
Usai meeting, Jef berniat akan pergi ke lokasi syuting Belle yang baru. Lantaran ia tidak tahu dimana tempatnya, ia menghubungi manager Belle terlebih dahulu, yaitu Rasson.
"Jangan mengatakan pada Belle jika aku akan datang ke sana!" pinta Jef di akhir telepon.
Jef menghidupkan mesin mobil lalu menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Setelah memakan waktu hampir satu jam, ia sampai di tempat yang Rasson kirimkan alamatnya sebelumnya. Lokasi syuting Belle kali ini lebih tertutup di banding sebelumnya. Pagar besi menjulang tinggi dan terdapat beberapa orang yang bertugas sebagai keamanan di sana.
"Permisi, apa benar ini lokasi syuting film garapan Maxjaya Pictures?" tanya Jef pada seseorang yang menghampirinya.
"Betul. Anda siapa, ya?" orang itu balik bertanya.
"Saya Jef Abellard, suami Mirabelle Loiuslyn yang menjadi pemeran utama di film mereka."
Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya, lekas mempersilahkan Jef untuk masuk ke area tersebut. Usai memarkirkan mobil di pelataran yang cukup luas, ia berjalan mengikuti orang tadi yang berniat mengantarnya ke dalam.
"Di sana ruangan syuting-nya berada. Apa mau saya antar sampai ke dalam?" tawar orang itu.
"Tidak perlu. Terima kasih banyak!" ucap Jef.
"Sama-sama," balasnya sebelum kemudian pergi dari sana.
Jef melangkah lebih masuk ke ruangan yang baru saja di tunjukkan orang itu. Seseorang dari kejauhan menghampiri dan menyambut kedatangannya.
"Selamat sore, tuan Jef."
"Sore, Rasson. Dimana Belle?" tanya Jef tanpa berbasi-basi.
"Belle sedang melakukan take, sin terakhir. Sebentar lagi akan selesai," jawab pria itu.
"Apa aku boleh melihatnya?"
Rasson bergeming. Pasalnya, Belle tidak tahu jika suaminya itu akan datang ke lokasi. Dan saat ini, Belle tengah melakukan adegan panas di atas ranjang. Apalagi, adegan kali ini lebih panas dari sebelumnya. Rasson khawatir akan rumah tangga mereka.
"Rasson!" Jef melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
"Hm, iya," Rasson terlihat sangat gugup.
"Aku ingin melihat seperti apa Belle berakting di film barunya."
"Ya, tentu saja. Ikut aku!" ajak Rasson ragu, ia sengaja melambat, supaya Belle benar-benar sudah menyelesaikan sin terakhirnya ini.
__ADS_1
"Cuuut!" teriak seorang sutradara. Ia masih kurang puas akan akting mereka saat ini. Ia meminta Belle dan Lim untuk mengulang adegannya.
"Belle, kami mengharapkan totalitasmu! Anggap saja kalian sedang melakukan sesuatu sebagai sepasang kekasih," pinta sutradara itu dengan tegas.
"Dan kau, Lim! Bawa Belle ke dalam duniamu sampai dia terhanyut! Ok!"
"Siap."
Belle merasa sangat lelah sekali. Adegan ini sudah terulang selama empat kali. Bahkan peluh sudah bercucuran dari pelipisnya. Napasnya pun tersengal. Lantaran mereka sengaja tidak memakai pendingin udara di sana.
"Gunakan nalurimu, Belle! Nikmati saja," bisik Lim.
"Kameraa.. Rolling, action!"
Lim menarik tubuh Belle seakan merasa kurang akan kerapatan jarak di antara mereka. Tangannya beegerak liar membelai rambut hingga turun ke leher dan mengecup area sensitif itu. Mimik wajah Belle seolah terbuai akan perlakuan Lim. Padahal ia bergidik sendiri.
Agar memaksimalkan aktingnya, kini tangan Lim mulai merayap dan menyelinap masuk ke dalam cup beha. Belle memberi sorot mata tajam kode peringatan, sebab hal itu tidak ada dalam naskah skenario, tapi Lim segera membisikan sesuatu padanya.
"Bonus," bisiknya lembut.
Ingin menepis dan memprotes, tapi Belle sadar hal itu akan membuat adegan meraka di ulang-ulang. Tapi jika di biarkan, tangan Lim semakin kurang ajar bahkan tangan itu beraninya memberi sebuah remmaasan.
Menangkap hal tersebut, sutradara bukannya menghentikan, ia justru merasa terkagum-kagum. Seakan semuanya seperti natural, tidak seperti sedang berakting.
Pertanyaan seseorang yang baru saja datang membuat semuanya menoleh. Termasuk Belle dan Lim. Wanita itu terkejut bukan main. Ia bahkan mendorong tubuh Lim dengan spontan.
"Jef..!" Belle panik, ia mengambil pakaian dan segera memakainya. Lantaran sebelumnya hanya memakai pakaian dalam.
Semua yang berada di sana terheran melihat kedatang sosok pria bertubuh gagah itu.
"Siapa kau? Berani sekali mengganggu kerja kami?" tanya sutradara itu.
Jef menoleh, memberi sorot mata tajam pada sutradara tersebut.
Belle lari menghampiri Jef. "Jef, sejak kapan kau di sini?" raut wajah Belle menampakan kepanikan dan rasa takut.
"Belle, siapa dia?" tanya sutradara.
"Ini suamiku," jawab Belle.
Sutradara itu terkejut, tapi sedikitpun tidak menunjukan sikap rasa bersalah.
__ADS_1
"Pengkhianatan yang terbungkus oleh kata profesional. Hebat kau, Belle!"
Belle menggeleng. "Ini tidak seperti yang ku pikirkan, Jef! Ku mohon, mengertilah."
Belle menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia hendak membawa Jef untuk pergi dari sana, guna menghindari sorot mata orang-orang yang ada di sana. Tetapi Jef menahan diri dan tatapannya tertuju pada Lim yang masih berada di atas ranjang. Pria itu tersenyum padanya seolah tidak apapun di antara mereka.
"Senang bisa menjadi lawan main istrimu, tuan!" ucap Lim dengan senyum penuh ejek.
Jef mengepalkan kedua tangan. Seolah pria muda itu tengah menginjak harga dirinya sebagai seorang pria sekaligus suami. Ia berjalan menghampiri Lim dengan langkah lebar dan memberi sebuah pukulan yang mendarat dengan mulus di pipi sebelah kiri Lim.
"Kurang ajar! Jaga bicaramu!" seru Jef dengan nada tinggi.
"Jeeff..!" teriak Belle.
Kini orang-orang yang berada di sana ikut berdiri guna melerai pertengkaran yang terjadi. Lim tidak membalas, ia hanya memberi senyuman ejek pada pria yang telah memukulnya.
"Sudah, sudah! Jangan membuat keributan di sini! Silahkan pergi dari sini, anda sudah mengganggu dan membuat kekacauan!" usir sutradara itu terlihat geram.
Jef membalikan tubuhnya, menghunuskan tatapannya pada sutradara tersebut.
"Hentikan film ini jika tidak ingin berakhir sampah!"
Kalimat Jef berhasil memancing emosi para tim kru.
"Hati-hati kalau bicara! Kau bisa kami pidanakan atas penghinaan sebuah karya!" sentak seorang produser.
"Kalian juga bisa kami tuntut atas kasus pelecehan yang mengatas namakan profesional," ancam balik Jef.
Sutradara tersenyum menyeringai. "Oh jelas tidak bisa. Sebab di sini sudah ada perjanjian kontrak kerja sama dengan Mirabelle. Lagipula, adegan film seperti ini merupakan hal lumrah jika luar negeri. Dan, ini tidak ada apa-apanya di banding film-film mereka."
"Tapi aku tidak mengizinkan Belle untuk melanjutkan main di film ini!" seru Jef.
"Kami tidak perduli. Belle sudah sepakat dengan aturan yang kami buat. Mengenai kau mengizinkan Belle atau tidaknya, itu bukan masalah kami. Sepertinya kalian tidak memiliki waktu berdua, sehingga hal-hal seperti ini bisa terjadi," tukas tim kru.
"Baik. Aku akan membahas hal ini dengan Belle. Dan aku pastikan, ini syuting terakhir Belle di film sampah kalian."
Jef menarik Belle pergi dari sana. Tidak terima akan penghinaan Jef, pria itu meneriakan sebuah kalimat ancaman.
"Kami juga akan pastikan ini syuting terakhir di dalam hidup Mirabelle!" Belle menghentikan langkahnya. "Setelah ini Mirabelle tidak akan pernah mendapatkan job untuk main film apapun di rumah produksi manapun," imbuh mereka.
"Tidak usah pikirkan ucapan mereka jika kau masih memikirkan perasaanku!" ucap Jef dan kembali menarik lengan wanita itu keluar.
__ADS_1
Belle berjalan melewati Rasson, pria itu menundukkan wajah seperti orang yang merasa bersalah. Dari sini, Belle yakin jika Rasson lah yang sudah memberi tahu Jef akan lokasi syutingnya berada.
Bersambung...