
Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam, mobil yang di kemudikan Jef berhenti di sebuah pekarangan rumah sederhana yang tampak asri. Azuma turun lebih dulu, di susul oleh Kimmy kemudian Jef.
"Ibuuuuu..." teriak bocah kecil menyambut begitu ibunya pulang, ia menghambur ke dalam pelukan wanita tersebut. "Ibu sudah pulang?" tanya bocah tersebut setelah melepaskan pelukannya.
"Halo, Ziel..." sapa Kimmy datang dari belakang Azuma.
"Bibi Kimmy..." teriak bocah itu senang, ia langsung menghambur ke pelukan bibinya tanpa menunggu jawaban dari sang ibu.
"Hati-hati, Kimmy!" ucap Jef khawatir saat Kimmy menggendong bocah laki-laki yang bernama Ziel itu.
Ziel mengangkar wajahnya yang sebelumnya ia benamkan ke bahu bibinya. Ia beralih menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya. Ziel tampak sedikit takut melihat kehadiran Jef.
"Bibi, dia siapa?" pertanyaan tersebut berasal dari Lexa yang baru saja keluar rumah, seolah mewakili apa tengah di rasakan adiknya.
Semua pasang mata tertuju pada Lexa, Kimmy kemudian menurunkan Ziel dari pangkuannya.
"Lexaaa...!" panggil Azuma lirih namun penuh syarat akan makna.
"Maaf, ibu!" ucap Lexa ketika ibunya memperingatkan jika pertanyaannya itu tidak sopan.
Azuma meminta Kimmy untuk mengajak Jef masuk ke dalam rumah. Ia menjamu Jef dengan seadanya. Setelah itu, ia segera menunjukan pohon mangga yang berada tepat di samping rumah pada Jef. Pria itu sampai bengong sembari menelan salivanya karena pohon yang menjulang lumayan tinggi.
"Kenapa?" tanya Kimmy yang berdiri di sampingnya.
Jef menoleh. Ia berusaha tersenyum dan meyakinkan diri sendiri jika dirinya mampu memanjat pohon mangga tersebut.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku akan memanjat pohonnya sekarang. Demi kau dan anak kita."
Kimmy pun tersenyum. Selangkah lagi keinginannya akan terkabulkan. Ia sudah tidak sabar untuk memakan mangga muda dadakan. Terlebih saat ini Azuma sedang membuatkan sambal petis untuknya. Pasti rasanya, beuuhhh... Mantap.
Jef mulai berjalan mendekat ke bawah pohon, ia menyentuh pohon tersebut. Sedikit lengket karena ia menyentuh bagian getahnya. Jef terdiam, bingung bagaimana memulai memanjat pohon tersebut.
__ADS_1
Seorang warga yang berjalan melintas, melihat kebingungan Jef yang berdiri di bawah pohon. Melihat Kimmy yang juga berdiri di sana, sepertinya ia bisa menebak jika pria itu akan mengambil mangga dari pohonnya.
"Kim.." panggil warga tersebut yang merupakan tetangga dekatnya. "Itu mau metik mangga?" tanyanya kemudian.
Kimmy menoleh lalu mengangguk. "Iya, paman."
"Paman punya tangga, siapa tahu bisa membantu. Paman ambilkan, ya?" tawarnya.
"Bisa untuk manjat pohon?" sahut Jef.
"Tentu saja. Tunggu sebentar, ya!" pesan warga yang bernama paman Gorin.
Jef menghela napas lega, ia menatap istrinya dengan senyum, sebab sebentar lagi ia akan mengabulkan permintaan gadis tersebut.
Tidak lama kemudian, paman Gorin kembali dengan membawa tangga yang lumayan panjang. Ia memposisikan tangga tersebut ke pohon mangga. Benar-benar membantu.
"Mau paman bantu ambilkan mangganya sekalian?" paman Gorin menawarkan diri.
Kimmy menggeleng. "Tidak perlu, paman. Terima kasih."
"Baik, paman. Terima kasih banyak telah membantu," ucap Kimmy sebelum pria paruh baya itu benar-benar pergi hilang dari jangkauan matanya.
Jef mulai naik ke anak tangga tersebut dengan penuh kehati-hatian. Beruntungnya paman Gorin sudah memposisikan tangga tersebut benar-benar aman. Jadi Jef bisa leluasa naik melanjutkan langkahnya ke atas.
"Hati-hati.." teriak Kimmy dari bawah.
"Iya..." jawab Jef dari atas sana.
Buah mangganya lebat sekali, sehingga sangat di sayangkan jika ia naik hanya untuk mengambil satu buah saja. Ada yang masih muda, juga ada yang sudah terlihat menguning matang.
"Jangan sampai di jatuhkan, ya..!" teriak Kimmy.
__ADS_1
"Iya," sahut Jef.
Ia mulai memetik buah mangganya. Tapi ia bingung membawa turun mangganya bagaimana. Pasalnya ia tidak membawa tempat untuk menaruh hasil petikannya. Akhirnya saku kemeja dan kantong celana lah yang menjadi solusinya.
Baru saja memetik satu manggah, ia kantungi ke dalam saku kemeja putih yang ia gunakan. Tiba-tiba tubuhnya di serang beberapa semut besar. Buah kedua yang akan di petik segera di lepaskan. Ia mengusap lengan, leher, dan bagian tubuh yang terdapat semut.
Tidak tahan berada di atas sana, bertarung dengan semut yang berhasil menggigit tubuhnya, akhirnya ia memutuskan untuk turun.
"Kenapa?" tanya Kimmy khawatir, tangan suaminya tak berhenti menepis hewan yang merayap dan menyusup masuk ke dalam pakaiannya.
"Semut," jawabnya.
Kimmy membantu mengusir semut yang merayap ke tubuh Jef. Memang tidak berbahaya, tapi ketika menggigit, bisa menyebabkan bentol dan tentunya sakit seperti di tusuk jarum suntik.
"Ada apa, nak?"
Azuma datang dengan cobek berisi sambal petis di tangannya. Ia berjalan menghampiri mereka dengan cemas.
"Ini, bi. Jef di serang semut mangga," sahut Kimmy usai berhasil mengusir semut-semut nakal yang merayapi tubuh suaminya.
"Oh, bibi pikir ada apa. Ini sambal petisnya sudah bibi buatkan. Mangga nya jangan lupa di cuci," pesan wanita tersebut sebelum akhirnya pergi lagi.
Jef merasa lega, akhirnya semut-semut ia berhasil di usir. Ia panik sekali, takut jika semut ia merayap masuk ke dalam celananya. Bisa-bisa si Kon menjadi sasaran utama semut nakal itu.
Ia mengambil satu mangga yang berhasil ia petik, lalu menyerahkannya pada Kimmy.
"Ini mangganya."
"Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkanmu," ucap Kimmy merasa bersalah karena sudah membuat suaminya tersiksa akan permintaannya yang terkesan aneh.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak pernah merasa di repotkan. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suami sekaligus calon ayah untuk anak kita."
__ADS_1
Kimmy tersenyum haru. Kemudian memeluk tubuh pria itu dengan mengucapkan kata terima kasih berulang kali. Jef membelai rambut Kimmy lembut, mencium puncak kepala Kimmy sekilas. Ia merasa sangat senang lantaran mampu mengabulkan permintaan ngidam Kimmy yang pertama.
Bersambung...