
Tid.. Tid..
Suara klakson mobil lain berhenti di depan gerbang rumah Abellard. Belle mengembangkan senyum lebar yang merekah begitu melihat mobil tersebut milik ayah calon bayinya. Sementara satpam dengan buru-buru membukakan pintu gerbang.
Begitu mobil akan memasuki gerbang, Belle berdiri di depannya menghadang mobil Jef. Pria itu membuka kaca pintu samping mobilnya.
"Menyingkirlah, jika tidak aku akan menabrakmu!" ancamnya.
Alih-alih takut dengan ancaman Jef, Belle justru memberi ancaman balik pada pria itu.
"Tabrak saja, sebab bukan hanya aku yang mati, anakmu juga!" serunya.
Azuma yang baru saja keluar rumah berinisiatif membuang sampah sekantong plastik hitam besar menghentikan langkah, ia tidak sengaja mendengar seruan wanita cantik yang asing di matanya.
Jef mengernyit, lalu ia putuskan untuk turun dari mobilnya. Ia berjalan dan berdiri di hadapan Belle dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.
Belle mengulas senyum. Lalu meraih buah tangan Jef dan meletakannya ke bagian perut datarnya.
"Ini anakmu, anak kita, sayang.." ucap Belle penuh percaya diri.
Azuma yang berdiri di kejauhan membungkam mulutnya tidam percaya, tapi ia memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang nantinya akan Jef katakan.
Dengan cepat Jef menarik tangannya dari perut Belle. "Jangan Halu!" hardiknya.
"Aku tidak halu, Jef. Ini anakmu, kalau tidak percaya, aku ada buktinya," Belle mengambil sesuatu dari dalam tas jinjingnya.
__ADS_1
Ia mengeluarkan selembar foto hasil USG. Lalu memberikannya pada pria di hadapannya.
"Ini buktinya jika aku tengah hamil. Aku mengandung anakmu, sayang.."
Jef meraih selembar foto hasil USG dari tangan Belle secara perlahan, dan begitu ia lihat sepertinya itu asli.
"Usia kandunganku sudah akan menginjak minggu keempat, sayang," imbuh Belle.
Jef masih bergeming, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Selang beberapa detik, kertas tersebut di robek oleh Jef. Kedua mata Belle memelotot sempurna.
"Jef, apa yang kau lakukan?" Belle hendak merebut kertas itu, tapi sayangnya sudah robek berkeping-keping.
Robekan kertas tersebut Jef lempar ke udara dan berjatuhan di tanah. Belle merasa tidak terima oleh perlakuan Jef barusan.
"Kenapa kau melakukan itu?" seru Belle sembari menggoyang-goyangkan kedua lengan Jef.
Jef menepis tangan Belle yang masih berani menyentuh tubuhnya.
"Tapi ini sungguh anakmu, Jef!" Belle terus meyakinkan.
"Berhenti mengatakan itu anakku! Anakku hanyalah satu, yaitu yang sedang tumbuh di dalam rahim istriku-Kimmy Anxinuella."
"Tapi ini juga anakmu, Jef!" Belle tetap kekeh, ia harus bisa meyakinkan Jef jika itu anak mereka.
"Usia kandunganmu tidak jauh berbeda dengan usia kandungan Kimmy. Bagaimana bisa kau menyebut itu anakku? Kau sudah tidak waras, Belle!" hardik Jef kemudian beranjak dari sana.
Belle meraih tangan Jef untuk mencegah pria itu pergi.
__ADS_1
"Dengarkan aku, Jef! Kau mengatakan jika ini bukan anakmu karena kau mengira ini anak aku dan Lim, kan?"
"Aku tidak mengatakannya. Mungkin itu perasaanmu saja dan bisa jadi itu benar."
"Tidak, Jef. Aku berhubungan dengan Lim sekitar dua minggu lalu, dan bagaimana mungkin ini anak Lim sementara usia kandunganku saja sudah memasuki minggu keempat?"
"Mungkin itu anakmu dengan pria yang lain!" jawab Jef tanpa beban.
"Jeeefff.. !!!" pekik Belle, entah harus dengan cara apalagi ia meyakinkan pria itu jika anak yang ada dalam kandungannya itu anak mereka.
"Oh ya satu lagi." Jef membalikan badannya begitu akan pergi dari hadapan Belle.
"Kenapa kau begitu terlihat bahagia memamerkan kehamilanmu padaku, sedangkan selama ini kau tidak pernah mau hamil bukan?"
Belle bergeming. Jef benar, kenapa ia memiliki perasaan bahagia dan begitu bersemangat menunjukan hasil USG pada Jef? Apakah selama ini ia begitu bodoh melewatkan momen seperti ini, momen yang seharusnya memang menjadi kebahagiaannya bersama Jef beserta keluarganya?
"Ah ya, aku melupakan sesuatu. Tunggu sebentar!" Jef kembali ke dalam mobilnya dan kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ini surat resmi perceraian dari pengadilan agama."
Belle tercengang melihat selembar amplop putih panjang di tangan pria itu.
"Mulai detik ini, jangan pernah menyibukan diri untuk meyakinkan aku sebagai ayah dari anak yang kau kandung. Sebab sudah jelas itu bukan anakku. Lebih baik, kau cari siapa ayah anak itu yang seebarnya!"
Jef melempar amplop panjang tersebut ke hadapan Belle, kemudian kembali ke mobilnya untuk memasukan ke pelataran rumah. Sementara satpam yang sedari tadi menguping pembicaraan di antara keduanya segera menghampiri Belle.
"Selamat men-JANDA ya, nyonya!" ucapnya di sertai tawa cekikikan.
__ADS_1
Kedua mata Belle mulai menyala, itu artinya wanita itu tersulut emosi. Satpam segera menjauh agar tidak menjadi sasaran luapan emosi Mirabelle Louislyn.
Bersambung...