
Sementara menunggu Dokter yang memeriksa Kimmy, tangan Jef di obati terlebih dahulu oleh seorang Dokter di sana. Telapak tangannya kini terbungkus perban.
Usai di obati, ia kembali ke tempat dimana Kimmy berada. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, akhirnya Dokter keluar juga dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Kimmy baik-baik saja kan?" cecarnya.
Dokter itu menghela napas kemudian mengulas senyum. "Tidak ada luka yang serius, hanya saja luka luarnya sedikit parah. Sehingga kami harus menjahit pelipis nona Kimmy sebanyak 3 jahitan," jelas Dokter itu.
Jef lega mendengarnya. "Apa aku bisa menjenguknya?"
"Tentu saja."
"Terima kasih."
Jef masuk ke dalam ruangan tersebut setelah sang Dokter memberinya celah. Suster yang masih berada di sana hendak meninggalkan ruangan usai memasang perban di pelipis tubuh gadis yang tengah terbaring di atas ranjang pasien.
Jef berdiri di samping ranjang pasien tersebut. Menatap gadis yang tengah terpejam, tapi tidak berapa membuka mata.
Kimmy memegang pelipisnya yang terasa ngilu. Ia memejamkan kedua matanya cukup lama sebelum kemudian bangun di bantu oleh Jef.
"Istirahat saja!" ujar pria itu.
__ADS_1
"Aku ingin pulang," pinta Kimmy, kedua matanya kini tertuju pada telapak tangan yang terbungkus perban.
"Kau terluka untuk melindungiku. Dan penyebab semua ini adalah orang yang kau cintai. Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal itu, mengingat seberapa besar kesetiaanmu pada Mirabelle Louislyn," ucap Kimmy.
Jef bergeming untuk beberapa saat. "Aku sangat setia pada Belle, sebab aku berpikir hanya dia wanita yang mampu membuatku jatuh hati padanya. Tapi kini pikiran itu ku ubah. Terlebih Belle ternyata lebih mementingkan dirinya sendiri. Bahkan dia sendiri meruntuhkan benteng kesetiaanku."
"Sejak hadirnya dirimu, kau mampu memberikan apa yang selama ini tidak aku milikki. Sesuatu yang seharusnya aku dapat dari Belle, justru kau lah yang memberikan itu semua. Aku merasa hidupku yang hanya abu-abu, kini sedikit berwarna. Rasa yang selama ini aku jaga untuk Belle berangsur hilang," sambungnya.
"Lalu?" tanya Kimmy, sedikit tidak sabar dengan jawaban Jef akan definisi itu semua.
Jef mengedikan kedua bahunya. "Aku tidak tahu perasaanku sekarang seperti apa. Padamu maupun pada Belle."
Kimmy membuang napas. Ia pikir Jef akan mengatakan dia mulai menyukainya atau yang lain. Tapi itu tidak masalah, sebab itu hanya perasaannya saat ini. Tidak tahu nanti.
Malam ini Belle pergi ke sebuah klub. Ia sebatas ingin menenangkan diri dengan minum agar bebannya bisa sedikit hilang dan pikirannya tenang. Ia duduk di kerumuni banyak pria yang haus akan dirinya. Tetapi sedikitpun tak melayani rayuan maupun godaan di antara orang-orang tersebut.
Seorang pria baru saja masuk ke tempat itu. Pandangannya seketika tertuju pada Belle yang tampak mabuk. Tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan. Melihat banyak pria yang mengelilingi, ia bergegas menghampiri dan membubarkan banyak pria itu.
"Jangan macam-macam padanya! Pergi!" usir pria itu, namun tak sedikitpun membuat Belle memperdulikan kehadirannya.
"Belle, are you okay?" tanya pria itu setelah duduk di samping wanita yang tengah tertunduk menangis.
__ADS_1
Belle mendongakan wajahnya. Ekspresinya seketika berubah marah, ia mendorong tubuh pria yang memegang bahunya cukup kasar.
"Pergiiii..!!" serunya dengan keras.
Pria itu hampir terjatuh. "Belle!" ia memegang kedua bahu Belle dan memutar tubuh itu sampai menghadanya.
"Pergilah, Lim! Aku tidak menginginkan kehadiranmu," pinta Belle dengan suara yang sangat lirih.
"Aku tidak akan pergi kemanapun, Belle. Aku akan di sini."
Belle menatap pria muda di hadapannya. Lim tersenyum padanya, tetapi itu malah membuat Belle menangis sesenggukan. Lim paham jika Belle sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Karena itu ia membawa Belle ke dalam pelukannya.
"Tidak usah khawatir, Belle. Aku ada bersamamu," bisik pria itu di antara kerasnya alunan musik yang mendominasi ruangan.
Lim membelai rambut Belle, mendekap wanita itu semakin erat. Tiba-tiba Belle melepaskan pelukannya dan muntah-muntah. Mungkin Belle minum teralalu banyak.
"Hoeekk.. Hoekk..."
Merasa khawatir, Lim segera membawa Belle keluar dari tempat itu. Ia memasukan Belle ke dalam mobilnya. Pria muda itu mengelap cairan muntahan bening yang mengalir ke leher Belle. Sampai akhirnya, kedua matanya tertuju pada benda kembar yang menampakan belahan keindahannya. Sebelah sudutnya terangkat membentuk senyum seringai.
Melihat Belle tampak lemas sekali, Lim berniat untuk membawanya ke Apartemennya. Kebetulan jarak tempat tersebut ke Apartemen hanya berkisar sepuluh menitan saja. Jadi, ia segera menancap gas sebelum pengaruh alkohol itu benar-benar hilang.
__ADS_1
Bersambung...