"Wah, cantik, makasih ya sayang." Setelah selesai memakaikan liontin tersebut di leher sang ibunda, ibundanya pun menarik lembut tubuh sang putra kedalam pelukannya, kemudian mencium keningnya lembut.
...Flashback mode off......
Kaesang yang teringat akan kenangan tersebut seketika langsung meneteskan air mata, lalu kembali menatap kearah liontin tersebut.
...Flashback mode on......
Sesaat setelah itu, sang ayah dari anak tersebut pun datang, dan masuk keruangan tersebut, lalu mendapati sang istri tengah berpelukan mesra dengan sang putra, ia pun kembali tersenyum, lalu mendatangi mereka,
"Oh ini pa, Kae, kasih liontin ini buat mama sebagai kado ulang tahun mama, Kae keren ya pa," Jawab sang istri sembari tersenyum kemudian menatap kearah sang suami, dan putranya bergantian.
"Iya, keren anak papa." Timpal sang ayah sembari tersenyum kemudian mengusap lembut puncak kepala sang putra.
...Flashback mode off......
"Jadi, selama ini Mama masih simpan liontin ini?" Ucapnya tak menyangka, jika sang ibu masih menyimpan kalung liontin pemberiannya dulu, bahkan sampai kinipun liontin ini masih terlihat cantik, dan terawat.
Saat masih terbawa suasana, tak sengaja pikirannya pun terbesit kembali dengan secarik surat yang ada bersamaan dengan datangnya liontin ini, lalu segera di raihnya surat tersebut dari dalam kotaknya yang tergeletak tepat di sebelah ia duduk, kemudian mulai membacanya, tapi baru saja dibukanya surat tersebut, tiba tiba ia dikejutkan dengan suara panggilan telepon dari handphone miliknya, yang membuatnya mendengus, kemudian diletakkannya surat tersebut tepat di sebelahnya, kemudian di rogohnya handphone miliknya tersebut dari dalam saku celananya, dan melihat sesiapa yang tengah menghubunginya itu. Lalu tersenyum lah ia, sebab didapatinya ternyata orang yang dicarinya sedari tadi tengah menelponnya saat ini, dan itu membuatnya sedikit lega, karena akhirnya Tyas, yang sedari pagi di carinya itu akhirnya menghubunginya, walaupun sudah selama ini.
"Halo..."
^^^"Halo, Kae, gimana kabar kamu?"^^^
"Baik, kamu sendiri?"
^^^"Aku juga baik, ini aja aku baru mau istirahat."^^^
__ADS_1
"Oh, kalau gitu kenapa kamu malah telpon aku?, terus tadi kamu ke mana, kok aku teleponin nggak diangkat, aku cariin juga nggak ada."
^^^"Oh, eum tadi, .... tadi aku habis dari rumah sakit."^^^
"Kamu sakit?!"
^^^"Eng-enggak, aku habis jenguk temanku, dia habis kecelakaan soalnya."^^^
"Oh, terus dirawat di rumah sakit mana, parah gak?"
^^^"Ehm, di Jakarta Medika. Gak parah kok, udah mendingan sih, besok juga udah boleh pulang."^^^
"Hmm, gitu, terus kenapa dari pagi kamu nggak bisa dihubungin, aku khawatir sama kamu, aku cariin kamu kemana-mana, tapi nihil, kamu nggak ada di manapun, bahkan saat aku ke rumahmu pun kamu juga nggak ada, kukira kamu ke mana?, tapi ya udahlah yang penting kamu udah hubungin aku, aku bisa merasa tenang sekarang."
^^^"Maaf ya, Kae, hp-ku lowbat, baterainya habis, ini aja baru ku cas."^^^
"Gitu, hmm, oh iya aku baru ingat, di dekat-dekat sini kan ada pasar malam, kita ke sana yuk, tiba-tiba aku pengen ke sana nih."
^^^"Hmm, gimana ya?, kayaknya aku nggak bisa deh."^^^
"Dear, please lah, sekali ini aja ya, kamu turutin kemauan aku. Udah semingguan loh kita gak ketemu, aku kangen sama kamu, ya, please, kita kesana, okay."
^^^"Ehm, ya udah ya udah ntar malam kita ke sana, okay."^^^
"Nah gitu dong, ya udah ntar aku jemput kamu jam 18.00 sore, jadi sekarang kamu istirahat aja dulu, lalu persiapkan diri kamu untuk ntar malam, oke. Yaudah, dear, kamu istirahat gih, aku tutup ya."
^^^"Iya, Kae, sampai ketemu ntar malam, bye."^^^
"Bye."
...PANGGILAN BERAKHIR......
Saat selesai menelpon dengan Tyas, hati Kaesang menjadi sedikit lega, sebab ternyata dia dalam keadaan baik baik saja, lalu teringat lah kembali ia dengan surat tadi, lalu di taruhlah kembali handphone miliknya itu tepat di sebelahnya, kemudian meraih secarik kertas putih yang tergeletak tepat di sampingnya duduk, membukanya, lalu mulai membacanya perlahan.
Ingat liontin ini, Kae?
liontin ini bukannya liontin milik Zora, mamamu bukan?, lantas bagaimana caranya liontin itu bisa ada padaku ya?, haha, apakah kau ingin tahu mengapa liontin ini bisa ada di tanganku?, Kae, apa kau ingin tahu, walaupun kau tak ingin tahu, dan tak perduli, aku akan tetap memberitahumu, Seorang perempuan polos dengan mudahnya kubodohi, dan akhirnya masuklah ia kedalam perangkapku, haha dasar perempuan malang, mungkin kau sangat mengenal baik siapa perempuan itu, tapi kau sudah lama tak bertemu dengannya, hmm kuyakin kau masih menyayanginya, benar kan?, karena dia sendiri mengatakan jika dia sampai sekarang masih menyayangimu, sungguh drama ibu dan anak yang aesthetic, aku sungguh terharu dibuatnya kau tahu, haha tapi sepertinya kau tak lagi membutuhkannya ya?, hmm, tapi aku tak perduli, oh yaampun aku sampai berbicara panjang lebar seperti ini, hmm, sebenernya aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu, Zora vidyananta, yaitu ibumu, sekarang ada di tanganku, haha kau terkejut bukan, pasti kau terkejut, tapi jangan terkejut dulu, sebab adegan terepicnya belum dimulai, dan jika kau tanya apa itu, maka kan ku jawab, sebentar lagi kau akan tahu semuanya. Jadi satu hal yang mau kutekankan padamu, jangan pernah cari mamamu lagi, lupakan dia, hapus dia dari ingatanmu, atau kau mau seperti dia?
.........
"Argh, siapa sih orang gak ada kerjaan yang nulis nulis kayak gini?!"
"Tapi, jika melihat dari kata katanya, orang ini seperti tahu sesuatu tentang mama. Ahh apa mama baik baik aja ya, dimana mama sekarang?, dan liontin ini, ini benar benar liontin punya mama yang gue kasih dulu, tapi siapa orang ini, kenapa liontin mama bisa ada di orang ini?, apa hubungan orang ini sama mama?, oke, mulai sekarang gue akan ikutin permainan Lo." Ucapnya penuh ambisi, sembari meremas kertas surat tersebut kemudian dilemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1
Bersambung.