
WIJAYA ADHIPURA
Pria matang itu sekarang tengah duduk di mobil miliknya dengan kesal. Dia yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke jepang untuk sebuah bisnis sontak dibuat kaget sekaligus stress setelah diberitahu salah satu anak buahnya jika sang istri yakni Salma Nandira Putri jatuh dari tangga dan sekarang tengah di rawat intensif di rumah sakit. Dia begitu mengkhawatirkan istri tercintanya itu terlebih Salma ataupun putrinya tak ada yang mengabarinya sama sekali. Dia khawatir dan stress karena dengan kembali ke Indonesia, dia harus meninggalkan pekerjaannya yang belum rampung itu.
Namun, belum selesai rasa stress yang di rasakannya karena sang istri yang jatuh dari tangga dan harus di rawat, Wijaya langsung di buat pusing setelah diberitahu oleh salah satu orang kepercayaannya di kantor jika salah satu rekan bisnis terbaiknya yakni Indra jaya Permana, memutus kontrak kerjasama dengannya karena alasan pribadi.
Wijaya kaget, syok dan jantungnya serasa mau berhenti. Dia tak bisa menerima kenyataan ini. Selain perusahaan Indra adalah perusahaan besar, dan sukses, Indra adalah satu-satunya orang yang membantunya kala perusahaannya mengalami krisis keuangan dan akan bangkrut saat itu. Indra dengan suka rela langsung membantu Wijaya. Dia menyumbangkan dana pada perusahaan Wijaya, yang diketahui jumlahnya tak sedikit.
Wijaya mengumpat kesal sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Dia begitu marah setelah tau alasan dibalik Indra memutus kontrak kerjasama dengannya. Pria itu tak semerta-merta memutuskan kontrak kerjasama tanpa alasan yang jelas. Dia mengatakan semua pada Wijaya dengan gamblang, yang inti dari semua itu adalah Zefa, putrinya itu telah menggangu putra Indra, dan membuatnya kesal.
Sungguh, Wijaya tak habis pikir dengan semua ini. Sesayang itu Indra dengan putranya, hingga karena masalah pribadi saja Indra sampai memutus kontrak kerjasama dengannya. Bahkan jika ditilik lebih lanjut, masalahnya tak sampai begitu parah. Namun, yasudahlah semuanya sudah terjadi, mau diapain lagi.
......................
Zefa sedang sendirian saja di kamar rawat sang ibu, setelah kedua temannya pamit pulang karena sudah sore, Zefa pun hanya tinggal berdua saja dengan ibunya yang saat itu masih terjaga. Dia mengobrol banyak dengan ibunya yang sudah lumayan pulih itu namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, dia maupun Salma sontak dibuat kaget oleh pintu yang dibuka dari luar dan menampilkan seorang pria matang dengan setelan jas lengkap dengan kemeja serta celana dan sepatu hitamnya. Pria itu adalah Wijaya. Dia berjalan menghampiri ranjang tempat Salma berbaring lalu menghela nafas kasar setelah melihat kondisi Salma yang demikian.
Kedua kakinya yang diperban, pelipis yang juga dibalut perban serta wajah Salma yang nampak pucat, bibirnya kering serta matanya sayu. Sungguh, Wijaya kasihan sekali melihatnya.
"Sayang, gimana kondisimu?" tanya Wijaya seraya merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Salma lalu mendaratkan sebuah ciuman di kening yang terbalut perban itu.
Walau terkejut melihat kedatangan suaminya yang tiba-tiba itu, tanpa memberitahu atau mengirim pesan apapun, Salma tetap berusaha tersenyum, dia tak ingin suaminya itu khawatir padanya.
"Ya beginilah. ngomong-ngomong, kamu kenapa pulang? Bukankah kamu ada pekerjaan di jepang?" tanya balik Salma seraya bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar di headbord ranjang tempatnya berbaring.
Indra pun berdecak.
"Istri aku masuk rumah sakit masa aku nggak pulang. Kejam banget dong aku sebagai suami kalau sampai ngelakuin itu. Lagian kemarin siang aku diberitahu Dani kalau kamu jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit. Sayang, kamu sebenarnya kenapa? Apa yang membuatmu sampai bisa terjatuh dari tangga seperti ini?" cecar Wijaya dengan muka khawatirnya.
Salma pun menarik kedua sudut bibirnya untuk menciptakan sebuah senyuman. Dia meraih sebelah tangan Wijaya yang masih setia berdiri di sebelahnya lalu menggenggam tangan yang diraihnya itu.
__ADS_1
"Aku nggak papa sayang. Kamu nggak perlu khawatir begitu. Disini ada Zefa yang selalu jagain aku, dan ada temannya juga." balas Salma lemah, bagaimana pun juga dia masih belum sembuh benar. kaki kanannya masih terasa lumpuh dan sama sekali tak bisa di gerakkan.
Wijaya pun hanya menghela nafas kasar lalu menarik pelan tangannya yang digenggam Salma. Dia berpaling menatap kearah Zefa yang sedari tadi hanya diam seraya menatap kearahnya dan Salma.
"Fa, apa yang sudah kamu lakukan pada anaknya pak Indra?" tanya Wijaya pada Zefa dengan muka seriusnya.
Zefa yang mendengarnya hanya mengernyit seraya menggelengkan kepalanya.
"Siapa pak Indra? Aku nggak kenal." sahut acuh Zefa seraya mengerucutkan bibirnya.
"Indra jaya Permana. Ayahnya Kaesang. Kamu pasti kenal, kan? Dia teman kamu disekolah." jawab Wijaya.
Zefa pun terkejut saat mendengar nama Kaesang di sebut oleh sang papa. Apa yang terjadi pada ayah Kaesang? Mengapa papanya ini seperti sedang mengintimidasinya? Lagipula Zefa memang tak begitu kenal dengan ayah Kaesang. Dia memang tau tapi tidak kenal. Bahkan namanya pun Zefa lupa.
"Emang kenapa dengan ayahnya Kaesang?" tanya Zefa hati-hati. Dia merasa ada aura tak mengenakkan dari setiap pertanyaan yang papanya tanyakan padanya.
"Beliau memutus kontrak kerjasama dengan papa karena kamu. Kamu sudah mengganggu putranya, dan membuatnya kesal." Wijaya terlihat frustasi. Tampak adanya sorot lelah di matanya ditambah rambutnya yang berantakan.
Namun, jika hanya memutus kontrak kerjasama saja mengapa papanya bisa sampai sefrustasi ini? Apa sebegitu mengaruhnya perusahan ayah Kaesang terhadap perusahaan papa?
Walau begini Zefa masih tau sedikit lah tentang perusahan.
"Lalu apa masalahnya? Bukankah itu hanya sebuah kontrak kerjasama? Ayolah, papa masih bisa cari rekan bisnis yang lain." ucap Zefa seraya bangkit dari kursinya.
Syok dengan jawaban Zefa yang terlampau santai dan seperti menyepelekan. Wijaya pun hanya mampu memijit pelipisnya dan menarik nafas panjang.
"Masalahnya, perusahan papa bisa seperti sekarang itu ya karena beliau. Karena bantuan beliau yang menyumbangkan dananya pada perusahaan papa yang mau bangkrut saat itu. Dan kamu tau, jika pak Indra sampai menarik dananya yang pernah disumbangkannya dulu, kita bisa bangkrut, Zefa. Bangkrut!" Wijaya sampai memakai nada tinggi pada ucapannya. Dia terdengar serius dan tak main-main.
......................
__ADS_1
Kaesang terlihat jalan-jalan berdua dengan Tyas di taman. Mereka memutuskan untuk liburan berdua mumpung weekend. Lagipula itu ide Kaesang ya, dia yang merencanakan semua ini. Mulai dari dimana mereka liburan dan dimana mereka makan.
Dari pagi hingga sore hari ini Tyas tak henti-hentinya dibuat senang dan tersenyum atas sikap manis Kaesang yang ditunjukkannya tanpa malu. Mereka telah mengunjungi berbagai tempat wisata dan mampir sebentar di kios bakso langganan Kaesang untuk makan siang.
Sejak setelah Kaesang memberitahunya soal perihal ibu dari Rani yang berhasil di temukannya, dan berniat mengajaknya besok bersama Rani ke tempat ibunya itu, Tyas langsung senang bukan main. Dia bahkan tak henti-hentinya mengatakan pada Rani jika dia akan segera bertemu dengan ibunya. Tyas memang se excited itu bahkan sampai keesokan harinya dia dan Kaesang mengantarkan Rani ke tempat ibunya, Tyas masih sama senangnya seperti kemarin.
Walau memang benar, orang yang Kaesang temukan adalah ibunya Rani, dan Rani begitu bahagia. Tyas masih merasa sedih mengingat pertemuannya dengan Rani yang begitu singkat itu. Dia merasa sayang pada Rani seperti anaknya sendiri, ya walaupun dia belum menikah.
Dan walau sedih, Tyas tetap membiarkan Rani bersama ibunya. Dia sempat mengatakan sesuatu pada Rani sebelum akhirnya pamit pulang bersama Kaesang.
"Tante, terima kasih ya sudah temuin aku sama ibu aku. Aku senang banget bisa ketemu lagi sama ibu aku." itu adalah kata-kata Rani pada Tyas sebelum dirinya pamit pergi.
......................
"Dear, habis makan kita ke bookstore yuk. cari buku yang tadi kamu mau." ucap Kaesang seraya melap bibirnya menggunakan tisu.
Tyas pun nampak berpikir.
"Kae, temenin aku ke rumah orang tuaku ya, sudah lama aku tak mampir ke tempat mereka." pinta Tyas pada Kaesang.
"Eumm ... Memangnya dimana rumah orang tuamu?" tanya Kaesang kemudian.
Tyas pun terdiam.
Sepertinya Kaesang lupa dengan apa yang sempat di katakannya di restoran waktu itu.
"Di jalan Kamboja nomor 29." balas Tyas.
Kaesang hanya terlihat manggut-manggut pertanda jika ia menyetujui dan mau menuruti kemauan Tyas. Namun, dia tak sadar jika tempat yang Tyas maksud bukanlah sebuah rumah melainkan pemakaman umum.
__ADS_1
Bersambung ...