
Setelah menempuh waktu beberapa menit, sampailah Kaesang tepat di depan rumah Tyas. Setelah sampai, dan melihat rumah Tyas yang masih tertutup, turunlah Kaesang dari mobilnya dan berjalan memasuki halaman depan Tyas yang lumayan asri.
Tok ... Tok ... Tok ...
melihat pintu itu yang masih tertutup rapat, tersenyumlah Kaesang, ia menduga jika Tyas pastilah masih tertidur. namun saat ia mengetuk pintu itu tiga kali, ia tersentak disaat melihat pintu itu terbuka dari dalam.
"Loh, Kae, tumben kamu udah sampai di sini? biasanya kan kalo nggak ku chat kamu gabakal berangkat. Ini aku kaget loh lihat kamu udah rapi begini." ujar Tyas seraya menutup mulutnya karena kaget. tentu saja ia kaget, karena biasanya jika Kaesang itu menjemput Tyas, sebelumnya Tyas pasti telah menghubunginya untuk menyuruhnya menjemput. Namun kali ini berbeda, sebelum Tyas memberinya pesan, Kaesang sudah berdiri anteng di depan rumahnya.
"Aku kan pengen jemput pacarku masa gaboleh sih? lagian ini kan mumpung aku gabut di rumah makanya aku berangkat lebih awal, yuk berangkat, kamu udah siap kan?" melihat Tyas yang memang telah rapi membuat Kaesang menyunggingkan senyumnya.
memang Tyas telah rapi dengan baju seragam keguruannya, dandan dan bersiap pun sudah, tapi satu hal yang belum di lakukannya, Yap .. dia belum sarapan.
"Bentar lagi ya Kae, aku belum sarapan nih, laper." ujar Tyas seraya tersenyum.
Tangannya yang terus mengusap perutnya dan senyumnya yang juga tersungging, sontak membuat Kaesang menggelengkan kepalanya. rasanya masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah, tapi itulah yang Kaesang alami, ia terlalu malas berada di rumah karena suatu hal, dan hal itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. rasa kesal dalam dadanya menyeruak begitu saja, rasa nikmat karena Kaesang paham akan hal seperti itu, dan juga marah mengetahui bahwa papanya telah melakukan hal seperti itu sebelum menikah.
"Ahhh, kenapa suara-suara itu terus terngiang-ngiang di kepalaku? Dan satu hal lagi, kenapa mereka tak memasang pengedap ruangan saat akan melakukannya, sepantasnya sebagai orang tua, papa memasang pengedap ruangan agar suara mereka tidak melebar kemana mana, ditambah lagi Tante Lisa tadi kenapa mendatangiku hanya mengenakan bajunya saja, apa dia tidak berpikir tentangku, aku kan manusia normal, melihat penampilannya seperti itu tentu saja membuatku tak nyaman." pikir Kaesang saat itu.
"Aish, membuatku kesal saja." batin Kaesang dengan tangannya yang mulai mengepal kuat di bawah sana.
"Ekhm, Kae?" suara Tyas membuat Kaesang menatap kearahnya dan mendapati sebuah wajah cantik milik Tyas tengah menatap kearahnya dengan bingung.
__ADS_1
"iya dear, kenapa?" balas Kaesang sedikit gugup. Tyas mulai tersenyum dan menarik lengan Kaesang tuk masuk ke rumahnya.
"Daripada bengong mending makan dulu yuk, aku dah masak banyak nih." ucap Tyas sembari menuntun Kaesang tuk duduk di meja makan di rumahnya. Di sana Kaesang melihat ada sebaskom nasi dan beberapa piring makanan yang masih mengeluarkan asap. Hump, baru matang ya rupanya?
Mata Kaesang terus memandang kearah banyaknya makanan di hadapannya, ada sayur mayur, ayam kecap dan tentu saja sup. Dari banyaknya makanan itu, Kaesang tak menjumpai adanya seafood, ia justru di manjakan oleh semangkuk sup yang isinya tidak ia ketahui apa.
"Dear, ini tumben kamu masaknya banyak banget, ada acara apa nih?" tanya Kaesang sembari matanya tetap pada banyaknya makanan di hadapannya.
tiba-tiba saja wajah Tyas terlihat sedih dan murung. ada apa? apakah ada suatu hal yang terjadi sebelum Kaesang kemari? "Nggak ada apa apa Kae, aku cuma iseng aja kok, pengen masak banyak gini, ehm yuk makan, kamu pasti belum makan kan di rumah?"
wajah Tyas yang semula terlihat sedih kini kembali tersenyum, senyum yang dipaksakan. kenapa? apa yang Tyas pikirkan? Kaesang mengerutkan kening menatap wajah Tyas yang semula sedih perlahan kembali tersenyum. seolah mengerti dengan apa yang Kaesang pikirkan, Tyas menatap wajah Kaesang dalam dan menghela nafas sebelum memulai ceritanya.
"itu karena aku teringat dengan kedua orang tuaku di saat aku makan denganmu saat ini, awalnya aku masak banyak seperti ini karena aku memang hobi memasak, aku sengaja masak banyak seperti ini agar nanti saat makan malam aku tidak usah masak lagi, tapi melihatmu duduk di meja makan bersamaku membuatku merasa sedih sekaligus senang. Aku senang karena makan denganmu seperti ini seperti memiliki keluarga dan teman di saat sehari harinya aku selalu sendiri, tapi aku sedih saat melihatmu seperti ini aku teringat kedua orang tuaku, apalagi ayahku begitu persis sepertimu, dia selalu menatap makanannya begitu lama sebelum mulai makan." ucapan Tyas membuat Kaesang terhenyak.
"Dear .." panggil Kaesang lembut.
"Ehm, Kae, yuk mulai makan, aku ambilin ya, kamu mau apa?" ucapan Tyas barusan membuat Kaesang terdiam dan menatap dalam kearahnya.
"Terserah kamu dear, aku apa aja boleh." balas Kaesang masih dengan ekspresi yang sama.
......................
__ADS_1
seorang lelaki paruh baya dengan pandangan tajam menatap seorang pria muda di depannya dengan senyuman sinis di bibirnya. tangan kanannya masih memegang erat sebuah pisau lipat kecil berlumuran darah. tanpa rasa kasihan, ia mulai mendekatkan pisau itu ke pipi pria muda tadi dan menusuknya sedikit kuat. senyumannya semakin lebar dan akhirnya ia terbahak sendiri.
Ia lalu beranjak berdiri dari bangkunya dan tetap menatap tajam ke arah pria muda itu.
"Jika kau masih ingin hidup dan kembali pada keluargamu, tolong tinggalkan perusahaan Indra dan bergabunglah ke perusahaanku." ucap tegas lelaki paruh baya itu.
pria muda itu meneteskan air matanya dan menghentakkan kakinya ke lantai berulang kali. tak lama, pria paruh baya tadi kembali duduk di bangkunya dan tetap menatap tajam kepada pria muda itu.
"Ku mohon kasihanilah aku, aku hanyalah orang biasa, perusahaanku kecil dan keluargaku juga sangat mengharapkanku, jika aku mati siapa yang akan menafkahi mereka nanti? kumohon jangan bunuh aku, aku berjanji akan menuruti perintahmu, aku akan meninggalkan perusahaan Indra dan bergabung ke perusahaanmu." ucap pria muda itu sembari menahan isak tangisnya dan perih yang di rasakannya di pipi kanannya yang terus mengeluarkan darah segar karena tusukan pisau tadi.
"Hahaha, ternyata kau masih sayang dengan nyawamu, bagus. sekarang aku melepaskanmu tapi kau harus tetap setia denganku, patuh dan mengajak teman temanmu bergabung di perusahaanku. Jika kau sampai menghianatiku dan kembali kepada Indra, kujamin hidupmu akan segera berakhir, bukan hanya hidupmu tapi keluargamu juga. bahkan jika kau sampai gagal membujuk teman-temanmu untuk bergabung di perusahaanku, awas saja aku akan membuat hidupmu menderita, ingat itu baik baik." ucap pria paruh baya itu begitu tajam dan kejam. Matanya tetap menatap tajam pria muda itu dan tangannya yang tetap menggenggam pisau lipat berlumuran darah.
"Baik, aku akan tetap setia denganmu, aku akan membujuk semua temanku yang bekerja sama di perusahaan Indra tuk bekerja sama denganmu. Aku akan membujuk mereka sedemikian rupa dan dengan berbagai cara, aku akan membuat mereka semua meninggalkan Indra dan bergabung di Perusahaanmu, aku janji, jadi aku sudah boleh pulang, kan, kumohon, anakku pasti sudah mencariku sekarang." balas pria muda itu seraya merengek dan meneteskan air matanya saking sedihnya.
"semua janji janjimu sudah ku tulis di kepalaku, jadi jika kau menghianatiku, dan kembali kepada Indra awas saja, nyawamu dan keluargamu melayang. Sudah, kau pergi saja, aku melepaskanmu." setelah mendengar kata kata pria paruh baya itu dan ikatan di tangannya yang telah terlepas, sontak membuat pria muda itu bernapas lega dan lari tunggang langgang dari sana.
Setelah kepergian pria muda tadi, tak juga membuat pria paruh baya itu beranjak dari tempatnya. Ia tetap berdiri di tempatnya dan memandang lurus ke depan. Tatapannya dalam dan tajam di barengi senyuman yang juga tersungging di bibirnya.
"sekarang kau mungkin masih memiliki segalanya, Indra. perusahaan yang begitu besar dan anak yang juga tampan. Mungkin perusahaanmu masih yang nomor satu sekarang, tapi tak lama lagi aku akan mengambil semua yang ada padamu. aku akan merebut semua rekan kerjamu, dan membuat mereka bekerja sama dengan perusahaanku. Aku akan mengikis kekayaanmu sedikit demi sedikit, dan menggantinya dengan kehancuran. Tenang saja Indra, semua rencanaku itu sudah kususun dengan baik, jadi tunggu saja, tak lama lagi kau akan menangis darah, ditambah lagi aku akan segera merebut harta yang paling berharga dihidupmu, aku akan merebut anakmu dan membuatmu pria paling sengsara di dunia ini." ucap pria paruh baya itu santai namun tetap menatap tajam kedepan.
Bersambung ...
__ADS_1