
Tertidur selepas mengobrol panjang dengan Tyas di telepon, kini kaesang terlihat menggeliat dan membuka perlahan kedua matanya. Ia dapati suasana telah berganti malam dan waktu pun telah menunjukkan pukul tujuh malam lebih.
Selepas pulang tadi siang ia belum juga mandi, badannya semuanya lengket, dan ia tak memedulikan itu. Dengan langkah gontai, ia langkahkan kakinya itu menuju bilik mandi di kamarnya, ia mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya yang lengket itu hingga hampir setengah jam lamanya. Tak ada suara apapun kecuali suara air yang keluar dari shower yang dipakainya tuk mengguyur tubuh basahnya itu. Hingga sesaat kemudian, selesailah lelaki itu. Ia keluar lengkap dengan setelan santainya lalu beranjak keluar tanpa menyisir ataupun mengenakan skincare nya seperti biasa. Ia terlalu malas tuk mengenakannya, dan tujuannya hanya satu, makan setelah itu kembali ke kamar.
Ia langkahkan kakinya menuruni tangga hingga sampailah ia di bilik dapur rumahnya. Ia buka kulkas lalu diambilnya sebotol air minum dari dalamnya, ia minum itu hingga tandas lalu beranjak kemeja makan. Dibukanya tudung saji itu, dan memperlihatkan ada beragam jenis masakan khas Indonesia telah terpampang di hadapannya. Semuanya masih hangat, dan tanpa menunggu lama, kaesang pun segera duduk di tempatnya, ia balik piring dihadapannya kemudian beranjak mengambil nasi serta lauk yang diinginkannya.
Ia makan sampai tak tersisa, kemudian diraihnya segelas air minum di hadapannya. Ia teguk itu hingga sebatas setengah lalu hendak beranjak. Tapi sebelum itu, ia dikejutkan oleh suara seseorang yang sangat asing untuknya. Seorang perempuan muda, yang mungkin seumuran dengan Tyas.
"Gimana, enak kan masakan saya?" Tanyanya terdengar lembut di telinga kaesang.
Ia tak terlalu jelas untuk kaesang, sebab cahaya remang remang di meja makan ini telah membuat seseorang itu hanya terlihat siluetnya saja. Tanpa diminta, perempuan itu lantas berjalan mendekati kaesang. Semakin dekat, semakin jelas wajah perempuan itu.
Ia lumayan cantik, putih, dan memiliki rambut panjang sebahu. Rambutnya hitam pekat, serta ia mengenakan dress lengan pendek warna maron. Untuk standar perempuan ia sangat cantik, tapi yang jadi pertanyaan kaesang, siapa perempuan itu, apa ia pembantu baru di sini, tapi jika pembantu tak mungkin kan ia bisa semodis ini.
"Anda siapa berada di rumah saya?" tanya dingin kaesang.
Bisa dilihat oleh kaesang, ada semburat tak suka di mata perempuan itu. Tapi sesaat setelahnya ia pun tersenyum lantas menyikap rambutnya kebelakang.
__ADS_1
"Ehm perkenalkan saya Lisa, calon ibu baru kamu." Ia pun mengulurkan tangannya, berharap dijabat balik oleh kaesang. Tapi kaesang yang tak ingin bicara hanya terdiam tanpa membalas uluran tangan perempuan itu. Hingga tersenyum kecutlah perempuan itu, ia tarik kembali tangannya lalu kembali tersenyum menatap kearah kaesang.
"Hm, gue kaesang." hanya itu yang dikatakannya. Kaesang lantas beranjak selepas mengatakan itu. Tapi selepas dua langkah ia berjalan sempat dilihat dari ekor matanya, perempuan itu menghentakkan kakinya berulang kali. Kaesang duga ia kesal atas perilaku kaesang padanya. Tapi apa kaesang peduli? tidak! malah dalam hati kaesang tersenyum melihat itu.
Selepas menaiki tangga, dan memasuki kamarnya kembali, kaesang segera meraih handphone miliknya dari atas nakas. ia berniat menelpon Tyas seperti biasa, tapi belum juga ia melakukannya tiba tiba ia mendapat sebuah notif pesan dari nomor yang tak dikenalnya.
karena penasaran, kaesang buka pesan itu. Ia pun memutar malas bola matanya selepas tau siapa orang yang mengiriminya pesan itu. Yap, Lisa. calon istri baru papanya itu. dialah orangnya, tapi bagaimana dia bisa mendapat nomor kaesang, apa mungkin papanya lah yang telah memberikannya? ah entahlah. Kaesang hanya melihat sekilas lantas mengacuhkannya. Ia tak peduli pada perempuan itu sedikitpun walau nantinya ia akan menjadi ibu tirinya, ia pun sama sekali tak peduli. Dia bebas melakukan apapun di rumah ini asal yang terpenting jangan pernah sesekali mengusik ataupun mengatur hidup kaesang, atau kalau tidak, tak tau apa yang akan terjadi pada perempuan itu selanjutnya. Sebab kaesang sangatlah tak suka jika hidupnya diatur atur oleh seseorang, atau pun diusik. Ia sangat membenci itu.
......................
Gemercik suara air yang berjatuhan terdengar bergema dalam ruang gelap nan sepi ini, dan berakhir beberapa saat setelah Tama menutup tuas galon ketika gelas tersebut terisi penuh.
"Ngapain liatin kakak kayak gitu, terpesona ya sama kecantikan kakak?" dialah viona, kakak kandung dari Tama. Yang merupakan tunangan dari Zaky, guru olahraga di sekolah kaesang yang juga tanpa sadar menyukai rekan kerjanya sendiri, yakni Tyas.
Tama tak bergeming menanggapi pertanyaan konyol kakaknya itu. Ia lantas duduk tepat di hadapannya hingga tanpa sadar ia pun tersenyum.
"Gimana setelah ketemu mantan Lo, dia masih ngenalin Lo gak, atau jangan jangan dia udah lupa sama Lo?" Tebak viona disertai cengiran di bibirnya.
__ADS_1
Tama pun tersenyum lantas menatap kearah sang kakak.
"Siapa bilang dia lupa sama gue, gue itu mantan terindahnya, gak mungkin lah dia lupa sama gue secepat itu." Ia tetap saja tersenyum saat mengatakannya, bahkan viona pun mengernyit mendengar penuturan adiknya ini. Ia terlalu yakin, menurut viona.
Tanpa ba-bi-bu viona lantas memukul pelan bahu tama hingga berhasil membuatnya mengaduh.
"Yakin banget Lo, kalo si Tyas itu belum lupain Lo?" Tanya viona lagi.
"Karena tadi gue ketemu dia, dia masih ngenalin gue. Tadi aja dia diem sambil ngeliatin gue, kan itu tandanya dia masih ada perasaan sama gue. matanya itu loh gak bisa bohong." Bangganya.
"Lo yakin dia masih ada perasaan ke Lo, Lo gak ada feeling gitu dia udah nikah sama seseorang, atau mungkin pacaran sama orang lain." Viona nampak tak yakin dengan jawaban adiknya. Ia sendiri tau Tama kuliah di luar negeri selepas lulus dari SMA itu, dan meninggalkan Tyas tanpa adanya kabar sama sekali. Ia yakin tadi tyas pasti terkejut melihat kehadiran Tama bukannya masih ada perasaan ke tama seperti yang diucapkannya. Tapi bagaimana bisa tama bertemu dengan Tyas kembali, apakah itu suatu kebetulan?
"Lo ngeraguin gue?" Tanya dingin Tama. ia tak suka akan pernyataan kakaknya itu, kakaknya menganggap jika Tyas pasti telah melupakannya dengan menikahi orang lain, atau pacaran dengan orang lain. Tapi Tama tak begitu, ia tetap kekeh jika Tyas pasti masih menyukainya seperti dulu. Tapi kakaknya ini seolah tak yakin dengan kepercayaan Tama. ia meragukan cinta Tyas padanya, dan itulah yang tak disukai Tama dari kakaknya ini.
"Bukannya ngeraguin Tama, tapi Lo kan udah--" ucapannya pun dipotong tiba tiba oleh Tama. Ia menatap kesal viona lantas mengatakan,
"Gue tau, gue udah ninggalin Tyas tanpa pamit. Gue tau gue salah, gue udah pergi dan ninggalin Tyas gitu aja, Tyas pasti menderita karena itu. Gue tau, gue tau semua itu. Tapi gue hanya mencintai Tyas, kak. Gue gak bisa ngelupain dia. Sekalipun gue pergi jauh ke luar negeri bayang bayang dia terus saja hadir di kepala gue. Gue gak bisa ngilangin Tyas dari hidup gue. Gue mohon Lo percaya sama gue, gue yakin semua ucapan Lo itu salah, gue yakin Tyas pasti masih nungguin gue di luar sana, dan cintanya itu pasti masih buat gue, gue yakin itu." Ucapnya dengan berapi api, dan penuh keseriusan di matanya. Viona tak bisa berkata kata selain mengangguk dan mengiyakan apa yang Tama katakan.
__ADS_1
Bersambung.