
Jef tiba di rumah pukul 9 malam. Tubuhnya terasa lelah sekali usai menyelesaikan setumpuk pekerjaannya yang tidak bisa di handle oleh Cheryl.
Pria itu membuka pintu kamarnya, senyuman Belle meyambut kedpulangannya. Bukannya senang, ia justru menatap wanita itu terheran.
"Tumben sudah pulang."
Jef berjalan ke arah sofa usai menutup pintu kamarnya. Belle yang semula duduk di atas ranjang beranjak menghampiri suaminya.
"Syuting film-ku sudah selesai, Jef." Belle menjatuhkan tubuhnya duduk tepat di samping Jef.
Tidak ada jawaban dari pria itu, Jef sibuk membuka jasnya lalu di bantu oleh Belle. Pria itu mengambil sebatang rokok dan menyulatnya.
"Mau aku pesankan kopi?" tawar Belle berusaha merayu suaminya.
Alih-alih menjawab, pertanyaan Belle justru bersahut-sahutan dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Kimmy di kepalanya.
"Tidak usah," tolak Jef menyesap rokoknya kemudian.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam, yuk! Kau pasti sudah sangat lapar, asisten rumah kita sudah membuatkan makanannya!" ajak Belle lagi-lagi di tolak oleh suaminya.
"Aku tidak lapar, Belle. Aku butuh istirahat."
Belle sedikit kecewa, tawaran serta ajakannya terus menerus di tolak. Ia berusaha mencari topik pembicaraan yang bisa membuat mereka hanyut ke dalam sebuah obrolan.
__ADS_1
"Oh ya, investor terbesar di perusahaan memutus kontrak kerja samanya dengan kita?"
"Hm."
"Gara-gara kau membakar pergelangan tangan anak sialan yang menggodamu?"
"Iya, Victor memintaku untuk menjadikan Imel sebagai istri gelapku jika kontrak kerja samanya tetap lanjut," jelas Jef di sambut rasa penasaran Belle.
"Lantas apa yang kau lakukan?"
"Jelas aku menolaknya. Aku bukan pria yang haus akan wanita," tuturnya.
Belle mengembangkan senyum sempurna. Rupanya kesetiaan Jef masih sama, meskipun ia mengkhawatirkan apakah Jef akan melakukan hal itu juga di pernikahannya bersama Kimmy.
Tidak hanya itu, kedua tangan Belle kini sudah melingkar di tubuh gagah suaminya. Kepalanya ia tenggelamkan ke dada bidang pria tersebut.
"Rumah produksi menawariku untuk memerankan film yang akan mereka garap, aku sudah menanda tangani kontrak kerja samanya," ungkap Belle.
"Film yang akan aku perankan sedikit sensitif, apa kau mengizinkan aku untuk main di film itu?" tanya Belle kemudian.
Pertanyaan Belle menarik perhatian Jef. "Maksudmu?"
"Aku harus beradegan vulgar dengan lawan mainku."
__ADS_1
Jef melepaskan Belle dari pelukannya. Pria itu menatap Belle dengan tatapan yang menampakan ada emosi di sana.
"Kau meminta izin padaku setelah kau menanda tangani kontraknya?"
"Maafkan aku, Jef! Mereka meminta untuk segera mengambil keputusan setelah mempertimbangkan semuanya."
"Mempertimbangkan?" Ada kekecewaan yang terpancar di wajah pria itu. "Sejak kapan mereka menawarimu pekerjaan itu?"
"Satu bulan yang lalu," jawabnya.
"Dan kau baru memberi tahuku?"
"Jef, aku minta maaf. Awalnya aku juga tidak akan mengambilnya, tapi kata Key-teman satu filmku yang baru selesai, jika aku tidak mengambilnya, maka aku akan di cap sebagai aktris yang tidak profesional. Selain itu, aku juga akan kehilangan banyak job lainnya," jelas wanita itu.
"Jadi kau lebih mendengarkan temanmu daripada suamimu sendiri? Jadi suamimu itu aku apa dia?"
Jef memang bukan tipe pria yang pecemburu, tapi hal ini bukanlah masalah spele.
"Bukan begitu, sayang... Aku hanya-"
"Terserah kau saja!" sergah Jef kemudian beranjak dari sana.
Tubuhnya yang lelah di tambah oleh ucapan yang Belle sampaikan membuat kepala Jef terasa sangat pusing sekali. Ia keluar dari kamar dan memutuskan untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Bersambung...