
Kelanjutan dari episode kemarin...
Kaesang yang masih berada di taman tersebut sembari tetap mencoba menghubungi Tyas, seketika tersentak sesaat setelah seorang anak memanggilnya,
"Hey, sang, disini Lo rupanya, gue cariin juga." Panggil seorang anak lelaki, teman sekelasnya, sembari berlari kearahnya.
"Kenapa?" Tanyanya cuek.
"Dicariin tuh sama Bu kepala sekolah, suruh cepetan ke ruangannya." Jawab anak tersebut.
"Yaudah ntar gua kesana, thank udah kasih info." Ucap Kaesang sembari memasang muka datarnya.
"Oke, yaudah kalau gitu gue balik ke kelas dulu." Pamit lelaki tersebut.
Setelah anak tersebut pergi, barulah Kaesang pun ikut berdiri, dan hendak menuju ke ruang kepala sekolah seperti yang diberitahukan anak tadi kepadanya, tapi ia masih tak mengerti kenapa ia sampai dipanggil seperti itu.
Disisi lain, Tyas yang baru sampai di halaman depan rumahnya, seketika kepalanya merasa sangat pusing, bahkan hendak keluar pun rasanya tak sanggup.
"Neng, gak papa?, mau saya bantu?" Tanya sang supir sembari menoleh pada Tyas yang saat ini tengah memegangi kepalanya yang sakit dengan sebelah tangannya.
"Makasih pak, tapi saya baik baik saja kok. ini pak," Jawab Tyas, setelah berucap demikian, Tyas pun buru buru membayar biaya taksi tersebut, kemudian turunlah ia dengan sempoyongan.
'Apa kambuh lagi ya, haduh, pusing banget lagi kepalaku.' Ucap Tyas bertanya tanya sembari membuka pintu rumahnya masih dengan sempoyongan.
__ADS_1
...........................................
...TOK..TOK..TOK.....
"Misi, Bu," Ucap Kaesang sembari mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan jari telunjuknya.
"Masuk."
Setelah diijinkan masuk, maka tanpa berlama-lama lagi Kaesang pun buru buru untuk masuk ke ruangan tersebut, dan menanyakan maksud Bu kepala sekolah memanggilnya.
"Ibu, manggil saya?" Tanya Kaesang sopan pada ibu kepala sekolah di hadapannya, yang saat ini terlihat tengah sibuk mendata sesuatu, dan langsung dihentikannya kegiatannya itu sesaat setelah Kaesang memanggilnya.
"Duduk." Suruh Bu kepala sekolah tersebut pada Kaesang, tanpa berani berkata apapun, Kaesang pun langsung duduk di kursi kosong di hadapan ibu kepala sekolah tersebut, dan menatap datar padanya.
"Saya ada salah apa ya, Bu? kok ibu manggil saya?" Tanya dingin Kaesang, masih dengan muka datarnya.
"Saya tidak bisa terima ini, makasih lebih baik ibu sumbangkan saja pada yang membutuhkan. Permisi." Setelah penolakannya barusan, Kaesang pun memutuskan untuk keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut, kemudian melenggang pergi entah kemana.
"Anak itu, tetap saja sama.." Ucap sendiri ibu kepala sekolah tersebut, sembari memandangi punggung Kaesang yang perlahan mulai menjauh darinya.
....................................
Dilain sisi, Indra, papa dari Kaesang tersebut terlihat tengah minum minum di sebuah bar dengan beberapa rekannya. Ia bahkan telah begitu mabuk, dan ingin menyudahi acara minum minum nya tersebut tapi berhasil di gagalkan oleh para rekannya tersebut, yang tetap memaksanya untuk tetap minum minum, malahan mereka memesan 4 gelas lagi, sungguh gila.
__ADS_1
Sesaat setelah itu, seorang gadis cantik berpakaian minim pun datang sembari membawa sebuah nampan berisi pesanan yang mereka pesan barusan. Sesaat setelah gadis itu menyajikan minuman tersebut pada mereka sembari tersenyum manis, Indra yang notabenenya sudah mabuk berat pun tanpa berkata kata langsung memegang lembut lengan gadis tersebut, kemudian menariknya kedalam pelukannya. Saat mengetahui itu, para rekannya pun seakan mengerti, dan pergi menjauh dari mereka, dan membiarkan Indra melakukan apapun yang diinginkannya tersebut pada gadis itu.
Tanpa perlawanan sedikitpun, sang gadis pun seakan tergoda, dan menikmati suasana ini. Ia bahkan memberikan senyuman manja, serta menggoda Indra dengan rayuan mautnya. Indra pun berbalik senyum pada gadis tersebut yang terlihat tengah duduk manja di pahanya, dan melingkarkan tangannya di leher Indra. Tanpa aba aba, Indra pun langsung mencium manja gadis tersebut kurang lebih dua menitan lamanya. Dan para rekan rekannya yang melihat itu pun langsung bersorak, dan tak percaya, jika Indra akan melakukan itu. Lalu salah satu dari mereka pun memvideo kejadian itu secara diam diam, kemudian mengirimnya pada seseorang, dan sesaat setelah itu tersenyum miring lah ia, kemudian langsung menyimpan kembali handphonenya itu kedalam saku celananya, dan bersikap seolah tak melakukan apa apa.
'Mampus Lo Indra, bentar lagi Lo pasti bakalan hancur.' Ucap salah seorang dari mereka dalam hati sembari tersenyum miring menatap kearah Indra yang masih melakukan kegiatannya itu dengan gadis pembawa minuman tadi.
"Argh, sakit om, jangan digigit." Ucap manja gadis tersebut.
"Iya sayang, sorry, okay." Bukannya menyudahi kegiatannya itu, Indra justru melakukannya lagi, malahan kini ia lebih ganas melakukannya, lalu salah seorang temannya pun datang, dan menegurnya, lalu mengajaknya pulang. Sembari meracau tak jelas karena mabuk, Indra justru memarahi temannya itu karena telah mengganggunya, tapi di diamkan saja oleh temannya itu, kemudian melangkah keluarlah ia beserta semua rekannya dari bar tersebut.
...Selang beberapa saat kemudian......
Kaesang yang saat ini tengah berjalan pulang dengan mengendarai Lamborghini putih miliknya, seketika ia pun teringat kembali dengan Tyas, dan memutuskan untuk menengok Tyas ke rumahnya, siapa tahu ia ada dirumah.
Tapi sesampainya ia di halaman depan rumah milik Tyas, kosong, dan nampak sepi, ia pun langsung berpikir, apakah Tyas memang benar benar ada di rumah, tapi ini sepi banget?!
Tanpa berkata kata lagi, Kaesang pun mulai melangkahkan kakinya menuju rumah Tyas, dan langsung diketuklah pintu kayu tersebut, sembari memanggil manggil namanya, tapi tak ada satupun jawaban dari dalam, kemudian diliriklah oleh Kaesang isi dari rumah Tyas itu lewat jendela, tapi kosong, dan nampak gelap. Ia pun berpikir, jika Tyas tak ada di rumah, lalu dimana dia sekarang?
Setelah merasa putus asa, Kaesang pun memutuskan untuk pulang saja, dikarenakan ia tak dapat menemukan sosok Tyas itu dimanapun, tapi sekembalinya Kaesang dari rumah Tyas, ia pun berharap semoga esok, ia dapat berjumpa kembali dengan wanita tersebut.
Setelah memasuki mobilnya kembali, ia pun segera menyetater mobilnya, kemudian tancap gaslah ia dari sana, dengan perasaan sedih sebab ia tak dapat menemukan Tyas di manapun, tapi sebelum ia pergi dari sana, ia lirik sebentar rumah Tyas tersebut, kemudian melajulah ia dari sana.
...Selang beberapa saat kemudian......
__ADS_1
Saat sesampainya ia di halaman depan rumahnya, ia pun kembali di kejutkan dengan sebuah kotak berukuran sedang yang tergeletak tak bertuan di depan pintu rumahnya, Tanpa berlama-lama lagi segera dipungutnya kotak tersebut, dan langsung masuklah ia kedalam rumahnya.
Bersambung.