Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Dokter Kandungan


__ADS_3

Seorang wanita tengah berjalan tergesa-gesa menuju wastafel toilet sambil membungkam mulutnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering merasa mual bahkan sering muntah.


"Hoeeekks.. Hoeeekks.."


Mirabelle Louislyn. Wajahnya tampak pucat begitu ia bercermin. Ia terus merasakan pusing dan tidak enak badan. Maka dari itu ia memilih untuk mengurung diri saja di kamar.


Ia menyibakan rambutnya ke belakang, menatap pantulan wajahnya di cermin dengan perasaan benci. Kecantikannya ternyata tidak mudah untuk mengembalikan Jef ke dalam pelukannya. Dan yang paling ia benci adalah, ketika dirinya sekarang menyandang status sebagai 'JANDA'.


"Aku harus bertemu dengan Jef untuk membicarakan rumah tangga ini. Aku masih tidak terima dia menceraikan aku begitu saja dan lebih memilih gadis sialan itu di banding diriku," desisnya.


Karena ini sudah larut malam, Belle memutuskan untuk menemui Jef esok hari. Ia menyalakan keran wastafel kemudian membasuh wajahnya agar terlihat lebih fresh. Setelah itu ia kembali ke tempat tidur. Mengistirahatkan badannya yang terasa lelah, padahal ia tidak melakukan aktivitas apapun selain rebahan.


***


Keesokan harinya.


Seorang wanita tidak sengaja menabrak pria yang baru saja keluar dari minimarket. Benda yang di pegang oleh si pria sampai jatuh ke lantai.


Sutera. Itulah tulisan yang terdapat di benda berwarna merah tersebut. Sang wanita tentu saja terkejut melihat benda yang baru saja di beli oleh pria di hadapannya. Sementara si pria segera mengambil benda miliknya itu.


"Maaf," ucap sang wanita dan pria itu mendongak.

__ADS_1


Tak bisa di pungkiri, jika si pria langsung tertarik melihat tubuh seksi wanita di hadapannya. Ia melemparkan senyum pada wanita itu.


"Tidak apa-apa," sahutnya kemudian mengulurkan tangan. "Perkenalkan namaku Lim," ujarnya kemudian.


Si wanita tidak segera menjabat tangan itu. Ia memperhatikan wajah di depannya sambil mengingat-ingat. Sepertinya ia pernah melihat pria itu, tapi dimana? Entahlah bahkan ia lupa.


Sampai akhirnya, ia ingat jika pria muda di hadapannya itu merupakan pria yang sempat ia rekam begitu sedang melakukan adegan syuting bersama Belle.


Wanita itu membalas senyuman Lim sembari menjabat tangannya. "Imel," balasnya.


Jabatan tangan itu berlangsung lama sebelum akhirnya mereka lepaskan.


"Oh ya, apa aku boleh minta nomer teleponmu?" pinta Lim seraya mengeluarkan ponselnya dari balik saku jelana jeans krem yang ia kenakan.


Setelah menyimpan nomer teleponnya di ponsel Lim, ia menyerahkan benda pipih itu kembali pada pemiliknya.


"Thanks," ucap Lim di balas dengan senyum oleh Imel.


"Oh ya, kalau begitu aku ke dalam, ya," pamit wanita itu hendak memasuki minimarket tersebut.


"Ok, see you," Lim melambaikan tangan di sertai kedipan mata yang membuat Imel sedikit tertarik dengan pria muda tampan itu.

__ADS_1


***


Sementara Belle yang tadinya berniat untuk pergi ke tempat kediaman Abellard guna menemui Jef, tiba-tiba berbelok arah menuju rumah sakit. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasa ada yang aneh, mual dan muntah sejak bangun tidur tak kunjung berhenti. Bahkan beberapa kali ia berhenti menepikan mobil di bahu jalan hanya untuk muntah.


"Siaaal, kenapa aku jadi seperti ini?" gerutunya.


Belle terus melajukan mobilnya meski dengan kecepatan sedang. Ia takut jika terburu-buru yang ada menyebabkan sesuatu buruk terjadi. Perjalanan yang seharusnya di tempuh hanya setengah jam, kini memakan waktu lebih dari satu jam. Dan kini, ia sampai di rumah sakit tujuannya.


Di dalam, ia segera di arahkan ke ruang pemeriksaan pasien. Begitu Dokter datang, ia mengatakan yang menjadi keluhannya.


"Aku sering mual dan muntah, Dok. Bahkan akhir-akhir ini susah tidur. Sekujur badanku terasa lemas dan aneh," keluh Belle.


Mendengar keluhan pasiennya, sepertinya Belle salah Dokter. Dan ia menyarankan agar wanita itu pergi ke lantai tiga rumah sakit untuk di tangani oleh Dokter yang tepat.


"Sepertinya nona harus konsultasikan hal ini pada Dokter kandungan," saran Dokter pria tersebut.


"Dokter kandungan?" Belle terbelalak.


"Betul, nona. Nanti saya akan minta suster untuk mengantar nona pada Dokter Regina, beliau Dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini."


Belle masih terpaku di tempat. Ia bingung harus berita ini akan menjadi bahagia atau justru malapetaka. Jika benar ia hamil, ia rasa itu anak Jef. Sebab tidak mungkin itu anak Lim, karena mereka melakukan hal itu baru beberapa hari lalu. Pikir Belle. Lantaran ia tidak ingat ketika berhubungan dengan Lim pada saat ia berada di bawah pengaruh alkohol.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2