Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Balon Berisi Mayones


__ADS_3

Mirabelle masih bingung harus pergi ke Apartemen, Villa, rumah peninggalan orang tuanya, atau bahkan ke hotel. Sebab yang saat ini ia butuhkan adalah tempat untuk mengasingkan diri. Tidak boleh ada yang tahu keberadaannya, terutama para fans-nya.


Belle tidak sanggup membayangkan jika para fans-nya tahu kalau dirinya sekarang menyandang status sebagai janda. Ia tidak sanggup di cibir atau di beri komentar yang sangat pedas melebihi boncabe. Terlebih jika mereka semua tahu, status ayah dari calon bayinya tidak jelas. Oh, tamatlah riwayatnya sepertinya.


Belle menepikan mobilnya di tempat yang tampak sepi. Dari sekian banyak tempat yang menjadi pilihan akan tujuannya, ia tiba-tiba kepikiran soal rumah kecil yang pernah ia berikan untuk Kimmy tinggal. Entah kenapa, ia merasa itu tempat yang ingin ia tinggali sekarang. Sebab Kimmy sudah tidak lagi tinggal di sana.


Denting notifikasi pesan masuk membuyarkan segala pemikirannya. Tiba-tiba salah satu pihak rumah produksi Maxjaya Pictures memberinya kabar, jika film yang di bintanginya itu akan segera tayang minggu depan.


Deeggg..!!


Detak jantung Belle terasa terhenti begitu saja. Sepertinya ia akan menghadapi masalah yang lebih besar lagi. Jika berita perceraiannya saat ini akan di ketahui publik, maka film itu yang akan menjadi penyebab utama yang mereka pikirkan.


"Oh, Tuhaaaan.. Apalagi ini??" keluh Belle.


Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup, ia pasrah dan ingin menyerah. Bom kehancuran benar-benar sudah di depan mata, dan sebentar lagi bom itu akan meledak.


"Aku harus pergi ke rumah itu dan tetap di sana!" ujarnya.

__ADS_1


Ia menghidupkan mesin mobilnya kembali, lalu melajukan mobil tersebut dengan kecepatan normal. Sebelum benar-benar pergi ke rumah yang ia tuju, Belle menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket. Ia membeli banyak bahan masakan di sana. Sebab selama mengasingkan diri, tidak boleh ada satupun orang yang mengetahuinya termasuk driver pengantar makanan.


***


Semalaman penuh Jay tidak tidur, ia ikut menginap di hotel tepat di sebelah kamar tempat Lim dan Imel menginap. Tiga cangkir kopi hitam sudah tandas, tapi rasa kantuk terus saja melanda.


Begitu matanya akan terpejam, ia mendengar pintu kamat sebelah di buka oleh seseorang. Ia terlonjak bangun dan beranjak dari sana, memastikan apakah Lim dan Imel akan pergi dari sana.


Benar saja, Lim dan Imel rupanya akan pergi usai bersenang-senang. Keduanya pergi meninggalkan kamar dengan tangan saling berpaut, bahkan sesekali Imel bergelayut manja pada pria muda itu.


Jay keluar dari balik pintu kamarnya. Ia memandang ke arah perginya Lim dan Imel, mereka sudah tidak lagi terlihat. Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, Jay meminta kunci kamar yang baru saja Lim pakai pada seseorang yang bekerja di hotel tersebut. Tentu saja pegawai hotel itu menolak memberikan kunci kamarnya. Tapi setelah Jay mengatakan berbagai alasan yang meyakinkan pegawai hotel tersebut, akhirnya si pegawai itu memberikan kunci kamar tersebut.


"Aku harus menemukan sebuah bukti yang kuat untuk menghancurkan nama baik pria itu," ujarnya dengan semangat api yang membara.


Jay adalah orang kepercayaan Jef ketika ia di minta untuk memecahkan suatu masalah. Ia tidak pernah gagal dan sekarang ia pun harus berhasil. Ini bukan soal bayaran, tapi tentang tanggung jawab atas tugas yang di berikan Jef padanya. Sebab, keluarganya berhutan budi besar pada keluarga Abellard.


Jay menyusuri setiap sudut kamar tersebut, bahkan ia pergi ke kamar mandi yang terdapat di sana. Tidak ada bahan yang bisa di jadikan bukti jika Lim pria brengsek. Sampai akhirnya Jay memutuskan untuk pergi dan mencari bahan bukti lainnya.

__ADS_1


Seketika langkahnya urung, sepatunya menginjak sesuatu di dekat tong sampah kecil di dekat pintu kamar mandi. Ia mengangkat kakinya dan sebuah cairan putih kental menempel di telapak sepatunya.


"Sial..!!" umpatnya.


Jay berjongkok, di depannya ada sebuah benda mirip balon namun sudah terisi oleh cairan mirip mayones. Ekspresinya berubah seperti orang yang jijik melihat sesuatu. Meski demikian, ia harus mengambil foto benda tersebut sebagai bukti untuk memperkuat jika Lim memanglah pria teramat brengsek.


Usai mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, Jay pergi dari tempat tersebut. Ia pergi menuju bassement hotel menuju mobilnya. Jay terkejut melihat Lim masih berada di sana, tapi tidak bersama Imel. Pria itu sendirian dan tampak sedang menerima telepon dari seseorang.


Karena Jay pikir obrolan itu penting dan ada hubungannya dengan Belle, Jay segera mengambil ponselnya dan mulai merekam apa saja yang di bicarakan oleh pria itu.


"Ok, aku akan datang ke sana bersama manager-ku nanti siang," ucap Lim mengakhiri sambungan telepon.


Pria itu memasukan benda pipih tersebut ke dalam kantung celananya, ia menyandar di body mobil sembari menghirup napas panjang. Kedua bibirnya mengulas sebuah senyum penuh kebahagiaan dan kemenangan.


"Satu bulan lalu Belle pun menyenangkan dan agresif, tapi itu semua karena dia berada dalam pengaruh alkohol. Ia bahkan tak mengenaliku. Tapi sekarang, Imel jauh lebih agresif dan menyenangkan. Imel membuatku candu," ujar pria itu sembari membayangkan kejadiannya bersama para wanita yang ia tiduri.


Jay mengakhiri rekamannya pada saat Lim sudah pergi bersama mobilnya. Sepertinya apa yang ia dapatkan sejauh ini tentang Lim sudah cukup untuk menghacurkan pria itu dalam waktu dekat ini. Tapi sebelum itu, ia harus berkonfirmasi pada Jef, sebab Lim baru saja menyebut-nyebut nama Belle.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2