
"Lain waktu ke rumah mama lagi, ya, Kimmy! Biar kita bisa masak bareng," pinta Anelis saat mengantarkan putra dan kedua menantunya di depan rumah.
"Iya, ma," balas Kimmy di sertai ulasan senyum.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobilnya usai berpamitan. Anelis melambaikan tangannya seiring mobil itu pergi.
"Mama bilang akan mengetes mana yang pantas atau tidaknya menjadi menantu kita."
Suara seseorang dari belakang Anelis membuat wanita itu membalikan tubuhnya.
"Mama sudah tahu jawabannya, pa," ujar wanita itu menciptakan kerutan dalam di kening Abellard.
"Siapa?"
Anelis tersenyum. "Tidak perlu di katakan juga kita sudah tahu jawabannya, pa."
Wanita itu melipir pergi, meninggalkan Abellard yang masih mematung di tempat dengan masih bertanya-tanya.
__ADS_1
"Apa itu.." pria paruh baya itu menggantungkan kalimatnya, diam sejenak lalu mengangkat bahunya ke atas.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun usai pulang dari rumah mertuanya, Kimmy belum bisa tidur juga. Pikirannya di penuhi banyak hal tentang hidup yang saat ini ia jalani.
Kimmy mengubah posisi tidurnya ke posisi yang lebih nyaman. Kedua tangannya memeluk guling cukup erat.
"Aku tidak habis pikir, ternyata kak Belle wanita yang di kenal publik sangat baik, ramah, itu ternyata memiliki sifat yang justru jauh berbeda," gumam Kimmy.
"Apa kak Belle cemburu, ya, kalau Jef bakal jatuh hati sama aku?" pikir wanita itu, kembali mengubah posisi yang semula miring menjadi terlentang, menatap langit-langit kosong.
"Lagipula, bukankah Jef juga terkenal sangat setia meski kak Belle sibuk dengan syuting dan karirnya? Maka dari itu, tidak mungkin juga Jef akan mudah jatuh hati padaku. Lihat saja, bagaimana romantisnya dia tadi di meja makan," lanjut Kimmy.
Tanpa ia sadari, jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul tiga. Ia tidak mau membuang-buang waktu istirahatnya hanya untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu jelas.
***
__ADS_1
Keesokan paginya.
Jef melarang Belle untuk tidak syuting terlebih dahulu. Ia masih khawatir dengan luka di tangan wanita itu.
"Kalau aku tidak di perbolehkan syuting, maka kau juga tidak boleh berangkat ke kantor!" pinta Belle sedikit memaksa.
Jef yang sudah rapi dengan stelan jasnya duduk di tepi ranjang. Sebenarnya pagi ini ia ada rapat penting dengan investor, tapi masih bisa di wakilkan oleh sekretarisnya.
"Iya, aku akan temani kau di sini," putus pria itu dan seketika di sambut senyum senang.
"Terima kasih, sayang!" ucap Belle memberi kecupan singkat di bibir seksi pria itu.
"Iya, hati-hati, Belle. Nanti tanganmu kenapa-kenapa," kata Jef cemas.
"Iya, sayang..."
Belle senang, sebab meskipun Jef sudah berstatus suami Kimmy, tidak juga mengurangi perhatian untuknya sedikitpun. Ia berharap akan seterusnya seperti itu. Tidak ada yang berubah, tetap menjadi Jef Abellard miliknya yang setia.
__ADS_1
Belle lekas memeluk pria itu erat-erat, menghirup aroma parfum khas dari suaminya. Belle beruntung sekali memiliki suami seperti Jef. Gagah, tampan, perkasa, mapan, idaman para wanita tapi tetap setia. Aaaah.. rasanya otor pun pengen suami seperti Jef Abellard. Bikin meleyot... Gak kuat gak ada obat. Wkwk.
Bersambung...