
Proses pemakaman Lim pun selesai. Jef dan Kimmy menemani Belle untuk menghadiri proses pemakaman tersebut. Tapi anehnnya, mereka tidak melihat tanda-tanda keberadaan pihak keluarga mendiang yang datang.
Setelah semuanya bubar, Belle mulai memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat ke arah makam Lim. Di balik kaca mata hitam tabg saat ini ia gunakan, terdapat air mata yang luruh, namun ia segera menyekanya.
Belle berjongkok, ia menaruh buket bunga yang ia bawa sejak tadi ke dekat nisan. Ia terdiam cukup lama, sementara Jef dan Kimmy sudah pamit lebih dulu untuk menunggunya di mobil.
Tangan Belle meraih papan nisan, ia masih tidak menyangka jika pria itu sudah tiada.
"Lim.. Aku datang kesini karena anakku, anak kita. Bagaimanapun, anak yang ada dalam kandunganku ini tak berdosa. Aku akan membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang," ucap Belle lirih.
"Meski kau pria brengsek dan sialan juga merupakan bagian terburuk dalam hidupku, aku tidak akan pernah manumpahkan apalagi meluapkan kekesalan dan amarahku pada anak ini nanti. Meski tidak di akui, aku akan tetap mengatakan jika kau ayahnya pada anakku nanti," sambungnya.
"Beristirahatlah dengan tenang di sana, Lim. Mungkin ini jalan yang terbaik untukmu di saat semua orang di dunia ini membencimu, menghujatmu, melontarkan makian yang teramat kejam. Akupun akan pergi ke luar negeri, bukan bermaksud untuk menghindar, tapi aku perlu menyelamatkan diri demi kesehatan aku dan anakku. Anak kita. Selamat tinggal, Lim."
Belle bangkit berdiri, menatap batu nisan yang bertuliskan nama pria itu. Setelah cukup lama berdiri, ia beranjak dari sana menghampiri Jef dan Kimmy yang sudah duluan pergi ke mobilnya.
Kimmy memeluk Belle begitu wanita itu kembali, ia tahu jika Belle sedang membutuhkan kekuatan karena terlalu rapuh. Sebagai seorang wanita, Kimmy tahu bagaimana perasaan Belle sekarang.
"Yang kuat, kak Belle," ucap Kimmy.
Belle melepaskan dirinya dari pelukan Kimmy setelah merasa cukup. "Terima kasih, Kimmy. Kau baik," ucap serta pujinya.
"Sama-sama, kak Belle."
Belle berganti menatap ke arah Jef, pria itu tidak mengatakan apapun selain turut berduka cita. Belle mengerti, Jef sedang berusaha menjaga jarak maupun komunikasi demi menjaga perasaan Kimmy. Bagaimanapun di antara mereka pernah terjalin hubungan dengan waktu cukup lama. Dan Jef merupakan tipe pria yang setia ketika sudah mencintai satu wanita, istrinya.
"Oh ya, Kimmy, Belle, aku sekalian ingin pamit dengan kalian. Setelah mengurus tiket keberangkatan, rencananya aku akan tinggal di Belanda," ucap Belle setelah beberapa saat terjadi keheningan.
Kimmy menatap ke arah suaminya. "Kak Belle yakin jadi pergi ke luar negeri?" tanya Kimmy kemudian.
Belle mengangguk. "Iya," jawabnya mantap.
***
Detik berganti menit serta jam. Hari berganti menjadi bulan. Tidak terasa, usia kehamilan Kimmy kini sudah mengginjak sembilan bulan. Semua orang sudah tidak sabar menunggu buah hatinya.
Selama hamil, Kimmy memang tinggal bersama keluarga Abellard. Anelis yang memintanya untuk tetap tinggal di sana selama hamil, padahal Jef merasa segan dan ingin tinggal di rumahnya saja. Tetapi Anelis tetap saja kukuh, Kimmy harus tinggal di sana saja selama belum melahirkan.
Seperti sekarang ini, mereka tengah makan malam bersama. Menikmati hidangan hasil masakan Azuma yang membuat siapa saja terkagum dengan masakannya. Dan membuat makan mereka berselera.
Berbeda halnya dengan Kimmy, wanita yang paling semangat untuk makan hasil masakan wanita paruh baya itu justru tak menyentuh makanan itu sama sekali. Ia menundukan wajahnya di antara orang-orang yan tengah sibuk makan, ia merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya.
Jef yang menyadari istrinya tengah merasa kesakitan segera bertanya.
"Kimmy, kau kenapa?" tanya Jef cemas, wanita itu meremas ujung bajunya guna menahan rasa sakit tersebut.
Semua orang mendongakan kepala dan perhatian beralih sepenuhnya pada Kimmy.
"Ada apa, Jef?" tanya Anelis ikut khawatir.
__ADS_1
Kecemasan Jef kian bertambah saat melihat sebuah cairan bening mengalir di bawah kursi yang di duduki oleh Kimmy. Jef menatap wajah Kimmy yang saat ini tengah menatapnya juga.
"Sepertinya aku mau melahirkan," ucap Kimmy lirih seperti menahan sakitnya kontraksi.
Pernyataan barusan membuat semua orang menghentikan makannya. Termasuk dua bocah kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Mau melahirkan?" ulang Anelis.
Kimmy mengangguk.
"Jef, cepat bawa Kimmy ke rumah sakit!" seru Anelis, antara cemas dan bahagia kini ia rasakan menjadi satu.
"Cairan ketubannya sudah pecah, harus segera di bawa ke rumah sakit secepatnya," kata Azuma begitu melihat cairan bening yang mengalir di kaki Kimmy.
"Iya.." jawab Jef sembari akan membopong tubuh Kimmy tang sudah tidak kuat untuk berjalan.
"Hati-hati, Jef!" Abellard mengingatkan putranya ketika membopong Kimmy dalam keadaan perut besar.
Jef berjalan tergesa-gesa keluar rumah, semua orang ikut dan membukakan pintu mobil untuk Kimmy. Abellard yang menawarkan diri untuk menyetir, sementara Jef duduk di samping kemudi. Kimmy di jok belakang kemudi bersama Anelis dan Azuma, dan dua bocah kecil duduk di bagian jok paling belakang.
"Yang sabar, ya, sayang... Kau pasti kuat," ujar Anelis begitu melihat wajah menantunya tampak pucat.
Keringat dingin mulai bercucuran, Kimmy mulai merasakan begitu dahsyatnya kontraksi. Darah seakan terserap habis oleh tenaganya, ia mersakan tubuhnya sedikit melemas.
Mobil sampai di rumah sakit terdekat, mereka tidak lagi menperdulikan rumah sakit besar, fasilitas terbaik, berkelas dan semacam lainnya. Yang mereka pikirkan saat ini yaitu keselamatan Kimmy dan juga bayinya.
Kimmy langsung di tangani oleh Dokter dan segera di bawa ke ruang khusus untuk melahirkan. Jef meminta izin untuk ikut masuk guna menguatkan istrinya dan untungnya di perbolehkan.
"Sudah pembukaan sembilan, di pembukaan sepuluh nanti sudah bisa mengejan," ujar Dokter.
"Sekarang nona Kimmy latihan untuk mengejannya saja dulu, ya!"
Kimmy mengangguk lemah. Ia merasa peutnya semakin mulas.
"Tarik napas panjang, tahan, lalu keluarkan dari mulut."
Kimmy mengikuti apa yang Dokter itu katakan. Ia melakukannya berulang kali agar dirinya rileks.
"Berapa lama lagi, Dok?" tanya Jef sudah tidak sabar.
"Tunggu sebentar, ya!"
Jef sebetulnya tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti sekarang. Ia berusaha menguatkan istrinya dengan menggenggam tangan sebelah kanan Kimmy yang terasa dingin.
"Sudah pembukaan sepuluh nona. Mari mulai mengejan. Tarik napas panjang, kemudian dorong mengejan, ya!" kata Dokter memberi instruksi.
"Baik, Dok," jawab Kimmy.
Ia pun mengikuti instruksi Dokter. Kimmy mulai mengejan, suasana kini sudah cukup menegangkan.
__ADS_1
Orang-orang yang menunggu di luar sudah tidak sabar menunggu sang buah hati. Mereka juga di selimuti rasa cemas, namun mereka tak berhenti berdo'a agar Kimmy dan bayinya selamat.
"Dorong sekali lagi, nona!" pinta Dokter begitu kepala bayi sudah keluar.
Napas Kimmy sudah tidak lagi beraturan, ia merasakan sakit dan tidak kuat lagi.
"Sayang.. Kau harus kuat, tidak boleh menyerah. Kau adalah wanita yang kuat dan sebentar lagi akan menjadi ibu yang hebat. Semangat..!"
Jef berusaha memberi Kimmy semangat serta menyalurkan kekuatan agar Kimmy tidak menyerah apalagi putus asa.
Kimmy menarik napas panjang, memejamkan mata, wajah bayi terlintas dalam kepalanya. Hal tersebut membuatnya semakin semangat untuk segera bertemu dengan bayinya sendiri.
"Mmmmmmmmmmm....." Kimmy mengejan dengan sisa tenaganya.
Sedetik kemudian.
"Oeekkk.. Oeeekk.. Oeekk.."
Suara tangisan bayi terdengar menggema di seluruh ruangan, bahkan terdengar sampai ke luar. Semua orang ikut menangis, tangis bahagia. Anelis dan Abellard langsung bersujud syukur, sebab apa yang selama ini ia inginkan telah Tuhan berikan.
"Alhamdulillaah.. Bayinya lahir dengan selamat dan sehat," ucap Dokter.
Beliau memberikan bayi tersebut usai di bersihkan pada Kimmy. Tanpa sadar, air mata Kimmy terjatuh begitu menggendong dan melihat wajah bayinya yang sangat cantik.
"Sayang.." Kimmy mengusap lembut pipi bayinya menggunakan ibu jari. Kemudian mengecup lembut bayi tersebut.
"Selamat datang di duniamu, anakku," ucap Jef, kemudian ikut mendaratkan kecupan lembut pada bayi mereka.
Bayi tersebut tersenyum seolah paham dengan apa yang di ucapkan oleh kedua orang tuanya. Kemudian Kimmy mulai memberikan asi pada bayinya, meski airnya belum begitu banyak.
Jef memeluk Kimmy dan bayinya, keluarga kecil yang tengah berbahagia. Kehadiran sang buah hati benar-benar melengkapi kebahagiaan mereka saat ini.
"Terima kasih Kimmy sayang, kau sudah menjadi istri dan ibu yang hebat dan sempurna. Aku mencintaimu Kimmy Anxinuella," ucap Jef bangga.
"Itu semua tidak terlepas dari suami dan ayah yang hebat juga sepertimu," balas Kimmy.
Keduanya benar-benar merasa jika kebahagiaan tengah berpihak kepadanya.
"Kita beri nama apa untuk anak kita yang cantik ini?" tanya Kimmy.
Jef terlihat berpikir sejenak. "Bagaimana kalau Ariana Putri Abellard?"
"Nama yang sangat cantik seperti bayinya," ucap Kimmy setuju.
TAMAT..
Sebelumnya aku mau berterima kasih sekali kepada pembaca setia DARK WIFE MR. JEF. tidak terasa kita sudah berada di penghujung cerita. Terima kasih sudah sejauh ini menemaniku dalam menyelesaikan novel ini.
Selamat bertemu kembali di novelku yang baru, nanti aku akan umumkan ketika novelku yang baru sudah di publish. See you.
__ADS_1
Salam hangat,
Wind Rahma