Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 132 -Celine dan kekuasaannya


__ADS_3

"Ehm, dear?" panggil Kaesang seraya menelan makanan di mulutnya dan meraih segelas air di hadapannya.


Tyas yang semula tengah menyendok makanannya dan bersiap akan memasukkannya ke dalam mulutnya tetiba saja membatalkan rencananya itu di saat Kaesang yang tiba-tiba saja memanggilnya. Raut mukanya terlihat serius namun mulai tersenyum di saat Tyas mulai menatap kearahnya.


"Iya Kae, kenapa, kurang ya makanannya, mau ku ambilin lagi?" tanya Tyas.


Kaesang yang melihat respon Tyas seperti itu sontak langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Dear, aku udah kenyang kok, makasih ya untuk makanannya." balas Kaesang sembari tetap tersenyum.


"sama-sama, Kae, btw kalo mau ambil lagi nggak papa, ambil aja, masih banyak juga kok ini." balas Tyas seraya mengalihkan atensinya kearah makanan di piringnya dan mulai menyendok makanannya itu.


Mengetahui kepandaian Tyas dalam memasak dan hatinya yang begitu baik sontak membuat Kaesang begitu bahagia. Ia bersyukur bisa memiliki pacar seperti Tyas dan wanita hebat sepertinya. Karena Kaesang kira dengan ia berpacaran dengan seorang Guru hubungannya nanti akan terasa hambar, hidupnya akan tetap sunyi seperti dulu-dulu, namun ternyata beda. Tyas bukanlah Guru seperti kebanyakan, yang sifatnya tegas dan sangat dewasa, ia begitu ramah dan baik pada Kaesang, sifatnya begitu positif dan kadang juga bisa seperti anak kecil bila bersama Kaesang.


"Makasih dear, btw nanti malam keluar yuk, dinner di beach resto." ajakan Kaesang saat ini berhasil membuat Tyas tersentak dan langsung mengalihkan atensinya kearah Kaesang.


"Beach resto? bukannya itu resto terbuka yang ada di pantai helium? kita makan di sana emang gak dingin, ini malam-malam loh masak kamu ngajak aku dinner di sana sih, yang lain aja kenapa." tolakan Tyas sontak membuat Kaesang berpikir, jika makan di sana malam-malam apa tidak dingin, lagian ombak di pantai helium itu tergolong sangat besar, angin juga sedikit kencang bila ombak tengah pasang, jadi bagaimana? mencari tempat makan lain atau justru tidak jadi?


"Iya juga ya dear, aku lupa jika ombak di sana juga sedikit besar kalo pasang, ehm kita makan di tempat biasa kita makan gimana, di resto favorit aku?" setelah berpikir sejenak dan mencari tempat mana yang akan digunakannya tuk dinner nanti malam Kaesang pun akhirnya memutuskan untuk makan saja di resto favoritnya di jalan Flamboyan, resto yang sering kali di kunjunginya dan menjadi daftar list resto favoritnya di Jakarta, Kaesang sering kali kesana bersama sang ayah bila moodnya sedang membaik.


Setelah mendengar tawaran Kaesang tuk makan di resto favoritnya Tyas pun langsung mengulas senyumnya, sembari menyendokkan makanan ke mulutnya ia pun menganggukkan kepalanya dan masih tetap tersenyum.


"Iya boleh, ngomong-ngomong jam berapa ntar kita dinnernya?" tanya Tyas setelah ia menelan makanan di mulutnya dan mengusap mulutnya yang kotor menggunakan tisu.


"ehm, setelah Maghrib gimana, kamu bisa?" waktu yang bagus, di jam jam seperti itu Tyas sudah tidak ada kerjaan, ia hanya memasak untuknya sendiri dan beranjak sholat Maghrib di dalam kamarnya, namun karena Kaesang mengajaknya dinner ia pun jadi tidak perlu memasak, kebutuhan perutnya telah terjamin di waktu dinnernya itu.

__ADS_1


Sembari membereskan piring kotornya dan Kaesang, Tyas pun beranjak pergi ke bak cuci piring tuk meletakkan dua piring kotor itu, ia hanya meletakkannya saja karena jika ia harus mencuci piring dahulu bisa-bisa ia dan Kaesang akan terlambat untuk ke sekolah.


"Bisa Kae, bisa. di jam jam segitu aku udah lumayan longgar, jadi kalo untuk dinner ya bisalah, ehm Kae, kita segera berangkat yuk, jam sudah menunjukkan pukul enam lebih nih, matahari juga semakin terik." ujar Tyas seraya berjalan ke meja makan dan menutup makanan yang sisa itu menggunakan tudung saji.


Kaesang yang mendengar ucapan Tyas segera mengalihkan atensinya kearah jam tangan di lengannya, ia pun menganggukkan kepalanya sesaat ia mendapati bila ucapan Tyas tadi memang benar adanya.


"Yaudah dear, kamu ambil tas kamu ya, aku tunggu di luar." setelah melihat jawaban iya dari Tyas, keluarlah Kaesang dari rumah Tyas itu, ia berhenti tepat di depan pintu dan sembari menunggu Tyas mengambil barang-barangnya Kaesang pun membuka ponselnya dan memainkannya sebentar.


......................


Hari yang melelahkan, lebih tepatnya pikirannya yang lelah. lelah dan stress dengan keputusan perihal perjodohannya dengan Kaesang, ia yang awalnya senang karena akan dijodohkan dengan teman masa kecilnya sontak menjadi begitu marah setelah tau jika perjodohan itu dibatalkan begitu saja.


Namun bukan Celine namanya jika ia hanya pasrah dengan keputusan itu, awalnya memang ia sedih dengan keputusan mendadak itu, namun setelah tau apa alasan di balik pembatalan perjodohan itu Celine pun langsung bertindak, ia dengan segala kecerdikannya segera membereskan alasan di balik pembatalan perjodohannya itu. Ia dengan kekuasaannya itu segera mengabari anak buahnya di jakarta tuk menyelesaikan masalahnya dan menuntaskannya sesegera mungkin.


Tut ... Tut ... Tut ... (suara dering ponsel)


Awalnya ia akan berkata kasar namun setelah tau siapa yang menelpon, Celine pun mengurungkan kata-kata kasarnya itu, sembari duduk bersandar di headboard tempat tidur diangkatnya panggilan itu.


"Halo, gimana dimana, udah beres?" muka Celine terlihat begitu dingin sesaat mengangkat panggilan itu, matanya menatap begitu tajam ke depan dan satu tangannya yang terlihat mengepal kuat di bawah sana.


^^^"...."^^^


"Buat dia membatalkan keputusannya bagaimanapun caranya, jika dengan cara halus tidak bisa pakai cara kasar, kemarin sudah kuberi tau cara caranya kan, buat dia jera dengan cara itu. Waktu kalian tinggal malam ini, jadi jika sampai besok kalian tidak bisa membuatnya membatalkan keputusannya, habisi saja dia."


^^^"...."^^^

__ADS_1


"oke, kutunggu hasilnya nanti malam."


Tut... Tut ... Tut ...


Setelah memutus panggilannya dan menaruh kembali ponselnya di atas nakas, turunlah Celine dari atas ranjangnya, dengan muka malas dan tenaganya yang masih belum terkumpul beranjaklah ia menuju ke kamar mandi di kamarnya.


"Kaesang harus jadi milikku bagaimana pun caranya, mau itu dengan cara halus atau dengan cara kasar sekalipun aku nggak peduli. Intinya Kaesang harus jadi milikku, dia tercipta hanyalah untukku, untuk menjadi suamiku." ucap Celine di saat dirinya telah berada di dalam kamar mandi dan tengah berdiri di depan cermin.


......................


"Mas, aku pulang dulu ya, kamu hati-hati di rumah." setelah menyelesaikan dua ronde, keduanya pun menyudahi permainan mereka, Indra dan Lisa sama-sama berkeringat dan begitu lelah, bahkan milik Lisa saja masih terasa ngilu sampai sekarang.


Yap, setelah permainan itu selesai, Lisa pun berniat akan pulang, selain karena memang sudah siang hari ini ia kedapatan shif pagi dalam pekerjaannya, ia mulai bekerja di cafe sebagai kasir, awalnya Indra begitu melarang Lisa sesaat ia mengatakan jika ia berniat untuk bekerja, namun karena keputusan Lisa sudah bulat dan penuh pertimbangan, Indra pun tak bisa mengatakan apapun selain mendukung keputusan Lisa itu. Indra membolehkannya bekerja asal tidak terlalu keras, Indra tau niat Lisa itu baik tapi Indra tak ingin jika calon istrinya itu sampai kelelahan, memang pekerjaan Lisa itu tak terlalu berat, tapi jika dia harus berdiri dalam waktu yang lama bukankah badannya juga akan terasa lelah, terlebih karena keputusan Lisa untuk bekerja itu, dia dan Lisa jadi jarang untuk bertemu, karena jam kerja Lisa itu tidak menentu, kadang ia dapat shif pagi, kadang siang atau mungkin saja malam, dan karena hal itu Indra jadi merasa begitu rindu dengan Lisa, ia bahkan sudah mengatakan pada Lisa untuk tidak perlu bekerja, karena segala kebutuhannya akan dipenuhi oleh Indra, namun Lisa tetap kekeh dengan keputusannya untuk bekerja, dia mengatakan jika dia sangat menyukai pekerjaan, kerja keras dan juga kesibukan, tapi Indra tak senang, mengetahui Lisa akan bekerja ia merasa kesepian, namun sebagai pacar yang baik Indra tetaplah mendukung keputusan Lisa itu, ia menyemangatinya dan memberinya begitu banyak cinta sebelum Lisa berangkat kerja.


"iya sayang, kamu juga hati-hati ya selama di cafe nanti, jaga kesehatan dan jangan capek-capek, kalau merasa capek mending kamu istirahat, dan telpon aku, ntar aku sembuhin rasa capek kamu." mendengar Indra mengatakannya sembari tersenyum tentu membuat Lisa tersenyum pula, dengan malu-malu mendekatlah ia kepada Indra dan di peluknya tubuh itu begitu erat.


"Bisa aja kamu mas, yaudah aku pulang ya." ucap Lisa seraya mengurai pelukannya.


"Kuanterin aja ya biar kamu cepet sampai di rumah dan biar gak telat sampai di cafe." tawar Indra.


"Nggak usah mas, kamu kan habis ini harus bekerja, aku bisa pulang sendiri kok, lagian rumahku kan jauh, aku nggak mau ngrepotin kamu, yaudah mas aku pulang ya." sehabis mengatakan itu Lisa pun membalikkan badannya dan bersiap akan pergi namun baru juga ia akan melangkah Indra pun menahan lengannya begitu saja.


"Selamat bekerja sayang, I love you." ucap Indra seraya mengecup bibir Lisa sekilas dan tersenyum kearahnya.


"Love you too mas." setelah membalas ucapan cinta itu pergilah Lisa dari sana, sembari melambaikan tangannya kepada Indra keluarlah ia dari dalam rumah kekasihnya itu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2