
Sepanjang perjalanan menuju tempat kediaman Abellard, Ziel tak henti-hentinya bertanya mereka akan pergi kemana. Azuma memberi penjelasan yang mudah di terima sampai akhirnya bocah laki-laki itu mengerti. Tak lama kemudian, mereka sampai di tujuan.
Lexa menatap takjub bangunan besar yang ada di depan matanya. Rumah itu bak istana yang sering ia dengar di negeri dongeng.
"Kita akan tinggal di rumah ini, bu?" tanya Lexa tak sedikitpun mengalihkan pendangannya dari rumah tersebut.
"Iya," jawab sang ibu.
Lexa kemudian menoleh menatap sang ibu yang berdiri di sampingnya. "Apa ini rumah bibi Kimmy?" tanyanya lagi.
Azuma menoleh ke arah Kimmy sekilas, kemudian mengulas senyum pada putrinya. "Ini rumah orang tuan paman Jef, sayang. Lexa dan Ziel boleh tinggal di sini. Tapi ingat, kalian jangan bandel, ya! Dan kalian harus bersikap sopan santun," tutur wanita itu.
"Iya, ibu," sahut keduanya bersamaan.
Jef sudah meneteng tas kain milik Azuma yang baru saja ia ambil dari dalam bagasi mobilnya.
__ADS_1
"Biar bibi saja yang bawa, Jef," ujar Azuma segan.
"Tidak apa-apa, bibi. Biar aku saja. Ayo, masuk!"
Kimmy, Azuma bersama kedua anaknya, mengekor di belankang Jef. Kedua mata Lexa tak henti merasa takjub melihat sekeliling bangunan interior begitu menginjakan kaki di ruang tamu. Ia tak pernah akan tinggal di sebuah istana megah, mengingat beberapa bulan ke belakang ia tinggal di rumah terbuat dari kerdus bekas. Membuat air matanya seketika menetes. Kimmy yang menyadari Lexa menangis membuatnya berjongkok, merengkuh kedua bahu kecil di hadapannya.
"Lexa, sayang. Kau kenapa nangis, nak?"
Pertanyaan Kimmy barusan membuat Azuma ikut terkejut, ia menurunkan Ziel dari pangkuannya lalu ikut menanyakan putrinya cemas.
Jef pun ikut menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang guna melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dari kejauhan, terlihat Anelis dan Abellard berjalan menghampiri.
"Aku baik-baik saja, ibu, bibi," jawab bocah itu.
"Lalu kenapa Lexa menangis?" tanya Azuma lagi seraya menyeka air mata putrinya menggunakan kedua ibu jari.
__ADS_1
"Lexa sangat bersyukur, bu. Lexa akan tinggal di istana sebesar ini. Dulu, kita tinggal di rumah kerdus bekas yang banyak tikus berkeliaran. Berkat bibi Kimmy, kita bisa terlepas dari penderitaan itu," ucap Lexa membuat semua orang yang mendengarnya tak menyangka jika bocah seusia dia bisa memiliki pikiran seperti itu.
"Bibi Kimmy.." Lexa menangkup kedua pipi bibinya yang berjongkok di depannya.
"Iya, sayang?"
"Terima kasih karena bibi sudah banyak berkorban untuk keluarga kita," ucapnya di akhiri dengan memeluk tubuh Kimmy dengan erat.
Perlahan Kimmy membalas pelukan bocah itu dengan haru. Lexa menumpahkan air matanya di bahu Kimmy cukup deras. Kala itu itu menguping, ketika Kimmy memberikan sejumlah uang pada ibunya guna menebus rumahnya yang di sita rentenir.
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut ikut menangis terharu. Termasuk Anelis dan Abellard yang sudah ada berdiri di antara mereka. Mereka berniat akan menyekolahkan Lexa ke sekolah ternama dan berkelas. Sebab Lexa memiliki potensi yang cukup besar.
Bersambung...
...Haaaaaiii.. Sebelumnya aku minta maaf karena kemarin gak update. Aku lagi kurang enak badan. Do'akan saja semoga aku bisa sehat kembali, agar bis up lagi seperti biasanya. Jangan lupa dukungannya, yaaaa. ...
__ADS_1