Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 44- Keputusan yang tak diinginkan


__ADS_3

Kelanjutan dari episode kemarin...


Sesaat setelah Kaesang selesai dengan urusan liontin tersebut, bergegas siap siaplah ia guna pergi ke pasar malam dengan Tyas beberapa saat lagi, tapi walaupun begitu ia masih saja terpikirkan dengan mamanya, bagaimana liontin tersebut bisa ada di tangan lelaki tak dikenal itu, dan apa hubungan mama dengannya?, pertanyaan itu terus terusan muncul dipikirkannya hingga ia selesai mandi, dan tengah bersiap di depan cermin besarnya, ia tengah mengenakan skincare rutinnya, kemudian menyisir lembut rambutnya, hingga satu kenangan tiba tiba teringat di pikirannya, yang dimana kenangan itu adalah awal dari semuanya.


...Flashback mode on......


Kejadian itu berawal saat Kaesang masih berumur 11 tahun tepatnya kelas 5 SD. Ia yang baru memenangkan kejuaraan olimpiade matematika tingkat kabupaten, tengah begitu bersemangat untuk segera menunjukkan piala yang diperolehnya itu pada kedua orang tuanya sesaat ia masih di dalam mobil saja.


'Mama, sama papa pasti bangga sama aku, karena aku sudah menangin kejuaraan ini.' Ucapnya yakin, dan terlihat begitu bersemangat bahkan masih dalam mobil saja.


Beberapa menit pun berlalu, akhirnya sampailah Kaesang di halaman depan rumahnya setelah dijemput oleh sopir pribadi ayahnya tersebut di sekolahnya karena kedua orang tuanya tidak dapat menjemputnya. Baru saja mobilnya itu berhenti, Kaesang pun dengan segera membuka pintu mobilnya, kemudian berlari memasuki rumahnya sembari membawa piala yang diperolehnya itu.


Baru saja ia menginjakkan kakinya di ambang pintu rumahnya, tak sengaja telinga kecilnya pun mendengar ada suara keributan dari arah kamar orang tuanya. Ia yang mendengar itu seketika kaget, dan ketakutan, tapi juga penasaran, lalu kaki kecil nya ia langkah kan menuju ke kamar orang tuanya perlahan. Semakin jelas, dan pasti, bahwa saat ini kedua orang tua yang sangat disayanginya itu tengah bertengkar hebat, bahkan ia dapat mendengar ada beberapa barang yang dilemparkan, dan pecah dari arah kamar kedua orang tuanya itu. Lalu Kaesang kecil pun menangis dalam diam, dan tetap berdiri di depan pintu kamar kedua orang tuanya sembari tetap memegangi piala yang diperolehnya itu.


'Papa..., Mama...' Panggilnya lirih pada kedua orang tuanya sembari telapak tangannya ia tempelkan pada pintu kamar kedua orang tuanya itu, dan yang sebelah lagi ia gunakan tuk memegangi piala yang tadi diperolehnya tersebut.


Lalu ia pun mendengar kembali suara keributan dari kamar kedua orang tuanya yang semula sudah mulai senyap, ia dapat dengan jelas mendengar jika kedua orang tuanya itu tengah berdebat hebat sembari meluapkan emosi masing-masing.


"Cepat katakan!, siapa Wisnu sebenarnya?!, dan ada hubungan apa kau dengannya?!"


" Kenapa dia mengirimimu begitu banyak hadiah, kado, padahal kau tidak sedang berulang tahun?"


"Dan apa maksud surat sehari yang lalu yang kuterima atas namamu itu?!, cepat jawab!"


"Apa kau sudah diam-diam berhubungan dengan lelaki itu tanpa sepengetahuanku?!, cepat katakan, Zora!"


"Kau mau bicara, atau harus kupaksa terlebih dahulu?!" Ucap Indra sembari meluapkan emosinya pada sang istri yang sedari tadi hanya diam sembari menundukkan kepalanya takut, dan tak berani berbuat apa-apa.


"Mau sampai kapanpun kau memaksaku berbicara, aku takkan pernah mengatakan apapun, karena aku tidak seperti yang kau tuduhkan itu, dan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Wisnu." Jelas Zora sembari mengangkat kepalanya, dan menatap nanar kearah Indra, dan indra justru menatapnya penuh emosi.


"Bohong. Lantas apa maksud dari surat yang kuterima kemarin atas namamu itu, yang mengatakan, aku akan menemuimu lagi setelah ini untuk merencanakan sesuatu hal. Apa maksudnya itu Zora, apa yang mau kau rencanakan dengannya?, Hah?!" Tanya balik Indra masih penuh dengan emosi.


"Itu....?" Tak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang suami, Zora pun lebih memilih diam, sembari memikirkan sesuatu hal.


"Kau diam kan?, itu tandanya kau memang benar-benar ada hubungan dengan lelaki itu. Aku sungguh-sungguh tak percaya jika kau akan menghianatiku seperti ini Setelah semua cinta yang kuberikan padamu." Ucap Indra lagi, kini dirinya sudah jauh lebih tenang dari tempo tempo lalu.


"Tidak, Pah. Aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengannya, aku sungguh-sungguh mencintaimu, jika tidak, aku takkan mau mengurus putramu itu, Kaesang. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, dan takkan mungkin aku menghianatimu seperti yang kau tuduhkan." Ucap Zora mengelak dengan semua yang Indra tuduhkan itu padanya, dan tanpa sadar ia juga membawa bawa Kaesang dalam permasalahannya.


Setelah mendengar ucapan mamanya itu, Kaesang kecilpun menjadi sangat begitu terkejut, dan tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh ibunya itu tentang dirinya.


"Kenapa kau jadi bawa-bawa Kaesang. Jika kau tidak ikhlas merawatnya ya sudah. Tinggalkan saja dia, pergi dari sini, aku bisa kok merawatnya sendiri."

__ADS_1


"Tanpa bantuanmu pun, aku masih bisa kok merawat putraku sendiri, jika kau mau pergi dengan Wisnu, ya pergi saja, aku tak mencegahmu." Tambah Indra.


"Pah, cukup. Aku tak mau mengungkit-ungkit soal ini. Aku tak ada hubungan apapun dengan Wisnu, harus berapa kali ku jelaskan padamu." Balas Zora, cukup lelah dengan semua yang Indra tuduhkan padanya ia pun tak tau lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan suaminya itu agar mempercayainya.


"Tapi, bagaimana dengan semua hadiah, surat beserta chat dengannya selama ini?" Tanya Indra beserta menunjukkan HP milik Zora yang kabarnya telah menghilang semenjak dua hari yang lalu, dan ternyata HP itu disembunyikan oleh suaminya sendiri.


"Kok HP aku ada di kamu?, jadi selama ini yang ngumpetin HP aku itu kamu ya?" Tanya zora tak percaya jika sang suami lah yang telah menyembunyikan handphone miliknya itu, dan mencoba merebutnya darinya.


"Kenapa?, syok, kaget HP kamu ada di aku?" Timpal Indra sembari menjauhkan hp Zora itu darinya, akan tetapi Zora tetap mencoba tuk merebut handphone miliknya itu dari tangan sang suami.


"Ih, balikin, Pah!"


"Kenapa?, takut kebongkar yah, hubungan perselingkuhanmu dengan Wisnu?"


"Pah, cukup, harus pakai cara apa lagi supaya kamu percaya sama aku."


"Kamu mau HP kamu kan?, nih." Saat Indra menyodorkan HP milik zora itu ke si empunya, dan zora juga siap menerimanya kembali, tiba-tiba saja Indra berubah pikiran, dan membanting HP milik Zora itu ke lantai dengan sangat keras, dan seketika retaklah HP itu, dan hancur menjadi beberapa bagian. Zora yang melihat itu pun terkejut, lalu ia pun berjongkok sembari meratapi HP miliknya yang telah hancur, kemudian berdiri kembali, dan menatap tajam ke arah Indra.


"Kenapa?, gak suka? hmm." Tanya songong Indra.


"Kenapa kamu lakuin ini, Pah?" Tanya zora sembari berkaca kaca.


"Aku hanya ingin kejelasan darimu, dan kau hanya berbelit-belit saja dari tadi, makanya jangan salahkan aku untuk berbuat lebih padamu." Jelas Indra.


"Walaupun kini, aku sudah tak ada hubungan apapun denganmu, tapi ingatlah satu hal, Kaesang tetaplah putraku, dan aku selalu sayang dia sampai kapanpun. Baiklah, aku pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik juga Kaesang, jangan biarkan dia sendiri, dan jangan pernah buat dia terluka, karena aku sangat membenci itu. Oke, semoga kau bahagia." Tambah Zora, sesaat setelah ia mengatakan itu, keluarlah ia dari kamar tersebut sembari menyeret dua buah kopernya. Dan saat mengingat Kaesang, ia pun ingin terlebih dulu melihat wajah putranya itu sebelum ia pergi dari rumah ini.


Semenit sebelumnya...


Saat mendengar itu, terkejutlah Kaesang, dan mundurlah ia perlahan, kemudian berlarilah ia menuju kamarnya. Sesaat sampai di kamarnya, ia tutup pintunya rapat-rapat, kemudian ditaruhnya piala yang diperolehnya tadi di atas nakas, barulah setelah itu naiklah ia ke atas ranjangnya, duduk, kemudian menangis. Ia pun menenggelamkan kepalanya ke dalam pangkuannya, lalu mulai menangis tanpa henti. Dalam tangisannya, ia pun berpikir,


'Jadi, selama ini aku bukanlah anak kandung mama?, kenapa Mama bohong sama aku, kenapa semuanya harus berakhir seperti ini, kenapa?" Setelah itu tangisannya pun pecah kembali, dan semakin berat.


Saat Zora telah berdiri tepat di depan kamar Kaesang, dan hendak masuk ke dalam kamarnya, tak sengaja ia mendengar suara putra kecilnya itu tengah menangis, lalu masuklah ia perlahan, dan mendatangi putranya tersebut.


'Tak mungkin kan Kaesang mendengar semua pertengkaran ku tadi dengan Indra?' Pikirnya.


"Kae.." Panggilnya lembut sembari menyeret kopernya masuk ke dalam kamar putranya itu.


Terkejut karena tiba-tiba mamanya masuk begitu saja ke dalam kamarnya, Kaesang pun dengan segera menghapus air matanya itu, lalu menundukkan kepalanya, dan tak berani menatap ke arah mamanya yang saat ini tengah duduk di tepi ranjangnya sembari menatap lembut ke arahnya.


"Kae, sudah pulang sayang?"

__ADS_1


"Kamu kenapa?, kok nangis?" Tanya zora pada putranya itu sembari mengelus puncak kepala Kaesang lembut.


"Mama mau ke mana?, kok bawa koper segala?" Tanya langsung Kaesang sembari mengangkat kepalanya, dan menatap datar ke arah mamanya.


"Ehm, mama..."


"Mama mau pergi kan?, Mama mau tinggalin Kae, sama papa kan?, iya kan, ma?" Tanya Kaesang sembari menangis.


"Kae..."


"Kenapa, ma?, kenapa Mama mau pergi?, apa karena Kae nakal, jadi Mama mutusin buat pergi dari rumah, atau karena hal lain?" Tanya lagi Kaesang.


Tak mampu menjawab pertanyaan dari Sang putra, Zora pun lebih memilih menangis, dan hendak memeluk tubuh putranya tersebut, tapi berhasil dihentikan oleh putranya itu.


"Cukup. Mama mau pergi kan?, ya udah sana pergi, pergi ma, Kae, udah gak butuh Mama lagi, Kae, udah denger semuanya, dan Kae paham. Jadi lebih baik Mama tinggalin papa, rumah ini, dan juga Kae, kita sudah gak butuh adanya Mama di sini, toh Mama juga bukan ibu kandung Kae kan?, jadi gak ada urusan lagi Mama tetap di sini, lebih baik Mama pergi, pergi ma." Usir Kaesang pada mamanya itu sembari menangis.


"Kae, maafin mama, jangan benci mama, Kae. Mama sayang Kae, Mama mohon maafin mama." Bujuknya sembari mencoba menenangkan putranya tersebut, dan mencoba memeluknya, tapi Kaesang berontak, dan tak mau dipeluk lagi olehnya.


"Mama pergi, pergi ma!"


"Kae, Mama mohon."


"Gak dengar Kaesang ngomong apa, udah pergi sana kalau mau pergi." Indra yang baru datang ke kamar Kaesang pun turut ikut campur dalam hal tersebut, dan memperkeruh suasana.


"Kae, jaga diri kamu baik-baik ya, Mama sayang banget sama kae. Mama pamit ya sayang." Setelah pamitan dengan putranya itu, Zora pun beranjak berdiri lalu menyeret kopernya keluar dari kamar Kaesang, dan juga rumah ini, tapi baru saja ia sampai di ambang pintu, berhentilah ia sejenak, lalu di liriknya Kaesang sekilas, kemudian mulai melanjutkan langkahnya kembali.


Setelah mantan istrinya itu pergi, mendekatlah Indra pada Kaesang, dan duduklah ia di sampingnya, lalu hendak menarik tubuh Kaesang itu kedalam pelukannya, tapi berhasil dihentikan olehnya.


"Cukup. Papa keluar dari kamar Kae sekarang!" Usir Kaesang pada papanya itu, sembari menatap dingin kearahnya.


"Kae, kenapa? kok papa juga..."


"Keluar pa!"


Tanpa berkata-kata lagi, keluarlah Indra dari kamar Kaesang, lalu membiarkan putranya itu menenangkan diri untuk sementara waktu.


...Flashback mode off......


Kenangan pahit itu terlintas begitu saja di pikirannya sesaat setelah ia tatap liontin ibunya yang tengah di genggamnya itu, lalu dijatuhkannya tanpa sengaja liontin itu ke atas lantai, dan Kaesang pun tersentak, lalu dipungutnya kembali liontin itu, kemudian menatapnya baik-baik.


'Kenapa tiba tiba aku teringat dengan kenangan itu?, kenapa setelah sekian lama aku mencoba tuk melupakan semua kenangan pahit itu, sekarang semuanya terlintas begitu saja, kenapa?' Tangisannya pun pecah, ia pun membanting liontin ibunya itu ke lantai lalu mulai mundur perlahan dari kaca, dan terduduk kembali di atas kasurnya.

__ADS_1


'Dan papa, dimana papa sekarang?, apa dia sudah benar benar tidak perduli denganku lagi, ah bodo amatlah.' Ucapnya sendiri, sesaat setelah itu direbahkannya tubuhnya itu keatas kasur, kemudian menatap kosong kearah langit langit kamarnya.


Bersambung.


__ADS_2