
Jef berdiri di balkon kamar ruang tamu guna melepas penat. Terpaan angin malam yang dingin begitu menyejukan dirinya. Sampai akhirnya ia di kejutkan oleh suara notifikasi pesan masuk yang berasal dari saku celana hitamnya. Segera ia rogoh benda tersebut dan membuka room chat.
Kimmy:
Terima kasih taksinya, aku senang sekali di bawa nyasar.
Jef mengerutkan alisnya begitu membaca pesan tersebut. Aneh, di bawa nyasar bukannya takut atau panik, gadis itu justru senang dan sangat berterima kasih sekali.
Jef Abellard:
Kok bisa nyasar? Kenapa senang?
Kimmy:
Supir taksinya sudah tua, dia sedikit lupa jalan.
Kimmy:
Senang, sekalian jalan-jalan. Hehehe :)
Jef menggelengkan kepalanya membaca chat dari Kimmy. Jalan-jalan karena nyasar saja gadis itu sudah merasa senang, apalagi jika di bawa jalan-jalan beneran.
Seketika sesuatu terlintas di pikiran Jef, bagaimana jika sesekali ia mengajak Kimmy untuk jalan-jalan. Meskipun sekedar keliling komplek, ia harus membawa gadis itu keluar rumah. Kimmy pasti merasa jenuh berada di rumah terus.
__ADS_1
Seorang wanita tengah mencari-cari keberadaan suaminya, ia harus bisa membujuk pria itu agar tidak marah padanya. Dan setelah mencari ke taman dan ruangan lainnya, ternyata suaminya itu tengah berdiri di balkon kamar ruang tamu. Segera ia hampiri suaminya tersebut.
Ting...
Notifikasi pesan membuyarkan lamuna Jef, begitu di lihat masih berasal dari orang yang sama.
Kimmy:
Besok mau aku bawakan bekal apa?
Jef mengangkat sebelah sudut bibirnya. Begitu akan mengetika balasan, ia merasakan tangan seseorang memeluknya dari belakang. Buru-buru ia masukan ponsel tersebut ke tempat semula.
"Sayang... Jangan seperti ini, ku mohon!" ucap Belle seraya memeluk Jef, sesekali ia meraba dada bidang milik tubuh yang tengah di peluknya.
"Aku tidak akan seperti ini jika kau seperti itu!" ujar Jef tegas.
"Sayang... Mengertilah pekerjaanku, istrimu ini seorang aktris besar yang tengah berada di titik kesuksesan. Seharusnya kau dukung apa yang saat ini aku lakukan," seru Belle dan Jef menyunggingkan sudut bibirnya.
"Selama ini aku mendukung apapun yang kau lakukan. Tapi apakah sampai harus mengambil film yang terdapat adegan vulgar agar namamu semakin di agungkan? Bahkan tanpa izin suami," cetus Jef tak habis pikir.
"Aku minta maaf, sayang...! Aku pikir kau mengerti dengan cara kerja seorang profesional. Maka dari itu aku langsung menanda tangani kontraknya ketika mereka memintaku untuk segera memutuskan."
"Seseorang memang di tuntut secara profesional, tapi jangan melupakan mana job yang harus di ambil dan mana yang tidak. Dan gelar aktris besarmu, aku yakin tidak hanya satu rumah produksi saja yang menawarimu untuk memerankan karakter di film mereka, tapi kenapa kau justru malah memilih film itu di antara film yang lainnya?"
__ADS_1
Kemarahan tampak terlihat jelas dari wajah Jef, pria iru masih tidak paham akan apa yang ada di pikiran Belle. Seharusnya Belle lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan.
"Ok, Jef. Ok! Iya, aku salah. Aku minta maaf sekali padamu. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?"
Jef menatap istrinya yang tampak serius memohon maaf darinya. Ia ragu jika Belle mau melakukan apa yang dia minta.
"Batalkan kontrak kerjamu, bisa?"
Belle bergeming. Mana mungkin ia akan membatalkan kontrak kerja yang jelas-jelas sudah di tanda tangani. Mana besok pihak Maxjaya Pictures mengajaknya makan siang untuk membahas film yang akan dia bintangi. Bisa-bisa ia akan di cap sebagai aktris yang tidak profesional.
"Akan aku coba," jawab Belle lirih.
"Aku tunggu surat pembatalan kontrak kerjanya," ucap Jef lagi kemudian melipir pergi dari sana.
Belle tidak lagi mengejar pria itu, ia memilih berdiri di tempat seraya mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini, sih? Heerrgh...!"
Belle menedang pagar besi balkon, sedetik kemudian ia memekik kesakitan.
"Sial..!" umpatnya.
Bersambung...
__ADS_1