
"Untuk saat ini sepertinya perusahaanku belum memerlukan investor lagi. Terima kasih banyak atas tawarannya, tuan Zicko!"
Jef menarik ponsel yang semula di tempelkan ke daun telinga, lalu mematikan saluran teleponnya. Kabar mengenai putusnya kontrak kerja sama perusahaannya dengan Victor sudah terdengar oleh rekannya, maka dari itu Zicko menawarkan seorang investor baru.
Sementara di tempat lain, seorang pria bertubuh besar tengah berbincang di telepon. Tidak berapa lama, perbincangan itu selesai. Seorang wanita yang baru saja menyelesaikan satu sin pertama menghampirinya.
"Apa yang terjadi, Son?" tanya seorang wanita begitu melihat ada hal yang tengah di pikirkan manager-nya.
"Rumah produksi Maxjaya Pictures memintamu untuk segera mengambil keputusan, Belle. Jika kau mau mengambil job-nya di film yang akan di rilisnya itu, maka aku akan segera mengurus semuanya," jelas Rasson, manager Belle.
"Urus saja!"
"Kau yakin tidak akan mempertimbangkannya lagi, atau sekedar meminta izin kepada suamimu? Ini sedikit sensitif dan kau harus menanyakan adegan apa saja yang harus kau lakukan," tanya Rasson sedikit ragu.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kau bisa ambil surat kontraknya dan aku akan menanda tanganinya," ucap Belle mantap.
__ADS_1
"Hanya ada dua pilihan ketika kita memerankan karakter di suatu film, Belle. Booming karena pujian atau booming karena hujatan," cetus pria itu mencoba mengingatkan Belle.
Belle terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan, tapi mengingat beberapa film yang di perankannya belakang ini selalu sukses dan menuai pujian yang semakin membesarkan namanya.
***
Matahari sudah mulai condong ke barat, itu artinya sebentar lagi hari akan berganti menjadi malam. Hari pertama Kimmy bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh suaminya telah selesai. Ia bersama teman satu kubikelnya sedang merapikan meja masing-masing.
"Kimmy, aku duluan, ya," pamit Moza begitu sudah selesai.
Kimmy menganggukan kepalanya seraya mengulas senyum pada wanita yang seumuran dengannya. Di susul oleh Lena dan juga Neta. Kini hanya ada ada dirinya di kubikel tersebut. Sementara beberapa yang lain juga masih menyelesaikan pekerjaannya di kubikel masing-masing.
Aah.. Perasaan aku saja kali, ya? ujar Kimmy dalam hati.
Gadis itu melanjutkan merapikan mejanya, setelah selesai ia buru-buru pergi dari sana. Lift membawanya kembali turun ke lantai dasar.
__ADS_1
Dering notifikasi berasal dari tas kecilnya membuat Kimmy menghentikan langkah, ia mengambil ponselnya dan membaca pesan teks yang baru saja di kirim seseorang.
Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kau bisa naik taksi yang ada di luar gerbang.
Pesan tersebut di kirim oleh Jef, Kimmy menoleh ke luar gerbang besar berjarak sepuluh meter dari tempat berdirinya. Benar, ada taksi di sana. Ia melanjutkan langkahnya menghampiri taksi tersebut.
"Nona Kimmy?" tanya supir taksi yang sudah tampak tua di makan usia.
Kimmy pun menganggukan kepalanya. Mungkin ini benar taksi yang di maksud oleh suaminya.
"Saya di minta tuan Jef untuk mengantar nona pulang," ujar supir itu semakin menyakinkan Kimmy untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
"Baik, pak. Terima kasih."
Kimmy lekas masuk ke dalam taksi tersebut. Mobil pun melaju membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Seorang pria tengah berdiri di balkon ruangannya, melihat ke arah bawah yang jauh di sana. Senyumnya menampakan kelegaan ketika seorang gadis sudah di bawa pulang oleh taksi yang sebelumnya ia pesan.
Bersambung...