
Abellard mempercepat langkahnya menuruni anak tangga ketika melihat Jef tengah merengkuh Anelis dan di bawa menuju ruang keluarga.
"Jef, mamamu kenapa?" tanya Abellard panik dan ikut duduk di samping istrinya.
Anelis tengah mengatur deru napasnya yang memburu, mengontrol dirinya lantaran baru saja membedah emosi.
"Ma, apa yang terjadi?" tanya pria paruh baya itu lagi, namun belum kunjung mendapat jawaban.
Setelah Anelis merasa lebih baik, Jef menjelaskan apa yang baru saja terjadi pada papanya.
"Belle tadi datang kemari kemudian berdebat dengan mama?" jelas Jef.
Abellard menatap istrinya untuk memastikan apa hal itu benar. Anelis mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Belle sudah sangat keterlaluan, pa. Mama masih kesal karena dia mau beradegan hal tidak pantas itu dengan pria lain. Pria yang sama sekali tidak memiliki ikatan apapun dengannya."
Kekesalan tampak begitu kental di wajah wanita paruh baya itu.
Abellard menghela napas berat. Memang situasinya juga sangat berat sekali. Ia mengalihkan tatapannya pada sang putra. Tatapannya seperti orang yang tengah menyampaikan sesuatu.
"Kimmy, bisa antar mama ke kamar?! Mama terlihat butuh istirahat," pinta Abellar pada gadis yang sedari tadi duduk terdiam di samping Jef.
"Iya, pa. Ayo, ma, aku antar mama ke kamar!" ajak gadis itu seraya merangkul lengan sang ibu mertua.
"Jef!" panggil Abellard lirih namun terdengar tegas.
"Iya, pa," sahut Jef seraya menegakan tubuhnya, seakan paham jika situasinya akan sangat serius.
__ADS_1
"Di situasi rumit seperti ini papa harap kau bisa memutuskan sesuatu yang cukup bijak. Dalam kondisi kepala dingin. Jika kau bisa mengambil keputusan untuk menikah lagi, maka kau juga harus bisa mengambil keputusan bijak di saat pernikahan kalian goyah. Entah itu lanjut atau berakhir," tutur pria itu sejenak membuat Jef bergeming.
"Papa bukan bermaksud untuk meminta kau menceraikan di antara salah satu dari mereka. Bukan! Hanya saja, menjalani dua rumah tangga secara bersamaan itu tidak akan pernah baik-baik saja. Dari awal papa memang kurang setuju ketika mamamu akan memberi kalian sebuah pilihan berat itu. Tetapi ketika mamamu menjelaskan jika itu hanya sebuah tamparan bagi kalian agar sadar dan mau memberi kami cucu, papa dukung. Tapi ternyata, semua malah kacau seperti ini. Keegoisan Belle terhadap popularitasnya yang mengacaukan dirinya sendiri. Bukan maksud menyalahkan apalagi menyudutkan. Hanya saja, ketika kau ingin membuat keputusan bijak itu, papa cemas kau akan segan dan merasa bersalah pada Belle. Yang akhirnya bisa membuat kau sendiri yang kacau," imbuh pria itu.
Jef semakin di landa kebingungan. Sepertinya ia juga harus mengambil sebuah keputusan yang benar-benar matang. Tentunya menunggu waktu yang tepat. Jujur, perasaannya pada Belle kini mulai terkikis, hal itu tidak terlepas dari perhatian lebih Kimmy yang selalu ia dapatkan. Ia merasa jika akhir-akhir ini dirinya benar-benar hidup dan memiliki sebuah kehidupan. Berbeda ketika belum ada Kimmy, hidupnya selalu saja tentang pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan.
"Aku akan memikirkannya nanti, pa. Lusa, aku akan pergi ke luar negeri bersama Kimmy, agar aku bisa meyankinkan diriku siapa yang layak aku pertahankan. Aku juga masih memberi Belle kesempatan, dan jika Belle sampai menyianyiakan kesempatan itu, akupun tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Jef dengan mantap.
"Lakukan saja apa yang menurutmu terbaik! Papa akan selalu mendukung keputusanmu, Jef!"
"Terima kasih, pa."
"Iya, putraku."
__ADS_1
Bersambung...
...Jangan lupa dukungannya bestie! Like, komen, VOTE, hadiah poin atau koin. ...