
Ehmm ...
Cuaca sedikit redup, angin bertiup cukup kencang dan ramainya suasana sekolah sudah tak lagi terdengar. Kini disinilah Kaesang berada, di perpustakaan sekolah bersama dengan Zeya untuk membahas olimpiade bahasa Inggris yang akan mereka lakukan bulan depan. Sebagai siswa terpintar satu sekolah tak heran jika Kaesang sampe di tunjuk untuk mengikuti olimpiade mewakili sekolahnya. Namun untuk Zeya, guru, kepala sekolah bahkan Kaesang sampai terkejut melihatnya begitu pintar, terlebih kepandaiannya dalam bahasa inggris tak perlu di ragukan lagi.
"Kaesang, Zeya, kok dari tadi kalian diam aja sih? Ngobrol dong, biar suasananya gak sepi begini." ucap Tyas, selain Kaesang dan Zeya, rupanya Tyas pun juga ada di sana, dia diajak oleh Kaesang ke sana tuk membimbingnya dan juga Zeya, Kaesang paham dan mengerti dengan olimpiade itu, namun maksud dia mengajak Tyas bersamanya tak lain dan tak bukan hanya karena urusan perasaan, Kaesang masihlah rindu dengan perempuan itu.
"Ini lagi belajar Bu, baca materi dan pahamin kata kerjanya, kita lagi serius Bu, jadi ya sementara hening dulu." timpal Kaesang seraya menoleh kearah Tyas sekilas.
CK ... CK ... CK ...
"Kae, Kae, kalo Lo emang mau ngobrol sama pacar Lo ya ngobrol aja, ngapain pake alasan serius segala, orang dari tadi mata Lo meleset ke sana mulu, gue tau kok, Lo ngajak Bu Tyas kesini tuh karena rasa kangen Lo itu kan? ngaku Lo!" ujar Zeya seraya meninggikan suaranya dan tetap fokus pada kamus bahasa inggris di tangannya.
Mendengar itu, Kaesang pun berdecak, ia beralih menatap kesal kearah Zeya dan menepuk bukunya kuat.
"Ish, apaan sih Lo, Kae?! gak liat Lo kalo gue lagi baca, main nepuk nepuk aja, huh untung setim di olimpiade, kalau nggak .. udah gue gibeng lu." ucap kesal Zeya seraya fokus kembali kepada buku di tangannya.
mendengar ucapan kesal Zeya, kaesang pun tak mampu menahan tawanya, dia tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalo gak mau di jahilin balik ya gak usah jahilin duluan. udahlah cepet baca lagi, pahami dan Selami materi materi di buku yang Lo baca itu." ujar Kaesang seraya meraih sebuah buku materi di tumpukan buku di hadapannya.
"Gue udah baca lima buku ya, di tambah lagi satu kamus, jadi ya udah enam buku ya yang gue baca, gak kayak Lo, dari tadi ngoceh mulu, baca buku setipis itu nggak selesai selesai." balas sengit Zeya tanpa menoleh sedikitpun, dia masihlah fokus pada buku yang di bacanya, walau jiwanya tengah bertarung mulut dengan Kaesang.
Mendengar ucapan Zeya yang sangat sengit namun benar adanya membuat diri Kaesang sedikit kesal, dia kesal namun juga malu, sejak belajarnya mereka satu jam lalu, Kaesang masihlah habis satu buku itupun belum habis seutuhnya.
"Iyain ajalah biar cepet." sahut Kaesang malas.
__ADS_1
Mendengar kedua muridnya bertengkar seperti itu membuat Tyas tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Selain karena mereka pintar dalam hal akademik, Kaesang dan Zeya rupanya seperti kucing dan tikus bila di pertemukan, melihat mereka bertengkar namun juga tetap belajar membuat Tyas tak bisa menahan tawanya, sungguh, kedua muridnya ini lucu sekali.
Satu jam kemudian ...
"Udah belajarnya segini aja, udah sore juga kan? Mending kalian segera pulang, nanti di cariin orang tua kalian loh." ucap Tyas sesaat sesudah melirik jam tangan di lengannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.
Mendengar ucapan Tyas, Zeya maupun Kaesang langsung menyudahi belajar mereka, Zeya yang semula tengah membaca kamus dengan cermat langsung menutup kamus itu sesaat Tyas menyuruhnya pulang.
"Yaudah belajarnya segini aja, besok kita tetep belajar lagi, tapi bukan disini." ucap Kaesang seraya melirik kearah Zeya sekilas.
Awalnya Zeya manggut-manggut mendengar ucapan pertama Kaesang yang mengingatkannya untuk belajar lagi besok, namun mendengar ucapan terakhirnya, Zeya pun menjadi tersentak, kedua alisnya menyatu dengan sempurna dan seketika ia pun mengalihkan atensinya kearah Kaesang.
"Kalo bukan disini terus kita mau belajar di mana, di kolong jembatan?" ujar sengit Zeya.
"Gue belum selesai bicara ya, dengerin dulu. Besok Lo ikut gue pulang ke rumah gue, kita akan ngelanjutin belajar ini di sana." balas Kaesang datar.
Mendengar itu Zeya pun menepuk meja di depannya pelan dan pandangannya yang semula terfokus pada buku buku di hadapannya kini beralih kearah Kaesang.
"Bisa nggak sih belajarnya tuh disini aja atau kalau nggak tuh di cafe juga bisa, di resto ehm atau di bar tempat gue kerja juga boleh. gue males banget belajar di rumah Lo, Kae, please di tempat lain aja ya." pinta Zeya.
"Nggak, keputusan gue tetep itu, besok kita belajar di rumah gue. mau Lo nolak atau protes sekalipun, gue nggak peduli. Pokoknya besok Lo kudu ikut gue pulang dan kita lanjut belajar." balas Kaesang tegas.
Mendengar itu Zeya pun begitu kesal, dia sangat marah pada Kaesang karena Kaesang tidaklah mengikuti permintaannya.
"Udah sekarang Lo yang beresin ini semua, gue mau balik." setelahnya Zeya bangkit dari kursinya lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan perpustakaan.
__ADS_1
"Eh gila kali tuh anak, main pergi pergi aja, nih buku dia tadi banyak banget loh, masa gue juga yang harus balikin, aduh mana kamusnya ada tiga lagi." ucap kesal Kaesang.
Tyas yang mendengar Kaesang begitu kesal langsung memegang pundaknya dan mengulas senyum hangat padanya.
"Udah, gak usah marah Kae, buku buku nya kita balikin aja ya, aku bantuin." ucap Tyas seraya mengumpulkan semua buku buku materi yang masih berserakan.
"Yaudah, dear. Makasih ya udah mau bantuin, ehm tapi hati hati ya, ini bukunya berat berat loh, kamu bawanya dikit dikit aja." balas Kaesang seraya menoleh kearah Tyas dan tersenyum kearahnya.
Mendengar itu Tyas pun berdehem, dia kembali mengumpulkan buku buku yang berserakan sembari tersenyum mendengar ucapan Kaesang yang menyuruhnya berhati hati.
................
Setelah sebelumnya mengantarkan Zelyn pulang ke rumahnya, Zefa pun melajukan mobilnya kearah sebuah bar favoritnya, bersama Lina, Zefa pun ingin minum minum di sana sampai puas. Sebenarnya tujuannya minum minum kali ini bukan hanya sekedar ia suka melainkan untuk sekedar menurunkan emosinya yang sampai sekarang masih menggebu gebu.
"Lo emang mau minum apa Zef di sana, dan ngapain Lo nggak ngajak Zelyn juga? diakan ahlinya kek ginian." tanya Lina sesaat keduanya masih di jalan dan belum juga sampai di tempat tujuan, di map menunjukkan jika lokasi tempat itu masihlah jauh dari lokasi mereka sekarang.
"Apapun yang bisa meredakan emosi gue, mau itu wine, bir atau apapun itu gue bakal minum, dan soal Zelyn, gue nggak ngajak dia karena dia itu cewe baik, gue tau dia suka minum minum tapi gue nggak mau ngajak dia ke tempat ini, gue cuma mau ngajak Lo, karena cuma Lo sahabat gue." jawab Zefa seraya tetap fokus pada kemudi setirnya.
"Loh, lalu Lo nganggep Zelyn apa kalau gitu?" timpal Lina seraya menoleh kearah Zefa.
Mendengar itu Zefa pun tersenyum miring.
"soal itu cuma gue yang tau, intinya Lin, hanya Lo lah sahabat gue, dan orang yang paling ngertiin gue, jadi Lo bakal gue traktir dan temenin gue minum, minum sampai puas." ujar Zefa sembari tersenyum miring.
Bersambung ...
__ADS_1