Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 77- Masa lalu Zora 2


__ADS_3

...Kelanjutan dari episode kemarin......


Beberapa Minggu setelah hari dimana Sandra mendatangi Zora, dan juga mengancamnya. Kini di taman belakang sekolah mereka, di sebuah bangku di pojok taman, duduklah Wisnu dengan Zora yang duduk tepat di sebelahnya seraya menyenderkan kepalanya di bahu bidang Wisnu.


Mereka yang sebentar lagi akan lulus, sebisa mungkin untuk selalu bersama, dan mengukir kenangan kenangan indah sebelum akhirnya lulus, dan Wisnu yang akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Berat memang tapi inilah satu satunya pilihan yang harus Wisnu lakukan terlepas dari keinginannya untuk berkuliah di sini mengingat ingin selalu dekat dengan sang pacar. Tapi sebuah alasan tertentu membuatnya harus patuh pada sang ayah untuk berkuliah di luar negeri sesuai keinginannya. Ya, bahkan hingga kini pun Wisnu belum menceritakan apapun pada Zora mengenai kuliahnya ini. Ia tak ingin Zora sedih dan kepikiran.


Karena terlalu lama terdiam, dan tak ada sepatah katapun yang terucap di bibir keduanya. Zora yang bosan pun mulai mengangkat kepalanya, dan menatap lekat Wisnu di sebelahnya.


"Sayang, kamu kenapa sih? kok aku perhatiin dari tadi diem Mulu. Kenapa, ada masalah lagi ya sama papa kamu? Karena yang Zora tahu Wisnu memang tak begitu akur dengan sang ayah, juga percekcokannya beberapa hari lalu, membuat dirinya menduga jika diam Wisnu ini pasti ada hubungannya dengan sang ayah, dan Zora sudah yakin itu.


Wisnu yang sedari tadi terdiam seraya melamun mulai tersentak manakala tangan Zora menepuk lembut pundaknya dan membuatnya tersadar detik itu juga. Pemandangan pertama yang dilihatnya sesaat tersadar adalah tatapan bingung sekaligus khawatir dari Zora yang ditujukan padanya, juga manik matanya yang menyiratkan kecemasan.


"A-ah, enggak kok yang. Mungkin perasaan kamu aja kali, aku baik baik aja kok beneran." Mencoba menutupi rasa gugupnya Wisnu pun tersenyum seraya meraih tangan Zora dan menggenggamnya.


Zora yang mengetahui jika Wisnu sempat berbohong mulai mengernyitkan keningnya seraya menatap tak percaya padanya.


"Oh, hm. Ayang, aku baru ingat deh, kemarin aku sempat cerita ke kamu soal kampus impian aku kan, nah kemarin itu aku cerita ke ayah ibu aku, dan katanya mereka setuju setuju aja asalkan akunya serius. Trus kamu, ehm gimana yang, jadi kan susulin aku kuliah di sana juga?" Saat Zora menanyakan perihal kampus, Wisnu semakin tak dapat berpikir. Ia bingung dengan keputusan apa, dan kata kata apa yang akan ia ucapkan pada Zora. Sebab melihat senyuman manis Zora semakin membuat Wisnu tak enak hati tuk memberitahukan padanya jika ia takkan berkuliah dengannya kali ini, atau mungkin tak bersamanya dalam waktu yang lama.


"Aku belum tahu yang. Belum bilang ke papa mama soalnya. Habis mereka sibuk terus, jadi aku tunggu waktu senggang mereka baru bisa ngomong. Hm, sabar ya. lagian kita lulusnya juga masih sedikit lama, santai aja dulu sayang, nikmati masa masa terakhir kita di SMA ini, oke." Berbohong dan berbohong. lagi lagi kata kata bohong yang Wisnu ucapkan pada Zora jika dirinya menanyakan soal kampus, dan semacamnya. Sebab Wisnu sendiri sudah pernah sekali memberitahukan perihal ini pada kedua orang tuanya tapi sikap keras orang tuanya itu membuat Wisnu tak dapat berbuat banyak selain mengikuti kemauan mereka sebab mereka sudah merencanakan kuliah Wisnu ini dari lama, dan sama sekali tak dapat dibantah.

__ADS_1


Zora yang mendengar jawaban tak sesuai dari mulut Wisnu lantas mengangguk mengiyakan seraya meletakkan kepalanya kembali di pundak Wisnu.


Hari berjalan begitu cepat, kini di bawah sinar matahari terik nampaklah wisnu yang tengah diperjalanan pulang ke rumahnya. Ia yang telah lebih dulu mengantarkan zora pulang, dan membelikan martabak untuk sang adik di kios sebelah rumah Zora, sekarang tengah berada di antara puluhan kendaraan yang tengah berhenti di suatu jalanan karena macet melanda. Hampir dua menit berlalu tapi macet tak kunjung mereda, kini di dalam sebuah mobil sport silver miliknya Wisnu nampak merebahkan kepalanya pada bantalan tempat duduk di belakangnya. ia mulai memutar musik dari YouTube di mobilnya seraya menatap suasana macet di hadapannya.


Suasananya sedikit gerah dan ramai oleh klakson yang berbunyi dari beberapa kendaraan yang juga terjebak macet bersamanya. Berulang kali ia juga menekan klakson mobilnya dengan maksud supaya kendaraan di hadapannya cepat melaju dan kemacetan pun mereda. Tapi di keadaan yang sudah gerah ditambah semakin gerah manakala handphone miliknya berdering dengan begitu keras, ia merogoh nya dari saku celana seragamnya lantas membuka, dan mendapati ada dua panggilan tak terjawab atas nama mama. Ia menscroll handphone bermerk iPhone tersebut, memasukkan password nya lalu menekan notifikasi panggilan itu, dan mulai menghubunginya kembali.


Saat telepon mulai terhubungkan Wisnu pun menarik nafas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Halo, Ma."


^^^"Halo wis, kamu dimana sayang, papa sama Mama mau ngomong penting sama kamu."^^^


Dengan muka malas, dan tatapan datarnya Wisnu pun kembali bersuara,,


"Mau ngomongin apa lagi sih ma, mau bahas soal kampus lagi? kan kemarin Wisnu dah bilang kalau Wisnu setuju. Terus sekarang kenapa kalian mau bahas itu lagi. Wisnu capek ma, bentar lagi mau ujian."


"Iya."


Bertepatan dengan sambungan telepon yang terputus tanpa ia sadari ternyata kemacetan yang telah berlangsung beberapa menit itupun akhirnya mereda. Buktinya banyak Kendaraan yang telah melaju dari depan dan samping kanan kiri mobilnya.


Dan ia yang menyadari itu segera melajukan mobilnya kembali. Ia sempat bingung, haruskah ia kembali kerumah sekarang, sebab ada perasaan tak enak saat sang ibunda menelponnya tadi dan menyuruhnya pulang terlebih sang ibunda juga tak menyebutkan satu pun alasan mengapa ia menelpon.

__ADS_1


......................


Di lain tempat, Di dalam sebuah kamar seorang Fangirl nampaklah Zora yang tengah duduk di hadapan meja riasnya seraya membaluri pipinya dengan sebuah foundation. Ia yang baru saja selesai mandi, dan kondisi rambutnya yang juga basah. Memperlihatkan betapa sexy dan cutenya seorang Zora. Berulang kali ia bergaya ala Selfi seraya tersenyum manja dihadapan cermin besarnya itu.


Disaat ia bersiap akan membaluri pipinya dengan bedak tiba tiba terdengarlah suara ketukan dari arah luar pintu kamarnya. Terdengar normal dan beraturan. Awalnya Zora membiarkannya, tapi saat mendengar jika sang ibu yang mengetuk, Zora pun lantas bangkit dari duduknya dan membukakan pintu kamarnya tersebut.


Sesaat pintu terbuka, nampaklah sang ibu tengah berdiri di ambang pintu kamarnya, dan


menatap datar padanya. Tangannya saling bertautan satu sama lain, dan kedua netra hitamnya yang seolah mengintimidasi.


Dengan Tangan tergantung lemas, dan sorot matanya yang menyorotkan kemalasan, Zora pun bersuara,,


"Kenapa bu?"


Saat mendengar pertanyaan Zora, Mayang atau ibu dari Zora tersebut lantas menghela nafas, dan tersenyum,,


"Ke depan yuk, papa mau ngomong."


Selepas itu tak ada obrolan lagi yang tercipta, dan tanpa aba aba Mayang lantas menarik lengan Zora begitu saja. Ia nampak diarahkan ke ruang tamu, dan saat langkah mereka tak jauh dari ruang tamu, nampaklah sang ayah tengah duduk di suatu sofa seraya memegang sebuah buku kecil di tangannya.

__ADS_1


"Kok kayak kenal ya sama bukunya?" Gumamnya lirih nyaris tak terdengar.


Bersambung.


__ADS_2