Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 98 -Kita Pacaran


__ADS_3

Cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar ketika Kaesang mulai membuka mata dan bangkit ke kamar mandi. Cuci muka dan menggosok giginya. Beberapa saat lamanya ia berada di kamar mandi itu sembari senyum-senyum sendiri mengingat kembalinya hubungannya dengan Tyas. Semuanya serasa seperti mimpi, bisa melihat bahkan menggenggam tangan Tyas dengan tangannya, aroma tubuhnya yang harum membuat Kaesang kembali merindukan gadis itu sekarang.


Seketika Kaesang menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak, ia tatap bayangan dirinya di pantulan cermin di hadapannya seraya tersenyum.


......................


Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Kaesang pun meraih ranselnya dari atas sofa, kemudian beranjak keluar. Seperti biasa, rumah dalam keadaan sepi. Namun, saat ia sampai pada tangga kedua, tak sengaja ia melihat sang papa tengah berdiri menghadap kulkas seraya meneguk segelas air putih. Dari sini terlihat Indra telah mengenakan pakaian kantornya lengkap dengan jas biru tua dan juga sepatu hitamnya.


"Eh, Kae, sudah mau berangkat sekolah?" sapa Indra sambil mengambil gelas kosong kemudian mengisinya dengan air putih lalu menyodorkannya pada Kaesang.


Kaesang pun terlihat menerima segelas air putih yang disodorkan papanya tanpa ragu. Ia teguk air putih itu lalu menaruh gelas kosong itu di tempatnya semula.


"Aku berangkat ya." tanpa berkata apapun lagi, Kaesang akhirnya berangkat sekolah selepas mencium punggung tangan sang papa.


......................


Tak banyak yang dipikirkan Kaesang sampai tibalah ia di sekolah. Seperti biasa, ia memarkirkan mobilnya, lalu turun dan berjalan menuju kelasnya. Namun, tak seperti biasanya, kini yang dilihat Kaesang, sekolahan dalam keadaan sepi, hanya beberapa gelintir orang yang terlihat berlalu lalang. Sementara yang lainnya hilang entah ke mana.


Lalu langkah Kaesang sampai pada koridor sekolah, ia terkejut dan sontak berhenti tepat di antara kerumunan anak yang mengerumuni papan pengumuman. Ia ingin mengabaikan itu dan pergi namun, tanpa diduga semua anak sontak diam dan berbalik menatapnya dengan tatapan terkejut.


Tapi baru saja Kaesang akan bertanya, semua anak-anak itu langsung menghamburkan diri dan pergi dari sana. Dan barulah saat semua anak pergi, ia dapat melihat dengan jelas apa yang membuat mereka berkerumun.


Jreng ...


Apa ini?? pikir Kaesang dalam hati. Ia terkejut dan sontak marah karena melihat apa yang terpajang di papan pengumuman. Ia melihat foto dirinya saat mencium Tyas kemarin hari di mobil sudah terpajang begitu rapi di papan pengumuman itu.


Dan tanpa pikir panjang, Kaesang pun melepas semua foto tersebut tanpa ada satupun yang tersisa.


"Kae," disaat Kaesang akan membuang foto-foto itu ke tong sampah, dia terkejut saat mendengar ada sebuah suara yang memanggilnya. Tapi disaat ia menoleh kearah sumber suara, dia mengernyit heran sebab ternyata Zelyn lah yang memanggil. Tak biasanya anak itu bicara padanya seperti ini.


Dari sini dapat terlihat sorot keraguan yang terlukis di wajah Zelyn. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu namun sedikit ragu.


"Kenapa? ada yang ingin Lo omongin?" tanya Kaesang akhirnya.


"Anu, Kae ...."

__ADS_1


......................


Tyas baru saja tiba di sekolah lima belas menit sebelum bel berbunyi. Saat baru saja tiba di depan gerbang sekolah, perasaannya sudah tak enak, ditambah lagi semua tatapan tajam anak muridnya yang di tujukan padanya semakin membuatnya negatif thinking. Tapi disaat Tyas lewat di depan mereka, semuanya saling sapa dan senyum seperti biasa. Bahkan, banyak juga yang datang pada Tyas dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


Namun, saat Tyas berlalu pergi, mereka saling berbisik satu sama lain, seraya menatap tak suka padanya.


Huufft ...


Tak tau apa yang terjadi, namun Tyas merasa sepertinya ada suatu hal besar terjadi hari ini, tapi dia tak mau ambil pusing, alhasil dia pun berlalu menuju ruang guru seraya mengabaikan semua tatapan tak suka dari anak-anak yang dilewatinya.


Tuk ... Tuk ... Tuk ...


Di saat Tyas sampai di depan ruang guru dia mendengar ada beberapa guru yang telah sampai terlebih dahulu dan mengobrol satu sama lain. Bahkan suara mereka terdengar begitu keras sampai keluar. Tapi, di saat Tyas mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang guru tersebut, sontak para guru yang semula bercengkrama ria menjadi diam dan mengabaikan kedatangannya. Bahkan Bu Sinta yang biasanya setiap pagi selalu menyapanya kini terlihat diam, dan acuh.


"Selamat pagi, bapak, ibu." sapa Tyas ramah seperti biasanya. Namun, semua guru tetap acuh dan tak melihatnya sama sekali. Aneh.


"Bu Tyas, anda di panggil pak Bejo ke ruangannya." pak Bejo adalah kepala sekolah di tempat Tyas bekerja, dan tak seperti biasanya, pak Bejo yang biasanya jarang ke sekolah, kini tiba-tiba datang dan ingin menemuinya. Ada apa ini sebenarnya? apa yang ingin pak Bejo bicarakan dengannya? Tyas sungguh penasaran.


"Iya baiklah, saya akan segera ke sana." Tyas pun tersenyum manis menoleh ke arah Gita, seorang staf tata usaha di SMA tersebut yang langsung melenggang pergi selepas selesai memberitahukan hal tersebut pada Tyas.


"Baiklah." gumam Tyas lirih. Dia pun segera bergegas ke ruangan pak Bejo. Namun, baru saja ia sampai di depan pintu, ia dikejutkan oleh adanya Kaesang di dalam ruangan pak Bejo. Dia terlihat diintrogasi oleh pria tua berkacamata itu. Namun, yang membuat Tyas heran, mengapa Kaesang sama sekali tidak bicara. Dia hanya sesekali menjawab pertanyaan pria itu, dan selebihnya hanya mendengarkan.


Tok ... Tok ... Tok ...


Kedatangan Tyas tentu saja mengagetkan kedua pria yang sedang bercengkrama itu. Keduanya sontak menoleh ke arah Tyas dengan sorot terkejut.


"Duduk Bu." ujar pak Bejo mempersilahkan Tyas untuk duduk di kursi kosong di sebelah Kaesang.


Dan tanpa berkata apapun lagi dia pun segera duduk di sebelah Kaesang dan sempat melirik sekilas ke arah lelaki tersebut.


"Sebenarnya ada apa ya pak?" tanya Tyas pada pak Bejo. Namun, pria berkaca mata di depannya itu hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.


Karena semakin dibuat bingung, Tyas pun perlahan menoleh ke arah Kaesang. Namun, lelaki itu tak bergeming, ia tetap menatap lurus ke arah pak Bejo tanpa sedikitpun menoleh ke arah Tyas.


"Sebenarnya ada apa di antara kalian berdua?" pertanyaan yang dilontarkan pak Bejo berhasil membuat kedua alis Tyas mengerut.

__ADS_1


"Maksudnya pak?" tanya Tyas bingung.


Pak Bejo pun melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. Ia menatap ke arah Tyas dan Kaesang bergantian. Dari penglihatan Tyas ada sorot kekecewaan yang tergambar di mata pak Bejo saat itu.


"Kita pacaran." sahut Kaesang tanpa ragu.


Dan setelah mendengar ucapan tiba-tiba itu, Tyas yang semula bingung sontak beralih menatap Kaesang dengan mata membola. Apa yang dikatakan Kaesang? mengapa dia bicara seperti itu, apa dia ingin mengakuinya sekarang? setidaknya itu yang Tyas pikirkan saat ini, sampai terdengarlah helaan nafas berat dari pak Bejo yang menandakan beliau sudah sangat lelah dan pasrah.


"Saya ingin klarifikasi dari kalian atas foto yang terpajang di papan pengumuman tadi pagi." ucap pak Bejo akhirnya.


Tyas yang tak mengerti akhirnya hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan kepala sekolah tersebut. Yang dimaksudkan tadi foto? foto apa yang ada di papan pengumuman? dia memang sempat melihat ada beberapa foto yang terpajang di papan pengumuman yang menjadi pusat keramaian anak-anak namun karena dia sedang terburu-buru, dia pun mengabaikan foto tersebut dan lanjut ke ruang guru.


Tapi jika dia dipanggil hanya karena masalah foto, lantas sebenarnya foto apa itu? mengapa sepertinya itu penting sekali sampai dia harus dipanggil seperti ini?


"Saya tidak mengerti, sebenarnya ini ada apa?" tanya Tyas sekali lagi.


Dan sesaat kemudian pak Bejo pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada Tyas.


DOR!!


Saking terkejutnya Tyas sampai tak dapat berkata-kata. Foto yang ditunjukkan oleh pak Bejo adalah foto yang memperlihatkan Kaesang dan dirinya tengah berciuman di mobil kemarin hari. Foto itu bahkan diambil dengan begitu jelas tanpa adanya blur sama sekali.


Tyas marah, kaget, dan kesal dengan orang yang sengaja memotret privasinya itu. Namun, dia juga penasaran siapa orang berani tersebut? karena setahunya tak ada orang lain selain dirinya dan Kaesang di tempat tersebut.


"Pak, pak itu-itu tidak benar. Semua yang ada di foto itu tidak benar." akhirnya Tyas pun menyangkal semua yang ada di foto tersebut. Dia menyangkal jika dirinya dan Kaesang berciuman, namun lain halnya dengan Kaesang. Lelaki itu justru mencari gara-gara dengan meraih tangan Tyas dan menggenggamnya begitu saja.


"Kenapa kamu berbohong, katakan saja yang sebenarnya." ucap santai lelaki muda tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Tyas tajam. Wajahnya sama sekali tidak bisa berbohong, dia sedang bingung dan kesal dengan kata-kata dan perilaku Kaesang saat ini.


"Ayolah, dear. Katakan saja yang sebenarnya, tidak usah susah-susah berbohong. Toh, tadi aku sudah bicara semuanya pada pak Bejo. Jadi tak ada yang perlu ditutupi lagi, semuanya sudah terungkap." ucap Kaesang masih dengan begitu santainya. Tangannya masih menggenggam tangan Tyas, dan senyumnya pun merekah.


"Apa maksudmu sudah terungkap? kau ..." ucap Tyas terputus dibarengi tubuhnya bergetar dan tangannya berkeringat dingin.


"Aku sudah mengatakan kepada pak Bejo dan semuanya jika kita telah menjalin hubungan." balas Kaesang santai namun terlihat serius. Tyas terperangah mendengar ucapan Kaesang. Terlihat jelas ia kaget dengan reaksi yang Kaesang tunjukkan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2