
Kimmy turun dari motor milik ojol yang di tumpanginya, ia lekas memberikan ongkos serta helm yang masih terpasang di kepalanya. Begitu masuk ke pelataran rumah, seorang pria tengah duduk di kursi karyu yang ada di depan rumah dengan rokok yang sedang di resap.
"Maaf lama, aku tadi ke rumah bibiku," ucap Kimmy begitu menghampiri pria yang sudah bangkit berdiri.
"Tidak apa-apa!" jawab Jef datar.
Kimmy mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tas kecilnya, lalu membuka pintu rumah tersebut.
"Ayo, masuk!" ajaknya.
Jef melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah usai membuang puntung rokok, pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Mau aku buatkan kopi?"
Sebuah pertanyaan yang entah kenapa Jef menyukainya. Sederhana tapi ia tidak pernah mendapatkannya dari Belle.
"Jangan terlalu manis!" jawab pria itu.
"Iya."
Kimmy bergegas melangkahkan kakinya ke dapur. Stok kopinya masih lumayan banyak. Ia segera menuang ke dalam cangkir dan menyeduhnya menggunakan air di panci yang sebelumnya ia panaskan. Setelah selesai, ia kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
"Kalau kurang manis, bilang saja, nanti aku tambah lagi gulanya," pinta Kimmy seraya menyodorkan cangkir di tangannya ke meja yang ada di hadapan Jef.
"Terima kasih!"
Jef langsung mengambil cangkir tersebut lalu menyeruput kopi yang masih mengeluarkan uap panas. Rasanya pas, tidak kurang maupun lebih.
"Oh ya, aku mau menanyakan sesuatu padamu. Apa kau tidak salah memberiku kartu ATM? maksduku, apa tidak tertukar?"
"Tertukar dengan siapa?" tanya Jef balik.
"Bukan begitu. Aku tadi mengambil uang untuk membelikan keponakanku mainan, begitu aku lihat saldonya, banyak sekali. Ratusan juta."
"Jangan!" tolak Kimmy seraya melambaikan tangannya. "Sampai batas akhir pernikahan kita pun sepertinya cukup."
Jef mengurungkan niatnya menyeruput kopi yang sudah sampai di bibirnya, entah kenapa ia terusik oleh kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Kimmy.
Kimmy sendiri yang menyadari mengatakan kalimat tersebut segera mengatupkan bibir membentuk garis lurus.
"Emm.. Aku harus ke dapur, aku harus menyiapkan makan malam untukmu."
Kimmy bangkit dari duduknya dan hendak beranjak, namun langkahnya terhenti saat Jef memintanya untuk tidak pergi kemana-mana.
__ADS_1
"Aku ingin bicara sebentar denganmu," pinta Jef memaksa Kimmy untuk duduk kembali.
"Bicara apa?" tanya Kimmy gugup, sebab Jef menatapnya begitu serius.
Cukup lama Jef menatap Kimmy, gadis itu sampai tidak sabar untuk segera pergi dari sana. Apalagi pelukan kemarin membuatnya sedikit canggung berada sedekat ini dengan Jef, meski pria itu adalah suaminya sendiri.
"Jika pernikahan di antara kau dan aku selesai dan kau mampu memberikan apa yang menjadi kesepakatan di antara pernikahan ini, apa kau yakin rela memberi anakmu untuk kami? Aku dan Belle maksudku."
Kimmy bergeming mendengar pertanyaan suaminya. Sejauh ini ia tidak kepikiran soal hal itu. Yang ia pikir mendapatkan sejumlah uang demi kebahagiaan bibinya meski menukar kebahagiaannya, tapi Kimmy tidak berpikir bahwa dia juga akan mengorbankan kebahagiaan anaknya kelak.
"Kau sudah berpikir sejauh itu?" tanya Jef menyadarkan Kimmy dari segala pemikirannya.
"Aku.."
"Belle pasti akan memintamu untuk pergi jauh dari kehidupan kami, dan dia juga pasti akan meminta kau tidak pernah akan pernah datang lagi. Apalagi sampai mengatakan jika kau ibu dari anakmu yang nantinya menjadi milik kami," imbuh Jef.
Kimmy meremas jemarinya yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Bodoh, itulah sebutan yang saat ini Kimmy tujukan pada dirinya. Kenapa ia begitu ceroboh dan gegabah sekali dalam mengambil sebuah keputusan tanpa berpikir jauh. Kalau sudah seperti ini, ia harus bagaimana?
Jika ia boleh egois, maka ia tidak akan membiarkan pernikahan ini berakhir. Paling tidak, ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri, yaitu tidak boleh hamil sampai usia pernikahan mereka tiga bulan. Meski harus membayar setengah dari uang yang sudah Belle berikan, setidaknya ia masih bisa menyelamatkan kehidupan anaknya.
Bersambung...
__ADS_1