Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 65- Kalung berlian putih


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Saat baru menginjakkan kakinya memasuki rumahnya, Agnes yang lumayan lelah sehabis bertemu dengan bos nya tersebut di sebuah cafe, dan merencanakan sesuatu hal dengannya, langsung masuk begitu saja kedalam kamarnya selepas ia menutup kembali pintu rumahnya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, menatap langit langit kamarnya cukup lama, hingga ia pun mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mulai menatap kesal kearah langit langit kamarnya. Ia tengah memikirkan sesuatu hal yang baru saja dikerjakannya ini, sebuah tugas yang membuatnya tak habis pikir, dan juga melongo tak percaya. Selepas selesai membicarakan sesuatu hal dengan bosnya tersebut di sebuah cafe, Agnes pun langsung berjalan pulang dengan memesan sebuah taksi. Sesaat di perjalanan pulang pun, Agnes masih tak habis pikir, kenapa ia sampai dapat sejauh ini melangkah, bahkan dirinya pun ingin sekali kembali ke tempat asalnya di Birmingham, Inggris, tetapi karena sebuah ancaman yang dilontarkan lelaki itu pada dirinya, Agnes pun menjadi luruh lalu menurut saja dengan apa yang diperintahkannya, termasuk meneror orang yang disukainya sendiri.


"Sial kenapa jadi serumit ini sih, ahhh!!" selepas mengumpat kesal, Agnes pun bangkit dari posisi berbaringnya kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar, guna tuk pergi ke kamar mandi, sebab rumah kecilnya ini tak cukup memiliki akses tuk harus ada kamar mandinya sendiri di dalam kamarnya, jadi mau tak mau ia pun harus keluar karena itu.


......................................................


Disisi lain, pesawat yang ditumpangi Indra beserta beberapa kolega nya baru saja lepas landas menuju ke London, dan kemungkinan besar mereka akan tiba di sana malam nanti, atau lebih tepatnya siang hari jika di London. Indra yang duduk di tepi jendela dengan dua orang lain di sebelahnya, dirinya pun bosan dan teringin tuk tertidur, akan tetapi matanya sama sekali tak dapat diajak kompromi, dan dengan begitu ia pun mulai memainkan handphone miliknya yang telah diambilnya dari dalam tas kecilnya, kemudian mulai mencari sebuah nama di layar WhatsApp nya, dirinya hendak mengabari kaesang, putranya tersebut, jika saat ini dirinya telah lepas landas menuju London, tapi seperti biasa, kaesang sama sekali tak mau menjawab telepon darinya jika tak terlalu penting menurutnya, dan melihat itu Indra pun lantas mematikan Panggilan nya tersebut, dan menyimpan kembali handphone miliknya kedalam tas kecilnya itu. Dirinya lantas mulai kembali menyenderkan tubuhnya pada kursi penumpang kemudian mencoba menutup kedua matanya, dan berusaha tuk segera terlelap.


Kaesang yang telah kembali kedalam villanya, dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur di salah satu kamar di villa tersebut, seketika teringat kembali dengan apa yang tadi di bicarakan nya dengan Tyas di telpon. Ia lantas bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian merogoh handphone miliknya dari dalam saku celananya, dan mulai mencari sebuah nomor di kontak WhatsApp nya, lalu menelponnya selepas itu.


Setelah Panggilan dirasa diangkat dari seberang, kaesang pun mulai berbicara datar padanya.


"Halo."


^^^"..."^^^

__ADS_1


"Iya mas, gini saya kaesang yang dulu sempat mesen kalung berlian putih di toko mas sebulan yang lalu, ingat kan,"


^^^"..."^^^


"Gini mas, dulu kan saya pernah bilang kalau saatnya tiba dan pas saya lagi gak ada dirumah, tolong antarkan barang tersebut ketempat pacar saya, mas masih ingat kan, rencananya saya mau minta tolong nih buat antarkan kalung tersebut ke alamat yang hendak saya kirim,"


^^^"..."^^^


"Dan satu lagi mas,..."


"Baiklah mas, terima kasih ya sebelumnya."


^^^"..."^^^


Selepas selesai menelpon dengan seseorang tersebut, senyuman hangat mulai terukir jelas di bibirnya, ia lantas bahagia walau begitu saja, dan juga ada rasa penyesalan, sebab ia tak dapat melakukannya sendiri, dan harus orang lainlah yang melakukannya untuknya, tapi walaupun begitu rasa bahagianya tetap saja tak berkurang sedikitpun, sebab kado spesial tuk orang spesial yang sengaja dipesannya khusus dari jauh jauh hari, dan teruntuk hari esok saja, dimana esok itu adalah hari terindah sekaligus bersejarah untuknya, yang dimana bersatunya dua insan yang saling mencintai, dan dipandangan orang lain mungkin akan terasa aneh bila kita menjalin berhubungan satu sama lain, akan tetapi karena suatu takdir, dirinya beserta si perempuan jadi saling bertemu, dan terikat dalam suatu hubungan yang tak dapat diungkapkan dengan kata kata.


.......................................................

__ADS_1


Di dalam sebuah kantor, di ruangannya, seorang wanita cantik berambut lurus sebahu dengan pakaian khas kantornya, terlihat tengah istirahat sembari memandangi sebuah foto pria di dalam handphone miliknya, ia lantas tersenyum saat melihat senyum pria tersebut di foto, dan ia pun mulai berimajinasi, dimana kapan pertama kali ia bertemu dengan si pria tersebut, dan kini dirinya sampai jatuh cinta karenanya, dan sama sekali tak dapat mengelak. Dirinya teringat oleh momen di kemarin hari, dirinya pun lantas tersenyum, sebab kemarin itu adalah hari terindah di dalam hidupnya, walaupun ia bahagia dapat bermalam dengan sang kekasih, tetapi dirinya tetap saja kecewa sebab kini kesucian yang selama ini dijaganya dengan baik, terenggut begitu saja oleh tindakan mesum sang pacar kemarin hari, tapi walaupun ia kecewa ia sadar jika tak sepenuhnya hal itu adalah kesalahan sang pacar, mengingat ia juga sempat mendesah nikmat karenanya. Ia sempat menutup kedua mukanya menggunakan kedua tangannya, lalu membukanya kembali, dan mulai berucap lirih.


"Indra, kuharap hari hari ini cepat berlalu sayang, dan kita dapat segera bersama hingga tak ada seorangpun yang dapat memisahkan kita." lirihnya sembari tetap memandangi foto sang pacar di layar handphone miliknya, kemudian senyuman hangat langsung terulas begitu saja di bibirnya sesaat selepas ia mengatakan hal tersebut.


..............................................................


Malam pun menjelang, di bawah derasnya hujan, di dalam sebuah villa di puncak, kaesang terlihat meringkuk di bawah tebalnya selimut, dan mencoba terlelap sebab malam tersebut terasa sangatlah dingin hingga menusuk kulit, akan tetapi walaupun begitu dirinya sama sekali tak dapat menutup matanya sedari tadi, ingin bangkit duduk akan tetapi sangatlah dingin tuk dilakukan, akhirnya dirinya pun memutuskan tuk tetap seperti itu sampai akhirnya ia terlelap sendiri. Sesaat ia menyikap sedikit tirai, dan mulai menatap derasnya hujan lewat jendela di kamarnya, dan juga suara petir yang turut mengiringinya, dirinya pun teringat kembali dengan sosok Tyas, ia sama sekali belum menghubunginya lagi setelah percakapan tadi siang, ia tahu jika Tyas tengah sibuk mengurus neneknya di sana, itulah sebabnya kaesang sama sekali tak mau mengganggunya, dan lebih memilih tuk sesekali saja menghubunginya, atau mungkin menunggu Tyas saja yang menelpon, supaya lebih tahu ia tengah sibuk atau tidak.


........................................................


Di dalam ruangannya, Tyas tersentak selepas terbangun, dan melihat adanya dokter Ridwan di sampingnya. Ia nampak tertidur sembari memegang lembut tangannya, bahkan Tyas sempat merasa kasihan padanya, karena melihat jika saat ini dokter Ridwan pasti sangatlah lelah, mengingat ia baru selesai bekerja, dan harus bolak balik kesini tuk menemuinya, ya walaupun itu bukan keinginannya, ia masih merasa tak enak, mengingat dengan semua kebaikan yang dokter Ridwan tunjukkan padanya akhir akhir ini. Merasa tak nyaman Tyas pun lantas melepas pegangan tangan dokter Ridwan tersebut, menatapnya cukup lama, kemudian membiarkannya tuk tetap seperti itu, mengingat ia sama sekali tak tega karena harus membangunkannya dengan posisi tidur pulasnya itu.


"Dokter Ridwan kenapa baik banget sih ke saya, saya gak tahu harus bales pake apa nantinya semua kebaikan dokter ini." lirihnya sembari menatap kearah dokter Ridwan yang tengah tertidur di sebuah kursi di sebelah ranjangnya dengan posisi kepala tergeletak lemas di tepi ranjang.


Selepas cukup dengan dokter Ridwan, Tyas pun mulai menutup matanya kembali, dan mencoba tertidur, ya walaupun kini rasanya sulit sekali tuk tertidur kembali.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2