
Teng ... Teng ... Teng ...
Setelah bel pulang berbunyi dari spiker begitu keras membuat seisi sekolah terutama kelas Kaesang berada menjadi gaduh, mereka semua yang semula diam karena saat itu adalah jam matematika yang dari gurunya terkenal dengan guru killer menjadi begitu senang setelah mendengar bel itu.
Brakk ... Bruk ...
Semua sibuk mengemasi barang-barang mereka yakni buku, kotak pensil dan segala yang berada di atas meja ke dalam ransel, namun sesaat Kaesang juga asyik mengemasi barang-barangnya tanpa sengaja matanya pun mengarah pada posisi ibu guru berada, ia tengah diam seraya menatap serius kearah Kaesang, tatapannya tergolong tajam dan penuh dengan kewaspadaan.
Huh ..
Melihat itu Kaesang pun menghela nafas kasar, ia sebenarnya tak terlalu peduli akan hal itu, namun melihat dari tatapannya sepertinya semua guru di sekolah ini sudah mulai menjauhinya, dan mengurangi respect mereka terhadap Tyas dan Kaesang.
Sebenarnya untuk kaesang pribadi tak terlalu penting dan tak peduli, mau semua guru dan anak anak di Genius high school memusuhinya pun ia tak ambil pusing dan tak peduli, namun jika itu Tyas, bagaimana? apa dengan keadaan seperti ini Tyas tetap bisa bertahan mengajar di Genius high school?
"Saya rasa sudah cukup untuk hari ini. Saya yakin kalian sudah cukup paham sehingga jika saya mengajukan pertanyaan "apakah ada pertanyaan?" kalian akan diam saja. Jangan lupa untuk membaca terlebih dahulu sebelum kita bertemu pada materi sebelumnya, dan oh iya untuk Kaesang, bisa tinggal di kelas sebentar karena ada yang mau saya sampaikan. Baiklah pelajaran hari ini saya tutup, dan selamat siang." setelah sang guru menutup pelajaran hari itu dengan tegas dan disiplin sontak satu persatu murid di sana meninggalkan kelas mereka masing-masing, namun karena Zeya berencana untuk belajar bareng dengan Kaesang di rumahnya, ia pun mengatakan pada Kaesang tuk akan menunggunya di parkiran selama Kaesang bicara dengan ibu guru itu.
Dan setelah semua murid di sana keluar kelas dan ruangan dalam keadaan kosong, Kaesang pun segera berjalan santai ke arah Bu Mima dan berdiri tepat di depan mejanya, tatapan Kaesang menyorot begitu dingin kearah Bu Mima yang saat itu sedang memainkan hp nya dan nampak tersenyum.
"Sebenarnya anda itu mau ngobrolin apa sih dengan saya Bu? anda mau mohon mohon ke saya lagi ya untuk memasukkan anak anda si Roni ke sekolah setelah saya suruh kepala sekolah buat keluarin dia?" tanya Kaesang begitu dingin dan nyaris tanpa ekspresi sedikitpun. Tatapannya begitu tajam menatap kearah Bu Mima dan kedua tangannya yang telah berada di dalam saku sontak membuat guru bernama Mima itupun mengalihkan atensinya kearah Kaesang dan menelan ludahnya susah payah.
__ADS_1
Tujuannya menemui Kaesang sebenarnya memang untuk itu, namun setelah melihat Kaesang menebak ucapannya dengan begitu benarnya dan juga tatapannya yang terlihat begitu dingin sontak membuat nyali Mima menciut seketika. ia pun merutuki dirinya sendiri karena selama ia mengajar baru kali ini lah ia merasa takut dengan seorang murid, karena selama ia mengajar dari dulu hingga sekarang semua murid murid lah yang takut kepadanya, karena sikap mengajarnya yang terkenal killer dan begitu disiplin, namun karena posisi Kaesang di sekolah ini begitu besar dan sangat berkuasa membuat semua guru dan murid murid di sini begitu takut dengan Kaesang dan enggan tuk berurusan dengannya.
Karena dulu posisi Kaesang adalah anak penyumbang dana terbesar di Genius high school, namun beberapa bulan ini posisi itu sudah diubah, Yap, Kaesang sekarang adalah anak dari pemilik sekolah ini. Papa Kaesang, yakni Indra jaya Permana telah mengambil alih surat kepemilikan tanah beserta sekolah ini dari pemilik sebelumnya, ia telah menandatangani surat tanah di atas materai dan membayar lunas biaya pembeliannya.
Ia yang semula posisinya sama seperti Zefa yakni anak dari penyumbang dana terbesar di Genius high school sekarang telah berubah seratus persen.
Posisinya semakin naik dan semakin berkuasa sekarang, semua guru dan anak anak di sekolah ini menjadi takut dan tunduk kepadanya. Terlebih mereka tau jika posisi Indra begitu besar di negara ini, perusahaannya yakni PT. Indrajaya Culture management tercatat sebagai perusahaan terbesar di negara ini, perusahaannya telah berulang kali mendapat peringkat dan penghargaan dari pemerintah karena kesuksesannya dan kepiawaiannya dalam menarik pengunjung dan juga untung. Banyak karyawan di perusahaan Indra yang telah sukses dan berhasil dengan pekerjaannya, mereka begitu beruntung dan bangga bisa bekerja di perusahaan yang Indra dirikan dan Indra pimpin.
Bahkan bukan hanya di dalam negeri saja, melainkan di luar negeri pun Indra juga berkuasa, banyak perusahaan miliknya yang berdiri di negara negara Asean, Eropa bahkan Amerika. Diantara semua Negera itu, Indra paling senang dan nyaman dengan perusahaan miliknya di Indonesia yakni di jakarta sendiri, karena selain dia tak perlu kemana mana, dan tak perlu berpergian naik pesawat, Ia pun juga tak perlu disibukkan dengan banyaknya pekerjaan karena jika di Indonesia Indra memperkerjakan beberapa asisten kepercayaannya untuk menangani pekerjaan, dan mengurus kantor selama ia tidak bisa kesana.
Dari semua perusahaan miliknya di Indonesia, ia juga merekrut salah satu karyawan biasa yang semula di PHK dari perusahaan sebelumnya dan karena kepandaiannya dan kedisiplinannya dalam bekerja, Indra pun menempatkan karyawan itu di bagian keuangan, bahkan bukan itu saja, melainkan karyawan itu juga merupakan seorang suami dari salah satu Guru di Genius high school yakni guru matematika dan terkenal guru paling killer di sekolah, yap Bu Mima, dia ada istri dari karyawan Indra, dan teman baiknya di luar jam kerja.
Yap, Bu Mima menangis di hadapan Kaesang, di hadapan muridnya sendiri. Ia begitu menyayangi anaknya si Roni, ia rela melakukan apapun untuknya agar ia dapat sekolah lagi seperti dulu. Namun, sampai Mima menangis pun Kaesang sama sekali tak bicara, ia tetap diam dan menatap dingin kearah Mima yang saat itu masih juga menangis.
Sebenarnya mohon mohon sampai menangis seperti ini adalah sesuatu yang hina untuk Mima, ia tidak pernah melakukan hal ini seumur hidupnya, tapi karena ingin memperjuangkan nasib anaknya, ia pun rela merendahkan diri dan memohon mohon seperti ini di hadapan muridnya sendiri.
Huufftt ...
"Sebenarnya keputusan saya sudah bulat Bu, saya tidak akan memasukkan kembali anak yang sudah saya keluarkan dari sekolah ini. Tapi karena ibu bilang dia sudah berubah, dan menyesali perbuatannya, saya mencoba untuk memaafkan dia, saya usahain untuk memasukkannya lagi ke sekolah ini dalam waktu dekat. Tapi, Bu Mima, saya melakukan itu tidak gratis, saya ada syarat yang harus dia penuhi jika dia masih ingin sekolah di Genius high school." ucap Kaesang datar dan dingin nyaris tanpa ekspresi.
__ADS_1
Mendengar itu terlonjaklah Mima, tersenyumlah ia setelah mendengar ucapan Kaesang itu, ia merasa senang melihat Kaesang akhirnya luluh juga dengan perkataannya dan mengiyakan ucapannya tuk memasukkan anaknya lagi ke sekolah.
Namun, Kaesang menetapkan syarat, hmm syarat apa itu? semoga saja itu tidaklah susah tuk di lakukan Roni, semoga syarat yang Kaesang berikan itu tergolong mudah dan simpel tuk di lakukan.
"Syarat? Kenapa Kaesang menetapkan syarat segala? sungguh bikin ribet deh, tapi untunglah Kaesang mau menyanggupi permintaanku, jika begini kan usahaku tuk menangis tidaklah sia sia, dan Roni .. akhirnya dia bisa kembali lagi ke sekolah." batin Mima seraya menatap kearah Kaesang dan tersenyum hangat kearahnya.
"Syarat apa Kae, katakan saja .." balas Mima santai dan merasa lega setelah sekian lamanya dag dig dug menunggu keputusan dari Kaesang.
"Dulu saya meminta kepala sekolah tuk mengeluarkan Roni bukan tanpa alasan kan, dia sudah dengan terang terangan menghina Tyas di hadapanku dan mengancam dia tuk menerornya jika hubungan kita masih juga berjalan, Roni bahkan dengan jujurnya mengutarakan kebenciannya terhadap Tyas dan memilki niat tuk membuatnya menderita. jadi sebenarnya syarat dariku ini tidak terlalu sulit sih Bu, saya tidak meminta Roni melakukan apapun ataupun membayar berapapun. saya cuma ingin Roni bersimpuh di kaki Tyas dan meminta maaf kepadanya atas semua ucapannya dulu. Jadi jika Tyas memaafkan Roni, otomatis saya juga memaafkannya, saya akan memasukkan Roni kembali ke sekolah ini jika maaf dari Tyas sudah dia dapatkan. Baiklah jika cuma itu yang mau ibu katakan kepada saya, dan tidak ada apapun lagi, saya mohon pamit, permisi." setelah selesai mengatakan itu dengan begitu gamblangnya di hadapan Mima dan membuat Mima sampai terbengong bengong saking tak percayanya, akhirnya Kaesang pun pergi dari kelas itu sebelum Mima mengiyakan ucapan Kaesang itu.
Semenjak kepergian Kaesang hingga saat ini, posisi Mima, pikiran Mima masihlah kepikiran dengan semua ucapan Kaesang tadi.
Sungguh, perkataan Kaesang itu begitu jelas jika dia kecewa dan begitu marah dengan Roni, namun jika syaratnya cuma itu bukankah tergolong mudah, Roni sepertinya tak masalah kan jika ia harus meminta maaf kepada Tyas dan bersimpuh di kakinya? Karena hanya dengan syarat itu Roni bisa kembali bersekolah di sekolah ini. Semoga saja Tyas nanti mau memaafkan Roni agar posisi Roni di sekolah ini bisa kembali.
"Semoga nanti Tyas mau memaafkan Roni, karena jika ia mau memaafkan Roni otomatis posisi Roni bisa kembali." ucap Mima sendiri seraya merapikan buku bukunya dan dimasukkannya kedalam tas miliknya di atas meja.
"Lagian Roni dulu kenapa begitu sembrono sih, dia kenapa tidak berpikir panjang jika mau menghina Tyas begitu, kenapa dia tidak berpikir tentang Kaesang, dan apa yang dilakukannya nanti jika mendengar pacarnya dihina seperti itu. Astaga, aku pusing sekali memikirkan masalah Roni ini." lagi Mima seraya mengangkat tasnya dan bangkit berdiri dari duduknya, ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan kelas Kaesang berada sambil tak henti hentinya menghela nafas kasar.
Bersambung ...
__ADS_1