Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Sakit Awij


__ADS_3

Usai bermain dengan Ziel, Jef makan siang bersama keluarga Kimmy tersebut. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah satu. Ia teringat akan janji ketemuan dengan seseorang.


"Sayang, kau di sini dulu, ya. Aku akan pergi sebentar," pinta dan pamit Jef pada Kimmy. Mereka tengah duduk di kursi sederhana di ruang tamu.


"Pergi kemana?" tanya Kimmy seraya mengerutkan alisnya.


"Ada urusan yang harus aku selesaikan. Kau tidak perlu khawatir, semuanya baik-baik saja!"


"Yakin semuanya baik-baik saja? Kau pergi untuk urusan kantor atau kau memiliki masalah lain?" Kimmy menatap suaminya dengan tatapan menyelidik, ia curiga jika Jef tengah menyembunyikan sesuatu padanya.


"Hanya urusan kantor," jawab pria itu bohong.


Rasanya Kimmy masih ragu dengan jawaban suaminya. Jika urusan kantor, kenapa tidak meminta sekretarisnya untuk meng-handle? Bukankah urusan penting pagi ini pun di handle oleh Cheryl?


"Ya sudah, hati-hati!" pesan Kimmy sebelum akhirnya Jef pergi setelah meninggalkan ciuman singkat di keningnya.


Kimmy memandang kepergian pria itu sampai hilang dari pandangannya. Ia masih curiga jika Jef memang menutupi sesuatu darinya. Tapi apa? Entahlah.


"Dooorrr..!"


"Aaww.." Kimmy terlonjak kaget ketika Ziel datang mengejutkannya.


Bocah kecil itu tertawa puas lantaran berhasil membuat bibinya terkejut.


"Zi Eeeeeellll..."

__ADS_1


"Hehehe... Maaf, bibi," ucap bocah itu.


Kimmy mengacak puncak kepala Ziel dengan gemas. Sesekali mencubit pipi gembulnya.


"Paman Jef kok cium bibi Kimmy, sih?" tanya Ziel polos, Kimmy sampai terbelalak. "Memangnya paman Jef kekasih bibi?" imbuhnya.


Kimmy terkejut mendengar kata 'kekasih' di ucapkan oleh bocah berusia empat tahun. Kenapa Ziel bisa menyimpulkan hal seperti itu?


"El tahu kata kekasih dari mana?" Kimmy balik bertanya, ia khawatir jika pikiran bocah sekecil Ziel sudah teracuni oleh sesuatu yang seharusnya belum pantas ia ketahui.


"Di televisi tetangga yang sering El tonton, kalau orang ciuman itu, berarti mereka sepasang kekasih," jawabnya dengan begitu polos.


Kimmy sampai membulatkan mata terkejut. Bagaimana bisa tetangganya membiarkan siaran televisi orang dewasa di tonton oleh bocah seusia Ziel.


"Oh.., begitu ya, bi?"


"Iya.. Lain kali jangan menonton film seperti itu lagi, ya! Sebentar lagi kan El juga akan sekolah seperti kak Lexa. El harus banyak belajar daripada nonton televisi. Ok?"


"Ok, bi. El akan ikut belajat dengan kak Lexa agar El jadi anak pintar," ucap bocah itu dengan semangat.


"Bagus."


Kimmy mencubit dagu El gemas. Kemudian memeluknya. Nanti ia akan bicara pada bibi Azuma, agar lebih mengawasi Ziel. Supaya pikiran Ziel tidak teracuni hal yang kotor.


***

__ADS_1


"Jeeeefff.. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini, Jef! Aku janji akan memberimu keturunan, sayang. Jeeeefff..!" teriak Belle di depan pintu gerbang tempat kediaman Abellard.


Satpam rumah itu sampai menutupi telinga saking berisiknya. Sudah berapa kali ia meminta wanita itu untuk pergi dan tidak perlu mengganggu lagi keluarga tersebut, tetapi Belle tetap nekad bahkan hampir manjat pagar besi.


"Sudahlah, nyonya. Terima nasib saja, ya! Kalau mau memberi keturunan, mending sama saya saja. Saya siap kok, jadi pengganti tuan Jef. Bagaimana?" ujar satpam itu seraya menaik nurunkan alisnya.


Belle berhenti berteriak, ia menatap satpam tersebut dengan tatapan jijik. Kemudian bergidik.


"Buka pintunya atau aku tabrak pakai mobil?" ancam Belle.


Alih-alih takut, satpam itu tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahaha... Gerbangnya gak bakal kebuka, yang ada mobil nyonya yang penyok. Hahahahaha..."


"Diam..!" sentak Belle tak kunjung menghentikan tawa satpam itu.


"Sudah, nyonya. Jangan marah-marah terus! Nanti bisa stress, depresi, masuk rumah sakit AWIJ, deh," ujar satpam membuat Belle diam sejenak.


Setelah paham jika satpam itu menyumpahkannya menjadi orgil, ia marah dan kembali mengguncang pintu gerbang.


"Brengsekkkk..!" makinya.


Satpam itu tak kunjung bertenti tertawa sampai perutnya mules.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2