Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 145 -Ajakan untuk liburan


__ADS_3

Brakk ...


Sedari awal pulang sekolah Zefa terus menerus mengurung dirinya di dalam kamar. Ia tidaklah keluar kamar jika tidak ada urusan penting.


Zefa akan keluar Jika ia merasa lapar atau Jika ia menginginkannya.


Arrrgghhhh ...


Sedari tadi Zefa terus menerus memukuli ranjangnya dan berteriak teriak tidak jelas. ia merasa kesal dengan apa yang dilihatnya tadi di sekolah.


Ia yang awalnya saat itu merasa lapar dan ingin pergi ke kantin rasa laparnya itu sontak hilang selepas ia mendapati adanya Kaesang dan juga Tyas di sana.


Mereka tengah mengobrol romantis dan juga makan siang di sana, Kaesang yang saat ini merupakan anak dari pemilik sekolah pun sama sekali tidak merasa malu untuk menunjukkan kemesraannya itu di tempat umum.


"Sial!!! kenapa harus dia sih yang jadi saingan gue, kenapa harus dia?! gue kan sungkan sama dia, dia dulu itu adalah idola gue di sekolah, gue kira dia adalah pacar pak Zaky makanya gue merasa tenang, tapi sekarang kenapa dia jadi pacarnya Kaesang? Aaaaakkkhhhh ... awas aja, suatu saat nanti gue pasti bikin perhitungan lagi sama Lo guru sialan!" ucap Zefa yang saat itu tengah tidur tengkurap di atas ranjang dan terus menerus memukuli ranjangnya dan juga berteriak teriak.


Sementara itu, Salma yang mendapati Zefa tidak keluar kamar dari awal ia pulang sekolah pun membuatnya merasa cemas.


sudah dari lama ia berdiri di depan kamar Zefa dan menunggunya untuk keluar kamar.


Namun yang terjadi apa? gadis itu sama sekali tidak keluar kamar Jika ia tidak menginginkannya.


Sebenarnya apa yang terjadi sih, kenapa dia bisa sampai seperti itu?


Dari semua teriakannya sepertinya ia sedang marah, tapi marah kenapa, apa yang membuatnya sampai semarah itu, apa ini karena cowok lagi?


"Astaga sebenarnya anak itu kenapa sih, kenapa dari tadi dia terus berteriak begitu, aku kan jadi khawatir kalau dia sampai seperti ini." batin Salma sembari tetap berdiri di depan kamar Zefa dan menatap cemas ke arah pintu.


Lalu sewaktu Salma masih tetap berdiri cemas di depan kamar Zefa, tetiba saja ia merasa terkejut selepas mendengar handphonenya yang tetiba saja berdering dengan begitu kerasnya dari dalam saku dress yang dipakainya.


Sontak ia pun langsung saja merogoh sakunya itu dan meraih handphonenya yang berdering.


Lalu sewaktu ia menatap ke arah layar ponselnya ia pun sontak tersenyum selepas mengetahui jika Lina lah yang menelponnya.


Yap, Lina sahabat Zefa, Salma bisa memiliki nomor Lina karena ibu Lina adalah teman baik Salma sedari SMA.


Dari dulu Salma selalu menghabiskan waktunya bersama ibu Lina namun karena ibu Lina itu telah didaftarkan kuliah di luar negeri ia dan ibu Lina pun akhirnya putus hubungan.

__ADS_1


Namun, sewaktu sepupu jauhnya yakni Hendri dikabarkan akan segera menikah pun membuat Salma sedikit direpotkan.


Ia harus mengurus segala keperluan untuk pernikahan Henry, dan mempersiapkan pernikahannya.


Tapi di waktu Salma mengetahui siapa calon istri Hendri ia pun sontak saja terkejut dan bahagia. karena ternyata istri dari Henry adalah teman baiknya dulu yaitu Selvia, yang sekarang merupakan ibu dari teman anaknya yakni Lina yang merupakan sahabat baiknya Zefa.


"Halo .."


^^^"Halo, Iya Tante, ini saya Lina .."^^^


"Oh iya Lin, ada apa ya, tumben kamu nelpon Tante?"


^^^"Eum, Zefa sedang apa ya Tante, kok dari tadi telpon dari saya gak diangkat angkat? dia lagi sibuk ya Tan, atau lagi keluar?"^^^


Mendengar pertanyaan Lina itu, Salma pun sontak berfikir. Ia mendapati jika Lina begitu khawatir dengan Zefa, namun Zefa yang sedari tadi terus mengurung dirinya di dalam kamar membuat Salma tidak bisa melakukan apapun selain menunggunya untuk keluar sendiri dari dalam kamar.


Tapi mengetahui jika Lina menelpon, Salma pun langsung terpikirkan sebuah ide, bagaimana jika ia menanyakan keadaan Zefa kepada Lina, dan apa yang membuatnya sampai semarah itu?


Karena ke mana pun Zefa pergi pasti Lina ikut bersamanya. jadi jika terjadi sesuatu kepada Zefa pasti Lina mengetahuinya.


"Tadi di sekolah kalian bertengkar ya?" lagi Salma seraya berjalan menjauhi kamar Zefa dan mulai menuruni tangga.


^^^"........"^^^


Hampir beberapa saat lamanya Lina hanya terdiam, telepon mereka masih tetap terhubung namun sedari tadi tak ada satupun sahutan dari Lina.


"Lin, kamu masih di sana kan?"


^^^"O-oh iya Tan, masih kok, ehm sebenarnya ini juga salah saya sih Tan, Zefa juga marah sama saya karena saya ejekin dia tadi di sekolah. Tapi, sebenarnya alasan kemarahan Zefa itu bukan hanya perkataan saya, melainkan ada hal lain."^^^


"Hal apa Lin?"


Lalu ditelepon pun Lina menjelaskan kenapa Zefa begitu marah dan apa yang membuatnya sampai semarah itu.


"Ini seriusan Lin, Zefa marah cuma karena hal itu?"


^^^"Iya Tan, Zefa itu begitu mencintai Kaesang, dia nggak mau melihat Kaesang bersama dengan wanita lain selain dirinya. apalagi wanita itu gurunya sendiri."^^^

__ADS_1


......................


"Kae, kamu ngajakin aku ke Jepang ini sudah ada rencana sebelumnya atau cuma iseng aja? kamu tahu kan kalau aku ini Guru, memang di hari itu kita tanggal merah tapi kan itu cuma sehari, perjalanan dari sini ke Jepang itu memerlukan waktu hampir beberapa jam lamanya. Sebenarnya aku sih nggak masalah, tapi posisiku sebagai guru lah yang bermasalah."


"Jika kita liburan ke sana bukankah akan menghabiskan waktu beberapa hari, aku nggak enak Kae kalau harus ijin sampai selama itu cuma buat liburan aja." ucap Tyas sembari menatap serius kearah Kaesang.


Sebenarnya Kaesang sendiri juga tak enak untuk membawa Tyas liburan di jepang jika bukan dalam waktu liburan.


Namun, karena Kaesang itu orangnya sangat pemaksa, ia pun mencoba untuk membujuk Tyas sekali lagi.


karena keinginannya untuk liburan ke Jepang ini sudah dipikirkannya dari lama, dan sewaktu ia mendapat ide ini ia pun langsung terpikirkan Tyas, dan bagaimana jika ia membawa Tyas liburan ke Jepang bersamanya.


Terlebih dari dulu Kaesang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, karena apa yang ia inginkan harus ia dapatkan, jadi liburan ke Jepang ini Kaesang harus bisa membujuk Tyas, selain karena ia menyukai negara Jepang, ia juga cukup menyukai aneka makanan di sana.


Eum, membayangkannya saja sudah membuat Kaesang begitu ngiler dan tidak sabar untuk segera pergi ke sana.


"Dear, kumohon sekali ini saja ya, kamu turuti kemauanku, aku ingin sekali dear membawamu liburan kesana, selain karena suasananya aku suka, makanan disana juga adalah salah satu makanan favoritku. jadi kumohon kamu ikut ya, please." ucap Kaesang seraya terus menerus merengek dan memohon kepada Tyas untuk mengiyakan ajakannya.


"Kae, jika aku ikut denganmu lalu bagaimana dengan pekerjaanku? apakah tenang aku meninggalkan pekerjaanku itu hanya untuk liburan semata? tidak Kae, aku sama sekali tidak tenang. Terlebih kamu tau kan sekarang gimana respon semua orang tentang hubungan kita, aku ngerasa gak enak Kae, aku gak mau kamu di omongin orang-orang terus. Jadi, liburannya lain kali aja ya, atau nggak pas waktu libur semester aja gimana?" balas Tyas seraya terus menolak ajakan Kaesang itu dengan halus dan juga berhati-hati. Ia tak ingin jika Kaesang sampai marah ataupun salah paham dengannya.


Karena ia menolak ajakan Kaesang ini semata-mata bukan karena ia tidak mencintainya, melainkan karena ia lebih mementingkan pekerjaannya, dan juga posisinya sebagai Guru.


Sebagai Guru harusnya ia memberikan teladan dan juga ilmu-ilmu yang baik kepada para muridnya, bukan malah menjalin hubungan seperti ini dengan muridnya sendiri.


Sebenarnya ini tidaklah baik jika dipikir dengan logika, namun perasaan dan hatinya berkata lain.


Pikirannya mengatakan Jika hubungan ini adalah suatu kesalahan, namun hatinya mengatakan Jika hubungan ini adalah suatu perasaan yang timbul tanpa disengaja.


Awalnya ia ingin memutus hubungan dengan Kaesang dan bersikap seperti sewajarnya, namun semakin ia menjauh dari Kaesang semakin cinta lah ia dengannya.


Semakin sulitlah untuknya berada jauh dari lelaki itu atau sekedar tak melihatnya barang sebentar saja.


"Dear, aku sudah mengatur semuanya, aku sudah mengizinkanmu ke kepala sekolah, dan mengatur keberangkatan kita. jadi di sini tinggal keputusanmu sajalah yang kutunggu."


"Kamu bersedia kan kalau minggu depan kita habiskan buat liburan di negara sakura itu?" ucap Kaesang sembari terus membujuk Tyas dan mulai meraih tangannya, di genggamnya tangan Tyas itu, kemudian di goyangkannya guna membujuknya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2