
Kelanjutan dari episode kemarin...
Setelah dirasa cukup lama berada di kedai es krim tersebut, selepas selesai membayar beranjak pergilah mereka berdua dari sana. Kini keduanya kembali memutuskan tuk berjalan jalan saja sembari menikmati suasana pasar malam ini, Kaesang yang berbasa basi dengan Tyas, tanpa sengaja menggandeng tangannya, dan langsung membuat Tyas menoleh kearah tangannya yang tengah di pegang Kaesang tersebut.
"Aku sungguh tidak menyangka, hari ini aku bisa datang ke pasar malam ini sama kamu. Kukira kamu bakalan nolak ajakan aku, tapi ternyata kamu bersedia, btw makasih ya, dear, udah mau datang ke sini sama aku, aku bener bener senang banget," Ucap Kaesang sembari berjalan berdampingan dengan Tyas, tak lupa tangannya yang tetap setia menggandeng lembut tangan milik Tyas.
"Iya, sama sama kae. Btw aku juga senang bisa datang ke sini sama kamu. Dan aku juga mau bilang makasih, karena kamu udah jadi warna di hidup aku." Balas Tyas sembari menoleh kearah Kaesang, dan tersenyum manis kearahnya.
"Warna?, it's okay, You're welcome, dear. Aku juga ngerasa semenjak aku dekat sama kamu, hidup aku jadi terasa aneh." Ucap lagi Kaesang.
"What, aneh?, maksudmu aneh?" Tanya Tyas tak mengerti.
"Ehm gak, bukan apa apa. Oh iya, dear, kita naik itu yuk." Ajak Kaesang sembari menghentikan langkahnya, lalu menunjuk kearah sebuah biang lala yang ada tiga meter di depannya.
"Ehm, yaudah boleh." Setelah Tyas setuju akan ajakan Kaesang tersebut, akhirnya selepas itu mereka pun beranjak menuju ke tempat biang lala tersebut, membayar tiket naik, lalu setelah usai naiklah mereka berdua ke dalam salah satu gerbong di biang lala tersebut.
__ADS_1
Sembari menikmati suasana di malam ini dari dalam biang lala, Tyas pun sempat tersenyum bahagia sembari menatap kearah Kaesang, yang saat ini terlihat tengah menatap kearah langit gelap yang dihiasi begitu banyak bintang.
'Kuharap hari ini gak akan pernah berakhir.' Ucap Tyas dalam hati sembari tatapannya tetap mengarah pada Kaesang.
"Dear, kamu percaya gak sama yang namanya keluarga?" Tanya Kaesang tiba tiba sembari pandangannya tak beralih sedikitpun, dan wajahnya yang semula ceria berubah datar seketika.
"Keluarga?, ya percayalah, emangnya kenapa?, kok nanyanya gitu?" Tanya balik Tyas sembari menatap Kaesang bingung, dan tak mengerti maksud dari ucapannya barusan.
"Sebenarnya aku mau cerita sesuatu sama kamu, tentang keluargaku, tapi gak jadi deh, aku gak mau bebanin kamu." Balas Kaesang sembari menatap balik Tyas lalu tersenyum tipis kearahnya.
"Iya, makasih ya, kamu udah ngertiin aku. Sebenarnya aku memang mau cerita ke kamu sesuatu hal sih, dan itu agak sedikit pribadi, kamu beneran gak papa kan?" Ucap Kaesang sembari menggenggam tangan milik Tyas lembut.
"Iya, cerita aja, gak papa kok, siapa tahu aku bisa kasih solusi buat kamu." Balas Tyas sembari menyentuh lembut pundak Kaesang dengan tangannya yang satu, dan dari sorot matanya, sepertinya kini Kaesang telah mulai percaya dengan Tyas, dan akan segera menceritakan sesuatu yang mengganjal pikirannya tersebut.
Lalu sesaat setelah itu, Kaesang yang telah siap menceritakan problemnya tersebut, kini tengah mengatur nafasnya, dan mulai menceritakan masa lalu nya yang sempat terlintas tadi di pikirannya, ia kini tak lagi menutup nutupi apapun dari Tyas, kecuali satu hal, yang di mana sesuatu hal itu tak mungkin ia ceritakan pada siapapun juga, terutama Tyas. Tapi walaupun begitu Kaesang tetap melanjutkan ceritanya, bahkan perkara perceraian kedua orang tuanya pun di ceritakan olehnya, dan dengan detailnya, ia bahkan sampai berkaca kaca. Dan Tyas yang melihat Kaesang seperti itu, seketika langsung ternyuh, dan terbawa oleh suasana. Ia bahkan langsung menyuruh Kaesang menghentikan ceritanya tersebut jika ia memang tidak bisa melanjutkannya.
"Udah, Kae cukup. Kalau kamu memang gak kuat ceritanya, mending gak usah dilanjutin lagi, seperti kata pepatah, masa lalu biarlah berlalu, dan jadikan itu sebagai kenangan juga sebagai pelajaran hidup, walaupun kedua orang tuamu udah cerai, dan kamu bukan anak kandung ibu kamu, tapi ingatlah, dulu kamu pernah menghabiskan waktu waktu indahmu bersama dengan mereka, kamu pernah dekat dengan mereka, dan menganggap mereka segalanya buat kamu, walaupun kini ibumu tidak ada kabar, dan kamu tak tahu menahu soal ibu kamu, tapi mungkin kamu salah, mungkin disana ibu kamu lagi mikirin kamu, dan ibu kamu sedang dalam keadaan baik baik saja, jadi positif thinking aja, dan aku senang banget, karena dari cerita kamu, kamu masih sayang sama kedua orang tua kamu, beda dari apa yang kamu ungkapin ke aku, kalau katanya kamu udah gak sayang, dan gak respect sama kedua orang tuamu, tapi sekarang udah jelas, kalau kamu memang beneran masih sayang sama mereka." Ucap Tyas sembari menatap Kaesang tulus. Kaesang yang mendengar itu, seketika kaget saat Tyas mengucapkan semua itu padanya, bahkan ia sama sekali tak bisa berkedip, dan tetap membayangkan apa yang Tyas katakan tadi padanya.
__ADS_1
"Dear, aku gak nyangka, kalau kamu beneran mengatakan semua itu setelah dengar cerita aku. Makasih ya, aku benar benar beruntung bisa dapatin perempuan sebaik kamu, makasih kamu udah selalu nasehatin aku, baik sama aku, dan ngertiin aku, tapi, mungkin aku akan mikirin dulu apa yang barusan kamu omongin itu, tapi sekali lagi makasih ya, dear." Balas Kaesang sembari mengeratkan genggaman tangannya itu dengan Tyas, lalu menatapnya sembari tersenyum.
"Iya sama sama, kan gunanya seorang pasangan itu untuk bisa saling mengerti, dan juga memahami. Tapi asal kamu tahu ya, sebenarnya aku tuh nyesel tahu pacaran sama kamu." Sesal Tyas.
"Kok nyesel?, kamu gak bahagia ya pacaran sama aku?, maaf ya kalau seumpama aku kurang bisa bahagiain kamu, atau mungkin aku terlalu cuek ke kamu, tapi kamu tenang aja, aku janji aku bakal jadi lebih baik lagi, oke." Balas Kaesang, dari raut mukanya ia seperti begitu menyesal, dan tak tahu jika saat ini ia hanya dikerjai saja oleh Tyas, malahan Tyas sendiri sudah menahan tawa nya sedari tadi.
"Kae, tenang aja, aku cuma bercanda kok. Lagipula kamu serius banget nanggepinnya. Haha lucu tahu, lihat dari ekspresi kamu itu, aku sama sekali gak bisa nahan ketawa aku." Ucap Tyas sembari tertawa kecil menatap kearah Kaesang, yang Kaesang sendiri justru nampak kesal, dan berbalik menatap Tyas dingin.
"Lucu banget ya, bagus, kamu dah berhasil buat cowok dingin ini terbawa suasana, dan termakan oleh ucapan kamu barusan, bagus, lanjutin aja sampai sukses." Ucap Kaesang sembari menarik tangannya dari Tyas, lalu mulai melipatkan kedua tangannya itu di depan dada, dan menatap Tyas datar.
"Eum sorry ya Kae, aku cuma mau lihat gimana ekspresi muka kamu kalo lagi sebel, dan ternyata lucu juga ya, haha. Ah dah berhenti nih, turun yuk." Selepas mengatakan itu turunlah Tyas juga Kaesang dari biang lala tersebut, sembari berjalan Tyas juga menggandeng tangan Kaesang lembut, walaupun Kaesang sendiri masih sebal karena telah dikerjai olehnya.
"Ah, Kae, pulang yuk, dah malam nih." Ucap Tyas sembari menghentikan langkahnya, lalu berdiri berhadapan dengan Kaesang, dan langsung dilepaskannya pegangan tangannya itu.
"Gak, gak bisa. Sekarang kamu ikut aku." Kaesang yang tanpa aba aba setelah mengatakan itu, langsung menarik Tyas menuju ke suatu tempat, dan tak mengindahkan ajakannya tadi, malahan ia terlihat begitu bersemangat, dan seakan enggan tuk beranjak.
Bersambung.
__ADS_1